Amita Arunya

Amita Arunya
Mengagumimu


__ADS_3

Bab 3


Arunya memasuki rumah berpagar permanen yang dikombinasikan dengan besi yang terlihat paling menonjol di kampungnya. Mendapati pintu pagar tidak terkunci, mungkin tengah menerima tamu pikirnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Arunya ketika sampai di depan pintu berwarna coklat metalik yang tidak sepenuhnya tertutup.


"Waalaikumsalam,' sahut si empunya rumah. Suara yang sangat ia kenal menyapa pendengarannya di susul munculnya sosok yang dapat menggetarkan hatinya, Rayyan.


"Ibu ada?" Tanya Arunya sesampainya Rayyan di hadapannya.


"Ada. Masuk, aja."


Arunya memasuki rumah berkeramik putih tulang dengan cat tembok berwarna biru langit mendominasinya. Bertamu ke rumah seorang dewan yang sangat terpandang di lingkungannya membuat Arunya sedikit canggung.


"Ayo, aku bawa ke mama."


Rayyan berjalan memimpin Arunya untuk menemui mamanya. Rayyan sudah paham alasan Arunya datang ke rumahnya, mamanya terbiasa mengundang buruh menyetrika datang ke rumahnya. Terlebih Mira sudah sudah berlangganan seminggu sekali kepada Tami, ibu dari Arunya.


Dengan mengikuti langkah Rayyan, Arunya berjalan memerhatikan keadaan rumah Pak Wijaya.


Pertama kali ia ke rumah ini untuk menggantikan ibunya beberapa Minggu yang lalu.


Penambahan furniture dan tata ruang sedikit berbeda, hingga terlihat lebih luas.


Rayyan segera mengetuk pintu kamar mamanya, memberi tahu jika Arunya telah datang.


Dengan cepat mendapat jawaban untuk menunggu sebentar.


"Eh, Arunya, kamu yang datang. Ibumu pasti belum pulang, ya?" sapa ramah Bu Mira begitu keluar dari kamarnya.


"Maaf, Bu Mira. Ibu saya belum pulang. Jadi saya yang menggantikan untuk menyetrika di sini."


"Baiklah, bagi saya sama saja. Hasil setrikaan kamu juga sangat rapi seperti ibumu. Mari ikut saya!" Mira menjunjukkan tempat dimana Arunya harus menyetrika.


Terdapat tiga keranjang pakaian besar telah menanti. Setelah memberi instruksi. Mira meninggalkan Arunya di ruangan khusus menyetrika disampingnya terdapat ruangan untuk menata jemuran.


Dibelakangnya terdapat halaman tidak cukup luas dengan kolam ikan sepanjang tiga meter yang masih di dalam pagar.

__ADS_1


Ingin selesai sebelum magrib, Arunya sesegera mungkin mengerjakan pekerjaannya. Cukup cekatan karena terbiasa.


Saat dirinya tengah terfokuskan pada setrika dan tumpukan pakaian. Rayyan berjalan melintas dengan membawa toples transparan, terlihat seperti makanan untuk ikan.


Benar saja, rupanya Rayyan memberi makan ikan lele di halaman belakang rumah yang tanpa sekat dengan Arunya menyetrika.



Mencoba kembali fokus, Arunya melanjutkan pekerjaanya, walaupun canggung yang ia rasakan saat ini. Sesekali mencuri pandang, takut pekerjaannya diawasi.


Terlarut dengan kemeja berserta teman-temannya, ia merasa sedang di perhatikan. Saat memberanikan diri untuk memutar kepalanya, ia terkejut karena Rayyan tengah menatapnya, datar.


Arunya memberanikan diri untuk bertanya, "R-ray, sedang apa?"


"Menunggumu." Rayyan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada Arunya, membuat gadis berhidung mancung merasa berdebar. Mendadak tangannya thermor berkeringat dingin.


Mengalihkan debaran jantungnya, Arunya segera kembali pada satu keranjang baju yang belum terselesaikan. "Memang harus ditunggu, ya? Bu Mira saja percaya, kok," ujar Arunya.


"Dih, ge-er. Siapa yang nunggu kamu. Aku, nungguin ikan-ikanku makan inih." Rayyan tertawa puas.


Arunya terperangah juga kesal, bisa bisanya dia merasa jika Rayyan tengah memerhatikannya. Tetapi, tadi dia mengucapkannya sambil melihat Arunya. Jadi wajar saja membuat Arunya merasa Rayyan memang menunggunya.


