
BAB 31
Bagas tengah bersiap untuk bekerja, lima belas menit lagi, shif dua akan segera masuk menggantikan shif satu. Ia mengalihkan kesibukannya yang tengah menyisir rapi rambut bergaya texture cut.
Tetiba ada panggilan masuk dari nama kontak Aditama.
“Bagas....” kata pertama begitu ia mengangkat panggilan dari sahabatnya.
“Halo! Tam, ada apa?"
" Haloo?” Bagas hanya mendengar suara gaduh dari kontak sahabatnya.
“Angkat.”
“Lepas helmnya.”
“Bawa ke UGD.’
Bagas semakin panik mendengar kata-kata dari panggilan yang masih tersambung itu.
“Hallo,”
“Hal-halo. Saya, Sofyan. Saya menemukan pemilik hp ini kecelakaan, Mas.”
“Dimana lokasinnya, Pak. Saya temannya?” cecar Bagas.
...Bagas...
Setelah Bagas menerima alamat tempat Tama kecelakaan ia segera menelpon kepala bagian head office gudang untuk meminta ijin. Ia katakan yang sebenarnya dan akhirnya dari pihak HO mengizinkan dengan syarat.
Bagas mengambil kontak motor beserta dompet. Tanpa memakai jaket dan bahkan ia hanya memakai seragam kerjanya. Melajukan motornya ke tempat kejadian kecelakaan.
Butuh waktu lima belas menit untuk sampai disana. Sesampainya Bagas mendapat keterangan dari warga bahwa Tama tengah di bawa ke klinik terdekat.
Beruntung di sekitar lokasi jauh dari pos polisi. Dan dari pihak yang bersalah tengah mengakui dan berani bertanggung jawab. Seorang ibu-ibu tengah terburu-buru hingga tanpa sengaja melajukan motor hingga menerjang arah.
Dari pihak ibu-ibu, tengah mengurus kerusakan motor milik Tama dan bersedia memberikan biaya pengobatan Tama.
Bagas segera melaju ke klinik yang di maksud. Setelah menemui bagian informasi klinik. Ia segera mencari ruang tindakan Tama.
Begitu sampai disana. Ia melihat Tama masih belum sadarkan diri.
“Bagaimana keadaan teman saya, Dok?’ tanya Tama.
“Tidak ada luka serius. Hanya beberapa luka gores di bagian siku telapak tangan meskipun agak dalam. Kita tunggu sampai dia sadarkan diri. Dia hanya pingsan karena kaget atau syok saja. Jangan kawatir.” Dokter menepuk bahu Bagas. Lalu pamit keluar setelah suster selesai dengan kegiatannya. Membersihkan luka serta memberi perban pada bagian-bagian yang terluka.
Menghela nafas berat, Bagas mendekat. “Ck, bangun, Tam! Preman kok pingsan.” Ia meraih kursi tunggal yang ada disana, lalu duduk.
“Tadi pagi, lo pamit baik-baik. Katanya mau ketemu Mita. Bisa-bisanya malah nggelasar disini.”
Bagas lalu berkutat dengan ponselnya. Tidak lama, fokusnya segera teralihkan ketika mendengar rintihan sahabatnya, “Ssssssshh..”
__ADS_1
“Tam, lo sadar? Apa yang lo rasain?” cecar Bagas.
Perlahan Tama membuka mata, didapatinya Bagas disampingnya.
“Gas, lo ... gak kerja?’ lirih Tama. Ia makin merasakan nyeri sekaligus rasa perih di bagian telapak tangannya hingga sikunya.
“Gimana mau kerja. Orang lo bikin panik. Gue izin lah. Untung singo edan lagi jinak.” Bagas menyebut sebutan untuk HO Gudang yang terkenal tegas dan tanpa toleransi.
“Ya terpaksa gue hubungin, lo. Masak iya aku mau hubungin ibu gue. Yang ada ibu malah ikut pingsan nanti.” Tama berusaha untuk duduk, “Ssssh, perih baget,’ desis Tama.
“Tam. Katanya lo mau ke Klaten. Kok bisa, lo kecelakaan di barat alun-alun?” tanya Bagas. Pertanyaan yang sejak tadi ia pikirkan. “Lo, balik ke rumah dulu?” lanjutnya.
Tama menunduk melihat lukanya yang sudah terbungkus perban melingkar di telapak tangan hingga punggung tangannya. Ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu saat ia berada di Klaten, di depan kost Arunya. “Gue tengkar sama Mita, Gas.”
“Tengkar? Berantem maksud lo?”tegas Bagas.
Ia sampai menaikkan sebelah alisnya.
“Gue bentak dia, gue marah sama dia. Sampai dia nangis-nangis.”
“Ada apa lagi, sih? Bukannya hubungan lo adem ayem aja?”tanya Bagas penasaran.
