
Bab 24.
Menjelang magrib, Asih membuang sampah yang terletak di luar pagar kostnya. Namun, begitu ia akan kembali ke kamar seseorang tengah memberi kode lewat klakson motor yang kian mendekat, sejenak ia menghentikan langkahnya.
Tama turun dari motor sportnya, sedikit berlari mendekati Asih yang ia kenali sebagai teman satu kamar Arunya.
"Asih. Tunggu! Tolong kasih ini ke Mita, yah." Tama memberi satu toote bag berwarna merah marun yang entah apa isinya.
"Iya, Mas. Gak mau masuk dulu? Arunya ada di dalam, loh," ajak Asih.
"Gak usah, takut ganggu jika aku kesana tanpa memberi tahu lebih dulu. Takut juteknya kambuh, dan aku makin jatuh cinta sama dia." Tama terkekeh. Berbasa-basi seperlunya, lalu Tama berpamitan. Asih pun kembali memasuki kostnya.
Pintu kamar kost yang tidak begitu tertutup sempurna memperhatikan Arunya yang sedang merebus air pada hitter listriknya.
Asih melihat Arunya tengah menuangkan satu sacet kemasan kopi sembari menunggu air mendidih sempurna.
Asih hanya duduk terdiam sambil terus memperhatikan sahabatnya kemudian beralih menatap toote bag yang ia bawa.
"Runya," panggil Asih.
"Hmm." Arunya tengah menuangkan air yang telah mendidih ke dalam cangkir keramik, sembari mengaduk pelan agar kopi terlarut sempurna lalu ia menoleh pada sahabatnya. "Kenapa? Mau juga? Ini airnya masih banyak loh. Kopinya juga masih, aku taruh di loker atas."
Asih mengulurkan toote bag yang sedari tadi ia bawa. "Dari Mas Tama."
Arunya terkejut, ia paksakan tangannya untuk menerima. Ia pandangi sejenak namun ia kembali meletakkannya di meja.
"Mas Tama beneran suka ke kamu, Run."
"Asih, udah deh jangan bahas Masa Tama, mulu'. Dari semalam itu terus yang kamu bahas,lho."
"Habis, aku gemes sama kamu. Mengingat baiknya Mas Tama ke kamu. Tapi, kamu seolah gak menghargainya." Asih merubah posisi tengkurap pada kasur busa, tangannya terulur memainkan rambut tergerai Arunya yang duduk tidak jauh dari kasur.
"Asih, jangan langsung percaya ke orang yang baru dikenal, deh. "
"Lima bulan kamu bilang baru kenal?" Pekik Asih merasa kesal.
Arunya hanya diam sembari terus memegangi cangkir kopinya. teringat akan ungkapan Tama sewaktu akhir shif kemarin.
"Mita, aku sungguh suka sama kamu. Aku merasa harus ngomong ini ke kamu, tak perduli kamu punya rasa yang sama terhadapku atau enggak. Aku hanya ingin kau tahu, rasaku padamu. Ingin sekali aku selalu satu shif terus sama kamu. Namun, perusahaan ini bukan milik nenek moyangku yang bisa seenaknya aku atur."
Tama meraih tangan Arunya menggenggamnya erat, membuat Arunya terpaku namun tak kuasa menolak karena tatapan sayu seniornya yang sengaja menahannya.
Di ujung lorong line 19, keduanya duduk pada tumpukan karton minyak goreng milik line sebelahnya. Duduk berhadapan dengan Tama yang paling mendominasi percakapan karena Arunya seolah tidak mampu untuk berucap.
"Aku berharap lebih untuk rasaku ini, Mita. Aku akan sangat bahagia bila kamu mau jadi pacar aku."
__ADS_1
Detik kian berputar menjadi menit. Kedatangan dua rekan kerjanya untuk memasuki shif dua telah terlihat di lorong utama, tempat komputer menyiapkan tampilan PO selanjutnya.
"Mas, Aku takut mengecewakanmu. Jujur, aku masih belum bisa melupakan seseorang yang beberapa tahun yang lalu aku sukai. Bukankah tidak adil untukmu bila aku menjalaninya bersamamu tapi di hatiku masih ada nama lainnya?" ujar Arunya.
"Tapi kamu nggak ada hubungan sama orang itu, 'kan?" tanya Tama serius.
Arunya menggeleng dan Tama mengembangkan senyumnya.
"Berarti nggak ada masalah, donk. Aku single, kamu single. Kita coba aja, dulu!" Tama berusaha meyakinkan Arunya.
"Nggak bisa, Mas. Aku belum siap," lirih Arunya.
Meski sudut hati Tama berasa nyeri, dengan mantap ia berkata, "Aku gak perduli, Mita. Aku sayang sama kamu tanpa melihat kamu seperti apa. Aku bahkan nggak tahu rasaku ini tumbuh tanpa aku minta. Yang jelas aku bahagia jika dapat bersama kamu."
...***...
Asih mengajak Arunya untuk ke kedai es teler 27 langganan nya. Setelah keduanya memesan menu unggulan di kedai tersebut. Dua mangkuk berukuran sedang berisi campuran buah alpukat, nangka, apel, kolang kaling, rumput laut yang diberi syirup cocopandan dan di beri susu kental manis telah tersaji di hadapan keduanya.
