
Bab 48
Lagu How long milik Charlie Puth, yang berbunyi berkali-kali itu membangunkan Tama dari alam mimpinya. Perlahan pupil matanya melebar melihat sederet nomor menyapanya pada layar gawainya. Dengan malas, ia menekan tombol panggilan itu lalu menempelkan pada sisi telinga kiri dengan kepala kembali bersandar pada bantal.
"Halo," sapa Tama dengan suara serak khas bangun tidur.
Sedangkan Arunya yang mendapat sapaan dari lawan teleponnya merasa berdenyut. Antara senang, sedih menjadi satu. Mendengar suara yang sangat ia rindukan setelah berhari-hari ia kesepian menantikan kabar dari Tama.
Terdengar kembali sapaan dari speaker gawainya.
"Mas," sahut Arunya.
Suara yang cukup familiar membuat mata Tama membulat sempurna. "Mita," lirih Tama.
"Mas, kamu bisa dengar suara aku?"
"I-iya,"
"Tolong dengerin aku kali ini, Mas." Arunya menarik napas dalam lalu mengembuskan perlahan.
"Mas aku mau minta maaf jika yang aku lakukan beberapa hari yang lalu membuatmu salah paham. Sungguh aku nggak bermaksud apa-apa, aku hanya ingin antara aku dan dia tidak ada dendam, dan mengakhiri apapun dengan baik, Mas. Hanya itu," terang Arunya.
Tama bangun dari tidurnya, memposisikan diri duduk bersandar pada dinding beton kamar kostnya.
"Ta, aku hanya takut kamu menghubungiku untuk mengakhiri hubungan kita, Maaf,"
"Kenapa kamu bisa mikir begitu, sih, Mas!"
"Maaf,"
"Lalu? Perempuan yang makan berdua dengan kamu kemarin siapa, Mas?"
"Hah? Apa?"
"Iya, kemarin aku lihat kamu di warteg biasanya. Bersama cewek cantik banget."
Tama terkejut dan beringsut dari kasurnya. "Kamu ke Semarang?" Pekik Tama.
"Iya. Emang, Mas Bagas nggak cerita?"
"Kamprett, emang kamu, Tam!. Ini sebabnya kemarin Bagas ketus banget." runtuk Tama pada dirinya sendiri. Tentu hal itu tertahan hanya dalam benaknya.
"Ta, kenapa kamu nggak nemuin aku?"
"Bagaimana bisa aku menemui kamu sedangkan kamu sedang asyik bersama cewek itu, Mas. Ku pikir itu pacar baru kamu!"
"Hei, kamu pikir aku gila apa! Ta, dia itu trainer di DC Semarang yang baru. Dia... Mantan aku."
__ADS_1
"Mantan?"
"Aku udah putus dari dia jauh sebelum kamu datang, Mita."
Lega, itulah yang Arunya rasakan. Benar yang Bagas katakan, bukan sekedar membela sahabatnya tanpa dasar. Tapi kedekatan mantan yang di sebutkan membuat hati Arunya tercubit, bahkan mendadak hawa panas mengelilinginya. Mungkin Arunya sedang cemburu.
"Hallo, Mita. Kamu masih di sana." Tama memeriksa detik waktu yang masih berjalan, menandakan sambungan telepon masih aktif.
"Ya,"
"Aku kangen, Ta,"
Ungkapan dari Tama kali ini cukup memberi rasa sejuk pada hati yang sempat terbakar. Tidak di pungkiri Arunya pun merasakan hal yang sama.
"Jangan diemin aku lagi, ya," pinta Arunya.
"Tergantung,"
"Kok?"
"Aku ingin kita ketemu."
...***...
Binar kebahagiaan sedang meliputi hati Tama kali ini, ia mengutuk dirinya beberapa hari yang lalu yang ia sia-siakan. Menutup jarak pada orang yang sangat penting bagi hidupnya. Di akhir telepon tadi pagi ia sudah berjanji bila itu adalah terakhir kalinya ia berbuat di luar logika.
Kembali, ia bertemu pada Bagas di halaman kost. Lalu menghentikan langkah sahabatnya.
"Gas. Gue mau minta maaf," ungkap Tama.
"Untuk?"
" Ya elah, Gas. Udah, sandiwaranya. Gue udah insap ini."
"Emang gue pikirin,"
"Ck. Pakai merajuk segala." Tama masih tetap mengikuti arah langkah Bagas menuju motornya.
"Kenapa, sih, ngikuin melulu! Geli, gue." Bagas mendorong dada Tama.
"Gue udah baikan sama Mita." Sontak, ungkapan Tama mengalihkan atensi Bagas kembali.
