
Saat itu pak Wijaya sedang meeting bersama kliennya. Dia dapat kabar bahwa pak Harun sudah sadar. Pak Wijaya ingin segera ke sana tapi dia harus menyelesaikan urusan nya itu. Dia pun mengurungkan niat sampai meeting nya selesai.
Setelah selesai pak Wijaya menyuruh sekretaris nya untuk menyiapkan mobil. Pak Wijaya jalan dengan cepat keluar ruangan dan di samping ada Andra dan Kevin yang keluar ruangan yang berbeda menuju jalan yang sama untuk makan siang.
"Hai om" Kevin yang menyapa dengan senyuman mengangkat kan sebelah tangan nya.
"Hai kevin" Pak Wijaya yang terus berjalan tanpa menghiraukan adanya Andra.
"Ayah lo kenapa? ko mukanya serius gitu.!! " Kevin sambil melihat kearah pak Wijaya yang keluar dan naik mobil.
"Gak biasanya ayah seperti itu" Dalam hati Andra sambil melihat ayahnya.
"Woy malah bengong" Sambil mengibas tangannya ke depan wajah Andra.
Andra pun langsung tersadar dari lamunan nya "Ngapain lo tanya gue. " menepis tangan kevin
"hehe oh ya gue lupa, lu kan kalo lihat pak Wijaya kaya kucing lihat tikus atau anjing lihat kucing. Ha ha ha." Kevin pun tertawa dengan puas.
Andra menatap tajam kevin.
"Hehe bercanda dra, bercanda. ".. mereka pun makan siang bersama.
Sesampainya di rumah sakit pak Wijaya langsung menuju ruangan pak Harun. Dia tidak sabar ingin segera bertemu karena mereka berdua sudah lama tak bertemu. Terakhir mereka bertemu saat ibunya Andra meninggal.
"Tok.tok.tok. Kreeekkk" Suara pintu yang diketuk dan dibuka perlahan.
"Assalamu'alaikum." Pak Wijaya pun masuk ke kamar pak Harun.
"waalaikum salam".Spontan semua yang ada di dalam kamar menjawab bersamaan.
" Abi. " Pak harun yang tersenyum gembira ketika melihat pak wijaya yang menghampiri nya. "Akhirnya kita bisa ketemu lgi".
pak Wijaya pun langsung memeluk Harun. Mereka berpelukan melepas rasa rindu. Maira dan ibu yang melihat pamit untuk keluar ruangan membiarkan mereka berdua.
" Maira ibu mau pulang dulu. ibu mau bawa baju ganti buat kita." ucap ibu yang sudah berada diluar kamar.
"pulang, sama siapa? ibu mau pulang sendiri. " sambil memegang tangan ibu
__ADS_1
"iya sayang. Kamu disini jagain ayah ya. Ibu juga sudah bilang tadi sama ayah. ".
"Gimana kalo Maira aja yang pulang."
"Gak usah lagian ibu pulang juga sekalian ada perlu. jadi ibu aja.pokonya kamu jagain ayah ya.. "
"Ya sudah kalo gitu ibu hati-hati dijalan ya. Selalu kabari Maira kalo ada apa-apa.
" Iya sayang assalamu'alaikum "waalaikum salam."
Ibu Fatimah pergi dan tinggal lah Maira sendiri yang menunggu diluar ruangan.
Pak Harun dan pak Wijaya mengobrol mengungkapkan rasa rindu diantara mereka dan menanyakan kabarnya masing-masing. Tidak lupa pak Harun pun mengucapkan terimakasih pada pak Wijaya.
"Terimakasih ya Bi kamu sudah membantu ku. Nanti insyaallah akan ku ganti . " sambil menatap pak Wijaya.
"Hey terimakasih untuk apa? dan ganti apa? Kita ini kan sahabat, inilah guna nya. kita harus saling bantu dan gak ada kata ganti ok. " Sambil tersenyum
pak Harun pun membalas senyuman pak Wijaya " Baiklah. sekali lagi Terima kasih. "
Mereka pun lama asyik mengobrol. Hingga waktunya pak Harun minum obat.
"Suster.... " Panggil Maira dari kejauhan karena dia baru pulang makan siang " Apa itu untuk ayah saya? Biar saya saja yang bawakan. Terima kasih. ". sambil mengambil makanan tersebut tanpa lupa menanyakan mana yang harus diminum.