Asih yang juga mengenal Tama dan Bagas sedikit banyak telah menangkap interaksi jika Tama memang menunjukkan rasa sukanya terhadap sahabatnya. Asih pun masih terheran dengan Arunya yang juga enggan membuka hati untuk seniornya.
Setelah mereka bercerita kesana kemari. Asih pun berniat untuk berbicara dari hati ke hati pada sahabatnya. Asih merasa iba pada Tama, yang terus menunjukkan perhatiannya pada Arunya. Namun, Arunya seakan tidak mampu menyambutnya.
"Jadi, Run. Kasih alasan kenapa kamu seolah menghindari Mas Tama?"
Arunya menghentikan suapan potongan alpukat yang begitu lembut dalam mulutnya. Menghela nafas pelan. Mungkin sudah saatnya ia bercerita pada Asih, agar beban yang ia rasakan sedikit terurai.
"Tunggu. Dia yang kau maksud, pacar kamu?" tanya Asih. Ia bahkan menggeser satu mangkuk es teler miliknya dan lebih tertarik dengan cerita Arunya.
Arunya menggelengkan kepalanya, "Bukan." Arunya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Asih pun meraih kedua tangan sahabatnya. "Cerita ke aku, Run. Biar aku nggak salah paham sama kamu!" Asih mengangguk untuk meyakinkan Arunya.
"Dia adalah Rayyan ... " Sejurus kemudian cerita tentang Rayyan mengalir saja mengikuti arus hingga berakhir di muara tanpa tepi. Rayyan yang ia cinta, nyatanya tidak pernah mengatakan rasa yang sama untuknya.
...***...
Stok opname nasional tengah di laksanakan serentak di seluruh cabang PT Alfaria Kusuma. Sebuah pencocokan penghitungan antara jumlah fisik dengan stok pada data yang ada dalam komputer.
Dilaksanakan di luar jam kerja, yaitu dari pukul sepuluh malam hingga selesai. Stok opname ini bisa di sebut meminimumkan selisih pada stok pada rak dengan data yang ada.
Arunya begitu bersungguh-sungguh mengerahkan kemampuan. Menahan rasa kantuk yang kian mendera. Dalam satu line terdapat empat orang personil, dua diantaranya juga merupakan senior Arunya. Dia bahkan satu-satunya personil cewek pada line-nya.
Melewati tengah malam, Tama yang melihat mata redup Arunya sengaja memberinya pesan.
Tama: Tidur aja ,gih.
__ADS_1
Arunya : Mana ada. Yang lain kerja, masa' iya aku tidur.
Tama: Kerjaan kamu, aku yang handle.
Arunya tak lagi membalas pesan dari Tama, yang tengah menghitung di rak atas. Ia kembali mengumpulkan tenaga dan pikirannya untuk lembur kali ini.
Beberapa menit kemudian, Arunya melihat Tama menghampirinya dengan membawakan beberapa cup kopi.
"Minum, gih," titah Tama. Iya mengulurkan kemasan kopi hangat pada Arunya yang langsung mendapat ucapan terima kasih.
"Awas, masih panas, ya." Tama memperingatkan Arunya, setelah Arunya menerima kopi pemberian.
Ia juga memanggil personil lainnya untuk bergabung padanya. Keduanya yang sudah terbiasa pun mendekat untuk meminum kopi bersama. Tama yang pintar dalam pembawaannya seringkali menghidupkan suasana agar kembali bekerja dengan riang.
"Makasih ya, Bang. Sering-sering, ya." Salah satu rekannya mengacungkan ibu jarinya.
"Karena sudah mau penginputan, yang besok shif pagi boleh tidur aja dulu. Nanti begitu masih ada selisih aku bangunin untuk penghitungan ulang."
Tama bergegas untuk segera melakukan penginputan, di ikuti Arunya yang mengumpulkan beberapa lembar dari kedua temannya.
"Aku bantu bacakan, Mas. Tinggal kamu yang menginput, biar cepet selesai."
"Loh, kamu bukannya shif pagi besok?" tanya Tama.
"Di ajak tuker shif sama Adit."
Tama begitu berbinar, pasalnya besok ia satu shif dengan Arunya. Setelahnya mereka memulai untuk penginputan sejumlah barang agar segera terlihat jika saja terjadi selisih.
"Chitato 26 gram :120
Chitato 120 gram: 205
Qtela .. "
Terdengar suara Arunya yang kian melemah membuat Tama yang terduduk bersekat meja dengan Arunya spontan menoleh. Didapatinya Arunya tengah memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar pada siku lengannya.
Perlahan Tama menarik sudut bibirnya, terdiam sejenak untuk menikmati pemandangan baru untuknya.
Melihat seorang gadis yang ia suka tengah tertidur. Begitu manis membuat sudut bibirnya berkedut karena menahan tawa.
Sejurus kemudian ia menarik pelan beberapa kertas dari tangan Arunya agar tidak menggangu tidurnya.
"Mungkinkah pemandangan seperti ini akan aku temui kelak, Amita Arunya?"
__ADS_1
...***...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya friends ππ khamsahamnida