"Dan, gue harus apa? Kasih selamat atas kebodohan, Lo, gitu?"
"Iya, makanya gue mau minta maaf, udah mengabaikan saran, Lo."
Bagas menarik sudut bibirnya, meremehkan. "Kalau gue jadi, Mita. Udah gue tinggalin punya pacar kek, Lo. Kekanakan!"
__ADS_1
Tama menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Merasa mati kutu. Bahkan, Bagas yang biasanya gesrek saja seperti ikut kesal karena tingkahnya .Hal itu membuat Bagas tertawa terbahak, dan di hadiahi pukulan ringan pada bahunya oleh Tama.
Keduanya kembali akrab. Mereka berangkat bekerja dengan motor masing-masing. Memiliki teman yang tulus seperti Bagas mustinya dapat di syukuri oleh Tama. Ia yang selalu ada saat sedang susah maupun senang, kapanpun dan di manapun.
...*** ...
Keceriaan menghiasi wajah Asih, ia sudah melihat sahabatnya kembali menampakkan senyum lagi. Apapun yang sedang Arunya alami, selalu di ceritakan padanya. Membuat Asih merasa di butuhkan dan itu menjadikan orang yang penting dalam hidup Arunya.
Asih suka bila Arunya tidak menganggapnya orang lain. Menghilangkan rasa canggung dan tidak enak hati. Bagi Asih, Arunya sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Kebersamaannya sejak bekerja di Semarang dulu, sejak masih training hingga menjadi karyawan tetap membuat ia semakin dekat.
Pulang kerja kali ini Arunya membonceng pada Asih. Mereka berhenti pada kedai gorengan. Sore hari saat hujan gerimis seperti sekarang ini sangat cocok menyantap kudapan di temani teh hangat.
Molen pisang dan tempe mendoan menjadi pilihan keduanya. Tidak lupa, beberapa buah cabai hijau turut serta masuk dalam kantong plastik. Setelah membayar dan mengucap terima kasih pada penjual, mereka berlalu menuju kostnya.
Malam kembali datang dengan suara nyaring jangkrik yang memekik pendengaran. Suara hewan sejenis serangga itu menemani malam hari Arunya, udara malam sangat terasa dingin berlipat-lipat karena sehabis hujan.
Berbalas pesan pada Tama sambil duduk di teras depan. Gombalan receh dari Tama sering kali membuat Arunya terkekeh menampilkan sedikit lesung pipit pada pipinya.
Arunya mengungkapkan inginnya untuk ikut team GO/ grand opening pembukaan store anak cabang kantornya. Sedikit perdebatan kembali memberi warna antara Tama dan Arunya. Namun, itu semua dapat di atasi oleh Arunya. Akhirnya dengan berat hati Tama memberi persetujuan dengan syarat.
Bukan tanpa alasan Tama melarang Arunya untuk ikut team GO. Pasalnya pekerjaan yang selalu berpindah-pindah itu membuat Tama sedikit menghawatirkan Arunya. Tama selalu takut bila Arunya akan semakin sibuk dan kembali terjadi miss komunikasi pada hubungannya.
"Janji. Kamu akan meluangkan waktu untuk telepon dan berbalas pesan?" tanya Tama pada sambungan teleponnya.
"Janji,"
"Jika kamu lelah bisa kembali ke DC lagi. Aku kasih bocoran, ya. Jadi team GO itu berat, aku sedikit ragu kamu bisa mampu, yank!"
"Kamu lupa, siapa aku, Mas!"
"Enggak. Kamu wanita terkuat yang pernah aku temui. Emm, yang habis gajian. Jangan lupa transfer buat ortu di rumah," saran Tama.
"Udah kok,"
"Good girl,"
Arunya menutup pembicaraan dengan Tama. Ia kembali berfikir bagaimana cara untuk membagi waktu kerja dan keinginan untuk kuliah. Sedikit memikirkan saran dari Rayyan waktu itu. Ia harus kuliah untuk mewujudkan impiannya menjadi guru. Namun, keterbatasan biaya selalu menjadi masalah untuk Arunya.
"Berusahalah semampu kamu, Mbak. Jangan memaksakan bila itu terlalu berat." Saran dari ibu kembali membuat Arunya kembali di dera rasa takut.
"Mungkinkah kenyataan ini menghapus paksa anganku untuk menjadi seorang pendidik?"
...*** ...
Maapkan up, malam ya friend. Kesibukan RL kembali ke rutinitas setelah kita di sibukkan dengan bersilaturahmi pada sanak saudara. semoga apa yang menjadi niat kita untuk menyambung tali silaturahmi mendapatkan Rahmat dan barokah dariNya. aamiin.
jangan lupa like komentarnya ya,,ππππ
__ADS_1