Almaira - Cinta Dalam Perjodohan

Almaira - Cinta Dalam Perjodohan
Bab 31


__ADS_3

Andra membukakan pintu kamar perlahan dia baru saja pulang kerja , yang biasanya Andra disambut oleh Maira walau sering dia campakkan, kini Maira sudah terlelap tidur membuat suasana sedikit aneh.


Andra menghampiri maira


"tidurnya sepertinya sangat nyenyak"


Andra menyimpan jas dasi serta sepatunya dan pergi mandi. Selesai mandi Andra pergi ke teras luar kamarnya, dia membawa laptop entah apa yang dia kerjakan.


Hingga tepat jam 00.15 malam Andra pun masuk kedalam kamar. Andra yang hendak duduk untuk tidur melihat Maira yang gemetar kedinginan padahal waktu itu Maira tidur dengan selimut yang sangat tebal.


Andra pun menghampiri Maira dengan membawa selimut yang hendak dia kenakan, Andra menyelimuti Maira dengan itu.


Pikir Andra walau Maira masih tetap gemetar setidaknya dia akan merasa lebih hangat dari pada tadi. Andra kembali pada kursinya dan berbaring terlentang untuk tidur tanpa selimut padahal waktu itu sangatlah dingin.


Paginya Andra bangun tepat jam 05.23 pagi, pada saat itu Andra melihat kasur sudah rapih, Ketika dia duduk dia baru sadar kalo semalam dia memberikan selimut itu pada Maira tapi ketika Andra terbangun tubuhnya sudah diselimuti yang membuatnya tidak merasa kedinginan.


Maira pun keluar dari kamar mandi, ternyata Maira sudah menyiapkan air hangat untuk suaminya.


"Mas sudah bangun," Tanya Maira dengan suara yang sedikit serak dan masih terdengar lemas


Andra bangun dari kursi dan berjalan "Ya, Kamu sudah sembuh"


"Alhamdulillah mas sudah baikan" Maira tersenyum pada Andra


"Baguslah aku akan sangat kerepotan jika kamu sakit. Pasti ayah akan memaksaku untuk mengurusi mu. " Andra mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Entah kenapa Andra selalu ingin membuat hati Maira terluka, walaupun saat ini Maira dalam keadaan masih sakit.


Maira pun tidak terlalu mendengarkan perkataan Andra, Maira mengambil pakaian seperti kebiasaan nya, lalu pergi ke dapur.


"Eh non, non ngapain disini" Ucap bibi yang kaget melihat Maira keluar kamar dan hendak membantu


"Maira mau bantu bibi"


"Ih memangnya non sudah sembuh, sudah jangan non istirahat saja di kamar atau duduk disini" membawa Maira pada kursi


Maira hanya tersenyum melihat tingkah bi narsih yang begitu peduli padanya "Maira becanda bi, tubuh Maira masih kurang vit jadi belum bisa bantu bibi" tersenyum kembali "Dikamar terus Maira jenuh makan nya kesini lihat bibi yang lagi masak biar bisa bikin Maira semangat lagi".


"Iya non, non Maira jangan sering bantuin bibi apalagi sekarang non kan masih sakit. Kalo non merasa jenuh temenin bibi aja kan cukup. "


"iya bi"


"Eh non gimana den Andra, apa masih perhatian" Bi narsih tersenyum sambil menyimpan makanan ke meja


"Mm gimana ya, Cuma semalam kayanya mas Andra selimuti maira bi. " Berbicara pelan


"Gimana non yang bener. " bi narsih penasaran menghampiri Maira dan duduk didekatnya


"Iya bi, pagi ketika Maira bangun Maira pakai dua selimut dan itu selimut mas Andra, dan mas Andra tidur tanpa memakainya dia kedinginan memeluk tubuhnya sendiri. Kalo dipikir kan gak mungkin bila orang lain yang menyelimuti Maira pakai selimut mas Andra. "

__ADS_1


"Tuh kan berarti bibi benar, den Andra mulai punya perasaan pada non, aduh selamat ya non bibi jadi ikut senang"


"Bibi gimana kalo dugaan bibi itu salah. Mas Andra memang menyelimuti Maira tapi cuma merasa kasian karena Maira sakit. dan mas Andra masih tidak punya perasaan pada Maira. " Sambil mengingat nama Andini.


"Non Non jangan berpikir seperti itu. Non harus terus berpikir positif Non kan selalu berdoa juga dengan ikhtiar Non buat dapetin hati den andra, Insya Allah den Andra lama kelamaan akan sadar bahwa Non terbaik untuknya,"


Maira tersenyum "Makasih bi atas semuanya" Maira merasa tidak kesepian di rumah ini karena ada bi narsih yang selalu ada untuknya.


"Ya udah bibi siapkan dulu sarapan nya sebelum tuan datang"


Bibi pun kembali memasak dengan ditemani Maira yang sedang duduk di kursi makan.


Setelah selesai semuanya pak Wijaya dan mamah bella datang ke meja makan.


"Mai kamu sudah baikan? " Tanya pak Wijaya yang mulai duduk di kursi


mamah bella hanya menatap Maira dan duduk bersama tanpa bicara sepatah kata pun.


"Alhamdulillah yah Maira sudah membaik" jawab Maira


"Oh syukur kalo begitu"..


" oh ya mah yah Maira permisi dulu ya mau antar kan sarapan untuk mas Andra"


"Bukan nya kamu belum sehat betul mai, biarkan saja Andra jika dia ingin sarapan dia pasti kesini"


"Maira sudah mendingan yah, ini kan juga sudah tugas Maira sebagai istri siapkan mas Andra sarapan karena mas tidak pernah mau sarapan di rumah jadi Maira antar kan sarapan nya kali aja suatu saat mas Andra mau memakan nya dan mau makan bersama disini. " Maira mengangkat nampan itu


"Ya sudah mai, ayah suka dengan semangat mu" memberikan senyuman pada Maira.


