
Bab 47
Sepulangnya dari bekerja, Tama tetap membonceng pada Bagas. Ketika sampai di area kost, Tama mengucap terima kasih pada pada Bagas. Tentu hal itu membuat Bagas mengernyit heran, tidak biasanya Tama bersikap seperti itu.
Bagas masih diam di atas motornya sedangkan Tama sudah berlalu menuju kamarnya. Ia tergesa membuka layar perpesanan pada gawainya. Ia menekan panggilan pada kontak Arunya. Tidak lama panggilan itu terjawab.
"Iya, ada apa Mas?" Sapa Arunya dari sana.
"Begini, tadi pagi Lo ketemu nggak, sih , sama Tama?"
"Mmm, Sebenarnya aku nggak ketemu dia, Mas. Waktu aku mau masuk warteg itu aku udah lihat dia."
"Rumah makan Surabaya, yang kamu maksud?" sahut Bagas memastikan.
"Iya,"
"Ck, kalian ini kompak banget nyebut rumah makan segede itu warteg," cicit Bagas dan Arunya hanya diam.
"Run, gimana tadi? Lanjutin cerita ,Lo!"
"Ya udah, gitu aja Mas. Aku lihat dia sama cewek cakep baget. Aku pernah lihat dia dimana gitu, tapi lupa."
"Tunggu. Cewek cakep? Lo nggak kenal?" Tanya Bagas. Dia sampai turun dari motornya dan duduk pada lantai teras. Siapa lagi yang Arunya maksud, begitu pikirnya.
"Iya. Jadi? Apa itu pacar Mas Tama, Mas?" tanya Arunya dan berharap jawabannya bukan.
"Tama nggak ada pacar lain selain, Lo, ya ,Run!"
"Lantas, yang tadi itu siapa, Mas. Mereka kelihatan akrab banget." Arunya menahan genangan air mata yang berada di pelupuk matanya. Tadinya ia mencoba menguatkan hatinya jika Tama tidaklah akan setega itu. Namun, berkaca pada dirinya yang juga sempat bimbang dengan kedatangan Rayyan pekan lalu. Arunya menganggap inilah hasil akhir perbuatannya. Sakit, ia kini telah merasakan berada di posisi Tama.
"Siapa, sih? Oke nanti gue akan tanya ke Tama. Tapi tadi pagi gue juga ke sana, tapi kok nggak ketemu sama dia yah," terang Bagas.
"Mungkin, nggak, sih Mas? Mas Tama jalan dengan yang lain dan lupain aku? Seminggu lebih dia diemin aku. Bukankah aku seperti sedang di gantung?" ujar Arunya.
"Begini, ya. Awal masalah yaitu kepulangan kamu ke kampung tanpa memberi tahu sama Tama. Ia mengira jika kamu mau balikan sama Rayyan dan ninggalin Tama. Sedangkan Tama berharap Lo sadar dan meminta maaf ke dia. Saat Lo jauh-jauh mau nyamperin dia, Lo pulang gtu aja tanpa tanya siapa cewek yang sedang bersama dia. Ini seperti hanya sebuah kesalahpahaman aja, Run."
"Mungkin, dia kecewa sama aku. Sampai dia cari yang lain."
"Segila-gilanya Tama, dia nggak akan segampang itu, Run."
"Apa benar begitu?" tanya Arunya.
"Iya. Gue kenal dia udah lama."
__ADS_1
"Kali ini, kasih aku nomor dia, Mas! Aku mau jelasin semuanya. Aku nggak mau di gantung begini."
...***...
Tama sedang meringkuk pada kasurnya. Celana rumahan selutut dengan kaos tanpa lengan membalut tubuhnya. Saat sendiri seperti in lah, ia merasakan rindunya pada Arunya. Beberapa hari yang lalu, ia menyibukkan diri dengan nongkrong dan touring dengan jarak dekat bersama teman-temannya. Ia sengaja mengalihkan dengan kegiatan agar ia dapat melupakan sejenak sakit hatinya karena Arunya.
"Aku kangen baget, Ta. Tapi aku juga benci banget sama kamu. Aku kecewa sama kamu."
Segala yang ia lalui untuk menggapai cinta Arunya berputar mengelilinginya. Rasa sayang dan cinta itu masih ada. Namun, rasa kecewanya seolah masih bergelayut pada benaknya.
Saran dari Maria juga kembali ia pikirkan, tentang keras hati yang ia miliki. Ia mulai berfikir tindakan mengganti nomornya dan menutup komunikasi dengan Arunya adalah tidakan salah. Dulu hal itu juga yang membuat hubungannya dengan Maria berakhir dan Tama tidak ingin ini terjadi pada hubungannya dengan Arunya. Meski rasa takut jika akan di tinggalkan masih terus mengganggunya. Hatinya masih menutup diri agar ia membuka pembicaraan dengan Arunya.
Tama hanya takut, Arunya menghubunginya hanya untuk mengakhiri hubungannya.
Sungguh pemikiran yang amat dangkal. Lama Tama memandangi foto Arunya, hingga akhirnya ia tertidur.
