Amita Arunya

Amita Arunya
Membuka lembaran lama


__ADS_3

BAB 41


Meski sedikit tidak enak hati Arunya tetap bergabung di beranda rumah Lela. Kursi panjang yang terbuat dari tatanan bambu berukuran 1 x 2 meter menjadi tujuan Arunya. Di ikuti Lela.


Sementara teman yang lain duduk pada tikar di tengah halaman. Ada empat pemuda di sana sedang bersenandung diiringi petikan senar gitar.


Motor dua tak berhenti di depan rumah Lela. Arif dan Gilang turun dari motor bersuara berisik itu dengan membawa dua kantong kresek dengan label minimarket ternama ada dalam genggaman mereka.


Gilang membagi beberapa sncak berukuran besar pada teman-teman. Dan mengambil beberapa untuk di bagikan pada Arunya dan Lela yang duduk agak jauh dari mereka. Ada dua bungkus kacang kulit dengan merek burung Garuda yang sangat di kenal di kalangan mayarakat. Arunya membuka satu kemasan kemudian menuangkan dalam nampan plastik, hemat tempat.


“Wih, ada Arunya. Kapan datang?” tanya Gilang.


'‘Tadi sore, Lang.”


Bercakap basa-basi sebentar lalu Gilang menghampiri Rayyan yang duduk tidak jauh dari Arunya.


Arif, entah menghilang kemana lagi sahabat Rayyan yang satu itu. Biasanya ia yang paling tengil untuk menggoda Arunya.


Arunya hanya menyimak mereka yang tengah berbincang dan saling menyahut bila sekiranya mereka tertarik untuk masuk dalam obrolan.


Tetiba Arif ikut bergabung bersama Lela dan Arunya duduk di kursi bambu panjang.


“Gurih euy.” Arif menekan kacang hingga membelah dua cangkang. Mengambil isinya dan langsung ia masukkan dalam mulutnya. Ia sedikit melirik Arunya yang juga tengah menyantap kacang sukro yang gurihnya bikin nagih itu.


“Dalam rangka apa nih, kamu pulang?” tanya Arif.


Arunya yang merasa di ajak bicara Arif tersadar. Melihat Lela yang juga menatapnya. Arunya yakin keduanya sengaja tengah bersiap mencecar pertanyaan selanjutnya.


“A.. aku, ingin pulang aja, Mas.” Arunya tertunduk.


Terdengan helaan nafas Arif kembali membuat Arunya mendongak. “Kenapa, Mas?” lanjut Arunya. Karena ia merasa kembali di selimuti rasa bersalah.


“Entah kenapa aku lebih senang jika kamu berniat menemui Rayyan dan memperbaiki keadaan.”


Arunya mengernyit, tanda belum memahami maksud Arif.


“Run, aku juga berharap kamu memikirkan ulang lagi keputusanmu.” Kini Lela juga menyuarakan pendapatnya.


“La, sudah aku bilang, ‘kan. Aku ini nggak akan pantes buat Rayyan. Kamu tahu, La. Akan sepeti apa omongan orang-orang tentangku, belum lagi tentang ibuku. Kamu nggak akan ngerti, La. Karena kamu nggak mengalaminya. Ibuku janda, keluarga kami pas-pasan. Sedangkan Rayyan, jauh di atas aku, La.”

__ADS_1


‘"Tapi Rayyan bukan orang seperti itu, Run!” Arif menatap Arunya serius.


“Ya. Mungkin. Tapi bagaimana dengan keluarga besarnya? Menikah itu menyatukan dua keluarga, Mas. Bukan hanya aku dan dia saja.” Arunya menoleh pada Arif.


“Coba. Kalian lihat aku sekarang! Aku udah punya pacar dan dia datang membawa niatnya itu sama aku, mengungkap apapun yang dari dulu mungkin juga akau harapkan. Tapi keadaan sekarang sudah lain! Bagaimanapun keputusan aku, pasti akan ada yang sakit di sini.”


“Ya. Aku nggak membenarkan Rayyan karena dia sahabatku, Run. Tapi setelah yang ia lakukan, cuti paksa dari pekerjaannya demi menjelaskan niatnya ke kamu, kamu tidak bisa menyambut niat baiknya? Kamu nggak akan memikirkan lagi kesungguhannya?”


Arunya tidak bodoh, ia membenarkan bahwa tindakan Rayyan dapat mengancam pekerjaannya. Namun, Arunya bisa apa. Ia benar-benar tidak bisa untuk memilih Rayyan. Karena berbagai alasan. Arunya hanya mengikuti kata hatinya. Ketakutannya kian bertambah seiring pencapaian Rayyan sekarang ini. Namun, mereka tidak dapat memahami posisi Arunya. Tidak ada yang bisa mengerti.


Seberapa kuat ia mencoba menjadi layak bersama Rayyan, ia tidak ada sedikitpun berani bermimpi dapat bersanding dengannya.


“Kamu nggak ngerti bagaimana jadi aku, Mas. Aku bukan cinderela masa kini yang patut di perjuangkan. Penilaian sosial tentangku akan terus menghantuiku bila aku berani menerimanya. Itu akan lebih buruk. Aku nggak mau ibuku semakin tertekan, Mas.’'


“Perduli apa kata orang-orang, Run. Kamu itu hanya takut memulai.” Arif menatap tajam pada Arunya. Terlihat jelas kekesalan terhadap Arunya.


