Amita Arunya

Amita Arunya
Tumpukan kayu bakar


__ADS_3

Bab 40


“Kenapa lo terlihat cemas, Tam?” tanya Bagas.


“Gue kawatir sama Mita, Gas.”


“Ada apa lagi?”


“ Entahlah...” desah Tama.


Bagas terdiam memahami apa yang masih menganggu pikiran sahabatnya itu. Tadi pagi Tama pulang dengan wajah yang gusar, kosong dan selalu uring-uringan. Baru setelah Tama menceritakan pertemuannya dengan Arunya ia sedikit menemukan titik terang.


“Tam, aku rasa, lo harus pede aja. Disini, lo benar, mempertahankan apa yang lo punya. Lalu, apa masalahnya? Mita jelas-jelas pilih, Lo!“


“Gue juga bisa rasain jadi Rayyan, Gas. Pasti sakit banget.” Tama meraup wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Gila. Lo masih mikirin orang lain?’' pekik Bagas.


“Tapi gue juga nggak mau ngalah gitu aja. Karena gue juga serius ke Mita, Gas! Gue mau melamar dia!” Tama menoleh pada Bagas yang sedang duduk di sampingnya.


'‘APA! Makin ngelantur aja lo, Tam. Kita ini masih muda. Kita juga belum mapan. Mau lo kasih apa bini, Lo!” Bagas sampai bangkit dari duduknya karena kesal.


‘'Kalau nunggu mapan, mau sampai kapan aku akan mapan, Gas? Sampai ada Rayyan yang lain lagi datang buat lamar Mita?’' tekan Tama.


“Terserah, Tam! Gue mau lanjut kerja lagi. Kita bahas nanti kalau otak lo udah adem.” Bagas berjalan menjauh dari Tama dan menghilang di ujung lorong tempat Line nya.


Tama berdecak, lalu mengetik pesan sebentar lalu melirik ujung line miliknya. Adit tengah berkerja sendirian. Ia merasa bersalah lalu perlahan ia berjalan untuk melanjutkan pekerjaaanya.


...***...


Suara gesekan dedaunan dan gemericik air, menemani sore hari seseorang yang sedang kembali mengenang masa lalu yang tengah ia sia-siakan. Kedatangannya kali ini untuk menenangkan diri setelah pertemuan dengan Arunya satu jam yang lalu.



Berkali-kali Rayyan mendesah melepaskan sesak dalam dadanya. Ia berharap dengan begitu segala rasa yang berkumpul memenuhi pikirannya segera terurai.


Perlahan mencoba mengikhlaskan setelah apa yang terjadi dalam kisahnya.


“Bagaimana caranya ikhlas itu? Sedangkan rasa ini masih ada.” Rayyan menatap nanar gazebo yang dulu menjadi tempatnya duduk bersama Arunya.


“Bahkan, sekarang tempat itu tinggal puing-puing kerangkanya saja. Sama seperti namaku dalam hatimu, Arunya.” Rayyan tersenyum hambar.


Gazebo yang ia lihat tidak ubahnya sebuah tumpukan kayu bakar yang siap untuk di bakar kapan saja. Begitu juga dengan Gazebo yang lain. Telah lapuk di makan usia.


...***...


Tama : Mita, Aku sayang kamu.


Tama: Aku percaya kamu. Ku mohon tetaplah bersamaku meski di sana banyak yang menawarkan kemewahan padamu. Namun, percayalah aku tulus sama kamu. Aku memang tidak bisa menjanjikan apa-apa untukmu. Aku pun menjalani hubungan ini dengan serius. Bukan sekedar pacaran. Suatu hari nanti aku akan menguatkan hubungan kita.

__ADS_1


Arunya membaca dua pesan dari Tama. Lalu ia menghembuskan nafasnya pelan. Lalu mengangguk pada Asih yang sedang duduk disampingnya.


“Jadi?” tanya Asih.


“Aku akan pulang, Asih. Aku akan pulang sebagai seorang teman.”


Asih terdiam sejenak.” Aku sedikit kawatir kamu sedang membodohi hatimu, Runya. Aku yakin meski sekecil biji bunga matahari pasti kamu masih menyimpan nama Rayyan. Jika tidak, kenapa kamu mau menyusul dia pulang!”


‘'Benar. Kenapa aku harus pulang? Kenapa?” batin Arunya.


“Aku... belum sempat mengucapkan maaf untuknya, Asih,” lirih Arunya. Akhirnya ia mengungkapkan risau dalam diri terhadap sahabatnya.


“Aku paham kok, Run. Sampai kapanpun kenangan itu tidak akan pernah bisa hilang meski dunia kita telah berbeda jalannya.’'


Arunya mengangguk. “Aku ingin dia pergi tanpa dendam dan benci sama aku, Asih. Aku sadar, kali ini aku telah sangat menyakitinya.”


“Ayo. Aku antar ke depan Semoga aja masih ada Bus.’' Asih meraih kontak motor dan helmnya diikuti oleh Arunya yang berjalan mengekor di belakang Asih.


