Amita Arunya

Amita Arunya
Mengundurkan diri


__ADS_3

BAB 12


***


Sabtu malam setiap tanggal yang telah disepakati bersama, karang taruna di kampung selalu mengadakan rapat. Bukan hanya saat akan mengadakan peringatan atau sejenisnya. Kegiatan ini rutin diadakan untuk memupuk kekompakan antar pemuda.


Sejumalah kurang lebih 25 pemuda telah berkumpul di balai pertemuan termasuk Arunya. Usianya yang telah menginjak 15 tahun telah diwajibkan untuk ikut berorganisasai. Duduk tertib melingkar beralaskan tikar.


Menyimak dengan serius namun santai. “Run, kayaknya Rayyan mau mengundurkan diri, deh. Kamu udah tahu blm?” bisik Lela yang duduk tepat di samping Arunya.


Bukan masa bodoh atau tidak peka. Lela merupakan sahabat Arunya, walau Arunya tak pernah bercerita secara terbuka. Lela mengerti bahwa Arunya menyukai Rayyan.


Arunya hanya menggeleng tanda tak mengerti sebagai jawabnya. Lalu kembali fokus untuk menyimak susunan acara diskusi.


Rayyan mengawali pertemuan sejak lima menit yang lalu. Dia yang menjadi ketua karang taruna selama 2 tahun ini.


Setelah kegiatan di buka oleh ketua karang taruna, diskusi berlanjut untuk pembahasan ketua baru.


“.... Dikarekan akan meneruskan sekolah yang tidak memungkinkan saya tidak akan aktif disini. Maka dengan ini saya telah resmi untuk menyelesaikan tugas sebagai ketua. Dan juga saya meminta maaf apabila selama saya menjadi ketua masih banyak kekurangan. Terima kasih atas kerjasamanya teman-teman. Saya persilahkan untuk memulai pemilihan ketua baru.”


Arunya masih terpaku akan pengunduran diri Rayyan. Terbesit rasa yang menyesakkan dalam dirinya.


“Ngelamun kamu, Run,” bisik Lela. Lela memberikan secarik kertas untuk menukiskan nama untuk pengambilan suara kandidat baru calon ketua karang taruna. Barulah Arunya sadar akan dirinya yang mungkin telah melamun.


“Ah, apa begitu?” sanggah Arunya.


“Aku perhatikan dari tadi, loh.” Lela menepuk lutut Arunya pelan sambil tersenyum jahil. “Aku tahu kamu pasti lagi ngelamunin Rayyan yang mau pergi, ya, kan?” lanjut Lela.


Arunya hanya menarik sudut bibinya. Selanjutnya meski hanya berbisik Lela terus menggoda Arunya. Hingga acara selesai cukup larut, diskusi lantas segera di akhiri. Kemudian membubarkan peserta untuk pulang.


Kembali Arunya pulang berjalan kaki bersama sejumlah remaja yang arah rumahnya sama. Di tengah dirinya yang masih bercengkarama bersama Lela, sisi tangannya di tarik oleh seseorang, Rayyan.


“La, kamu duluan aja, ya. Biar Arunya sama aku,” pinta Rayyan.

__ADS_1


Melihat Lela yang bergeming curiga. Rayyan segera memutar otak. Mencari ide.


”Cuma mau ngomong bentar, La,” lanjut Rayyan.


“Ya udah. Beres, nanti di antar sampai rumah, ya. Awas, jangan di macem-macemin!” Lela menggoyangkan jari telunjuknya, namun tetap tersenyum jahil sambil berlalu menyusul rombongan yang telah berjalan lebih dulu.


Arunya hanya bingung memerhatikan Rayyan dan Lela.


Tanpa melepaskan tangan Arunya. Rayyan membiarkan sejumlah pemuda berjalan lebih dulu termasuk Lela. Untunglah sebagian dari mereka tidak menyadarinya.


“Mau ngomongin apa?” tanya Arunya. Sadar saat tangannya masih digenggam oleh Rayyan. Mendadak suhu tubuhnya terasa menghangat.


Perlahan Rayyan melepaskan tangan Arunya. “Jalan pelan-pelan aja, ya. Sambil ngobrol, boleh?” tanya Rayyan.


Rayyan mengkomando Arunya untuk berjalan.


“Run, entah kapan sepertinya aku akan sekolah ke luar jawa,” ujar Rayyan. Setelah sekian menit hanya diam. Pun dengan Arunya.


“Menyusul Mbak Vero ke Riau, ya?” tebak Arunya.


Arunya mengangguk membenarkan. Padahal Arunya hanya mengira saja mengambil kesimpulan sewaktu Rayyan bercerita beberapa bulan yang lalu saat Arunya menggantikan pekerjaan ibu.


