Amita Arunya

Amita Arunya
Bukan pelarian


__ADS_3

Bab 39


“Yank. Apa maksud kamu?’' tanya Tama. Ia tengah panik, degup jantungnya berdetak tidak beraturan 0ikiran buruk mulai mengusik hatinya.


"Coba kamu lihat masalah ini sebagai aku. Aku punya rasa suka terhadap seorang. Bertahun-tahun, waktunya tidak hanya sesingkat senja yang berganti malam. Hingga aku lelah dan menyerah dengan segala kekuranganku. Sampai aku bertemu kamu. Namun, dengan tega aku selalu mengabaikanmu. Kamu nggak juga menyerah. Diam-diam bahkan aku tahu kamu selalu membuntuti aku ketika aku menolak saat kamu antar pulang. Berkali-kali. Kamu banyak bantu aku dalam susahku. Saat sadar aku mulai merindukanmu ketika kamu sedikit menjauh. Aku yakin hatiku sudah terbuka untukmu sampai aku memutuskan memulai hubungan sama kamu."


Arunya terisak dan menyeka kasar air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


“Sampai Mas Bagas menuduhku hanya membuatmu menjadi pelarian. Aku sakit mendengarnya. Aku nggak terima. Susah payah aku membuka hati untukmu. Aku menyangkalnya, karena aku nggak ada niat untuk membuatmu sebagai pelarian semata. Aku benar menyukaimu tanpa menganggapmu pelarian sedikitpun. Dan....” Arunya tidak lagi mampu mengucapkan perasaanya. Sepagi ini, hatinya sudah kacau.


‘Sayang, udah, aku .. “


“Biar aku lanjutkan.” Tersenyum namun menangis lagi.


“Rayyan kembali datang dengan mengorbankan pekerjaanya dan mengungkapkan perasaan yang sejak dulu masih bersamanya. Memintaku untuk memikirkkan perasaanku kembali. Memintaku untuk mencari sisa namanya di dalam hatiku.“


Arunya menatap Tama yang masih terpaku.


“Katakan aku harus bagaimana? Agar aku tidak menyakiti kamu dan dia?”


“Sayang, semua bukan salah kamu,”


“Aku jahat sama kamu, Mas. Aku masih sedikit memikirkan dia.” Arunya terlihat mengendalikan isakknya.


‘'Udah, sayang. Aku nggak tahu harus bagaimana. Yang ku tahu aku ingin egois mempertahankan kamu juga.”


"Jika dia ingin egois meraih cinta yang di abaikannya. Maka aku juga akan egois mempertahankan cinta yang sudah aku punya."


Tama menepuk pelan lengan Arunya. “Udah, kamu masuk, hampir jam tujuh.” Tama mencoba tersenyum meski di paksakan.


Arunya menyeka air matanya kembali dan mencoba tersenyum.


“Aku percaya sama kamu. Apapun itu,” ucap Tama, meski dalam sudut hatinya tersimpan ragu yang masih mengganjal pikirannya.


Arunya mengangguk. ”Aku kerja dulu ya, Mas. Pulangnya hati-hati, nggak usah ngebut,” pinta Arunya.


“Iya,’ lirih Tama.


Arunya beranjak dan berjalan menjauh dari Tama.


Tama enggan melepaskan pandangan matanya dari Arunya. Perlahan-lahan jaraknya semakin mengecil dan menghilang di balik bangunan besar lantai dua, tempat kerjanya.


“Aku pasrah, dengan takdirku. Ya Allah. Aku ingin meyakinkan ini akan baik-baik saja. Namun hatiku berkata lain.’ Tama mengusap kasar wajahnya. Ia meraih helm pada tangki motornya lalu memakainya.


Menaiki motor kesayangannya, yang baru saja lunas beberapa bulan yang lalu. Ia bukan anak orang yang bergelimang harta, maka dengan mencicil setiap bulannya selama dua tahun akhirnya ia dapat memilikinya dengan hasilnya sendiri.