Di saat yang sama, Arunya hanya memandangi nomor yang telah di berikan Bagas padanya. Melihat waktu yang sudah larut malam, ia urungkan niatnya untuk memberi pesan pada Tama.
Esoknya Arunya dan Asih tengah bersiap untuk bekerja. Seperti biasa mereka hanya berjalan kaki saja menuju tempatnya bekerja.
"Run, mau ikut tim perbantuan Grand Opening outlet baru, nggak? Lumayan dapat pengalaman baru, loh."
"Semacam tim inti, gitu?"
Arunya tersenyum masam. "Lihat nanti, deh," jawabnya.
"Menurut ku, nih, ya. Tama tuh kekanakan. Hubungan kamu belum jelas, dia udah jalan sama yang lain." Arunya menceritakan apa yang dia lihat kemarin pada Asih, tentu hal itu membuat Asih ikut geram.
"Kata Mas Bagas, itu nggak mungkin, Asih."
"Ya terus, kenapa kamu nggak usut dan samperin dia aja kemarin?" tanya Asih.
"Ya, aku nggak bisa. Sakit, lihat dia sama tuh cewek, Asih."
"Kamu bisa cemburu juga rupanya," canda Asih. Namun, membuat Arunya terdiam.
"Cemburu? Ternyata cemburu semenyakitkan ini," batin Arunya.
"Udah Run, jangan di pikirin segitunya. Tunggu aja sampai Tama sadar bahwa tindakannya salah dengan hanya diam memenuhi egonya sendiri. Tunjukin sama dia kamu bukan gadis cengeng."
Arunya memaksakan senyum, walau hatinya sedang berteman gundah.
Tanpa terasa Asih dan Arunya sudah sampai pada ruang loker Mereka. Keduanya meletakkan peralatannya pada loker dan menguncinya kembali.
__ADS_1
...***...
Maria memanggil Bagas saat keduanya tengah memarkirkan sepeda motor masing-masing. Bagas yang sudah kenal dengan mantan pacar sahabatnya pun menunggu Maria yang sedang berlari kecil dengan sepatu hingh heels setinggi tujuh centimeter itu. Kulit putih cerahnya sangat cocok berbalut kemeja berwarna merah cerah itu. Kacamata dengan riasan tipis nan tegas itu begitu pas membingkai wajahnya. Rambut pendek berponi bergaya bob sangat memukau setiap mata Adam yang memandang.
Hanya karena Tama yang keras kepala, Maria memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dulu. Padahal saat itu Tama masih amat sangat menyayanginya.
Tama bersikeras untuk tidak merahasiakan hubungannya agar tidak ada yang mendekati Maria. Namun, Tama tetaplah Tama, yang tidak dapat di ajak bekerjasama. Sedari dulu hubungan dalam satu kantor tidak akan di benarkan oleh Head office dan akan selalu berakhir dengan di mutasi personil salah satunya.
Akhirnya hubungan keduanya berakhir salah paham Tama pada Maria yang tidak benar-benar menyukainya dan terkesan menyembunyikan hubungannya.
"Hai, lama nggak kelihatan," sapa Bagas.
"Jelas. Bu Maria orang kantor sedangkan eike orang gudang, nggak bakalan ketemu lah, kalau nggak janjian," kelakar Bagas. Yang di balas candaan dari Maria.Keduanya lalu berjalan bersisian menuju gedung DC.
"Tama kemarin cerita tentang masalahnya, loh."
"Hah. Serius?" tanya Bagas.
"Ya. Waktu itu ketemu di tempat makan dekat kostnya. Nggak ada angin nggak ada hujan, dia cerita masalahnya sama pacarnya."
Bagas terkejut, pasalnya setelah putus dengan Maria, hubungan keduanya terlihat saling mengacuhkan, tidak sedekat itu. Maria juga sudah memiliki pacar baru yang lebih dewasa dari sahabatnya yang kekanakan itu. Tidak mungkin jika keduanya terlibat cinta lama bersemi kembali.
Jiwa kepo Bagas begitu antusias untuk mendengarkan cerita dari Maria. Namun, waktu yang sudah mendekati timer untuk absensi segera memangkas perbincangan keduanya.
"Besok gue telpon ya, Bu," pinta Bagas.
"Karena Tama?" tuding Maria.
"Iyalah, nggak mungkin donk AQ mau pedekate sama Bu Trainer. Yang ada bakalan di depak sama tim HO dari sini." Bagas selalu pintar membuat candaan. Membuat Maria tertawa lalu mencebikkan bibirnya.
"Gue bukan Ibu, Lo, ya!" Maria berlalu menaiki tangga untuk menuju ruang kerjanya. Sedangkan Bagas berlalu ke mesin finger print, dan bersiap untuk briefing.
...***...
Annyeong epribadih,
Selamat pagi,
Hehehehe, makin ruwet aja ya Runya sama Tama, nih. Bikin pusing, masih belum rela mau end.
Jangan lupa like n komentarnya ya,
GUMAWO π
__ADS_1