
BAB 32
“Iya halo, Run,” sambut Bagas melalui sambungan telefon.
“Aku berkali-kali telepon Mas Tama, tapi enggak pernah di angkat. Aku sms berkali-kali juga enggak dibalas. Apa dia lagi sama kamu mas?” tanya Arunya.
“Tama jatuh dari motor tadi siang, Run.”
“Apa! Trus, sekarang gimana, Mas. Aku mau masuk siang. Aku pengen kesana.” Arunya reflek berdiri dari duduknya.
“Ya, gitu. Luka-luka aja di tangan sama lengannya ada di jahit beberapa, sih. Sekarang udah pulang ke rumahnya. Motornya ada di bengkel dan untungnya tidak terlibat dengan polisi.” Bagas mengungkap panjang lebar. Kata demi kata Arunya dengar dengan seksama.
Arunya panik. Berjalan kenana-kemari dengan acak di kamar kostnya. "Aku pengen kesana tapi aku masuk shif siang. Gimana ini?”
“Enggak usah kesini. Kecuali jika kamu udah siap di nikahin.”
“Sempet-sempetnya bercanda. Aku serius ini!” Terdengar suara terkekeh dari sana.
“Kerja yang bner, sana! Pacar lo udah gue urusin. Dia lagi gak mau ngomong sama lo. Ini aku masih di rumahnya. Minta anter Asih aja, besok!”
Mendengar saran dari Bagas Arunya berterimakasih, dan menutup sambungan teleponnya.
Kini nasi rames yang ia beli di kantin dari tadi siang sudah tidak menarik perhatiannya lagi. Waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB. Ia harus bersiap untuk memulai lagi pekerjaannya.
“Mas Tama, maafin aku,” sesal Arunya.
Saat ia akan mencoba mengetikkan pesan pada Tama, nama kontak Arif tertera pada layar ponselnya.
“Hallo, Mas Arif. Ada apa?” tanya Arunya begitu ia menekan tombol hijau pada ponselnya.
“Kamu dimana? Apa kamu masuk kerja?” tanya Arif.
“Kerja, Mas. Aku masuk siang, ini sedang makan aja di kantin nanti sekalian solat. Tumben telfon?”
“Gitu, ya. Ya udah, gak jadi. Lain kali aja.Bye.”
Arunya mengernyit bingung. “Tidak biasanya Mas Arif telepon. Ditanya kenapa, malah nggak di jawab, Aneh.” Arunya bergumam.
Lalu ia kembali mengetikkan pesan pada Tama. Walau berkali-kali tidak juga mendapatkan balasan, ia tak menyerah mengirimi pesan.
...***...
Setelah melakukan absensi dan keluar dari DC, Arunya melangkahkan kakinya dengan gontai. Mengecek kembali pesan yang di kirimkan kepada Tama. Nyatanya hingga sekarang tak ada satu pun pesan balasan dari Tama.
Arunya melangkah gontai menyusuri jalanan beton menuju kostnya, tiba di seberang jalan halaman, ia kembali membeku. Ia melihat sosok Arif bersama lelaki yang tengah menghadap searah dengannya.
Apalagi ketika sebuah pemilik bahu lebar telah membalikkan badan dan menatapnya. Seketika tas ransel dalam bahunya luruh seiring butiran bening pada kedua matanya ikut berjatuhan.
Arunya tidak bisa menggambarkan perasaan seperti apa yang sedang ia alami kali ini. Bahagia, tapi dengan alasan apa? Sedih juga, untuk alasan apa?
Rayyan, begitu ia melihat gadis berambut panjang dengan seragam berwarna merah dengan celana jeans berwarna gelap tengah terpaku melihatnya, ia segera menipiskan bibirnya. Lalu ia pun ikut mematung.
Lima tahun yang lalu, saat Rayyan tidak sempat berpamitan pada Arunya membuat ia merasa bersalah. Terlebih cerita dari Arif yang menyaksikan sendiri Arunya kala itu.
Kini Arunya berada di hadapannya. Semakin manis semakin membuatnya bungkam, memupus keberaniannya kembali.