Maira berjalan dengan membawa nampan itu dengan sangat perlahan dan hati hati, ketika Maira akan melangkahkan kakinya di tangga Andra sudah berada di depan nya dia hendak berangkat kerja, seperti biasa dia mengacuhkan Maira pergi begitu saja.


"Mas ini"


Pak Wijaya melihat ke arah Maira ketika mendengar Maira berbicara.


Andra hanya menoleh dan hendak pergi tiba tiba suara panggilan dengan keras terdengar oleh andra,


"Andra berhenti..! " Teriak pak wijaya


Andra berhenti sejenak, wajahnya penuh dengan kekesalan "ada apa lagi sih" gumam pelan Andra


Andra memutar tubuhnya berbalik badan, Pak Wijaya yang sedang duduk sarapan berdiri dan menghampiri Andra dengan sangat geram.


"Apa kamu tidak bisa menghargai istrimu sedikit pun, Lihat Maira dia sedang sakit tapi dia tetap memenuhi kewajiban nya sebagai istri dia selalu bawakan mu sarapan walau Maira sudah tau kamu tidak akan memakan nya. Cobalah mengerti perasaan nya dia seorang wanita sama seperti ibumu. Ayah sangat kecewa dengan perlakuan mu terhadap Maira dan ayah juga yakin ibu mu juga merasakan hal yang sama seperti ayah. "


"Sudah bicaranya, ayah ingin aku menghargai dia baik"


Andra menghampiri Maira membuat jantung Maira berdebar setelah tadi dia merasa tegang melihat ayah dan anak berseteru karena nya.

__ADS_1


Andra pun memakan dan meminum air yang dibawakan Maira saat itu juga dengan posisi berdiri. Lalu kembali berjalan mengarah pada pak Wijaya.


"Anda puas aku sudah memakan nya. Satu hal yang perlu anda ingat aku tidak mencintainya pernikahan ini terjadi karena anda dan aku sudah pernah bilang jangan pernah salahkan aku jika dia tidak akan bahagia. Dan satu hal lagi jangan pernah bawa-bawa nama ibu "


Andra pergi keluar tanpa memikirkan ucapan nya yang akan menyakiti perasaan Maira dan mempermalukan ayahnya depan Maira karena perlakuan nya terhadap pak Wijaya.


Maira hanya diam berdiri dan mendengarkan perdebatan itu dia tak bisa berkata apa apa. Setelah Andra pergi pak Wijaya menghampiri Maira


"Mai maafkan semua perlakuan Andra terhadapmu dan jangan dengarkan ucapan nya tadi. Ayah juga minta maaf ini semua terjadi karena ayah Kamu menjadi korban sikap Andra yang berubah karena kesalahpahaman. "


"Ayah Maira sudah menerima mas Andra sebagai suami Maira, Maira Terima segala kekurangan nya termasuk sikap dingin dan ketidak perdulian nya terhadap maira, Ayah jangan meminta maaf atas perlakuan mas Andra pada Maira dan jangan pernah menyalahkan diri ayah. Ini semua sudah jadi takdir, kita tidak tau kehidupan hari ini esok dan seterusnya Kita hanya bisa merencanakan. yang jelas Maira selalu berdoa pada allah agar diberikan jalan pada mas Andra untuk berubah kembali seperti dulu kembali pada ayah menerima Mamah dan juga Maira. Maira mohon berhentilah menyalahkan diri ayah. " Maira tersenyum pada pak Wijaya dengan sangat tulus


Pak Wijaya pun membalas senyuman Maira tanpa berkata apa pun.


Maira yang sudah lama berdiri merasa lemas dan hendak terjatuh


"Kamu kenapa Mai" Tanya pak Wijaya dan memegangi Maira


"Bi cepat bawa nampan ini kemeja"


Bi narsih yang sedari tadi didapur menyaksikan semuanya berlari menghampiri Maira dan pak Wijaya.


"iya tuan" dengan sigap bi narsih menyimpan ke meja dan kembali pada Maira "sini Non tuan biar saya bantu"


"Iya bawa Maira ke kamar dia belum sehat betul dan jangan lupa beri dia obat" ucap pak Wijaya


bi narsih pun membawa Maira ke kamar.


Pak Wijaya menghampiri mamah bella yang hanya berdiri melihat semuanya.


"Aku pamit kerja, tolong rawat Maira seperti putrimu" Menatap mamah bella


Pak Wijaya pun pergi tanpa menyelesaikan sarapan nya. diruang makan tinggallah mamah bella sendirian.


"Vera kamu lihat semua ini, Semuanya terjadi karena kehadiran ku. Aku tidak pernah tau apa yang harus ku lakukan untuk membuat semuanya kembali seperti di saat kamu masih ada disini" Mamah bella menangis


Bibi membaringkan tubuh Maira


"Non tidak apa apa? "


"Tidak apa apa bi Maira hanya lemas karena kelamaan berdiri" ucap Maira masih dengan senyuman


Bi narsih menangis


"bibi kenapa menangis, Maira tidak apa apa"


"Bibi sedih dan terharu, sedih karena melihat perlakuan den Andra dan terharu melihat sikap tegar non."


"Bibi sudah jangan menangis, Maira tidak suka melihat bibi menangis" Maira yang berbaring memegang tangan bi narsih

__ADS_1


"iya Non maafkan bibi" bi narsih menghapus air matanya "Oh ya Non harus minum obat, bibi ambilkan sarapan dulu ya setelah itu Non minum obat"


__ADS_2