" Tok. tok. tok"Maira mengetuk pintu terlebih dahulu. Lalu Maira pun masuk kedalam.
"Ayah sudah waktunya ayah untuk makan dan minum obat. " Maira yang tersenyum memandang ayahnya walau senyumnya tak terlihat.
"Oh iya mai, Ayah sampai lupa keasyikan ngobrol." Ayah dan pak Wijaya duduk berjauhan tersenyum.
Maira pun menyuapi ayah nya "Bismillahirrahmanirrahim". Dan Maira lupa dia tadi membelikan makanan untuk pak Wijaya.
"Oh iya tadi Maira makan siang sekalian belikan paman. Maira pikir sepertinya paman belum makan. Ini silahkan paman. " Sambil memberikan kepada pak Wijaya.
pak Wijaya memang belum sarapan karena begitu tau teman nya sadar dia langsung ke rumah sakit. Pak Wijaya tidak menyangka bahwa Maira tidak hanya perhatian pada ayah nya tapi dirinya juga. Dia pun memakan makanan yang diberikan Maira.
Pak Harun pun selesai makan, Maira membukakan obat untuk ayah nya dan tak lupa dengan minum. " Ayah apa ayah perlukan sesuatu?" Tanya Maira pada ayahnya. " Tidak mai Terima kasih". jawab ayah sambil menyerahkan gelas pada Maira. "Kalo ayah perlu sesuatu panggil saja Maira ok. Ayah harus cepat sembuh. " Maira yang menyemangati ayahnya sambil tersenyum. "Ya sudah Maira pamit dulu ya Maira mau simpan ini". Maira pun keluar kembali. Sebenarnya Maira tidak ingin mengganggu mereka berdua. Biarlah ayah dan pak Wijaya melepas rasa rindunya karena belum tentu suatu saat seperti ini lagi pak Wijaya orang yang sibuk.
__ADS_1
Pak Wijaya yang sedari tadi memperhatikan Maira. dia tertunduk setelah Maira pergi keluar dia ingat pada anaknya.
" Itu anak ku bi Namanya Almaira". Sambil melihat pak Wijaya yang menundukkan kepala.
"Oh ya aku sudah tau dari istrimu." jawab pak Wijaya sambil mengangkat kan kepalanya.
"Dia itu anak yang baik, sayang sama keluarga, dia juga jadi sumber semangat untuk kami berdua. "
"Ya tadi aku lihat sendiri kalo dia sangat baik. Lihat dia belikan aku makanan, padahal aku sendiri lupa kalo aku belum makan. " Mengangkat bungkus makanan yang sudah kosong sambil tersenyum.
"Ya begitulah Maira. Oh ya bagaimana dengan Andra? apa dia masih seperti itu? " pertanyaan Harun membuat Wijaya sedikit sedih.
"Aku bingung run dia masih saja seperti itu"
"Apa kamu tidak pernah coba menjelaskan nya. "
"Bukan tidak pernah. Aku terus berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini. Kamu tau sendiri Andra itu tidak pernah mau bertemu denganku apa lagi bicara dengan ku."
"Sabar ya Bi, aku akan selalu mendoakan anak mu agar dia berubah".
" Ya Terima kasih run, Tapi beberapa bulan ini dia bicara dengan ku walau hanya membicarakan soal perusahaan. Itupun kadang lewat sekertaris nya. "
"Tapi itu awal yang baik bukan, Semoga ke depan nya dia mau bicara lagi dengan mu. "
"Ya amin".
Setelah membicarakan Andra mereka berdua pun akhirnya terdiam dan menjadikan ruangan itu hening.
"Run apa kamu keberatan, Jika Maira aku jodohkan dengan Andra?" Suara yang dilontarkan pak Wijaya dalam keheningan. Membuat suasana sedikit canggung.
".......
..............
...BERSAMBUNG...
*HAI HAI SAMPAI DISINI DULU YA CERITA NYA,, BIAR KALIAN PENASARAN APA REAKSI PAK HARUN SETELAH MENDENGARNYA....
__ADS_1
TOLONG PLEASE BERI AUTOR DUKUNGAN DENGAN VOTE CERITA INI DAN LIKE SETIAP EPISODENYA. TERIMA KASIH*.