Amita Arunya

Amita Arunya
Terimakasih


__ADS_3

BAB 23


Di dalam kamar yang sama dan kasur yang sama. Pagi ini Arunya dan Asih sengaja untuk kembali bergelung pada selimut masing-masing. Setiap hari minggu DC libur pun dengan kantornya.


Mereka menggunakan hari minggu untuk bermalas-malasan. Kemarin mereka tengah menerima gaji pertama. Arunya segera mentransfer sebagian gaji pertamanya pada ibu. Meski dalam sambungan telepon ibu menolak dengan keras berdalih untuk keperluan Arunya saja.


Meski begitu, ia tetap mengirimkannya kepada ibu sebagai rasa syukurnya.


Sejak terjadinya selisih po minggu yang lalu, Tama semakin intens memberinya pesan melalui sms. Memberikan perhatian kecil, seperti menayanyakan sedang apa, masuk apa hari esok, bagaimana hari ini, serta pertanyaan klasik seputar kondisi line 19.


“Sms-an sama siapa, sih?” tanya Asih.


“Kepo deh, dari tadi notif sms bunyi terus.” Asih sengaja mengambil HP Arunya begitu si empunya meletakkannya asal.


"Aku baca-baca, nih, ya."


Arunya tak acuh saja karena memang ia tak berniat menceritakannya pada Asih. Ia menyingkap selimut dan bersiap untuk membersihkan badannya. “Hari ini kita jadi ke supermarket, khan. Buat beli keperluan kita?" tanya Arunya.


Bukannya menjawab Arunya, Asih malah sengaja bergumam, “Hemm, udah sedekat ini kamu, Run.”


Asih semakin gencar membaca pesan-pesan yang masuk dan terkirim dari nama kontak, Mas Tama line 19. “Ciieee, yang di perhatiin seniornya.” Asih mendekati Arunya dan menowel kedua pipi sahabatnya.


“Apa sih. Orang sms-an baiasa aja gitu,” sangkal Arunya. Ia mengusap kedua pipinya menetralkan sedikit kebas karena cubitan tangan Asih.


Asih masih saja terus menggoda Arunya. Begitupun dengan Arunya, ia masih saja terus mengelak semua yang Asih ucapkan. Lebih tepatnya sengaja mengelak jika perhatian yang Tama berikan masih dalam batas wajar.


Hatinya masih tertaut pada satu nama, yang hingga kini tidak ada kabar apapun darinya. "Kenapa aku selalu menunggumu? Padahal kau di sana sudah pasti melupakan aku," batinnya.


Melalui sambungan telepon pada Lela, Arunya sering menanyakan perihal Rayyan. Namun, Lela tidak dapat memberinya kabar apapun. "Udah lama nggak ada kabar dia, Run," kata Lela kala itu.


Perlahan Arunya mencoba melupakan segala kenangan yang masih tersimpan rapi di dasar hatinya. Memangkas paksa dengan segala pemikirannya sendiri. “Rayyan begitu memesona, tak mungkin jika disana dia tak mempunyai kekasih.” Arunya kembali tersenyum getir.


Saat Arunya teringat tatapan mata Rayyan yang memandangnya berbeda, ia kembali menepis jika Rayyan tidak mungkin juga mempunyai rasa yang sama.


Ia kembali di dera rasa takut untuk sekedar bermimpi. Inginnya menyangkal rasa ini. Namun, hatinya berkata lain.


***


Di pusat perbelanjaan, Arunya bersama Asih, Rini dan Novi bersama-sama berbelanja kebutuhan mereka masing-masing. Saat wanita sedang berbelanja segala permasalahaan seolah terhenti sejenak melepaskan rasa gundah resah dan gelisah. Seperti berburu diskon yang saat ini mereka lakukan.


"Ini, bagus deh, Run.” Asih menempelkan satu kemeja pada badan Arunya. “Bagus banget, khan. Apalagi warna coklat kesukaan kamu, Run.”


“Beneran bagus?” tanya Arunya memastikan. Ia lantas melihat pantulan dirinya pada cermin yang di sediakan.


“Bisa buat formal, maupun santai aja. Dan yang penting, diskon gede.” Rini ikut memberi komentar.


“Eh, kapan-kapan kita beli baju kembaran, yuk.”

__ADS_1


“Boleh, tuh.”



***


Keseruan hari minggu berganti dengan keriuhan senin pagi. Meeting all personel helper telah berlangsung sejak satu jam yang lalu. Membahas permasalahan atau kendala yang sering muncul di gudang DC.


Setelah melewati sharing antar helper, memberi solusi jika terjadi masalah dan membuka wawasan bagi pekerja baru, tiga puluh menit kemudian meeting selesai dan karyawan kembali bekerja pada divisi masing-masing.


Kembali berkutat dengan monitor, box dan produk, Arunya bersama Tama, hari ini shif mereka bersamaan.


“Semalam udah tidur?" tanya Tama di sela mendorong troly. “Kok, pesan aku nggak di bales!”


Arunya tersenyum kikuk, “Maaf, mas. Aku ketiduran.” Arunya lanjut menghitung jumlah snack yang telah masuk box. Mengalihkan rasa gugup karena Tama menatapnya begitu dalam.


