
BAB 2
Setiap hari Arunya selalu meluangkan waktunya untuk mengarahkan Dika dalam belajar. Melihat ibunya yang selalu pulang menjelang petang, membuatnya merasa nyeri.
Tini, ibu dari Arunya, berusaha menemani anak-anaknya jika sedang belajar, walau terkadang rasa lelah dan kantuk tidak dapat tertahankan.
Arunya menatap iba tubuh ibunya yang tengah tertidur. Terlihat jelas guratan kelelahan pada wajahnya. Demi menyambung kehidupannya bersama kedua anaknya setiap hari bekerja menjadi buruh laundry yang cukup jauh dari rumahnya.
Ditinggalkan suami yang belum genap 100 hari kematiannya, memaksakan Tami menjadi tulang punggung keluarga kecilnya.
🌻🌻🌻
“Mari, Bu,” sapa Arunya, ketika melewati rumah paling ujung gang kampungnya. Mengetahui Bu Mira yang sedang menyiram tanaman di pinggir pagar halamannya. Sebagai sopan santun yang selalu diajarkan kedua orangtuanya, Arunya tak lupa untuk menyapa orang yang lebih tua.
“Iya, Run.” Mira menghentikan kegiatannya sejenak seraya tersenyum. “Eh, Arun. Tolong nanti habis ashar bilangin ke Bu Tami untuk ke rumah saya, ya!” Mira sedikit berteriak.
“Iya, Bu. Nanti saya sampaikan ke ibu saya,”
jawab Arunya
“Terima kasih, ya.”
“Saya lanjut ya, Bu,” pinta Arunya.
“Iya, silahkan.”
Arunya segera berlari tergesa menghampiri minibus langganannya. Rambut panjangnya, sengaja ia gerai karena sehabis keramas, tergerak seiring langkahnya.
__ADS_1
Sampai di dalam bus terlihat beberapa anak-anak tetangganya sudah terduduk rapi di kursi penumpang.
Selain itu beberapa ibu-ibu yang hendak ke pasar pun turut serta disana. Sampai pandangannya bertemu dengan Rayyan.
Satu-satunya kursi kosong yang tersisa dalam bus hanya disamping Rayyan. Tak berfikir panjang Arunya segera mendaratkan bokongnya dikursi yang ada.
“Tumben berangatknya siangan?” tanya Rayyan.
“Iya, tadi bantu beberes rumah dulu,” jawab Arunya.
"Wahai sang waktu, bolehkah aku berharap kali ini roda bus ini agar bergerak lebih lambat. Agar aku dapat sedikit lebih lama duduk disampingnya," batin Arunya.
Setelah itu tak ada percakapan lagi antara keduanya. Beberapa menit kemudian, bus berhenti tepat di depan gerbang sekolah tempat Arunya mengenyam pendidikan menengah pertama yang tinggal 8 bulan lagi akan selesai.
“Aku duluan, Ray.”
Arunya menurunkan kakinya dari badan minibus kemudian membayar satu keping uang logam seribu rupiah kepada kondektur bus.
Bus kembali berjalan, bersiap mengantarkan penumpangnya ke tujuan masing-masing. Pun dengan Rayyan yang masih kelas 12 SMK Negeri di tengah kota.
Beberapa kali menoleh bus yang kian menjauh, Arunya melangkahkan kakinya memasuki kawasan sekolah. Wajahnya menghangat mengingat dirinya yang sengaja berangkat terlalu siang agar dapat bertemu dengan Rayyan.
Hanya dengan melihatnya saja membuat Arunya bahagia, sesederhana itu. Melihat perubahan Rayyan yang membaik, membuat Arunya lega.
Arunya tersenyum getir, tatkala teringat kelakuan Rayyan yang menggemparkan satu kampung. Satu tahun yang lalu tepatnya ketika Rayyan terpengaruh oleh beberapa temannya. Ia dipaksa untuk mentraktir beberapa temannya tepat dihari ulang tahunnya yang ke 17. Hal itu membuat Rayyan bingung karena orangtuanya yang tak mudah memberikan uang lebih. Walaupun berasal dari kalangan orang yang sangat mampu, Orang tua Rayyan mendidiknya dengan disiplin. Terlebih hanya untuk tujuan yang tidak jelas. Hingga Rayyan terpaksa mengambil uang orang tuanya untuk membeli beberapa botol minuman berlabel bintang besar di tengah botolnya.
Wijaya seorang dewan perwakilan rakyat, malu dan marah besar mengetahui tingkah anaknya. Pamornya yang terpandang di kampungnya seakan tercoreng hanya karena kesalahan anaknya. Hal itu membuat Wijaya membatasi pergaulan Rayyan.
__ADS_1
Saat magang sesuai mata kejuruan yang ia ambil, Rayyan dititipkan ke Surabaya tempat pamannya, seorang polisi. Wijaya yakin dengan sang kakak, watak keras dan disiplin mampu memberi didikan positif bagi anaknya..
Sesungguhnya, tidak ada orangtua yang membeci anaknya. Apapun akan dilakukan yang terbaik untuk anaknya. Walaupun terkadang dengan cara yang berbeda.
***
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu perubahan yang tak terbatas yang di alami oleh individu, tentu proses perkembangan dan pertumbuhan pasti dialami oleh remaja, adapun faktor yang sangat berperan penting pada pertumbuhan dan perkembangan remaja adalah orang tua. Orang tua memiliki peran penting karena orang tua adalah orang terdekat bagi anak.
Seorang anak akan berperilaku baik jika mendapatkan kasih sayang serta perhatian dari orang tuanya, dan sebaliknya jika anak tidak mendapatkan rasa kasih sayang atau bahkan sampai merasakan ketidaknyamanan dalam suatu keluarga, anak pasti akan menjadi seorang pemberontak dan akan melakukan hal-hal yang menyimpang.
Sepulangnya Arunya dari sekolah. Hanya ada Dika yang ada dirumah bersama teman-teman bermainya. Jarak dari rumah satu kerumah yang lain tidaklah jauh.
Tami, ibunya, tidak perlu merasa kawatir untuk meninggalkan Dika bekerja. Tetangga di depan rumah, sekaligus adik almarhum bapak yang ringan tangan membuat Tami tenang menitipkan Dika.
Dika pun merupakan anak yang mudah diatur. Ketika waktunya makan, dia akan dengan sendirinya dapat mengurus sendiri. Terbiasa menggantung seragam setelah dipakai, makan siang jika sudah waktunya bahkan memberi makan hewan ternak peninggalan ayahnya.
Tami bekerja di loundry. Pekerjaannya tidak dituntut jam kerja. Dengan membagi waktu agar ternaknya tetap terawat, juga harus merawat tanaman padi disawahnya. Tami selalu berusaha bagaimana caranya agar keluarga anak-anaknya tidak kekurangan, dia mengabaikan lelah yang dia rasakan.
Mengingat waktu tengah mendekati waktu ashar, Arunya teringat akan pesan Bu Mira untuk disampaikan kepada ibunya.
Dengan menggunakan gawai jadul miliknya, semua pesan dari Bu Mira ia sampaikan kepada ibunya. Akan tetapi, pekerjaan yang jauh dari perkiraanya mengharuskan Tami untuk tetap melanjutkan pekerjaanya.
Dengan kerelaan hati, Arunya menggantikan pekerjaan ibunya. Rasa malu tidak pernah ia kenali, walau tak jarang teman seusianya sengaja mencelanya.
***
Jangan lupa like dan komentarnya ya friend
__ADS_1
🙏🙏🙏