Amita Arunya

Amita Arunya
Cuti


__ADS_3

BAB 27


Suara adzan magrib terdengar dari pengeras suara masjid, begitu Arunya turun dari ojek motor.


Melihat rumah yang menjadi saksi di besarkan dirinya 18 tahun yang lalu, membuat batinnya tersentuh. Selalu begitu, jika ia pulang kampungnya.


Belum sampai Arunya pada teras rumahnya, suara Dika telah menyambutnya, “Mbak Runya.”


Arunya tersenyum lalu memeluk adiknya.


Ibu juga lantas keluar rumah karena mendengar teriakan Dika, lalu ibu segera mendekat untuk memeluk Arunya. “Ibu, kangen, Mbak.” Kata ibu setelah melerai pelukannya.


“Runya juga kangen, Bu.”


Setelah cukup, ibu mengajak masuk ke dalam rumah. Menyiapkan makan, sementara Arunya membersihkan diri lalu melaksanakan kewajibannya.


Selesai dengan kegiatan bebersih, Arunya kembali bergabung dengan ibu dan Dika untuk makan bersama, "Sambel cobek, Bu." Arunya tentu senang sekali begitu melihat menu makan kali ini.


Sudah begitu lama, ia tidak makan dengan sambal dan ikan asin. Di tambah nasi tiwul, lalapan timun serta kerupuk. Di sana ibu juga menyiapkan botok ( sejenis makanan dari parutan kelapa dengan bumbu rempah di campur dengan bahan makanan sesuai selera dan biasanya di bungkus dengan daun pisang ). Makan bersama dalam satu cobek menjadi moment makan yang paling Arunya suka.


Selesai makan Arunya banyak bercerita tentang kesehariannya.


Berbincang menjadi lebih serius, saat ibu menemukan bekas jahitan di lengan Arunya yang terlihat karena menggunakan kaos oblong rumahan. "Ini , kenapa?" tanya ibu histeris.


"Ini..." Arunya takut, karena tidak ia memberitahu pada ibu waktu itu. "Kena pisau, Bu. Kena jambret waktu itu."


"Bisa-bisanya, Runya! Kamu kenapa tidak memberi kabar pada ibu. Kamu masih punya orang tua, Runya!” Ibu menangis tersedu dan membuat Arunya merasa bersalah.


“Bapak pasti sangat sedih di sana, karena ibu tidak bisa menjaga anak gadisnya. Lalu bagaimana kamu di sana merawat diri, Runya. Tidak ada sanak saudara disana. Ya Allah.” Ibu makin meraung ketika ia menyingkap habis lengan kaos sehingga memperlihatkan bekas luka jahitan pada lengannya.


“Arunya hanya tidak ingin ibu kawatir. Disana Arunya banyak teman. Ada Asih dan teman-teman lainnya yang baik sama Arunya, Bu. Ibu jangan sedih lagi. Arunya gak apa-apa, Bu.” Ia mengelus punggung ibu agar meredakan tangisnya.


Arunya beralih pada Dika yang hanya bisa terdiam karena tangisan ibu. “Dika, udah malam. cepet tidur, sana!” titah Arunya.


“Kita tidur sama-sama di kamar ibu, ya, Mbak!” Dika menarik tangan Arunya.


Arunya mengangguk dan memutuskan untuk mengajak ibu tidur karena waktu yang kian larut.


Arunya menyempatkan diri untuk berbalas pesan dengan Tama. Ia hampir lupa jika sampai rumah harus memberi kabar pada Tama.


Saat panggilan dari Tama berdering. "Runya, tidur!" Suara ibu memperingatkan.


Arunya terpaksa mematikan sambungan telefon dari Tama. Dan mengetikkan pesan singkat. "Mas, sudah malam. Have nice dream."

__ADS_1


...***...


Sejuknya udara di pedesaan yang belum terkontaminasi asap kendaran, menyambut gadis manis berambut panjang kala ia membuka jendela kamarnya.