“Kita pulang. Dan percayakan takdir membawaku kemana.” Tama menepuk tangki motornya seolah teman curhatnya.



...*** ...

__ADS_1


Bekerja dengan perasan berkecamuk tentu tidak baik untuk hasil pekerjaanya. Berkali-kali terdapat minus pada monitor membuat Arunya harus mencari lagi monitor yang masih menyala karena belum ia tekan dengan benar.


Hingga waktu istirahat Arunya melangkahkan kakinya menuju musola DC yang berada di lantai dua. Selesai dengan empat rokaatnya. Arunya hanya terdiam. Tidak berniat untuk mebeli makan di kantin yang menyuguhkan berbagai masakan yang menggiurkan lidah.


Tangannya bergerak meraih benda pipih yang bergetar karena ada panggilan masuk. Panggilan dari Rayyan.


“Runya,”


‘Iya, kenapa?’


“Aku ada di Klaten ini. Didepan tempat kamu kerja.”


“Apaa!” Arunya kaget dan berdiri seraya melepaskan mukena yang masih ia kenakan. Ia mendekati sisi dinding kaca musholla. Mengedarkan pandangannya pada pintu gerbang DC yang tertutup rapat. Matanya memicing mencari sosok pada sambungan teleponnya.


“Kamu mencariku?” kata Rayyan sambil terkekeh.


‘Serius kamu di depan gerbang?”


“Enggak, sih. Disana panas, aku sedikit menepi. Cari tempat yang sejuk aja. Jadi kamu masuk pagi, ‘kan?”


“Iya,’'


“Aku tunggu jam tiga di depan kost kamu, ya. Hati-hati kerjanya!”


‘Hah, iya.”


Arunya melihat panggilan terputus. Dan melihat kembali pada gerbang DC. Masih mencari sosok Rayyan di sana.


Setetes air mata jatuh tanpa bisa ia cegah.


...*** ...


Arunya berjalan kaki ke kost dengan tergesa, setelah mendapat pesan dari Rayyan.


Pesan singkat yang membuat Arunya melangkahkan kakinya lebih lebar. Tujuh menit kemudian Arunya sampai pada pagar kostnya.


Rayyan yang semula duduk pada bangku di bawah pohon mangga sontak berdiri, ketika netranya melihat Arunya di luar pagar.


Seperti de-javu dengan suasana ini, Rayyan hanya menatap dalam pada sorot mata sendu di luar pagar dengan perasaan berkecamuk. Bahkan, hanya untuk menarik senyum saja terasa berat.


Arunya membuka pagar hingga bunyi decitan karat pada besi yang bergesek dengan roda pagar. Menarik nafas dalam dan memantapkan hatinya. Ia menyeret kakinya yang semakin berat untuk segera menghampiri Rayyan.


“Ray. Kita duduk disana.” Arunya menunjuk kursi besi yang sebagian catnya sudah luntur karena terkena air hujan dan terik panas.


Rayyan menurut mengekor langkah Arunya. Keduanya berakhir duduk berhadapan.


Tidak ada kata hingga beberapa menit kemudian. Keduanya hanya dapat terdiam dengan pikiran masing-masing. Rayyan merasa ini adalah kesempatannya, memandang seorang yang enggan pergi dari sudut hatinya. Hingga ia dapat berbuat sejauh ini, berniat melamarnya walau saat ini cintanya sudah berpaling darinya.


Begitupun dengan Arunya, ia kembali bimbang untuk merangkai kata. Ia bahkan tidak mengerti apa yang di inginkan hatinya.


“Ray.”

__ADS_1


“Runya.”


Keempat bola mata itu saling beradu, meski jarak keduanya masih terhalang meja kecil di tengahnya.


‘'Ray, aku nggak bisa menerima ini.” Arunya meremas ujung kaos seragam yang ia kenakan, air matanya luruh seiring kata yang keluar dari bibirnya. Namun, dengan segera ia menundukkan pandangannya, agar Rayyan tidak mengetahui air matanya.


Terlambat, Rayyan sudah mengetahuinya. Namun, itu semua membuatnya menarik sedikit sudut bibirnya.