"Runya," panggil Rayyan.


"Run,"


"Dih, ngambeg!"


Arunya menahan diri untuk tidak meladeni panggilan dari Rayyan. Terlebih Arunya masih mendengar Rayyan terkekeh pelan. Walau kesal tak ayal ia juga bersemu, ia merasa dapat berganti bersikap iseng.


"Ngambeg beneran, nih!" Tetiba Rayyan sudah berdiri di belakang Arunya mensejajarkan tingginya, dengan sedikit menundukkan badannya.


Sontak hal itu membuat Arunya berjingkat kaget.


"Apa, sih. Dari tadi ngejek Mulu," ketus Arunya.


"Habis, aku panggil enggak di jawab." Terlihat Rayyan tengah menegakkan badannya dengan masih menggulum senyum. Manis sekali.

__ADS_1


"Rayyan! Ngapain malah gangguin Arun, sih!" Entah sejak kapan Bu Mira berdiri di ambang pintu, dengan wajah yang sedikit kesal. "Ambilkan minum atau camilan, gitu. Bukannya malah di gangguin!" Bu Mira melipat kedua tangannya kesal.


Hanya senyum canggung yang dapat Arunya tampilkan, sedangkan Rayyan hanya tertawa tanpa suara. "Baik, ibu ratu. Akan saya ambilkan minum untuk tamunya ibu ratu," jawab Rayyan dengan menahan senyum.


"Nih, anak, ya! Bikin tangan mama pengen nampol deh!" Dengan senyum tertahan Mira mengangkat tinggi majalah yang sedari tadi ia bawa. Memberi kode kepada anaknya untuk segera beranjak dari tempatnya. Rayyan yang masih terkekeh pun segera beranjak.


Melihat interaksi antara Rayyan yang jahil dan Bu Mira yang hangat, membuat Arunya menipiskan bibirnya. "Ternyata, begini kelakuan kamu di rumah, Ray," batin Arunya.


Seperginya Rayyan, Mira memeriksa lipatan baju yang telah Arunya selesaikan. Dengan tersenyum puas Bu Mira memujinya lagi hingga membuat Arunya semakin segan.


Kedatangan Rayyan membawa nampan berisi dua gelas air putih dan beberapa camilan, mengalihkan perhatian Bu Mira. "Nah, begini donk, Mas. Mama jamin, bikin cakepnya nambah satu tingkat, deh," goda Bu Mira pada anaknya.


"Mama, kalau ada maunya muji terus. Malu, 'kan, ada Arunya." Rayyan meletakkan nampan di karpet yang sama tak jauh dari Arunya.


"Ya, udah. Mama tinggal kedepan, yah," kata Bu Mira sambil berlalu dengan senyumnya.


Memastikan mamanya telah menjauh dari pandangannya. Rayyan duduk bersila menunggu Arunya merapikan alat menyetrika dan menyimpannya ditempat semula.


"Di minum, dulu, Run," titah Rayyan.


"Iya, terimakasih," jawab Arunya setelah ia duduk bersimpuh tak jauh dari Rayyan.


"Pasti capek banget kamu, ya. Keringatnya kelihatan, tuh." Rayyan mengarahkan jari telunjuk pada pelipisnya sendiri sebagai kode pada Arunya.


Arunya segera paham kemana arah pembicaraannya. Mengambil tisu yang ada di meja tak jauh dari tempatnya duduk lalu menyeka keringatnya.


"Kamu, mengerjakan pekerjaan ini, setiap hari?" Tanya Rayyan setelah melihat Arunya meminum air putih yang ia sediakan.


Arunya mengangguk dan sedikit tersenyum.


Rayyan merasa kagum melihat gadis pekerja keras yang ada di hadapannya.


Selama ini, pekerjaan Arunya yang menjadi buruh menyetrika hanya ia dengar dari tetangga yang bergunjing tentangnya. Komentar mereka pun beragam, ada yang memandang iba, merendahkan, juga takjub dengan anak seusianya telah dapat sedikit meringankan pekerjaan orang tuanya.


Setelahnya mereka sedikit berbincang ngalor-ngidul , sedikit unfaedah, dari membicarakan masalah keseharian hingga sekolah masing-masing. Sesekali bergurau meski keduanya merasa sedikit canggung.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya, friend πŸ™πŸ˜Š


__ADS_2