Sudah dua bulan yang lalu kamar ini tidak ia tempati. Pemilik mata lentik dengan tinggi 160 cm itu tengah membersihkan kamarnya. Menata ulang agar terlihat lebih rapi. Biasanya jika ibu sedang rindu padanya, dia akan menempati kamarnya yang masih berdinding anyaman bambu di salah satu sisinya. Dia yang biasa di panggil Runya oleh teman dan tetangga, dalam satu tahun terakhir ia hanya pulang beberapa kali saja. Kali ini dia pulang karena tengah mengambil cuti tahunan.


Saat ia tengah membereskan meja belajarnya, ia menemukan kertas yang terlipat di bawah tumpukan baju pada almari. Ia sadar, ini adalah kertas pemberian Lela waktu itu.


Membuka perlahan lipatan kertas lalu air matanya menetes tanpa ia sadari. Arunya hanya merasa sesak dalam dadanya ketika mengigat Rayyan. ”Meski aku sudah bersama Mas Tama, kenapa namamu enggan pergi dari hatiku. Kenapa?” Arunya meremas kertas yang berisi sebuah lirik lagu tulisan tangan Rayyan lima tahun yang lalu.


“Bahkan sekarang aku telah merasa bersalah padanya karena kamu masih terus melintas di pikiranku. Aku ingin melupakanmu. Tapi kenapa disini masih terasa sakit.” Ia menepuk dadanya yang kian sesak.


Tanpa ia sadari Lela yang mendengar pengakuan Arunya membuatnya diam mematung di tirai penutup kamar milik Arunya. Ia yang mendengar kabar bila Arunya telah datang, bergegas ingin menemui Arunya. Namun, ketika ia mengucap salam dan tidak ada jawaban dari pemilik rumah, Lela memutuskan untuk mencari kamar Arunya.


Perlahan Lela mendekat dan memegang bahu Arunya yang tengah duduk membelakanginya.


Deg!


Arunya segera berbalik dan mendapati Lela yang tersenyum meski terlihat di paksakan.


“Lela,” lirih Arunya. Tangisnya kembali tumpah saat Lela memeluknya.


Setelah menenangkan perasaan serta sisa sesenggukannya, keduanya tersenyum canggung. Jujur Arunya malu telah tertangkap basah tengah menagisi Rayyan.


"Cerita -cerita, Run. Keseharian kamu disana." Lela sengaja mengalihkan pembicaraan. Lalu Arunya menceritakan tentang Asih juga teman-temannya. Keadaan kost, bahkan juga menceritakan bahwa sudah hampir delapan bulan ini ia telah mencoba menjalani masa pacaran bersama Tama.


"Dia baik, sangat baik. Saat aku dalam masalah dia selalu bantu aku. Awalnya aku selalu nolak jika ia sekedar ingin mengantar aku pulang, La. Aku gak mau memberikan harapan padanya. Bahkan dari cerita temanku, dia kadang sengaja mengikuti aku dari jauh. Apalagi jika aku pulang sendirian. Tapi aku gak pernah menyadarinya. Hingga kejadian ini." Arunya mengelus lengan kirinya.


"Dia sudah berkorban banyak buat aku, La. Dia yang mengurus surat-surat kehilangan. Serta menanggung biaya klinik waktu itu. Semua aku dengar dari temannya. Bahkan saat itu dia sempat berhutang kepada temannya. Karena saldonya habis untuk mengurusku," kenang Arunya kembali.


5 Semua cerita ini ia dapat dari Bagas sewaktu mengantarnya.


"Sekarang kamu yang cerita!" Arunya menoleh pada Lela yang masih terus menyimaknya.


Kini giliran Lela juga menceritakan jika dalam waktu dekat ia akan melangsungkan pernikahan. Arunya tidak bisa menutupi keterkejutannya. Menuntut lebih pada Lela, tentang perjalanannya hingga berujung ke rencana pernikahan.


