Amita Arunya

Amita Arunya
Mutasi personil


__ADS_3

BAB 28


Suara bising jalan raya membuat Arunya tidak menyadari telefon miliknya berdering hingga ke enam kalinya. Dia yang tengah dalam perjalanan di antar oleh sepupunya menggunakan motor menuju halte bus.


Setelah sampai halte, Arunya berterima kasih dan mereka pun berpisah setelah Arunya mendapatkan bus sesuai tujuannya, Semarang.


Baru saja Arunya mendaratkan bokongnya pada kursi penumpang. Dering telefon mengalihkan perhatiannya. Begitu melihat kontak penelpon, Arunya menepuk keningnya. Lagi-lagi ia melupakan suatu hal. Ia segera menekan tombol hijau pada gawainya.


“Mita! Aku kan udah bilang. Kasih kabar.” Kata pertama dari Tama diseberang sana.


“Waalaikumsalam, Mas Aditama Setya. Maafkan saya, karena tadi dalam perjalanan.” Arunya sedikit menyindir Tama dengan jawaban salam, tanda mengingatkan Tama agar mengucap salam terlebih dahulu. Ia sadar tengah membuat pacarnya itu sedikit kesal karena dia lalai memberikan kabar.


“Huft, Iya. Assalamualaikum.”


“Nah, gitu donk. Jangan marah-marah.” Arunya sedikit lega.


“Aku nggak marah, Sayang. Aku cuma cemas. Begini, nanti sampai Semarang. Cepat beritahu aku, ya. Aku akan jemput kamu.” Tama.


“Iya, mungkin tiga jam dari sekarang. Ya, udah. Aku tutup ya, Mas. Assalamualaikum.”


“Oke, Waalaikumsalam.”


...*** ...


Begitu Tama menutup sambungan telefonnya, pukulan benda empuk dari belakangnya mengalihkan atensinya. Ia menoleh spontan. “Apa, sih!”


“Masih, pagi, woy! Gangguin orang tidur lo, Tam.” Bagas kembali membungkus badan menggunakan selimutnya. Bantal yang biasanya untuk menyandarkan kepala ia gunakan untuk menutup kepala hingga kedua telinganya.


Pasalnya sedari pagi, Tama sudah ribut menggedor kamar kost milik Bagas yang tepat berhadapan dengan kamar kost milik Tama, hanya tersekat halaman kecil selebar tiga meter saja. Tentu saja ia meributkan Arunya yang tidak kunjung mengangkat telefonnya.


“Iya, gue keluar sekarang. Iri bilang, bos.”


Baru saja Tama ingin beranjak dari kasur milik Bagas, kembali sebuah tangan melingkar pada lehernya.


“Aduh, apa-apaan, nih” Tama tergelak pasalnya Bagas sengaja menjatuhkannya dalam kasur lalu menggelitik perut sahabatnya.


“Ampun, Bos. Nyerah. Aaaa,“ Tama terengah menetralkan tawanya. Setelah Bagas melepaskannya.


“Apaan lo bilang gue iri sama lo! Cih, jangan sok dulu. Pastikan Arunya bilang cinta sama lo dulu. Baru gue bisa iri. Masternya, nih. Mau lo lawan!”


Bagas mengisi gelas kosong untuk ia isi air mineral dari dispenser lalu meminumnya.


Berbeda dengan Tama yang justru terdiam mencerna perkataan sahabatnya. “Benar, Gas. Selama jadian, Mita bahkan belum sekalipun bilang cinta sama gue.” Tama meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Apa dia nggak bener-bener cinta sama gue, ya, Gas?” tanya Tama. Ia memposiskan duduknya. Menatap sahabatnya yang masih berdiri memegang gelas yang sudah kembali kosong.


Bagas mendekat setelah meletakkan gelasnya. Menepuk bahu sahabatnya, ” Katanya lo nggak perduli. Dia bakal cinta sama lo atau enggak. Dia masih belum yakin kali’, sama lo. Atau karena dia masih menyukai orang lain.”

__ADS_1


Sejenak Tama berfikir, mengangguk mengerti. “Mungkin, Gas.” Lirih Tama.


***


Arunya yang sempat terlelap dalam bus memindai pandangannya untuk mengenali sampai mana dia berada. Ia lalu memberi pesan lewat sms pada Tama, “Mas, aku udah hampir sampai nih.”


