Amita Arunya

Amita Arunya
Tak ada yang bisa di banggakan


__ADS_3

Bab 38


...***...


Tama memacu kecepatan motornya. Ia harus pandai-padai berkendara di tengah padatnya lalu lintas. Meskipun waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Tentu saja mereka semua yang berjuang menerjang subuh adalah sebagian pekerja pasar, pengepul sayur dan sebagian petani yang menjual hasil panennya.


Meski begitu, Tama tidak mengurangi niatnya untuk segera bertemu dengan Arunya. Ia tidak dapat memejamkan mata barang satu detikpun semalam. Pikirannya kacau, dia jauh dari kata percaya diri. Meskipun sekarang sudah berkali-kali Arunya mengucap cinta padanya, Tama tetap tidaklah bisa tenang.


Memasuki kawasan jalan raya Jogja-Solo, Tama hampir saja menabrak pengendara lain karena pikiran kacaunya.


‘'Maaf, Mbak." Tama meminta maaf kepada pengendara yang hampir hilang keseimbangnnya.


“Gimana, sih, Mas. Kalau ngantuk, ya mestinya istirahat. Jadi nggak membahayakan pengendara lain.” Seorang ibu-ibu mengomel sembari merapikan kembali bawaannya yang sempat tercecer.


“Duh, urusan sama ibu-ibu. Emang enggak pernah menang, deh.” Monolognya.


Setelah berkali-kali meminta maaf dan membiarkan ibu-ibu pergi meski masih terus bercerocos ria sepanjang jalan, akhirnya Tama memutuskan untuk menghampiri warung di pinggir jalan.


“Saya pesan susu jahe, satu, Pak," pinta Tama begitu ia duduk di kursi yang di sediakan. Tidak lama pesanan datang dan Tama segera meminumnya. Susu jahe lumayan untuk memberi rasa hangat di tengah pagi yang masih berkabut.


Setelah memastikan dirinya kembali fit, Tama mendekati penjual dengan membayar tiga ribu rupiah kepada penjual angkringan. Tama bersiap meneruskan perjalannnya.


Tidak sampai sepuluh menit Tama sudah sampai di depan kost Arunya. Setelah bertemu dan berbasa-basi pada pemilik kost, Tama melangkahkan kakinya menuju kamar kost.


Sedikit merasa tidak enak karena ia bertamu masih terlalu pagi. Ia mencari bilik kost yang sering Arunya ceritakan pada sambungan telepon.


Begitu netranya menemukan siluet seorang yang selalu menggetarkan hatinya. Ia perlahan mendekat, dan memastikan lagi agar tidak salah orang. Dilihat dari kaos rumahan yang biasa di pakai Arunya, membuat keyakinannya kembali terkumpul.


Ia menahan sejenak untuk segera meluapkan rasa rindunya. Berdiri di belakang Arunya yanng tengah duduk pada lantai teras kost, dengan handuk yang tersampir pada bahu kirinya. Terlihat sedang posisi mengantre kamar mandi.


Tama menarik sudut bibirnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Setelah melihat Arunya, pikiran kacau yang sedari tadi menghampirinya sekan lenyap seiring sinar matahari yang mulai menyingsing.


Kepalanya memutari sudut kost Arunya, masih begitu sepi.


Perlahan ia mendekat dan memeluk singkat seorang yang ia yakini adalah Arunya. Yang sedang ia peluk segera berjingkat kaget dan spontan membalikkan badannya.


“M-mas?” pekik Arunya.


Benar, untung saja dia Arunya. Jika tidak, pasti Tama akan mendapat pukulan bertubi jika orang itu tidak di kenalnya.


Wajah alami khas bangun tidur menyapa Tama kali ini. Ramput panjang yang kusut karena belum bersentuhan dengan sisir. Dan, kaos rumahan dengan celana hot pants warna coklat. Tidak lupa sandal sw*llow sejuta umat menjadi penampakan pertama yang menyambutnya.


“Hai,” ujar Tama. Tanpa rasa bersalah. Ia malah mensejarkan duduk di lantai di dekat Arunya.

__ADS_1


Arunya memutar kepalanya panik melihat keadaan kost. Ia takut akan mendapat teguran dari pemilik kost. Seorang lali-laki sepagi ini sudah berada di depan kamar seorang cewek. Apa yang akan mereka pikirkan?


“Kenapa? Aku udah bertemu pemilik kost dan memina izin langsung, kok. Nggak usah panik gitu, donk!” Tama tersenyum.


“Hah, serius?”


Tama kembali mengangguk. "Boleh peluk agak lama, nggak? Yang tadi singkat banget,” mohon Tama.


Belum hilang kejutan kunjungan Tama sepagi ini, Arunya kembali terkejut karena Tama berniat memeluknya. Di pagi buta. Dengan keadan berantakan. Ah, memalukan.


"Big no!" Arunya mendengkus kesal.


"Enggak. Mas. Kamu tahu, aku baru bangun tidur. Cuci muka hanya karena subuh tadi. Badanku masih bau asem,” tolak Arunya.


“Hari ini kamu, shif pagi?’ tanya Tama.


“Iya. Kamu kenapa nggak ngomong kalau mau kesini, Mas!”


“Kalau ngomong bukan kejutan, donk.”