...***...


Arunya tengah mengendalikan deru nafasnya. Ia berjalan berpegangan pada tiap sandaran bus sembari memindai kursi yang kosong. Beruntung masih ada kursi yang tersisa.


Dalam perjalanan, ia hanya terus memandangi pemandangan di luar. Ia memutuskan untuk pulang ke kampung untuk bertemu dengan Rayyan.


Perhatiannya tersita ketika ponsel dalam genggamannya bergetar menandakan pesan masuk.


Arunya: Iya, La. Aku udah memutuskan jawabannya.


Lela: Pantas tadi sore Rayyan ke air terjun.


Arunya; Kenapa, La?


Lela; Mungkin dia butuh waktu menenangkan diri, Run.


Arunya ; Ada motor nggak La? Tolong jemput aku di depan pasar, ya.


Lela ; Hah? Kamu pulang?


Arunya ; Ya. Bisakan?


...***...


Arunya bersama ibu dan Dika telah selesai makan bersama. Kedatangannya tentu membuat ibu senang. Meskipun ibu sedikit terkejut karena Lela yang menjemput Arunya, bukan keponakannya seperti biasa.


Setelah berbincang sedikit Arunya terlihat mengetikkan pesan pada ponselnya.


“Kamu menolak Rayyan, Run?” tanya ibu.


Arunya menoleh pada ibu dan mengangguk.

__ADS_1


“Maafkan ibu, ya. Ibu hanya takut terjadi sesuatu jika kamu menerima Rayyan. Ibu takut jika kamu hanya akan di rendahkan di tengah keluarga besarnya karena asal usul kamu, Run.”


Arunya mengangguk paham, perkataan ibu persis seperti apa yang ia pikirkan.


“Ibu, kalau begitu, Runya ingin ke tempat Lela sebentar, ya.”


Ibu terdiam dan menatap dalam manik mata anaknya.


'‘Jangan pulang terlalu malam, ya,!”


Arunya mengangguk dan sedikit tersenyum. Ia beranjak meraih jaket yang teronggok di meja belajar Dika. Ia berlalu ke rumah Lela, sesuai kata Lela dalam pesannya.


Arunya terkejut karena sesampainya di halaman rumah Lela sudah ada beberapa pemuda yang Arunya kenali. Ketika kedua manik matanya menangkap keberadaan Rayyan yang juga tengah terkejut karena kedatangannya.


Arunya segera ke dalam dengan menunduk. Tidak lupa ia menyapa sekedarnya beberapa pemuda yang sedang duduk di teras rumah Lela.


“La, itu di luar kenapa banyak sekali orang? Apa mau rapat karang taruna?’ tanya Arunya serius setelah tadi berbasa basi sedikit.


“Nggak ada apa-apa, Run. Kamu lupa, jika beberapa bulan lagi aku mau nikah.'’ Lela membuka karet pada bungkus gula pasir dan menuangkannya pada toples gula.


“Apa kamu memberitahu Rayyan jika aku pulang hari ini?’ tanya Arunya.


“Ngapain bilang, sih. Kalaupun aku bilang juga, nggak bakalan kamu balik menerima Rayyan, ‘kan?” hardik Lela.


Arunya sejenak terdiam. ‘Kenapa Lela jadi dingin begini ke aku, sih,'’ batin Arunya.


‘'La, kamu marah ke aku?” tuding Arunya.


Lela mengurungkan niatnya meraih nampan yang tersimpan rak piring. '‘Nggak, Run. Ini hidupmu. Kamu yang menentukan. Sebagai sahabat, aku hanya ingin yang terbaik buat kamu.” Lela tersenyum getir.


“La, udah belum kopinya?” Rayyan masuk ke ruang tengah menghampiri Lela. Tentu Arunya yang ada di samping Lela juga dapat melihat dengan jelas. Rayyan datang menampilkan wajah yang tidak bisa di jabarkan di balik senyumnya, berbeda dengan raut wajahnya beberapa jam yang lalu.


“Apa besok libur, Runya?’' tanya Rayyan tiba-tiba.


‘'Ah, itu. Enggak, besok masuk siang.”


“Ayo ke depan, mumpung lagi ngumpul, nih.’' Rayyan meraih nampan berisi beberapa gelas kopi di atasnya sambil berlalu.


Lela yang sejak tadi terdiam memerhatikan Rayyan dan Arunya hanya menatap sayu. Arunya segera mendekati Lela dan memegang tangannya. "Kamu kenapa, La?” tanya Arunya.


Lela yang sedari tadi menahan genangan air matanya akhirnya duduk sambil mengusap kasar sudut matanya yang berair. Lela menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum. "Aku sedang menyayangkan takdir cinta kalian, Run.”


Jawaban Lela membuat Arunya terdiam. Tidak lama Lela berdiri dan mengajak Arunya untuk ke teras rumah bergabung dengan yang lain.


..._to be continue_...


*************************


Terimakasih banyak atas dukungannya ya teman-teman 🙏. Semoga harimu menyenangkan 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2