
Assalamualaikum wr wb. Alhamdulillah puasa hari ke 3. Semoga kedepannya diberikan kelancaran. aamiin.
BAB 20
Setelah drama pagi berebut antrean kamar mandi bersama teman-teman satu mess-nya, Arunya kini telah berada pada warteg di samping kawasan PT tempatnya bekerja. Bersama Asih yang sedari pagi tengah ribut perihal makanan dalam kantin PT, yang katanya sangat mahal.
“Run, semalam aku keknya udah tertidur waktu kamu cerita dimana line kamu. Kamu di line mana, sih?” tanya Asih.
“Aku di line 19, line snack and candy.” Arunya kembali menyuapkan nasi soto kedalam mulutnya.
“Enak, produknya ringan. Nah, aku di line minuman. Kebayang gak, sih, beratnya. Apalagi, nanti jika puasa. Kata mas-mas seniorku, bakal kerja dua kali lipat aku, Run.” Asih mematahkan kerupuk dengan gemas, seolah menumpahkan kekesalannya.
“Iya, pasti. Nanti akan ada produk syirup berkarton-karton, begitu, kan?” tanyanya memastikan.
Asih mengangguk lemas, seraya menyuapkan nasi soto di hadapannya yang terlihat hampir tadas.
Setelah selesai mengisi amunisi paginya dan membayar masing-masing pesanannya, Asih dan Arunya bergegas menuju lantai utama, gedung kedua PT, yaitu tempat gudang pusat atau mereka terbiasa menyebutnya DC (Distribution Centre).
Berpencar menuju line masing-masing setelah menekan mesin finger print untuk absensi mereka.
Melakukan briefing singkat bersama line 18,19 dan 20, Arunya segera kembali pada lorong-nya.
Didapatinya seniornya tengah megendalikan truk forklift, ditemani oleh beberapa temannya yang mengarahkannya agar pallet tepat pada tempatnya.
Setelah beberapa menit menunggu, mereka tengah selesai.
Arunya hanya menata kardus sesuai pada nama deskripsi yang tertera. Ia belum berani untuk memulainya sebelum seniornya memberikan instruksi. Takut membuat kesalahan.
Beberapa saat kemudian terlihat senoirnya tengah berjalan cepat mendekati Arunya. “Maaf, ya. Kamu nunggunya agak lama,” ucapnya sesampai di hadapan Arunya.
“Nggak apa-apa, mas,” jawab Arunya. Melihat seniornya melirik pada name tag-nya, Arunya pun spontan menunduk sekilas untuk memastikan kelengkapan atributnya.
“Kenalin. Aku, Tama. Aditama. Kalau kamu? Jangan bilang modus, ya. Biar enak aja kalau mau panggil kamu.”
Melihat seniornya tengah menatapnya ramah seraya memasukkan kedua tangannya di saku celana jeansnya, Arunya tersenyum segan.
“Saya, Amita Arunya.”
__ADS_1
“Siapa? Arunya. Aduh nama kamu ribet juga ya, ternyata.” Tama meraih troli yang sebelumnya di bawa oleh Arunya dan terus saja mengembangkan senyumnya.
“Makanya, kalau punya name tag, itu di perlihatkan, jangan di sembunyiin. Jadi, gak harus ada sesi perkenalan di tengah kerjaan yang udah menanti seperti ini.”
Arunya yang awalnya bersikap segan mendadak berubah kesal karena Tama terus saja mengejeknya. Menurutnya, senior yang mengaku bernama Tama itu sengaja mempermasalahkan perihal name tag yang tidak sengaja terbalik.
“Kerja, woy, Tam. Jangan di ajak ngobrol 'mulu.” Seorang teman yang sedang mengendalikan truk forklift sedang memperingatkan Tama.
Terlihat Tama menunjukkan jari jempolnya pada pekerja line sebelah yang tengah mengendalikan truk forklip pada line 18 seraya terkekeh. “Santai aja, man (sebutan teman akrab).”
“Santai, gundulmu iku. (kepalamu itu)”
Terlihat mereka yang tengah berinteraksi tergelak bersama. Mungkin saling ejek seperti ini sudah hal biasa bagi mereka. Meski begitu Arunya pun ikut tersenyum juga tidak merasa canggung lagi.
“Serius tapi santai aja, Mita. Jangan dibawa tengang begitu.” Tama berkata sambil kembali menekan tombol merah pada monitor, memulai bekerja.
"Mita?" gumam Arunya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada satu orang pun di sana. Pastilah Tama sedang berbicara dengannya.