“Nanti pulang bareng, ya! Aku anterin,” pinta Tama.


“Gak usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri.” Arunya meraih box kosong karena box yang satu telah penuh, di saat bersamaan tangan Tama juga meraih box yang sama. Sejenak mata mereka bertemu. Namun, Arunya cepat mengalihkan pandangannya.


Sedangkan Tama hanya menggulum senyum, “Muka jutek kamu bener-bener bikin aku gila, Mita. Apalagi jika kamu tersenyum, makin membuat aku pengen berlama-lama sama kamu,” batin Tama.


***


Tama sengaja menunggu Arunya di depan gerbang PT. Begitu melihat Arunya, Tama melajukan motornya mendekati Arunya.


“Beneran?”


“Iya, aku udah biasa kok. Lagian aku harus mampir ke toko seberang buat beli sesuatu.” Arunya tidak sepenuhnya berbohong. Ia merasa tidak ingin merepotkan siapapun. Apalagi, ia mengetahui arah kost Tama yang berlawan arah dengannya.


“Ya, udah. Hati-hati, ya.”


Setelah mengucap iya Arunya kembali berjalan di antara karyawan lain yang tengah keluar kawasan PT. Tidak lama suara adzan ashar terdengar sampai telinganya. Ia sedikir mempercepat langkahnya agar sampai kost dan segera melaksanakan kewajibannya.


Tanpa ia sadari, Tama masih mengikutinya.


Tama hanya ingin memastikan Arunya pulang dengan selamat. Semarang merupakan kota besar, apalagi di daerah kawasan industri sering terjadi kejahatan bila saja sedikit lengah.


Kasus yang sering terjadi biasanya penjambretan, sasaran utama pelaku biasanya para wanita. Ia tidak ingin hal itu terjadi pada Arunya.


Berdasarkan cerita Arunya yang sudah tidak memiliki bapak membuat Tama begitu iba bila melihat Arunya.


Bukan pertama kalinya Tama melakukan hal tersebut. Apalagi jika Arunya mendapat shif 2 yang notabene selesai jam kerja pukul 22.00 WIB.


Tama akan sengaja untuk mengawasinya meski dari kejauhan. Tama menyadari Arunya merupakan gadis yang tidak mudah untuk di dekati. Ia akan mempertimbangkan setiap ia akan melakukan sesuatu. Seperti waktu itu, saat ia tengah terdesak karena sudah tidak ada karyawan lain yang terlihat di sekitar kawasan PT, barulah ia mau untuk di antar pulang.


Bagas yang pernah mendapati Tama sengaja mematikan mesin motornya seolah kehabisan angin hanya untuk mengawasi Arunya mengejeknya tanpa sisa. “Ternyata jatuh cinta bisa bikin orang pinter mendadak jadi bo-doh, ya! Gelak tawa Bagas terdengar bagai angin lalu untuk Tama.

__ADS_1


“Apa susahnya, sih. Bilang, aku cinta sama kamu,” lanjut Bagas.


...***...


Selesai membersihkan diri dan bersiap mengoleskan lotion anti nyamuk, perhatian Arunya teralihkan terhadap getaran ponselnya.


Mendapatkan pesan bertubi-tubi dari Tama membuatnya mengehela nafas cepat.


3 pesan belum di baca.


"Udah sampai kost, Ta?" Tama.


"Jangan lupa kunci pintu, ya, Ta." Tama.


"Udah tidur ya. Mustinya kamu cepat tidur karena kamu shif pagi besok. Good night." Tama.


"Makasih, ya, Mas. udah perhatian ke aku," batin Arunya.


...***...


Tama yang enggan pulang ke kostnya. Setelah memastikan Arunya pulang dengan selamat ia meneruskan perjalanannya ke kota Solo.


Biasanya sebulan sekali Tama berkumpul dengan teman-temannya yang sudah di pindahkan ke kantor DC Branch Klaten. Teman-teman sewaktu training bersama di DC Semarang.


Berbalas SMS sebentar sewaktu ia melakukan pengisian bahan bakar di pom bensin di kota Ungaran. Dan kembali melanjutkan perjalanan.


Kini, di sinilah Tama berada, di antara teman-temannya sedang menikmati kopi dan berbagai macam aneka gorengan.


Di dekat stasiun Purwosari terdapat beberapa warung angkringan berjejer rapi. Di sampingnya terdapat pelintasan plang kereta api yang menuju stasiun.


"Hei, tumben keluar?" sapa seorang lelaki berparas tampan yang baru saja bergabung.


"Iya, nih. Lagi boring." Tama menepuk lengan temannya.


"Gimana kalau kita touring deket-deket aja?" tawar seorang lelaki sebaya yang muncul di belakangnya.


"Sayang, aja, 'kan udah sampai Solo mau balik ke Semarang," usul temannya yang lain.


"Boleh banget. Kita ke Jogja, gimana?" usul Tama.


"Gass, yook!" Teman-teman yang lain menyetujui.



...***...


Terimakasih banyak atas dukungan teman-teman 🙏😍

__ADS_1


__ADS_2