Amita Arunya

Amita Arunya
Saat dia pergi


__ADS_3

BAB 14


...***...


Arunya tergesa menuju ke rumah Arif untuk mencari keberadaan Lela. Sepulangnya Dika dari masjid, Lela yang bertemu dengan adik Arunya pun berpesan untuk menemuinya di rumahnya.


Setelah bertanya keberadaan Lela pada ibunya, yang mengatakan Lela sedang berada di rumah Arif.


Disinilah sekarang Arunya berada, di teras rumah Arif bersama Lela dan Arif.


Arif menceritakan Rayyan pergi untuk berkuliah di luar jawa mengikuti kakaknya. “Kamu baru tahu, Run?” tanya Arif.


Hanya anggukan kepala sebagai jawabannya. Arunya sudah tahu bila Rayyan akan pergi ke Riau, tetapi dia hanya tidak mengira akan secepat ini. Ia merasa kecewa, karena Rayyan tidak mengatakan kapan akan pergi.


Sejurus kemudian Arunya merasa bodoh, siapa dia hingga mengharapkan kata pamit dari Rayyan.


“Dasar, Rayyan, payah.” Arif berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya, menyayangkan.


Setelah Arif mengatakan bahwa Rayyan telah berangkat sehabis magrib menuju bandara, air mata Arunya tak dapat ia tahan.


Arunya berusaha untuk menyembunyikannya dari Lela dan Arif. Namun, baik Arif ataupun Lela seolah dapat menebak isi hari Arunya. “Run, melihat reaksi kamu yang sesedih ini. Aku jadi menyimpulkan sesuatu.” Lela menepuk punggung Arunya.


Arunya segera menguasai dirinya. Ia sengaja tertawa kecil yang terlihat di paksakan, seraya menghapus air mata yang tersisa.


Menegadahkan muka ke atas agar mata coklatnya berhenti menitikkan air matanya. “Apa, sih, La. Aku hanya sedih, belum sempat berterima kasih kepadanya. Kemarin saat aku hampir telat berangkat sekolah, aku yang melihat Rayyan hendak ke puskesmas, aku malah memaksanya untuk mengejar minibus,” sangkal Arunya.


"Padahal dia pucet banget," lanjutnya.


Nyatanya perkataan Arunya tak sepenuhnya membuat Arif dan Lela percaya begitu saja. Mereka sepakat untuk diam.


Arunya yang menyadari keanehan keduanya lantas tertawa hambar, agar tidak menimbulkan kecurigaan teman-temannya.


“Ya, udah, yuk. Kita rapat pemuda di rumah pak RT!” Arunya beranjak dari duduknya mengarahkan langkahnya menuju jalan kampungnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab lagi, keduanya beranjak mengiikuti langkah Arunya yang berjalan lebih dulu.


"Kau benar-benar pergi. Sekarang tak ada lagi kau disini. Meskipun disini aku hanya dapat melihatmu dari kejauhan. Nyatanya itu sudah membuatku merasa bahagia. Siapa aku yang berhak menjadi sesedih ini karena kau jauh dari pandangan. Aku sadar, aku benar-benar telah menyukaimu sejak lama. Apalah dayaku yang tak dapat mengendalikannya. Rasa suka yang berbeda ini nyatanya tak mau enyah dari dalam diriku. Bahkan aku tahu kau tak sedikitpun memiliki rasa yang sama terhadapku. Sedikitpun aku tak punya keberanian untuk meminta balasan atas rasa ini. Hanya saja, rasa yang ku anggap cinta yang baru pertama kali aku rasakan ini kenapa justru bertepuk sebelah tangan. Kenangan ini biarlah menjadi cerita suatu saat nanti, bahwasanya cinta pertama hadir tanpa bisa kita atur waktunya, tanpa dapat kita pilih dengan siapa perasaan ini berlabuh. Terimakasih atas kebersamaan kita selama ini, teman. Aku doakan semoga jalanmu akan dimudahkan serta cita-citamu dapat tercapai," batin Arunya.


Terus berjalan dengan isak tertahannya, batinya sedang tidak baik-baik saja. Sengaja ia berjalan mendahului Arif dan Lela agar mereka tak mengetahui susana hatinya.


***


Beberapa pekan telah berlalu. Pagi ini Arunya kembali ke sekolah. Deretan kursi penumpang yang penuh membuat dirinya berdiri berpegangan pada besi yang di kaitkan dengan atap minibus.


Bersama beberapa temannya keadaan ini tak mengurangi semangatnya untuk menimba ilmu.