Lama Arunya menunggu tidak kunjung mendapat balasan. Lalu mengecek waktu pada jam tangannya. “Masih nyampai, nih. Jika harus naik angkot,” gumam Arunya.


Hingga Arunya sampai pada terminal tujuannya. Berkali-kali mengecek pesannya, meski sudah menandakan pesan di buka, namun, Tama tidak membalasnya. Ia sedikit kawatir tidak biasanya Tama bersikap demikian. Ia putuskan untuk menunggu sebentar pada kursi tungggu.


Sudah dua angkot yang berhenti untuk menawarkan jasanya. Tapi, Arunya masih memutuskan untuk menunggu Tama.


Tanpa ia tahu, Tama sejak tadi sudah mengikutinya. Dia hanya memerhatikan dari jauh untuk menunggu sejauh mana Arunya mengharapkannya.


Tama sedikit menipiskan bibirnya merasa senang bahwa gadis yang sangat ia sayangi benar menunggunya.


Arunya putuskan untuk kembali menghubungi Tama lewat sambungan telefon. Karena jarak Arunya dan Tama tidaklah jauh, maka dering pertama hingga berikutnya tentu masih terdengar.


Arunya menyapu pandangannya mencoba mencari dering telepon yang kian jelas. Saat berbalik Arunya tentu terkejut Tama sudah berada di belakangnya.


“Mas. Kok ngga di angkat, sih?” tanya Arunya. Tama hanya memberi sedikit senyuman untuk mengurangi wajah kesal Arunya.


Hingga sambungan telepon terputus dengan sendirinya. Melihat raut wajah Tama yang hanya terdiam dengan raut datar membuat Arunya mengernyit.


“Mas. Kamu kenapa?" tanya Arunya yang kini tengah berdiri berhadapan.


Tama memposisikan diri di atas motornya lalu memakai helm, lalu menarik tangan Arunya agar mendekat. Tama memakaikan helm untuk Arunya, serta menyingkap anak rambut Arunya. Menatap dalam mata Arunya. Ia sesungguhnya sudah tidak tahan masih bersikap demikian. Namun saran dari Bagas untuk menantikan reaksi Arunya saat ia bersikap berbeda akan seperti apa, ternyata memang ia coba. Walaupun jauh dari sifat aslinya.


"Apa aku buat salah sama kamu, Mas?” tanya Arunya. Ia memberanikan diri memegang bahu Tama.


Tama meraih tangan Arunya, lalu mencium telapak tangan Arunya sekilas, “Ayo, naik!”


Arunya yang masih bingung dengan Tama yang tidak banyak bicara membuatnya berfikir. Kiranya apa yang salah dengan dirinya. Meski banyak tanya dalam benaknya Arunya tetap naik di atas motor Tama.


Perlahan roda berputar membelah jalanan begabung dengan kendaraan lain, melewati kawasan simpang lima, masih beberapa menit lagi untuk sampai ke kost Arunya.


Tama membimbing tangan Arunya untuk ia lingkarkan memeluk dirinya. Menikmati rasa yang ada, ia tengah menahan diri untuk tidak banyak mengeluarkan segala pemikiran jika Arunya hanya terpaksa menjalin hubungan dengannya karena balas budi.


“Amita Arunya, Aku sudah putuskan untuk terus menjalaninya apapun hasil akhirnya nanti. Aku akan memberikan kesempatan padamu menyelami perasaanmu sendiri. Aku tidak akan pernah lupa saat dulu berkali-kali kau enggan membuka hati untukku karena kau masih menyukai orang lain. Yang aku lakukan hanya berusaha menguatkan hatiku jika yang aku usahakan nanti akan sia-sia. Aku akan berusaha merebut hatimu, hanya untukku sendiri. Bagiku cinta itu egois, Mita.” Batin Tama.


Di sisi lain Arunya dalam diamnya tidak berani untuk sekedar mengucap kata apapun terhadap seorang yang tengah ia peluk sekarang.


“Kamu, kenapa Mas. Aku salah apa? Kenapa kamu mendiamkanku? Tolong tegur aku bila aku telah salah. Aku ingin kamu bersikap seperti biasanya, yang selalu riweh dan ramah.” Batin Arunya.


