
BAB. 1
Suara merdu anak- anak yang sedang membaca Al qur’an di serambi Masjid Al Mukmin menjadi irama yang menyejukkan kalbu di sore hari.
Satu-satunya masjid di tengah desa yang masih sangat asri. Pepohonan berbagai ukuran masih ditemukan di beberapa titik. Disisi kiri kanan jalan, tampak tanaman Boxwod sebagai pagar dari beberapa rumah sekitar area Masjid. Tanaman lain yang biasa menjadi pagar adalah pucuk merah. Tak jarang pagar permanen hingga pagar bambu yang sengaja tertata rapi menunjukkan khas pedesaan.
Arunya terbiasa membantu Ustadzah Hanum merapikan beberapa lembar tikar yang telah selesai digunakan untuk anak-anak yang mengaji diserambi masjid setiap minggu sore hari. Sehingga dia terbiasa keluar masjid paling terakhir. Meski begitu teman temannya masih menunggunya sembari berjalan pelan.
Seperti saat ini, Arunya yang berjalan tertinggal tak jauh dari temannya menandakan bahwa Arunya dengan kebiasaanya membantu berberes sebelum pulang.
“ Runya, tunggu!” Arunnya menghentikan langkahnya seraya memutar tubuh untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. Begitu melihat sosok lelaki tinggi dengan kulit sawo matang khas Jawa menghampirinya dengan berlari kecil.
“Rayyan! Kapan kamu pulang?” tanya Arunya. Setibanya Rayyan di hadapannya.
“Kemarin.” Rayyan tersenyum seraya mengacak rambutnya.
“Hai, trio kwek kwek,” Rayyan melambaikan tangannya kepada tiga anak gadis yang berdiri tak jauh dari Arunya. Lela, Widi dan Vivi.
__ADS_1
Ketinganya hanya melambai acuh saja, mereka masih asik menikmati lezatnya cilok, jajanan yang terbuat dari tepung terigu, tepung kanji dan diberi sedikit gilingan ayam, berbumbu merica dan bawang putih, rasanya gurih teksturnya kenyal, menjadi makanan favorit mereka ditambah dengan saus cabe menambah nikmatnya rasa cilok.
Biasanya dijajakan oleh pedagang dengan berkeliling, menggunakan sepeda motor.
“Kamu kurusan, Ray? Berat, ya PKL itu?” tanya Arunya serius.
“Yaa, begitulah. Disana gak bisa makan enak,” canda Rayyan sambil menggulum senyum.
“Jadi? Ada apa nih kamu tadi manggil aku?”
“Untuk?”
“E.. apa ya? I.. itu aku harus buru-buru ke rumah Arif. Sampai jumpa!” Rayyan berbalik dan berlari kecil menjauh dari Arunya yang masih terkesiap atas tingkah absurdnya.
Rayyan membalikkan badannya sembari tetap berjalan mundur. Sadar Arunya masih menatapnya, Rayyan melambaikan tangannya sambil terkekeh pelan.
Rayyan mengutuk dirinya, kenapa dia yang biasanya terlihat acuh kepada Arunya, gadis remaja yang paling pendiam diantara remaja yang lain. Namun, begitu dia kembali dari praktik kerja lapangan yang ditugaskan oleh sekolahnya selama 6 bulan ini, keinginannya untuk sekedar menyapa gadis manis berkulit sawo matang itu tak dapat ia kendalikan. ‘Kenapa dia begitu manis memakai kerudung coklat itu, ya?’ gumam Rayyan.
__ADS_1
Arunya merasa dirinya tak pernah menjadi fokus perhatian Rayyan. Dapat berbicara sedekat ini. Lalu, apa yang terjadi dengan kinerja jantungnya yang berkerja tiga kali lebih cepat dari biasanya.
Setiap kali Arunya berada didekat Rayyan atau sekedar melihatnya dari kejauhan, Arunya merasa berdebar, seluruh tubuhnya bahkan terasa dingin.
‘Setelah sekian lama tak bertemu, kenapa semakin cakep saja, sih,’ Pipinya merona dan sedikit menghangat karena Rayyan kali ini bertingkah berbeda.
“Mau sampai kapan kamu bengong disitu! Ayo pulang!” Suara Widi mengagetkannya.
Segera Arunya mengejar ketiga temannya yang sudah kembali meneruskan langkah kakinya menuju rumah masing-masing.
Senja telah menampakkan sinarnya yang indah. Anak-anak beserta pra remaja yang telah selesai dengan kegiatan BTQ (baca tulis al quran) telah meninggalkan masjid. Karena beberapa menit lagi beberapa warga yang tinggal di sekitar masjid akan melaksanakan solat magrib berjamah.
**********
Jangan lupa tekan like dan komentar nya ya friend.😍😍😍
Khamsahamnida 🙏
__ADS_1