Suara musik pop telah mengalun indah menemani perjalanannya. Hingga beberapa lagu yang biasa Rayyan nyanyikan bersama teman-temannya membuat ingatan Arunya terhadap Rayyan semakin melekat.


Tiga bulan sejak kepergian Rayyan tidak membuat Arunya dengan mudah untuk melupakan rasa yang ada dalam dirinya. Seringkali teman-temannya menjadi mak comblang agar dia mau mencoba berpacaran seperti teman-teman satu gerombolannya.


Kini Arunya mempunyai lima teman yang akrab. Harapannya mempunyai teman dekat kini menjadi kenyataan. Saat masih SMP dirinya yang terlalu pendiam membuatnya tidak mempunyai teman akrab di kelasnya.


Diah dan Sari yang cerewet selalu saja dapat menghidupkan suasana. Berbeda dengan Reya dan Novi yang ada saja masalahnya dengan pelajaran dan pacar mereka. Sedangkan untuk Tia sendiri merupakan satu frekuensi yang sama dengan Arunya, sedikit pendiam dan keduanya juga tidak mempunyai teman. spesial seperti keempatnya.


Saat menikmati soto seharga seribu rupiah ditambah satu gelas es teh manis dengan harga sama, Arunya memindai pandangannya terhadap kelima temannya.


Namun, berhenti pada sosok Novi yang terlihat hanya mengaduk-aduk nasi soto yang telah berubah warnanya menjadi merah gelap akibat campuran kecap, sambal dan saos yang bersatu.


“Nov, kamu kenapa?” tanya Arunya.


Sontak keempat teman yang lain pun ikut memerhatikan Novi.


“Gak apa-apa, Run. Lagi galau aja.” Novi melirik keempat temannya yang lain. Yang juga tengah memperhatikannya.


Lalu seolah menutupi kecanggungannya akhirnya ia masukkan satu sendok suapan kedalam mulutnya.


“Gak mau cerita kamu, Nov?” ujar Tia.

__ADS_1


“Aku mau nebak. Pasti kamu di diemin sama Tomi, kan?” terka Reya. Tomi, merupakan teman sekelas mereka, satu bulan yang lalu baru jadian dengan Novi. Sayangnya Novi malah menggeser mangkuk sotonya lalu menumpu kedua tangannya lalu membenamkan wajahnya.


“Bukan itu, Re.”


“Lalu apa, Nov. Ya, elahh. Tinggal jujur aja apa susahnya ,sih!” Diah gemas hingga melahap sisa potongan bakwan ke dalam mulutnya.


Novi kembali menegakkan duduknya, “Aku akhirnya menerima Bayu, dan terpaksa menduakan Tomi.” Novi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu terisak.


Sontak jawaban Novi membuat kelima temannya melongo. Bahkan Reya tersedak karena sedang meminum marimas rasa jeruk kesukaannya. Arunya yang paling dekat duduknya dengan Reya menepuk pelan punggungnya.


"Ck, kebiasaan deh," decak Tia.


"Elah, bisa-bisanya, lo mendua. Sedangkan mereka aja satupun gak punya." Reya melirik Tia dan Arunya.


"Eh, kok jadi kita ya, Run. Ikut kebawa," tepis Tia.


"Mau, jomblo atau enggak itu hak asasi, tau'," decak Tia kembali.


Dalam diamnya, Arunya kembali membayangkan sosok Rayyan. "Apa kabarmu, Rayyan?" batin Arunya. Hingga kini kabar darinya hanya ia dapat dari Arif maupun Lela, jika mereka sedang berkumpul dalam karang taruna kampung.


Selanjutnya sebagai rasa jengkel, kesal, tak percaya ke-enam sahabat itu berganti memberi masukan. Tia dan Diah bahkan tengah menyalahkan Novi sambil begidig kesal.


Meskin berbagai respon kelima sahabatnya berbeda, pada akhirnya semuanya tetap memperingatkan Novi bahwa tindakannya sangatlah salah.


Arunya yang tak pernah mencoba untuk berpacaran pun hanya belajar dari pengalaman sahabatnya. Nyatanya akibat dari pacaran juga mempengaruhi nilai pelajaran. Menyita waktu dan pikiran.


Pun dengan sisi positifnya yaitu menambah lingkup pertemanan, belajar mengenal dan menguasai emosi.


Arunya tersenyum lega, setidaknya walau teman-temannya mempunyai respon yang berbeda-beda. Semuanya tetap saling mendukung dan mengingatkan.


***


Jangan lupa tekan like, subscribe dan bintang 5 ya friend. Matur nuwun 🙏😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2