Amita Arunya

Amita Arunya
Air terjun


__ADS_3

BAB 5


***


Hari berganti seiring perputaran bumi, setelah pukul 00.00 semalam hari ini menjadi hari pertama di tahun yang baru. Arunya hanya berberes rumah. Ibu sudah berangkat bekerja sejak dua jam yang lalu.


“Run, kamu ada kerjaan?” tanya Lela. Teman Arunya yang tinggal tah jauh dari rumahnya. Sepagi ini sudah datang dengan celana jeans andalannya juga kaos putih polos berbalut jaket hodie. Badannya tercium bau parfum yang sangat menusuk indera penciuman Arunya.


“Gak ada sih, ibu udah berangkat kerja dan Dika main sama keponakan. Ada apa?”


“Jalan yuk! Nemenin aku ke Air terjun yang di desa sebelah yang lagi rame itu!”


“Kamu berani naik motor kesana?” tanya Arunya serius. Pasalnya jalan menuju air terjun yang di maksud Lela jalannya agak terjal dan juga menanjak.


“Serahin semua sama Lela,”


***


Setelah perdebatan panjang, membujuk Dika agar menurut dengan bibinya, serta acara ceramah dari bibinya yang berpesan untuk berhati-hati.


Disinilah Arunya sekarang. Gadis manis berhidung mancung itu memakai atasan kaos putih sederhana yang masih di balut jaket berwarna merah tua, dengan bawahan jeans berwarna gelap. Terkejut karena mendapati Rayyan dan Arif yang sudah bersiap diatas motornya masing–masing.


Arunya merasa bingung, mengapa ada mereka berdua?


Lela tidak membiarkan Arunya berlama-lama dengan keterkejutannya segera mendorong pelan Arunya untuk naik di jog belakang Rayyan. Sedangkan Lela segera memposisikan dirinya membonceng dibelakang Arif. Apa kabar jantung Arunya? Apakah masih pada tempatnya?


Entah rasa berdebar seperti apa yang berusaha Arunya kendalikan ketika memposisikan dirinya dibelakang Rayyan.


“Pegangan, Run!”


Arunya terkesiap, “E, gini aja, Ray!” Arunya memposisikan tangannya bertumpu pada lutunya sendiri, akan lebih baik pikirnya daripada dia harus berpegangan pada pinggang Rayyan.


Saat melirik Lela, matanya membulat sempurna. Pasalnya Lela sengaja memeluk Arif yang sayangnya malah membuat Arif cekikikan. Arunya sadar mereka adalah saudara sepupu jadi wajar saja begitu, tapi tidak dengan dirinya.


“Yang benar saja jika aku ikutan kayak mereka, bibi bisa marah besar apalagi ibu,” pikir Arunya.


Apalagi jika tetangga melihatnya. Arunya akan menjadi bahan untuk mereka bergosip. Beruntungnya sebagian warga kampung berprofesi sebagai petani, jadi sebagaian dari mereka sudah berangkat ke sawah masing-masing.


Setelah melewati kurang lebih 7 km perjalanan yang meliuk-liuk mengikuti perbukitan pedesaan yang sejuk, sampailah keempat anak manusia itu di air terjun yang sudah sangat ramai pengunjung.

__ADS_1


Melewati pinggiran sawah yang licin seringkali Rayyan sengaja menggandeng tangan Arunya agar tak terpleset.


Berkali-kali pula Arunya selalu sibuk dengan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


Untunglah bumi berputar dengan sangat cepat, jika tidak entah guncangan seperti apa yang Arunya rasakan.


Saat melihat Rayyan tersenyum bersemu meski terlihat samar. Sejurus kemudian Arif menyadari rengekan Rayyan semalam.


"Arif, gimana kalau kita ajak Lela sama Runya. Biar rame." Ungkap Rayyan malam itu.


Berdalih agar liburannya tak monoton hanya mereka berdua saja, Rayan membujuk Arif untuk mengajak Lela dan Arunya. “Aku paham sekarang, Ray. Alasan kamu untuk mengajak dua bocah ini,” batin Arif.


“La, coba kamu lihat mereka deh!” Arif menunjuk ke arah Rayyan yang beberapa langkah didepannya.