Arunya diam menunduk. Kemudian menarik handuk pada bahunya untuk menutup kakinya. Mendapat tatapan berbeda dari Tama. Ia merasa malu dan merasa risih.


Tama kembali tersenyum tipis. ”Jangan mikir yang enggak-enggak. Aku kesini ingin ketemu kamu dan sarapan bareng. Udah, buruan mandi. Aku tunggu di depan aja.” Tama beranjak dari duduknya.


“Cepet, ya! Waktunya nggak banyak soalnya.” Tama mencubit dagu Arunya dan menadapat lirikan tajam dari pemiliknya.


Hanya dua menit saja Arunya mandi. Ia segera berbenah memakai seragam beserta atributnya. Memoles sedikit pelembab dan bedak bayi juga lip ice tipis pada bibirnya. Untuk rambut panjangnya ia kuncir ekor kuda.


Melihat Asih yang menggeliat dan terduduk meregangkan ototnya. Ia hanya bersikap abai.


'‘Jam berapa nih? Udah rapi aja.” Asih memeriksa ponselnya. “Masih jam enam loh ini.” Matanya memicing pada Arunya yang bergerak memasukkan dompet dan ponsel pada tas cangklong warna army.


“Mas Tama ada di sini, Asih. Aku harus cepet-cepet nemuin dia. Udah, ya, Daaaah.” Arunya memakai asal sepatu kets dan gegas keluar kamar.


“Sepagi, ini? Dua jam loh, dari Semarang? Cinta memang gila.” Asih menggelengkan kepalanya dan kembali merapatkan selimutnya.


...***...


“Mau sarapan apa?’' tanya Tama begitu roda motornya bergerak membelah jalanan yang masih legang terhadap lalu lalang pengendara motor. Helm fullface miliknya ia masukkan pada pergelangan tangannya.


“Apa aja, Mas.” Arunya memberanikan diri untuk memeluk Tama. Menyandarkan dagunya pada sisi bahu Tama.


“Tadi di peluk sekilas aja marah. Sekarang malah curi kesempatan.”

__ADS_1


Arunya terkekeh, meski ia merasa canggung. Ia hanya merasa harus menghargai usaha Tama yang jauh-jauh dari Semarang hanya untuk sarapan pagi bersamanya.


“Tapi kamu suka, ’kan.” Arunya menepuk kasar punggung Tama. Entah keberanian dari mana Arunya bisa melakukan demikian. Jika berdekatan dengan lelaki, Arunya selalu teringat pesan ibu yang selalu mengingatkan untuk menjaga diri.


'Kok di lepasin, sih.” Tama menarik tangan kiri Arunya agar kembali melingkarkan pada pinggangnya, membuat Arunya menurut.


Tidak lama, keduanya sampai pada kedai bubur kacang hijau tidak jauh dari kantor DC tempat Arunya bekerja.


Duduk bersisihan karena berbagi tempat dengan pembeli yang lain.


“Yank, entah kenapa aku tidak percaya diri," ucap Tama seraya memutar kepalanya melihat Arunya.


“Kenapa, Mas?” tanya Arunya.


“Aku hanya takut kehilanganmu."


Arunya menunduk,” Jangan bahas hal ini, Mas.”


'‘Ka-“


Ucapan Tama terputus saat penjual bubur menyodorkan dua mangkuk bubur di meja mereka.


“Makasih, bang,'’ ucap Tama.


'‘Kita makan dulu, ya, Mas.’'


Tama tidak lagi bisa mendebat Arunya. Ia pun juga segera mengisi perutnya yang sudah terasa perih karena sejak kemarin belum makan. Ia juga menyadari tempat ini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan masalah ini.


Selesai makan dan membayarnya. Tama kembali melajukan mortnya mengantar Arunya. Dan ia memilih untuk menghentikan motornya pada halaman parkir sebuah toko di samping gedung DC.


“Kita bicara disini dulu, ya. Lumayan kan, ada dua puluh menit.’'


‘Iya.” Arunya duduk pada kursi tunggu di halaman Toko, masih sepi. Karena jam operasioanl toko juga masih dua puluh menit lagi, tepat jam tujuh.


“Yank. Aku serius sama kamu. Aku nggak cuma main-main untuk hubungan ini.”


“Iya, Mas. Berapa kali kamu terus ulangi kata-kata itu.”


“Kamu nggak ngerti. Bagaimana aku ini merasa tidak punya apa-apa untuk aku banggakan. Sedangkan Rayyan, dia punya segalanya. Aku takut. Benar-benar takut, kamu akan lebih memilih dia. Siapapun pasti bakal memilih yang sudah jelas masa depannya. Tak terkecuali kamu. Apalagi orang tua kamu, ‘kan. Pasti akan lebih mendukung kamu dengan dia. Ini yang aku kawatirkan sejak kemarin, Yank.”


‘Kamu salah, Mas. Bahkan yang membuat aku untuk memutuskan ini bukanlah kamu, Melainkan ibuku. Ibu takut dengan segala kemungkinan yang terjadi.”


Arunya menghela nafas dalam. ‘'Aku minta maaf maaf, Mas. Aku ini ternyata sangat jahat. Untukmu bahkan untuk Rayyan. Apapun keputusanku tetap akan menyakiti hati kalian.”

__ADS_1


..._To be continue _...


gut nite, friend🙏


__ADS_2