Sampai di halaman kost. Arunya turun lalu melepas helmnya. Pun dengan Tama yang ikut membawa barang bawaan Arunya hingga ke depan kamar kost.


Tama meraih tangan Arunya untuk melihat waktu pada jam tangan Arunya. Melihat waktu yang tersisa agar tidak terlambat untuk masuk shif dua.

__ADS_1


"Sepuluh menit lagi kita masuk, ya. Buruan bersiap aku tunggu di sini." Tanpa banyak kata Arunya masuk ke dalam kamar kost-nya sedangkan Tama menunggunya di bangku halaman.


...***...


Beberapa hari setelah berubahnya sikap Tama yang lebih irit bicara membuat Arunya gundah.


Walaupun jika dalam berbalas lewat sms Tama selalu banyak pesan. Perhatian masih seperti biasanya, seperti mengajak makan di angkringan atau sesekali mereka makan di rumah makan.


Semua masih sama, kecuali bila bertemu muka. Tama akan bicara seperlunya saja. Hal itu juga di sadari oleh teman-teman satu line.


Sore ini Arunya berinisiatif untuk mengajak Tama bertemu. Ia berfikir untuk mengajak makan malam bersama.


Tentu hal itu membuat Tama senang bukan main namun dalam sekejab ia merasa semakin sedih. Ia juga akan menyampaikan kabar yang membuat ia gusar beberapa hari ini.


Disinilah sekarang, mereka duduk di lesehan di samping angkringan. Di hadapan mereka telah tersaji 2 piring nasi berserta lauknya. Tidak lupa ice lemon tea turut serta di sana. Mereka makan dengan tertib sesekali berbincang hal biasa.


"Yakin, nih. Kamu mau traktir aku?" goda Tama. Ia telah menuntaskan makannya, meneguk minumnya. Dan telah memerhatikan Arunya yang masih asik dengan melucuti daging ayam yang masih menempel pada tulangnya.


"Iya, Mas. Kan, aku habis gajian. Masa' iya tiap kita makan bereng, kamu terus yang traktir aku."


Tama tersenyum, "Harus ya, makan ayam sampai bersih begitu?" tanya Tama.


"Makan harus bersih, Mas. Jangan sampai tersisa, apalagi nasinya, nih," ujar Arunya. "


Kata ibu, Dewi Sri akan menagis jika makan kita nggak bersih." Arunya tersenyum menampilkan barisan giginya yang rapi.


Setelah memastikan kekasihnya menyelesaikan makannya. Barulah Tama mulai berbicara serius. "Mita, aku bingung. Aku harus pilih yang mana. Tapi aku sudah memikirkan matang-matang. Diantara kita harus ada yang di mutasi."


Arunya terpaku, merasa kabar ini membuatnya mematung.


Tama meraih tangan Arunya. "Kamu harus di mutasi di Branch Klaten. Tahu kenapa?" ungkap Tama.


"Karena Head Office, Pak Yo. Dia telah mencium hubungan kita. Banyak pasang mata di DC, Mita. Pasti ada yang melaporkan tentang hubungan kita. Dari dulu, pacaran dalam satu divisi selalu menjadi pertentangan. HO (head office) nggak mau tahu, mereka hanya ingin kerja secara profesional. Jadi mungkin besok pagi, surat mutasi akan sampai di kamu."


Tama menghapus air mata yang keluar dari satu sisi mata Arunya.


Arunya sendiri bahkan tidak sadar bila ia tengah menitikkan air matanya.


"Jadi kita akan berpisah?" tanya Arunya. Bahkan suaranya tercekat karena ia tengah menahan Isak tangisnya.


"Jangan kawatir, aku yang akan bantu urus kepindahan kamu. Aku sudah minta sama teman di sana, agar mencarikan kost buat kamu. Mulai sekarang kamu harus jaga diri, ya. Dari Klaten, lumayan dekat kan dari rumah. Dua jam sampai, kan!" Tama masih saja terus menyuguhkan senyumannya meski hatinya bergemuruh.


Arunya kini tidak lagi bisa menahan tangisnya. Walaupun Tama sudah menepuk pelan punggungnya, tangisnya semakin menjadi.


...***...


Aku up double, nih 😍. Jangan lupa like dan komentar nya, yupp 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2