Amita Arunya

Amita Arunya
Pemandangan Indah


__ADS_3

BAB 6.


Sony Cybershort pemberian Vero kali ini sangat berguna. Kamera digital yang praktis dibawa kemana saja membantu Rayyan mengabadikan setiap sudut pemandangan yang aestetik di sekitar lokasi air terjun.


Rayyan membidik beberapa objek disekitar pemandangan. Sesekali ia mengarahkan kepada dua temannya yang sedang asik bermain riak air.


“Fotoin apa, Ray?”


Arif menggoyangkan jarinya ke arah dua orang temannya lalu ke arah Rayyan yang tengah memegang kamera.


Rayyan hanya terkekeh, sembari menyugar rambutnya. “Ah, cuma fotoin pemandangan yang bagus aja. Memanfaatkan pemberian Vero, nih.” Rayyan tersenyum mengangkat kameranya.


“Dih, masih gak mau ngaku,” gumam Arif. Rayyan hanya mengabaikan Arif lalu kembali membidik beberapa objek disekitar air terjun.


Hawa sejuk terasa merasuk ke sumsum tulang. Arunya tengah menikmati dinginnnya aliran air terjun bersama Lela, Mengabaikan Arif dan Rayyan yang tengah menikmati pemandangan di dalam gazebo yang terbuat dari bambu tak jauh dari tempatnya.


Sadar tangannya sudah keriput, Lela mengajak Arunya untuk bergabung dengan Arif dan Rayyan. Sesampainya bergabung dalam gazebo, empat cangkir kopi beserta makanan ringan sudah tertata.


“Wihh, gercep banget!” Lela langsung menyesap kopi yang sudah tersedia. Melihat Arunya yang masih terdiam memindai pemandangan. “Arunya, kopinya keburu dingin!”


Meski canggung Arunya segera bergabung. Lela mengulurkan kopi yang masih mengepulkan uap panas. Setelah mengucapakn terimakasih Arunya menghirup harum aroma kopi lantas meminumnya pelan.


Obrolan ringan di dominasi oleh Lela dan Arif, sesekali Rayyan menanggapi ringan. Lela yang supel dapat mencaikan suasana, berbeda dengan Arunya yang hanya tersenyum menanggapi candaan mereka.


Arunya berkali-kali mencuri pandang kepada sosok yang seringkali hadir dalam mimpinya. Saat netranya bertemu, Arunya cepat-cepat mengalihkan fokusnya pada cangkir kopi yang ia pegang agar mengalirkan kehangatan ditengah dinginnya suhu pegunungan.


Setelah waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, Arunya, Lela, Arif dan Rayyan memutuskan untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang, Arunya merasa laju motor Rayyan sangatlah pelan. Akan tetapi, Arunya tak berani berkomentar apapun. Bahkan, Arif dan Lela pun sudah melaju tak terlihat. Keheningan menghiasi perjalanan mereka.


“Runya,”


“Ya, kenapa, Ray?”


“Apa kau senang?”


“Tentu saja, ini pertama kalinya aku ke air terjun tadi,” jelas Arunya. “Makasih, ya, udah ajak aku.” Lanjut Arunya. Ia lantas menipiskan bibirnya merasa bahagia menikmati perjalannanya.


Rayyan yang melihat rona wajah Arunya dari spion motornya pun ikut tersihir melihat senyum manis yang tertangkap spion motornya. "Sama-sama, Runya."


Arunya semakin gelisah ketika laju motor Rayyan mendekari rumahnya.

__ADS_1


Netranya terus mengawasi sekitar rumahnya. Arunya takut jika ada salah satu tetangganya yang melihat dengan siapa dia bepergian. Namun, ketakutannya menguap mendapati rumahnya masih sepi. Syukurlah, tak ada orang. Batinnya.


Arunya segera turun dari motor Rayyan, begitu sampai pada jalan masuk ke rumahnya. "Makasih, ya, Ray," ucap Arunya. Ia memberanikan diri menatap Rayyan yang masih di atas motor.


"Aku yang seharusnya bilang makasih, Runya." Rayyan mematikan mesin motornya.


"Kapan lagi ya, bisa main bareng begini," ujar Rayyan.


Arunya menarik sudut bibirnya. "Apa kamu berniat mengajakku lagi, Ray." batin Arunya.