__ADS_1
Arif yang menyadari keduanya masih mematung dengan keterkejutannya segera berlari menghampiri Arunya. “Hai. Mamas udah datang jemput kamu, tuh. Dibela-belain datang dari Riau. Dia bolos demi kamu. Samperin, sana!”
Rentetan kata dari Arif membuat telinga Arunya berdengung. Perlahan ia meraih tas yang sudah teronggok di atas tanah.
“Gak usah terharu sampai nangis begitu, Run. Memang lelaki sejati itu itu harus berkorban.”
Kata berikutnya dari Arif membuat Arunya semakin berat untuk melangkah. Ia tidak tahu pergolakan batin seperti apa di dalam hatinya. Di satu sisi ia yang masih kacau karena Tama yang enggan menghubunginya di satu sisi kedatangan Rayyan yang begitu mengejutkan dirinya serta kata-kata pembuka dari Arif membuat perasaannya berkecamuk.
“Hai,” sapa Rayyan.
“H-hai,” balas arunya gugup.
Arif hanya menahan tawa melihat interaksi canggung keduanya. “Boleh duduk, Kan, Run!” Bukan sebuah pertanyaan. Karena Arif sudah memposisikan diri pada kursi yang ada. Begitupun Rayyan dan Arunya yang mengikuti Arif.
Mereka duduk bertiga di halaman kost Arunya. Rayyan membawa beberapa air mineral dan snack ringan lalu menatanya pada meja yang berada di antara ketiganya. Terlihat tenang sesekali mencuri pandang terhadap Arunya yang hanya diam menunduk.
“Minum, dulu. Aku tadi beli di minimarket depan.” Rayyan meletakkan tiga air mineral dan beberapa coklat dan snack ringan.
Arunya hanya diam menunduk seperti seorang narapidana tengah di hadapkan dengan beberapa hakim di depannya.
“Kost-nya nyaman, yah,” celetuk Arif memecah keheningan selanjutnya.
Arunya hanya tersenyum sedikit mengedarkan pandangan pada kostnya. Dalam hatinya ia takut pemilik kost menegurnya karena menerima tamu lebih dari jam 10. Lalu netranya berhenti ketika bertemu dengan mata milik Rayyan.
“Runya, apa kabar?”
“Ray, apa kabar?”
Antara Rayyan dan Arunya bahkan tengah kompak mengutarakan kata pertama setelah sekian menit berlalu mereka terdiam. Hal itu membuat Arif tertawa riang. “Lihat! Kalian bahkan sangat cocok.” Arif kembali tergelak.
“Maaf, tapi bagaimana bisa kalian kesini malam-malam?” tanya Arunya pada kedua teman di hadapannya.
“Maaf ya, ini aku sekedar mampir. Dari tadi siang aku di tempat Arif. Waktu Arif sms, taunya kamu lagi kerja. Jadi aku transit aja disana nungguin kamu selesai kerja.”
“Dia maksa mau kesini jam 12 tepat tadi.” Arif menyela dan mendapat lemparan coklat stik dari Rayyan.
Arunya tersenyum canggung. Bertahun-tahun tidak bertemu muka dengan Rayyan, membuatnya semakin canggung meski beberapa kali sudah bertukar kabar melaui sms maupun telepon. Tapi berhadapan langsung seperti ini membuatnya tidak percaya diri dan kembali mengerdil.
“Jadi kamu baru datang siang tadi, Ray, eh, Mas?” tanya Arunya dan mendapat anggukan dari Rayyan.
“Ciee, gugup,” goda Arif.
Rayyan semakin mengulas senyum melihat raut muka Arunya. Ia paham Arunya tengah gugup.
“Aku datang pagi tadi, Runya. Hampir siang juga, sih. Aku memaksa Arif dari tadi siang untuk mengantarkan aku kesini padahal hari ini dia ada kelas.” Rayyan terkekeh. “Emm, apa nggak apa nih aku datang malam-malam?” tanya Rayyan.
Arunya menunjuk papan pengumuman yang tertulis disana.