"Aku tahu, Kamu itu masih punya rasa yang tersimpan di sudut hatimu. Tapi kamu nggak menyadarinya, Run. Buktinya kamu pulang. Aku tahu kamu punya penyesalan akan penolakan kamu tadi siang. Bahkan, Rayyan juga menyayangkan, kenapa kamu nggak berani melangkah bersama menyambut uluran tangannya.”


“Ada banyak alasan yang membuatku tidak bisa bersamanya, Mas.”


“Kalian temanku, aku hanya menyarankan yang terbaik buat kehidupan kamu kelak. Dan satu, jika ini keputusanmu, jangan pernah ada sesal yang ku dengar di kemudian hari."


Arunya termangu, ia sudah membulatkan tekat bahwa ia datang hanya unntuk meminta maaf pada Rayyan dan memberikan dukungan kepada Rayyan yang akan melanjutkan pendidikan kembali. Berharap ia tetap baik-baik saja setelah penolakan ini. Dalam hatinya terbesit doa agar Rayyan mendapatkan orang yang lebih baik dari dirinya. Gadis kampung yang minim pendidikan yang dengan lancang tengah memberi luka padanya yang pernah memenuhi ruang hatinya.


“Jawab jujur ya, Run! Masih adakah sedikit cinta untuk Rayyan?” tanya Lela.


Arunya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Menutupi wajahnya agar dapat mengurai gundahnya.


Di sisi lain, saat suara melodi itu di hentikan telinga Rayyan menangkap pembicaraan serius di belakang sana. Ia memutar kepalanya, Arunya berada di antara Lela dan Arif sedang menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya.


Rayyan menyerahkan gitar pada Gilang yang ada di sampingnya dan beranjak dari duduknya. Menghampiri Arunya dan bertanya melaui sorot matanya pada Arif dan Lela. Arif dan Lela beringsut perlahan turun dari kursi bambu itu. Sengaja memberi Rayyan celah agar dapat bicara berdua dengan Arunya.


Keduanya seolah tahu, Rayyan sengaja mengikis sedihnya dengan bersenandung dulu sebelum kembali berbincang pada Arunya.


“Arunya,” panggil Rayyan.


Arunya spontan menarik tangan dari wajahnya, terkejut karena yang ada di hadapannya adalah Rayyan. Lalu ia segera memindai keberadaan Lela dan Arif yang sudah duduk di tengah halaman.


Arunya kembali merasa tidak enak hati melihat mata tajam Rayyan hanya tertuju padanya. Ia tidak mampu berkata, lidahnya kelu untuk menyuarakan yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


“Kenapa tadi nggak bilang aja kalau mau pulang? Harusnya bisa bareng, ’kan!” Rayyan duduk di samping Arunya.


“Tadi, belum kepikiran buat pulang, Ray.”


Rayyan menipiskan bibirnya. “Apa kamu pulang untuk menemuiku?” Tentu saja pertanyaan seperti itu hanya tertahan di bibir Rayyan. Ia belum siap kembali terhempas lebih dalam lagi jika yang ada dalam pikirannya salah.


“Runya. Apa kamu bahagia dengan pacar kamu? Tama, ‘kan, namanya?” pertanyaan sarkas dari Rayyan membuat Arunya menunduk.


“Runya, aku di sini. Lihat ke sini! Jauh-jauh aku pulang ingin ngobrol banyak sama kamu, jangan be-“


‘'Rayyan, aku minta maaf,” potong Arunya.


"Untuk apa? Kamu nggak ada salah.”


“Maaf sudah menyakitimu.”


“Aku bahkan lebih menyakitimu.”


Kali ini Arunya mendongak. Mendadak, keberanian untuk menatap mata kecoklatan milik cinta pertamanya hadir begitu saja. Sejenak keempat bola mata itu bertemu. Dan menjadikannya hening. Suara melodi yang di petik pelan sungguh tidak menganggu keduanya.


“Kenapa kamu bisa berkata demikian?” tanya Arunya.


Rayyan mendongakkan wajahnya pada langit malam yang sungguh menyuguhkan keindahan dari sisi gelapnya. Ia menerawang jauh pada beberapa tahun yang lalu.


“Dulu ... saat kita masih kecil. Saat aku pertama kali datang ke kampung ini dan berbaur dengan anak-anak. Aku merasa bebas, desa ini nyaman. Sangat berbeda dengan lingkunganku sebelumnya. Lama aku di sini hingga bertemu sama kamu saat TPA.”


Rayyan kembali menoleh pada Arunya yang juga tengah menatapnya. “Beberapa kali aku menagkap mata kamu liatin aku.” Rayyan tersenyum. Namun, Arunya malah semakin mengeryitkan kedua alisnya.


“Kamu berulang kali seperti itu. Saat aku membalas dengan menatap mata kamu, dari jauh juga. Tergesa kamu menglihkan pandanganmu. Kamu ramai jika bersama teman-teman yang lain. Tapi begitu ada di sekitar aku, kamu hanya diam membisu.”


Deg!


“Jadi sedari itu Rayyan melihatku berbeda? Apakah dia juga menyadarinya?” batin Arunya.


“Iya. Sejak itu, kamu terlihat lain di mata aku.”


Manik mata Arunya membola, mendengar itu. Rayyan seolah dapat membaca pikirannya. “Cu- cukup, Ray.”


Rayyan terkekeh melihat respon Arunya. “Aku seperti sedang membuka kenangan lama, yah!”

__ADS_1


*********************************************


Ciaaaah yang membuka album masa lalu 🤭🤭🤭🤭


__ADS_2