
BAB 33
“Kamu masih suka sama Rayyan?” tanya Asih.
Arunya terdiam. Memikirkan pertanyaan dari Asih. Arunya menoleh pada Asih yang masih menunggu jawabnya. “Aku nggak tahu, Asih. Aku bingung.”
“Baiknya kamu cuci muka trus tidur. Istirahatkan pikiran kamu. Takut asam lambungmu kambuh, nanti!” Asih mendorng pelan bahu Arunya. Dia beranjak dari duduknya kemudian merebahkan badannya pada kasur busa.
Sementara dalam kamar mandi. Arunya bercermin setelah mencuci mukanya. Meletakkan kedua tangannya bertumpu pada wastafel. “Apa aku masih menyukai Rayyan?”
...*** ...
Arif mengantar Rayyan ke rumahnya. Papa dan mama masih terjaga. Mereka sangat terkejut karena kedatangan Rayyan. Pelukan kerinduan dari mama membuat mata Rayyan menjadi mengeluarkan setitik air mata haru. Mereka mengajak Arif berbincang sebentar lalu sepuluh menit kemudian memutuskan pulang.
“Mengapa mendadak sekali pulang, Rayyan?” tanya Wijaya.
“Iya, Pa. Ray musti pulang untuk menuntaskan urusan Rayyan , Pa.”
“Kamu-“
“Sudah, Pa. Biarkan Ray istirahat dulu. Udah malam,” pangkas Mama.
“Ya sudah. Istirahat sana.” Wijaya terpaksa menuruti keinginan istrinya. Sebenarnya masih banyak yang ingin dia tanyakan kepada putranya. Namun, waktu yang sudah begitu larut membuatnya memangkas rasa penasarannya.
“Makasih, Pa, Ma.”
Rayyan beranjak menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya, Ray langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur yang telah lama tidak ia tempati. Masih selalu bersih karena mama setiap hari membersihkannya.
Ia meraih kamera lama miliknya. Mencari bebrapa potret koleksinya dan menemukan potret yang ia cari.
Foto Arunya yang tengah bermain riak air. Rayyan tersenyum memerhatikan wajah polos Arunya. Lalu ia mengingat wajah Arunya satu jam yang lalu ia temui.
“Kamu semakin manis. Masih polos seperti lima tahun yang lalu. Maafkan aku yang tidak punya keberanian untuk mengungkapkan rasaku saat itu. Aku takut membuatmu terluka karena aku segera pergi waktu itu. Aku takut memulai dan mengakhirinya dengan cepat. Maafkan aku, Runya. Aku tahu, bahkan saat kau tak mengucapkan apapun padaku. Sorot mata milikmu telah mengatakannya.”
...*** ...
Arunya : Mas, maafin aku.
Arunya :Angkat donk. Mas. Jangan diemin aku kaya’ begini!
Arunya : Mas apa kamu baik-baik saja?
Arunya : Mas. Gimana keadaan kamu?
Arunya: Maaf mas. Karenaku kamu jadi celaka. Kamu pantas menjauhiku, mengabaikanku. Aku sadar aku sudah banyak membuat luka di hatimu. Maaf.
Tama menghela nafas membaca beberapa pesan dari Arunya. Melihat puluhan panggilan dari kekasihnya.
Berkali kali pula Tama mengetikkan balasan pesan. Namun, segera menghapusnya kembali. Ia masih dengan pemikiran kacaunya sehingga takut jika kata-kat yang keluar nanti menyakiti hati Arunya.
__ADS_1
...*** ...
Guncangan di sertai suara dering alarm memaksa Arunya terbangun dari tidurnya. Ia melihat jarum waktunya, bahkan ia hanya tidur selama dua jam.
Semalam ia tak juga kunjung tertidur memikirkan Tama dan Rayyan yang mengganggu pikirannya.
“Buruan mandi. Katanya mau ke Semarang! Disana kita nggak bisa lama-lama. Hanya satu jam!” Gertakan dari Asih membuat Arunya bergegas untuk mandi lalu bersiap.
Asih datang dari luar begitu Arunya mengemas perlengkapan pada ranselnya. Asih mengajak makan lalu segera bersiap.
Perjalanan mereka tempuh selama dua jam. Saat memasuki sebuh rumah bergaya joglo, khas Jawa Tengah. Pintu utama terlihat terbuka lebar pada kedua daun pintunya. Sesuai petunjuk Bagas mereka akhirnya menemukan rumah Tama.
“Assalamualaikum,” sapa Arunya.
Hingga ucapan salam ketiga barulah sahutan dari dalam rumah mereka dengar.
“Waalaikumsalam. Madosi sinten, nggih( cari siapa, ya)?” sapa pemilik rumah. Berusia paruh baya tapi rambut sebahu yang terurai rapi dan tidak menampakkan satu helai uban-pun membuat pemanpilannya terlihat lebih muda dari usianya, Wanti, ibu dari Tama.
“Mas Tama ada, Bu? Kami temannya.” Meski gugup Arunya memberanikan diri untuk menjawab sebisanya.
“Siapa, Buk?” Tama muncul dengan jalan yang tidak begitu tegak. Terlihat masih menahan rasa nyeri atau perih pada lututnya. Celana selutut rumahan beserta kaos tanpa lengan, dengan beberapa perban pada siku dan kedua telapak tangannya. Menjadi pemandangan pertama yang Arunya lihat setelah dua hari tak berjumpa.
Arunya dan Tama sama-sama terkejut.
“Mari masuk! Tama, ayo ajak masuk temannya!” titah ibu.