Tamu 24 jam harap lapor
Rayyan tentu mengangguk mengerti. Melihat ke arah Arif dan mendapat anggukan.
“Baiklah, kita pulang dulu aja, Runya. Gak enak sama tetangga disini. Besok lagi kita kesini lagi. Besok masuk apa?” tanya Rayyan dengan menampilkan senyumnya.
“Besok aku libur-“
__ADS_1
“Besok aku kesini, ya.” Rayyan memangkas cepat perkataan Arunya. “Kamu istirahat, baru pulang kerja pasti capek. Ayo Rif.” Rayan beranjak dari duduknya. Ia sadari waktunya tidak tepat untuk sekarang ini.
“Yakin? Pulang aja nih? Udah tuntas belum kangennnya?” goda Arif. Lantas mendapat hadiah bekapan telapak tangan Rayyan pada mulutnya.
“Jangan gitu, kasian Runya.” Rayyan melirik Arunya yang tengah berdiri menampilkan tatapan sayu padanya.
“Kita balik dulu, Arunya. Assalamualaikum.” Kata Rayyan saat sudah berada di atas motor Arif.
Arunya mengangguk, “Waalaikumsalam. Hati-hati, ya.”
Rayyan turun lagi dari motor Arif lalu mendekati Arunya. “Aku kesini lagi besok. Aku harap kamu meluangkan waktu untukku. Banyak kata yang ingin ku sampaikan sama kamu.”
Rayyan menepuk pelan bahu Arunya. Lalu menampiklan senyumnya. Membuat Arunya membeku di tempat.
Setelah mengantar kepergian Ryyan dan Arif di pagar kost. Arunya berbalik dan mendapati Asih berdiri tak jauh darinya.
“Tadi itu, Rayyan?” tanya Asih dan mendapat anggukan dari Arunya, “Terus gimana keadaan Mas Tama? lanjutnya.
Seketika itu airmata Arunya luruh tidak dapat ia tahan. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Aku harus bagaimana, Asih.” raung Arunya.
“Udah, kamu tenang dulu. Kita ke kamar!”
Asih lalu merengkuh bahu Arunya untuk membawa kedalam kamarnya. Sembari terus menangkan Arunya.
Sesampainya di dalam kamar Asih memberikan air minum pada Arunya. “Minum dulu, Biar tenang.” Meski enggan Arunya tetap menerima lalu meninumnya perlahan. Benar adanya, dengan meminum ia sedikit lebih tenang.
“Besok aku anterin ke Semarang. Aku ada shif siang soalnya. Jadi paling tidak kita kesana pagi banget.” Meraih gelas yang sudah tandas dari tangan Arunya.
“Makasih ya, Asih.”
Asih tersenyum mengangguk. “Saat kamu sms tadi. Aku trus sms ke Mas Bagas. Katanya udah di bawa pulang, berarti gak begitu parah, kan!”
“Tapi besok Rayyan juga mau kesini lagi, Asih. Aku harus gimana?” pangkas Arunya.
“Sore kan, bisa! Kamu juga libur, kan?” tekan Asih.
“Bukan itu masalahnya. Gimana ngomongnya ke Mas Tama, Asih. Aku takut,” keluh Arunya kembali.
“Memang kamu masih menyimpan rasa sama Rayyan?”
..._ To be continue _...
#######################
Aku tidak akan bosan untuk meminta dukungan teman-teman, karena aku adalah pendatang baru, baru netes 🐣🐣🐣🐣🐣 ,
So, jangan bosan ya, kalau AQ masih mengemis like, komentar, bahkan jika berkenan dapat menginfokan kepad sanak, saudara, keponakan, sepupu, kakak, tetangga, mantan teman SD, SMP, SMA bahkan ke mantan pacar juga nggak apa-apa, aku ikhlas.. 🤭🙏🙏🙏
Boleh sekali kunjungi Instagram aku ya, biar tambah Deket seperti selai sama roti tawar,
@rna.darkchoco.14
Facebook aku a.n Erenn_Na
__ADS_1
terimakasih,,