Amita Arunya

Amita Arunya
Salah paham


__ADS_3

Arunya berkali-kali membuang nafas kesalnya. Dari tadi siang nomor Tama tidak juga bisa di hubungi. Dalam hati, Arunya bertanya-tanya ada apa lagi dengan Tama. Bahkan terasa sangat aneh, nomor Bagas pun juga tidak aktif.


"Kamu kenapa lagi, sih ,Mas?" Arunya resah di balik selimutnya.


"Udah, paling juga habis pulsa, Run." Asih merapatkan selimutnya. Ia sedikit kesal karena Arunya uring-uringan di sampingnya.


"Asih, kamu ada kenalan temen line 18, nggak? Aku nggak bisa tenang ini, dia dari kemarin, loh, nggak ada kabar." Arunya berbaring miring menghadap Asih. Sangat berharap temannya itu dapat memberi solusi.


"Udah, nggak usah lebai, deh. Besok juga Tama nelpon kamu." Asih malah terlihat senyum-senyum memandangi layar HP miliknya.


"Ish, kamu. Temen lagi gegana begini kamunya malah senyum-senyum gajelas."


Arunya beranjak dari kasur untuk minum air mineral. Ia lalu menghirup nafasnya dalam, lalu mengeluarkan perlahan. Masih memandangi benda pipih itu dengan cemas.


Bukan hanya satu-dua, melainkan puluhan sms, ia kirimkan pada Tama. Namun, tidak ada balasan satu pun dari Tama.


Sementara di tempat yang berbeda, Tama sedang mempersiapkan kelengkapan touring bersama teman-temannya. Berharap melalui hal ini dapat meredakan emosinya pada Arunya yang tanpa sepengetahuannya telah pulang menemui cinta pertamanya.


"Tam! Yakin Lo mau bolos kerja?" cicit Bagas sewaktu Tama hanya diam saja meraih jaket dan mengemas beberapa perlengkapannya.


Bagas semakin kesal karena Tama tidak menghiraukannya.


"Tam. Lo kalau kesel tuh, ngomong ke pacar Lo. Lo, tanya apa yang dia lakuin saat pulang kampung. Bukan Lo menyimpulkan sendiri begini. Belum tentu prasangka Lo benar, Tam!"


"Pulang diam-diam, tanpa memberi tahu. Bukankah itu sudah membuktikan bahwa dia udah nggak ngehargai gue!"


"O, ya. Satu lagi. Dia itu siangnya, masuk shif dua. Buat apa Mita bela-belain pulang hanya demi anak sultan itu. Mungkin Mita mau balikan sama dia. Dan lupain gue yang rakyat jelata ini," lanjut Tama penuh penekanan.


Sungguh, Tama sudah sampai pada batasannya. Dia sudah lelah untuk diam. Pikirannya sungguh sudah penuh dengan prasangka yang tidak-tidak.


"Udah, gue mau berangkat. Nih, surat dokter dari gue. Lo kasih ke head office." Tama mengulurkan satu amplop panjang berwarna putih, dengan logo puskesmas yang Bagas kenali.


Bagas yang menerima pun hanya menggeleng. "Hanya karena cewek, Lo jadi urakan begini, Tam. Dan gila menyabotase ini. Surat izin sakit. Ck, yang sakit hati Lo, Tam. Bukan badan, Lo."

__ADS_1


"Lo bilang. Hanya?" pekik Tama lalu gegas meraih Hp dan dompetnya.


"Tam, Tam, tunggu dulu." Bagas berusaha menahan Tama yang sudah meletakkan tas ransel pada punggungnya.


"Tam. Gue nggak mau, ya, Lo nyesel nantinya." Bagas berhasil menahan Tama di luar pintu kost.


"Gue capek, Gas. Mita nggak bisa mengerti gue." Tama kembali berjalan menuju parkiran. Dan memilih satu motor yang asing bagi Bagas.


"Lo, pakai motor siapa?" tanya Bagas.


"Sepupu gue." Tama memakai helm dan me-lock pengaitnya.


"Jangan kasih nomor baru gue buat Mita. Jangan kasih juga ke Asih."


Tama masih memakai ponsel yang sudah cacat pada layarnya itu. namun, dengan nomor yang berbeda. Pantas saja Arunya tidak dapat menghubunginya.


"Tam, kenapa Lo sekarang sekeras ini. Lo jangan gegabah, deh. Belum tentu benar Mita pulang juga demi ketemu Rayyan dan menerimanya, Tam."


"Saat dia memutuskan untuk pulang. Coba Lo pikir, Gas. Untuk apa dia pulang? Selain untuk kembali padanya. Mita udah ngehapus nama gue, Gas. Gue cukup sadar diri sekarang. Cukup begini saja dia menyudahikku. Gue nggak mau, dengar yang lebih menyakitkan lagi." Tama menarik pengait resleting pada jaketnya dan memakai sarung tangan pada kedua telapak tangannya.Dia menghidupkan motor bersuara berisik itu lalu melesat dari pandangan Bagas.


