
Ini bukan up , teman-teman.
...Ini adalah pengumuman netesnya cerita kedua ku,...
Baru netes abis magrib ini. Jadi aku mohon like koment kritik dan sarannya, ya πππ
Sebenarnya Kenapa aku selalu ambil cerita itu masa muda? ya kali, aku nggak mau cepet tua, π€£π€£π€£π€£
Canda, jawaban sebenarnya adalah karena aku nggak pandai bikin cerita konflik dewasa.
Alhasil cerita ku ringan banget, buat seru-seruan, buat nyalurin ide aja.
Buat temen-temen yang mau kasih saran boleh banget. Dengan senang hati aku akan menerima dan memperbaikinya.
Boleh sekali jika suka cerita ini di rekomendasikan sama temen, saudara atau mantan pacar, mungkin. Hehehe, biar yang di kota bisa tahu kehidupan di desa tuh kaya' gimana. Trus yang di desa juga bisa halu, ada di kehidupan perkotaan.
Sebuah cerita itu sebenarnya berfaedah, asalkan kita menerimanya dengan positif.
Saran dapat di kirimkan melalui DM Instagram aku
@rna.darkchoco.14
__ADS_1
Facebook : Erna Astuti
Facebook : Erenn_Na
Ada dua akun punya ku, selebihnya bukan aku.
Biar nggak penasaran,,,π€
Nih aku kasih cuplikan ceritanya, ...
βοΈβοΈβοΈ
....
Sisil tidak mau satu sekolah mengetahui jika ia dan Miana adalah saudara. Entahlah. Mungkin karena ketenarannya sebagai anak donatur tetap Yayasan di sekolah tidak ingin mengganggu reputasinya. Bagi Sisil, Miana sudah banyak beruntung karena prestasinya di bidang akademik. Sedangkan ia tidak dapat lebih unggul dari Miana .
"Jadi, biarkan Bian melepasmu dan jangan mengusiknya lagi, Kak," hardik Sisil lirih.
Miana melirik adiknya, berusaha menahan genangan air yang siap terjatuh dari pelupuk matanya.
Bian datang mengendalikan deru nafasnya. Melihat Miana dan Sisil baik-baik saja, ia merasa lega. Meskipun ia tidak menyukai Sisil, tapi membiarkan Miana berbuat yang tidak-tidak sungguh bukan sesuatu yang ia harapkan.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bian mendekati Sisil. Tentu hal itu membuat Sisil bagai mendapatkan oase di gurun pasir. Sejuk dan membuat hatinya berbunga-bunga. Ia pasang wajah menyedihkan agar dapat menarik perhatian Bian.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Bian menanyai hal itu pada Sisil, pasalnya tadi Miana menarik paksa tangan Sisil untuk pergi dari hadapan Bian.
"Nggak apa, Bian."
Sisil memegang tangan Bian dan menarik pergi dari sisi Miana.
Miana melihat kepergian Bian dan Sisil dengan nanar. Sekuat ia menahan air matanya keluar, nyatanya tumpah sudah. Ia terduduk pada bangku permanen. Pepohonan di sisi halaman sekolah membuat Miana sedikit meredakan panas terik matahari dan juga panas hatinya yang tengah hancur melihat hubungannya dengan Bian berakhir.
Miana menangkup wajahnya dan terisak sendirian disana.
Tanpa ia tahu, sedari tadi seorang lelaki bercelana jeans dengan kemeja yang di gulung rapi memerhatikan semua yang terjadi padanya. Ia hanya melipat kedua tangannya bersandar pada dinding ruang kesiswaan.
"Miana," panggil seorang gadis yang muncul dari koridor berlari kecil mendekati Miana.
Miana yang merasakan panggilan dari sahabatnya menoleh dan menghapus sisa air matanya, seraya tersenyum.
"Maafin aku, Na," pinta seorang gadis yang berkuncir ekor kuda, setelah sampai di hadapan Miana.
Miana tahu, sahabatnya itu merasa bersalah atas apa yang menimpanya.
"Bukan salah kamu, Ris," tepis Miana.
Riska, sahabat Miana, menarik tangan Miana untuk mengajaknya berjalan memasuki koridor kelas.
__ADS_1
"Oh, namanya, Miana." Senyum kecil terbit di bibir seorang lelakiyang sedari tadi memerhatikan Miana. Dengan menyugar rambutnya, ia melirik pada pintu ruang Kesiswaan yang masih tertutup. Ia segera berlalu untuk masuk ke ruang itu setelah dia yang di panggil Miana berlalu bersama seorang teman yang mengajaknya pergi.
βοΈβοΈβοΈ