Tidak terasa waktu bergerak dengan cepat. Arunya mengajak Lela untuk ikut sarapan meski sudah sangat terlambat. Kebiasan buruk Arunya jika di rumah. Meski sebelum ibu bekerja sudah memperingatkannya.


Setelah makan dan mereka duduk di teras rumah, Lela teringat sesuatu. “Runya, aku punya sesuatu.” Lela memberikannya satu amplop putih pada tangan Runya.


“Ini, apa?’ tanya Arunya.


“Buka, aja!” Lela melirik amplop pemberiannya.

__ADS_1


Meskipun masih gamang, Arunya perlahan membukanya. Terdapat dua lembar pas foto berukuran 3R yang menampilkan potret seorang yang sangat ia kenali. Seorang lelaki yang tengah memakai seragam batik berdiri menampakkan senyumnya.



Arunya terpaku namun perlahan jari tangannya mengusap perlahan. Dadanya tengah bergemuruh dengan hebatnya. “Selamat. Kau berhasil. Kau telah membuktikan pada mereka bahwa kau memang memiliki kemampuan. Aku bangga padamu.” Kata pertama setelah sekian detik berlalu hanya terdiam.


Arunya mengenang saat Rayyan pernah berkata. "Cita-cita sebagai penyemangat diri. Bisa saja kita menganggap tidak dapat menggapainya. Tetapi mungkin, karena hanya tertunda. Bukan karena kita tak mampu."


Arunya dulu pernah bercerita ingin jadi seorang guru. Namun, karena keterbatasan biaya ia tidak dapat meneruskan kuliah. Lalu Rayyan kembali memberikan sebuah statement, "Jika kamu yakin akan cita-citamu, tanamkan dulu pada hatimu. Kelak jika hatimu sudah bertekad, maka dengan sendirinya kamu akan bergerak untuk meraihnya."


"Kamu melamun!"


Suara Lela memutus lamunan Arunya saat mengingat kata-kata dari Rayyan beberapa tahun yang lalu.


Arunya menggeleng dan Lela hanya memerhatikan mimik wajah Arunya.


Arunya berganti memeriksa satu lembar foto lainnya. Potret Rayyan bersama papanya yang tengah kompak memakai jas. Berdiri sejajar terlihat seperti di halaman sebuah gedung bertuliskan DPRD Provinsi Riau.



“La, kamu dapat dari mana foto ini?” tanya Runya.


“Rayyan mengirimkan beberapa foto pada Mas Arif. Dan aku berinisiatif untuk mencetaknya. Untuk aku berikan ke kamu. Aku berfikir jika kamu masih menyukai Rayyan. Tapi setelah aku mendengar kata-kata kamu saat menangis tadi, aku jadi bingung dengan perasaan kamu, Run.”


Arunya diam memikirkan perkataan Lela, lalu ia meggeleng pelan. “Sampai kapanpun aku tidak akan pantas buat dia. Apalagi dengan pencapaiannya sekarang, La.”


Arunya menerawang menggambarkan sosok Rayyan. “ Dia semakin tinggi, semakin tak dapat aku menggapainya.” Arunya tersenyum masam.


“Dia berada di kalangan orang yang berpendidikan, aku tidak yakin jika ia masih mengingatku. Pasti banyak wanita-wanita berkelas juga di sekelilingnya."


“Mas Arif menyimpan nomornya, Run. Jika kamu mau.”


Arunya menggeleng pelan, “Aku tidak sepenting itu untuk mempunyai nomornya, La.”


Lela terdiam sejenak, "Semua pemikiran kamu belum tentu benar, Run.”


“Tapi juga tak sepenuhnya salah, La.” Arunya menatap Lela yang masih duduk di sampingnya.


“Run. Jika Rayyan datang menemuimu. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Lela.


“Itu tidak akan mungkin, La,”


...***...

__ADS_1


Mungkinkah, bila ku bertanya, pada bintang-tentang arti cinta??? hahahhaa.


Jangan lupa tekan like n love buat aku, khamsahamnida 🙏😍😍


__ADS_2