“Kapan berangkat?” tanya Arunya.


“Belum jelas, sih.” Rayyan memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku jaketnya, merasa hawa dingin makin menusuk kulitnya.


“Arunya, kenapa akhir-akhir ini kamu jarang menggantikan ibumu menyetrika di rumahku?” lanjut Rayyan mengalihkan pembicaraan. Rayyan berfikir jika Arunya sengaja menjauhinya.


Arunya tersenyum samar, “Ibuku, pulang tak sampai waktu ashar, kan. Dan biasanya Bu Mira, kan, mintanya sehabis ashar. Jadi ibuku bisa mengerjakannya sendiri.” Arunya memeluk tangannya, agar dinginnya malam dapat tersamarkan.


Beruntung alasannya masih masuk akal. Alasan utamanya tentu menghindari Rayyan agar tidak mendapat masalah dan gunjingan tetangganya.


Meski sambil berjalan pelan, Rayyan tak henti menatap Arunya, yang tidak lebih tinggi dari Rayyan. Berjalan dengan jarak aman, Arunya yang merasa diperhatikan secara intens merasa salah tingkah hingga menggigit bibir dalamnya.

__ADS_1


“Padahal aku pengen banget bisa ngobrol banyak sama kamu, Run. Kamu juga jarang keluar rumah.”


“Bukannya ada Anna, pacar kamu yang bisa di ajak cerita banyak, kan?” tanya Arunya. Mengalihkan rasa takut untuk bertanya hal pribadi.


“Kenapa kamu selalu menyimpulkan sendiri, sih, Run. Padahal belum tentu itu benar,” tuding Rayyan.


“Anna sendiri yang ngomong ke temen-temen di sekolah waktu itu,” papar Arunya.


Rayyan terkejut mendengar pengakuan Arunya, spontan menghentikan langkah kakinya. “Kamu salah paham, Run. Aku gak pacaran sama Anna!”


Arunya pun menghentikan langkahnya. Sekilas mendongak melihat wajah Rayyan yang tengah terkejut. Lalu mengedarkan pandangan kesegala arah untuk menutupi kecanggungannya.


“Jadi kamu pikir aku pacaran sama Anna?” tanya Rayyan.


“Siapapun bisa menyimpulkan begitu, kan, Ray. Kalian terlihat cocok dan sepadan.” Akhinya Arunya mengungkapkan segala pemikirannya, walau di sudut hatinya terasa perih bahkan semakin lirih di akhir katanya.


Rayyan memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Meraup wajahnya, gemas akan pemikiran Arunya. Rayyan hanya ingin dekat dengan Arunya, namun rumit untuk mendekatinya.


Tidak dipungkiri, nyatanya Arunya merasa senang Rayyan mengajaknya berbicara seperti ini. Namun, rasa takut seolah memberi jarak agar tak membuat masalah baru untuk Rayyan. Sedangkan ia masih teringat selalu perkataan Anna, namun enggan untuk mengungkapkannya pada Rayyan.


“Ray, rumahku udah deket. Sampai disini aja ngaterinnya. Kamu juga udah tertinggal jauh sama yang lain.” Arunya menunjuk ke arah teman-teman yang hampir sampai di ujung gang.


“Ya, udah. Kamu, masuk. Aku lihatin dari sini.” Rayyan masih enggan untuk mengakhiri percakapannya. Namun, waktu yang kian larut menyadarkannya.


Dirinya belum membersihkan segala pemikiran Arunya tentangnya. HP yang bisanya menjadi perantara dirinya untuk sekedar menyakan ‘sedang apa’ pun ikut memberinya jarak.


“Aku duluan, ya, Ray. Sampai jumpa,” pamit Arunya. Berlari kecil sembari menetralkan degup jantungnya.


“Padahal hanya berbicara seperti ini, tapi aku begitu bahagianya.” Arunya tersenyum dengan binar bahagia memegangi debaran dada yang masih terus berdegup. Bersandar pada daun pintu rumah setelah menutupnya.


Mengapa sulit sekali bagiku untuk bisa mengungkapkan perasaanku padanya, Ya Tuhan. Ku ingin dekat dengannya. Hanya ingin dekat dengannya sebelum aku pergi memangkas jarak yang lebih jauh. Batin Rayyan sembari beranjak, setelah Arunya menutup pintu rumahnya.


Ia melangkah gontai. Sesekali menoleh ke arah pintu rumah milik Arunya.

__ADS_1


"Aku ingin dekat denganmu, Runya. Tapi kamu selalu memberi jarak."


__ADS_2