Arunya menyerahkan bingkisan yang sedari tadi ia bawa kepada ibu, Ada beberapa oleh-oleh dan buah yang sempat ia beli di toko.
Tama mempersilakan masuk Asih dan Arunya. Duduk pada kursi tamu. Tama mengenalkan kepada ibu, Arunya dan Asih sebagai temannya. Setelah bercakap seperlunya ibu undur ke belakang.
Kini ketinganya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Arunya hanya terus menunduk, duduk berhadapan dengan Tama. Dengan Asih yang duduk sejajar dengannya.
Asih segera berdehem untuk mencairkan suasana. “Desanya adem. Sepi juga. Apa kebanyakan warga jadi petani disini, Mas?” tanya Asih.
“Iya begitulah, ada yang kerja pabrik juga.”
“Hari ini masuk siang, Mita?” pertanyaan dadakan selanjutnya, membuat Arunya menegakkan wajahnya setelah sekian menit hanya menunduk menautkan jari-jarinya.
“Aku libur, Mas. Tapi, Asih yang masuk siang. Lukanya dalam, ya, Mas? Kata Mas Bagas sampai di jahit beberapa!’'
Arunya menunjuk kedua tangan Tama.
Tama hanya meringis, sambil mengelus perban. ‘Gak apa, Mita. Besok juga sembuh. Kemari!” Tama memberi memberi kode agar Arunya mendekat dan duduk di sebelahnya.
Meski ragu, Arunya menoleh pada Asih. Yang mendapat respon anggukan samar dari sahabatnya.
Begitu ia duduk di samping Tama, sebuah rengkuhan ia dapat dari sebelah lengan Tama. ‘Maafin, aku, ya!”
Sekuat hati Arunya menahan genangan dari sudut matanya tumpah. “Aku yang minta maaf, Mas.”
__ADS_1
Asih akhirnya dapat tersenyum lega lalu berdehem.
Tama dan Arunya segera melerai kedekatannya. Bersamaan dengan datangnya ibu membawakan beberapa gelas teh dan pisang goreng dalam nampan. Menatanya pada meja lalu ikut bergabung di sebelah Asih.
“Jauh-jauh dari Klaten pasti capek. Diminum dulu, ayo silakan!”
Asih segera meraih cangkir teh yang telah di sediakan diikuti Arunya. Lalu bercakap banyak seputar tempat pekerjaan masing-masing.
Hingga ibu tahu, Arunya yang duduk sejajar dengan anaknya adalah teman dekat Tama setahun terakhir.
“Tama kemarin baru cerita tentang Arunya. Ternyata lebih cantik aslinya, ya. Daripada di foto,” ungkap ibu dan membuat Arunya menoleh spontan pada Tama.
Tama tersenyum santai mendapati candaan ibu.
Percakapan terjeda karena kerabat Tama datang dan mengajak ibu untuk ikut bersama. Meminta maaf karena tidak bisa menemani Arunya dan Asih karena ada kepentingan.
Setelah ibu dan kerabatnya berlalu. Asih yang mengerti keadaan beralasan untuk keluar rumah agar Arunya dapat lebih banyak menuntaskan urusannya.
“Kamu udah nggak marah lagi, kan, sama aku, Mas?” tanya Arunya.
Tama meraih jemari Arunya lalu mengecupnya sekilas. “Aku nggak pernah marah sama kamu. Aku lebih kesal pada diriku sendiri.”
“Lalu kenapa semua sms yang aku kirim nggak ada yang kamu balas, Mas?”
“Aku minta maaf, ya. Udah, jangan nangis. Jelek nanti kalu nangis,” goda Tama.
“Jahatnya.”
“Yank, setelah aku berfikir. Mungkin aku saja yang terlalu posesif sama kamu. Benar. Kita ini makhluk sosial. Kita hidup nggak bisa sendiri. Kamu pun berhak untuk berteman kepada siapapun. Tapi satu hal, aku nggak akan pernah bisa kamu membagi hati. Aku sudah cukup mengerti posisiku sedari awal. Aku pun tahu, kedudukan cinta pertama begitu melekat walau kita sudah bersama yang lain. Aku pun dulu pernah merasakannya. Tapi sekarang yang ada di sini hanya kamu." Tama menunjuk dadanya.
"Jadi tolong kamu pun juga lakukan hal sama sepertiku.” Tama meraih jemari Arunya kembali.
“Sekarang jawab jujur, ya. Apa kamu masih ada rasa suka pada Rayyan?” tanya Tama.
Arunya terdiam mencerna semua kata-kata dari Tama. Mencoba memahami perasaannya, pergolakan batin masih ada dibenaknya, seiring mengeleng pelan dengan air mata yang menetes di ujung matanya. Beruntung posisnya menunduk sehingga Tama tidak mengetahuinya.
“Berat ya, jawab pertanyaanku?” hardik Tama.
“Perasaan itu nggak bisa di paksakan, Mas. Inginnya aku segera lupa dengan rasa yang masih tersisa. Tapi sepertinya butuh waktu. Namun, untuk rasaku padamu. Aku tidak perlu ragu, aku memang cinta sama kamu, Mas.”
Jawaban dari Arunya membuat Tama berbinar dan kembali memeluk Arunya. “Terima kasih, Mita. Terima kasih. Aku yakin akan cepat pulih kali ini.”
Ungkapan Tama membuat batin Arunya tidak sekuat karang yang mampu terdiam di terpa ombak. Hatinya tidak sekuat itu. Tangisnya pecah begitu saja.
“Maaf ...”
...***...
Piee to?? jadi kamu sukanya sama siapa??? 🥱🥱🥱🥱
__ADS_1
Komentar nya doonggk, kurang bagaimana gtu🤭😃