...***...


"Gimana, Run?" Tanya Asih sambil terus berjalan di samping sahabatnya. Keduanya sedang berjalan menuju DC tempat kerjanya.


Arunya hanya menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan Tama yang sulit untuk di hubungi. Ia bahkan sudah bertanya pada teman line 18 dan 20. Mereka semua tidak ada yang punya nomor baru Tama.


Satu masalah yang Arunya lepaskan kini hadir masalah baru lagi. Tanpa kata tanpa peringatan apapun Tama mendiamkannya.


"Run, jangan-jangan Tama marah karena kamu pulang kampung kemarin. Mungkin dia berfikir yang tidak-tidak karena kepulanganmu buat nyusul Rayyan."


Arunya sampai menghentikan langkahnya karena terkejut akan pendapat Asih. Perlahan Arunya mencerna kata-kata Asih. Apa mungkin Tama salah paham karena hal ini. Begitulah isi pikiran Arunya.


Asih yang melihat sahabatnya diam tanpa kata, menariknya untuk kembali berjalan menuju ruang loker tempat ia meletakkan tas mereka.

__ADS_1


Tidak banyak kata lagi Arunya mengikuti langkah Asih sambil terus memutar otaknya. Mencoba menggali pemikiran yang lebih masuk akal atas tindakan Tama kali ini.


Hingga saat pulang bekerja pun Arunya masih memikirkan permasalahan ini. Berkali-kali Asih membujuknya untuk makan. Namun, ia enggan untuk mengisi perutnya.


Jika saja memang benar, Tama telah salah sangka padanya. Seharusnya hal yang harus ia lakukan adalah meluruskannya. Akan tetapi, bagaimana bisa ia menjelaskan sedangkan Tama tidak dapat di hubungi?


Komunikasi adalah hal terpenting pada sebuah hubungan. Selain itu kepercayaan juga hal yang mendasari sebuah hubungan. Lalu bagaimana bisa jika tidak ada rasa percaya?


Lama Arunya duduk di teras kamar kostnya. Sesekali menyapa pada teman pada kamar lain saat melintas di halaman. Sampai suara panggilan dari Asih kembali membuat Arunya untuk masuk ke dalam kamar dan mengistirahatkan tubuhnya.


"Besok itu masuk pagi. Udahlah, jangan pikirin terus. Bisa sakit kamu mikirin pacar kamu itu. Bagaimana bisa tahu jika komunikasi aja enggak ada. Tama itu, lama-lama keras kepala, yah. " Asih mengunci pintu kamar lalu bersiap merebahkan diri, di ikuti Arunya yang masih terus terdiam.


"Tidur, Run."


"Iyaa. Ini juga mau tidur." Arunya memang sudah membentangkan selimutnya. Namum, tangannya masih sibuk dengan gawainya.


Ia berusaha bertanya pada teman teman DC kenalannya. Meskipun jawaban Mereka sama, tidak ada yang tahu jika saja Tama telah mengganti kontaknya.


Ya, Arunya semakin yakin jika Tama telah mengganti kontaknya. Arunya sedikit mengerti Tama adalah ketua linenya, tidak mungkin ia bekerja tanpa HP, sedangkan laporan setiap shif selalu dilakukan.


"Kalau aku memang salah, bukan begini cara negur aku, Mas. Kita harus tetap komunikasi jika kamu masih ingin meneruskan hubungan kita. Bukan berdiri atas prasangka yang belum tentu itu benar."


Arunya melirik Asih yang sudah terlelap di sampingnya. Ia masih belum bisa memejamkan matanya. Kembali ia melihat ruang chat dengan Rayyan. Ia tersenyum hambar, tidak ada lagi SMS tiba tiba yang sering mengejutkannya akhir-akhir ini. Ia pandangi dan baca ulang pesan-pesan dari Rayyan, senyum terbit pada bibir mungil milik Arunya.


"Maaf aku harus menghapus jejak mu, Ray. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi." Arunya menghapus semua SMS dari Rayyan, ia tidak ingin kejadian beberapa pekan yang lalu terulang kembali.


Di waktu yang sama, seseorang di balik meja kerjanya juga tengah memandangi room chat miliknya. Ia sampai beranjak dari kursinya kemudian mendekat pada jendela kaca kantornya. Melihat lalu lalang kendaraan di bawah sana kemudian beralih pada ponselnya kembali.


Perlahan ia mencari kontak bernama Arunya, kemudian menghapus nama kontaknya.


"Aku tahu, ini cara pengecut. Namun, aku ingin mulai berhenti menghubungimu kembali Arunya. Meski kenangan kita tidak semudah ini untuk terhapus dari ingatan ku."


********************************

__ADS_1


Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin semua. Maaf pasti banyak salah kata-kata ku di sini. semoga lebaran kali semua salah dan khilaf dapat di ampuni oleh Allah SWT. aamiin.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2