"Emang namaku seribet itu, ya. Sampai dia panggil aku dengan panggilan berbeda," gerutunya.
Sesi untuk bercanda segera mereka pangkas dengan kembali serius bekerja sesuai porsi masing-masing. Dalam setiap langkahnya Arunya mencoba terfokus pada layar monitor dan menghitung jumlah produk yang ia masukkan ke dalam box. Ia sudah mulai menyesuaikan dengan pergerakan cepat Tama.
"Dari dekat ternyata lebih manis daripada yang di foto, ya," batin Tama.
Arunya yang sesekali menagkap tatapan aneh dari Tama hanya mengerutkan keningnya. Ia merasa seniornya terlihat sangat berbeda ketika pada hari sebelumnya, Tama tak banyak bercanda. Mungkin ini sifat aslinya, pikir Arunya.
“Kamu baru lulus tahun ini?” tanya Tama. Di sela mendorong trolinya lalu memasukan beberapa barang pada box dan menekan tombol angka pada monitor.
“Iya, Mas.”
“Nggak kuliah?”
‘Nggak ada biaya, Mas.”
Tama hanya semakin menggulum senyumnya mendengar panggilan Arunya untuknya, terdengar menggelikan namum begitu manis pada pendengarannya. Merasa seperti di hargai. “Polos banget, sih, kamu. Bikin gemes, aja,” batinnya.
Begitu tanda pengingat pada gedung telah berbunyi. Tama menyuruh Arunya untuk beristirahat. Setelah Arunya berlalu, Tama pun berniat untuk mengikuti Arunya.
__ADS_1
Berjalan tidak jauh dari Arunya yang tengah bergandeng tangan dengan temannya.
“Behhh, mau donk digandeng,” gumamnya.
Tetiba, sebuah suara mengagetkan Tama. Di ikuti tarikan pada krah lehernya “Mau kemana, lo?”
“Mau ke kantin, lah. Emang mau kemana lagi.” Tama menjawab setelah menepis tangan temannya. Tidak lupa ia kembali merapikan krah bajunya yang kusut akibat tarikan temannya.
“Nggak biasanya, lo ke kantin yang di seberang.”
“Pengen, aja.” Tama masih melangkah lebar seranya celingukan mencari keberadaaan Arunya di tengah keramaian karyawan lainnya.
Setelah matanya menangkap Arunya, Tama segera mempercepat langkahnya. Dengan di ikuti temannya yang terus penasaran.
Sesampai di kantin, Tama segera memesan menu gado-gado kesukaanya. Menawakan menu yang sama pada temannya yang sejak tadi mengikutinya.
Begitu mendapatkan menu pilihannya, Tama segera melahap makanan kesukaanya sejak ia masih kecil, sesekali terus mengawasi Arunya yang duduk tak jauh darinya.
“Tam. lo liatin siapa , sih?” tanya teman di depannya mulai kepo karena beberapa kali menagkap gelagat aneh dari temannya.
"Nggak, liatin siapa-siapa, Gas. Kepo amat, lo.” Tama segera mengubah pandanganya, mengalihkan pertanyaan menyudutkan dari temannya, sembari terus menyuapkan makannya.
Lelaki yang biasa ia panggil Bagas itu pasti sedang menerka-nerka pada tingkah sahabatnya.
Bagas dan Tama adalah teman satu angkatan training. Mereka menjadi teman dekat sejak memulai kerja di DC tepatnya satu tahun yang lalu.
Bagas masih saja terus menerka perubahan raut wajah sahabatnya ketika ia seolah mengawasi seseorang. Tama yang salah tingkah membuat Bagas semakin yakin bila ia sedang mengikuti cewek incarannya.
“Pasti urusan cewek, nih?” terka Bagas.
“Apasih, lo. Bukaan,” elak Tama.
“Oke, oke. Awas aja! Nanti kalau lo minta tolong ama gue. Gak, akan gue bantuin.” Bagas menggoda Tama, seakan tengah mengancamnya walau dengan terkekeh.
“Percaya, dehh. Lo emang masternya penakluk cewek.” Tama kembali menyuapkan sisa gado-gado pesanannya.
Bukan tanpa alasan Tama menyematkan julukan itu pada sahabatnya, pasalnya Bagas selalu berhasil membuat ceweknya mengurungkan niatnya untuk putus, meskipun kesalahanya fatal.
***
__ADS_1
Jangan lupa tekan jempol dan komentar nya ya, friend 🙏🙏 matur sembah nuwun.
Wassalamu'alaikum wr wb. Semangat puasanya 😍