‘'Runya, aku nggak tahu lagi harus ngomong apa. Semua sudah aku tunjukkan dengan tindakanku kali ini.”


Arunya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Badannya yang bergetar menandakan ia tengah menangis sesenggukan.


Rayyan ingin sekali mendekat dan merengkuhnya. Agar dapat merasakan luka yang Arunya simpan selama ini. Ia sadar, lama ia tidak memberikan kabar apapun padanya. Membiarkan seorang gadis menyimpan rasanya sendiri tanpa ia berani menyambutnya.


“Rayyan. Sebaiknya kamu pulang. Ak-“ ucap Arunya terputus isak yang ia tahan.


“Runya, aku ingin tahu apa yang kamu rasakan?” bujuk Rayyan.


“Kamu nggak berhak tahu apa yang aku rasakan, Ray,” hardik Arunya. Ia menarik kedua telapak tangannya. Wajah penuh air mata itu terpampang nyata di hadapan Rayyan. Sehingga Rayyan dapat melihat gambaran rasa sakit itu.


“Maafkan aku, Arunya. Ternyata begitu dalam rasa yang kau punya padaku. Dan air matamu yang menjawab semuanya. Aku tahu itu air mata kekecewaan atas diriku.”


“Kamu terlambat, Rayyan. Kamu terlam-bat.” Arunya menumpuk kedua tangan pada meja di hadapannya dan membenamkan wajahnya disana. Membuat rambut panjangnya menutup kedua sisi wajahnya.


“Iya. Aku tahu aku terlambat. Aku bahkan sempat yakin dapat meruntuhkan dinding tinggi yang sudah kau buat. Rasa kecewa saat menungguku yang tak kunjung menyambut rasamu. Aku pantas mendapatkan ini.” Batin Rayyan ingin menjerit menyalahkan takdirnya. Ia menundukkan wajahnya.


Lalu lalang kendaran roda dua di luar pagar tidak membuat luka pada kedua anak manusia itu mereda.


Keduanya sedang meresapi lukanya masing-masing.


“Runya, akau tahu namaku masih ada di sana. Isak tangismu yang telah mengungkapkannya. Aku sedikit mengerti kau memilih tetap bersamanya. Arunya yang akau kenal sejak dulu adalah pribadi yang lembut hati, masih aku temukan di masa ini. Aku...”


Rayyan menyeka kasar sudut matanya yang berair. Membuat Arunya menatap Rayyan.


“Aku terima keputusanmu.” Sesak dan perih yang Rayyan rasakan saat ini. Ia ingin berteriak menumpahkan semuanya. Namun, ia masih sadar ini bukan tempat yang tepat untuknya.


Rayyan memberanikan dirinya melihat sosok di hadapannya. Ia menarik senyum sebisa mungkin.


“Arunya, aku akan pulang. Aku hanya bisa berharap yang terbaik untukmu. Baik baik, ya. Kali ini aku akan sekalian pamit. Aku menyesal, kepergianku dulu tidak ada kata yang aku ucap untukmu. Kali ini aku tidak akan mengulanginya. Besok aku akan pulang.”


Rayyan berdiri dan mengulurkan tangannya di depan Arunya. “Aku pamit ya,”


“Rayyan.” Arunya berdiri, dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat tangan kanan Rayyan yang terulur padanya. Perlahan ia menggerakkan tangannya menyambut salam perpisahan dari Rayyan, cinta pertamanya.


Air mata yang belum mengering itu kembali mengucur lebih deras.


Rayyan menggenggam tangan Arunya lebih erat di ikuti telapak tangannya yang lain.


“Sampai jumpa lagi, Runya.”


Rayyan melepas tangan Arunya. Dan segera melangkah. Meraih helm yang ia letakkan di atas motornya lalu memposisikan dirinya pada motonya. Ia sempatkan menoleh pada Arunya yang masih diam mematung tanpa mengalihkan pandangan mata darinya. Perlahan kedua roda itu membawa Rayyan menjauh dari Arunya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2