“Mita...” Tama menceritakan semua yang dia alami. Ya, dia merupakan type yang terbuka terhadap sahabatnya. Namun, hanya kepada Bagas saja ia menceritakan tentang hubungannya.
“Ya, lo cemburu. Itu wajar.”
“Bukan hanya itu, Gas. Cemburu ini beda, rasanya begitu sakit.”
...***...
Lion Air JT 219 telah mendarat dengan sempurna di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.
Seorang lelaki berusia 23 tahun dengan memakai t-shirt berwarna hitam dan celana jeans berwarna navy yang membalut kaki panjangnya di lengkapi sepatu sport berwana putih. Ia melangkah tergesa menuju pintu keluar bandara. Dialah, Rayyan Alhusen.
Ia menempelkan HP pada telinga kanannya. Menunggu panggilan terhubung pada sebuah nama kontak yang ia pilih.
''Hallo. Ini aku Rayyan. Bisa jemput aku di bandara? Iya, jogja. Ok, aku tunggu ya. Thanks.” Rayyan menarik nafas lalu mengembuskan perlahan, tidak lupa senyumnya terukir memandang langit biru yang menghadirkan cuaca cerah tanpa sekumpulan awan yang menghalangi.
‘'Mampir dulu, atau pulang ke rumah dulu, ya’' gumamnya.
Lalu ia mengedarkan pandangannnya mencari sebuah rumah makan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
Tiga puluh menit ia menunggu teman yang tadi ia telepon sembari menghabiskan makannya. Ia putuskan untuk mengirim pesan kepada seseorang.
Rayyan : Hai Runya. Masuk apa hari ini?
Runya ; Hari ini masuk siang, sih. Cuma beberes kost aja. Tumben sms, nggak kerja?
Rayyan :Lagi hari tenang inih. Tapi nggak juga bisa tenang sedari tadi. Ada saran?
Runya : Mungkin butuh liburan.
__ADS_1
Rayyan : Ide bagus.
Rayyan terus saja mengulas senyum. Sampai tepukan kasar pada bahunya mengalihkan atensinya dari layar pipih milikinya.
Begitu ia memutar kepala dan mendapati Arif yang tengah merentangkan kedua tangannya. Rayyan terkekeh dan menyambut pelukan dari sahabat lamanya.
'‘Apa kabar, Bro?” tanya Rayyan seraya melerai pelukannya.
"Baik, baik.’' Arif melihat Rayyan dari ujung kepala hinngga ujung kakinya. '‘Kamu lebih berisi ya sekarang, Banyak pacar jadi mood makan oke nih," goda Arif.
‘'Bisa aja. Duduk dulu sekalian makan. Maaf ganggu kuliah kamu.”
'‘Nggak apa, untung deket. Kalau jauh, ya ogah.'’ Arif tertawa. Lalu tanpa di minta Rayyan memesan makan dan minum untuk Arif.
Tidak lama pesanan pun datang, meski Rayyan hanya menambah minum saja karena tadi sudah makan.
Menemani Arif makan sambil berbincang mengenai kedatangannya pulang ke Jawa secara mendadak.
“Kamu lupa. Sepertinya Arunya udah punya pacar, loh. Kamu yakin bisa ambil Runya lagi?" hardik Arif.
“Dia kan hanya pacar. Tapi aku kesini, mau lamar dia. Seriusan mana, coba?" tepis Rayyan.
“Kamu yakin?’'
'‘Yakin. Kalau nggak yakin, nggak mungkin aku belain pulang mendadak begini.’'
Arif hanya menimpali dengan senyuman sampai makanan dalam piring habis tidak tersisa. “Lapar banget aku dua hari nggak makan,’' canda Arif.
‘'Jadi. Kita langsung ke kost Arunya?" tanya Arif.
'‘Menurutmu bagaimana?” cetus Rayyan meminta pendapat.
"Enggak capek?”
'‘Enggak untuk Arunya. Aku takut Runya akan lebih capek nunggu aku terlalu lama.”
"Ck, baru sadar. Kemana aja, Lo!" Arif menggeleng.
"Ini adalah upanya memberi semangat pada diri sendiri,’
“Tapi balik dulu aja deh. Minta restu sama orang tua, man."
‘Iya, deh. gimana baiknya." Rayyan menurut. " Tapi.." lanjutnya tertahan.
"Apa lagi?" tanya Arif mulai kesal.
"Liat sebentar, aja, yuk. Cuma dari kejauhan."
Sejurus kemudian Rayyan teringat bahwa Arunya mungkin sudah masuk kerja. Akhirnya Rayyan bersama Arif memutuskan untuk singgah ke kost Arif.
...***...
Harusnya minta restu dulu, deh, Ray. Heran deh, 🤭😩😩😩 kesyel sendiri akutuu..
__ADS_1