Namun, hanya gelengan kepala sebagai jawaban Arunya.


"Ya, udah. Kamu masuk, udah sore, nih," titah Rayyan.


Arunya mengangguk cepat lalu berlalu. Sementara Rayyan juga segera pulang ke rumahnya.


***


Menapaki jalan kampung yang tenang. Arunya melewati sekumpulan ibu-ibu yang tengah bercengkrama.


Sebagian mereka tengah menyuapi anaknya yang masih berusia balita. Satu dari mereka bahkan masih membawa seikat besar pakan ternak yang terikat rapi di boncengan sepeda kayuhnya.


“Darimana, Run?” tanya seorang wanita berdaster batik. Sambil menyuapi anaknya menyapa Arunya yang berjalan kian mendekat.


Beralih dari mbak Sri. Arunya menyapa sekedarnya kepada ibu-ibu yang lainnya.


Setelah disarasa cukup untuk bertegur sapa seperlunya, Arunya pamit meneruskan langkah kaki menuju kerumahnya yang tinggal beberapa meter.


“Kasian ya, Bu.”


“Ho’oh. Ibunya juga barusan lewat. Bener-bener ya mbak Tami. Ngoyo sekali kerjanya. Kasian harus berjuang sendiri.”


“Itu sebabnya, Arunya harus bantuin kerja.”


“Eh, eh, denger gak. Arunya kemarin habis jalan sama Arif sama Rayyan. Gak nyadar banget sih dia siapa trus Rayyan itu anaknya siapa. Gak kebayang nanti kalau Pak Wijaya tau ,loh!”


“Eh, jangan salah! Yang kapan hari itu si Lela keponakan saya juga ikut, kok. Ya biasalah anak muda, kan!”


Masih terdengar meski samar dari pendengaran Arunya. Baik atau buruk yang dia perbuat pasti akan selalu menjadi topik pembicaraan oleh tetangganya.


Sepertinya mereka patut diberikan apresiasi sebagai juri terbaik sepanjang masa.

__ADS_1


***


Arunya tampak senyum berbinar melihat Dika yang tengah menahan rasa pedas yang menjalar di seluruh mulutnya.


Pasalnya adik satu-satunya itu mengajak Arunya untuk makan di satu wadah cobek, yang sebelumnya sudah lebih dulu menjadi tempat menghaluskan bawang, cabai dan garam.


Makan bersama seperti inilah yang membuatnya merasa lebih dekat akan kebersamaaanya.


Tami yang melihat kerukunan kedua anaknya merasa terharu, seketika teringat akan hal serupa sewaktu suaminya masih ada.


Definisi bahagia setiap orang memang berbeda. Bahkan makan hanya dengan sambal dengan ikan asin beserta rebusan daun kenikir pun, mereka sudah sangat lahap.


Bukan tidak mampu memberikan lebih. Namun, baik Dika maupun Arunya seolah mengerti akan keadaan ekonomi keluarganya.


"Maafkan ibu yang seringkali hanya bisa menyediakan makanan seadanya ya nak," batin Tami.


***


Arunya tengah berjalan gontai. Lama ia menunggu angkuta yang tidak kunjung datang, ia memutuskan untuk berjalan kaki saja.


Sehabis ekstrakurikuler basket, ia pulang terlalu sore. Adzan Ashar baru saja berkumandang. Berkali-kali ia menoleh ke belakang berharap ada angkutan umum yang masih melintas. Namun, lama ia berjalan hingga ia mendekati gang masuk kampungnya.


"Untung hanya tiga kilometer, kalau lebih bisa capek berlipat-lipat ini," gumam Arunya.


Tidak di sangka, dari arah yang sama suara motor perlahan mendekat.


"Jalan kaki, aja, Run," ucap Anna di atas motor.


Saat Arunya ingin menjawabnya, ia di buat bungkam karena yang bersama Anna adalah Rayyan. Meski wajah tertutup helm, Arunya dapat mengenali motornya.


"Duluan, ya." Anna melambai menyuguhkan sebuah senyuman manisnya.


Kali ini sambil tersenyum yang dipaksakan Arunya mengangguk meski hati terasa di remas-remas.


***


Ada apa dengan Arunya?


Apa sedang cemburu?


🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


Jangan lupa tekan like dan komentarnya, ya, friend 🙏


khamsahamnida 🙏


__ADS_2