Sambil terus berjalan Lela menegakkan kepalanya melihat kearah jari Arif. “Memangnya kenapa dengan mereka, Mas?” Lela semakin menggulum senyum.


“Kamu tahu sesuatu? Atau Arun cerita sesuatu?” tanya Arif.


Mengabaikan rasa penasaran sepupunya, Lela hanya mengangkat bahunya.


“Belalang di sawah juga tau kali', Mas. Mereka sedang sama-sama jatuh cinta.” Sayangnya hal itu hanya tersimpan di pikiran Lela saja.


Mereka berempat segera mendekat menuju air terjun. Ada jalan setapak menuju pusat air terjun.


Disana banyak bebatuan yang biasa di gunakan untuk spot foto. Terdapat satu air terjun utama dan dua aliran air terjun lain yang lebih kecil.


Pengunjung kali ini lebih banyak dari biasanya. Bertepatan dengan moment tahun baru.


"Bagus banget," ungkap Arunya. Ia baru pertama kali berkunjung. Memindai pemandangan yang masih alami dengan udara pegunungan yang sejuk.


Embusan angin membuat percikan air yang berasal dari aliran air terjun semakin terasa sejuk.


"Cepet banget, sih, jalan kalian. Kita sampai tertinggal, 'kan," protes Lela. "Jangan bilang, kalian mau pacaran, ya," terka Lela kembali.


Arunya membulatkan kedua bola matanya. Namun, hal itu justru di tanggapi oleh Rayyan dengan santai.


"Aku jomblo, Runya juga jomblo. Sah, sah aja kan, kalau pacaran." Rayyan menggulum senyum.


"Wiihh, sejak kapan kamu berani ngomong?" cecar Arif.

__ADS_1


Rayyan hanya terkekeh. Sedangkan Arunya yang telah menjauh dari ketiga temannya, pura-pura tidak mendengar percakapan mereka. Padahal wajahnya menghangat hingga memerah, semerah tomat.


"Omongan Rayyan barusan, bneran atau candaan, sih." Arunya bergumam sambil melempar kerikil ke dalam genangan air.


"Dorr." Lela datang mengagetkan Arunya.


"Ampun, deh, La. Suka banget ku ngagetin." Arunya pura-pura bersungut.


"Habis, kamu malah ngelamun disini." Lela ikut duduk di atas batu disamping Arunya.


"Rame banget, ya." Arunya memindai area air terjun.


"Kan pas banget buat momentum tahu baru begini. Lihat yang di gazebo itu, Run!" Lela menunjuk salah satu gazebo tidak jauh dari mereka.


"Cocok banget buat pacaran, tuh." Lela menggoyang bahu Arunya.


"Haiss, kita ini masih SMP, lho. Belum pantes pacaran."


"Kamu aja yang gak berani pacaran."


"Ya jelas nggak berani, aku. Takut di marahin ibu. Temen-temen di kelas juga ada, sih. Yang udah pacaran. Tapi, rata-rata, mereka yang terkenal aja. Contohnya yang terlibat OSIS atau grup drum band."


" Kamu pernah naksir seseorang?" tanya Lela.


Arunya terdiam. Ia sedang melirik Rayyan yang tengah bercanda bersama Arif tak jauh dari mereka.


Tanpa Arunya duga, sorot matanya bertemu dengan kedua bola mata milik Rayyan. Dengan cepat Arunya, menundukkan pandangannya. Mengambil kerikil dan memainkannya, melempar ke udara dan menangkapnya lagi, agar mengurangi kecanggungannya.


"Apa sekarang kamu beneran sedang menyukai seseorang?" tanya Lela kembali.


"Ah. Enggak, La. Udah donk, jangan bahas ini lagi." Arunya berdiri dan mengajak Lela mendekati aliran air terjun.


"Run, jangan dekat-dekat air. Kita kan, nggak bawa ganti." Lela kembali menarik Arunya untuk menjauhi pusat jatuhnya air.


***


Kalau friend lagi jatuh cinta. Apa wajahnya juga semerah tomat?🤭🤭🤭


Jangan lupa like dan komentarnya ya.

__ADS_1


khamsahamnida 🙏🙏🙏


__ADS_2