Amita Arunya

Amita Arunya
Pergi


__ADS_3

.BAB 13


...***...


Setiap harinya Arunya akan pulang sekolah tepat pukul 14.00 WIB. Terkecuali untuk setiap hari jumat, ia akan pulang sebelum waktu dhuhur dan akan sampai di rumah satu jam kemudian. Menempuh jarak 14 km dari tempat tinggal ke sekolahnya.


Sore harinya Arunya tengah berjalan kaki sepulang menggantikan pekerjaan ibunya. Melewati gazebo sederhana yang terbuat dari bambu, yang biasa digunakan untuk pos ronda oleh bapak-bapak, Arunya kembali di suguhkan oleh suara orang yang bernyanyi dengan diiringi surara petikan gitar sangat familiar, Rayyan dan kawan-kawannya.


Lebih dari 4 orang remaja yang ada disana. “Mari, Mas.” Meski canggung, Arunya menyapa sekenanya dengan sedikit menganggukan kepalanya.


“Iya, monggo.” jawab salah satu dari mereka. Lain dari mereka masih tetap bernyanyi seolah sangat menghayati lagu yang dibawakannya.


"Dari mana, Run?" tanya Arif.


"Biasa, Mas. Dari tempat Bu RT." Arunya berjalan pelan sekali, sekedar untuk menghargai lawan bicaranya.


"Kemarin ada yang jalan berduaan deh, kayaknya," celoteh Gilang, teman SD Arunya. Namun sekarang berbeda sekolah.


Arunya yang mendapat sindiran seperti itu lantas membelalakkan matanya. Apalagi, Gilang dan Arif kompak melirik Rayyan yang masih memainkan melodi gitarnya.


"Siapa memang yang jalan berdua, Lang?" kilah Arunya.


"Siapa, ya? Aduh, rupanya orangnya pura-pura lupa." Gilang terkekeh bersama Arif dan satu temannya. Kecuali Rayyan yang masih bernyanyi dengan suara pelan.


"Ck, nggak ngerti aku, Lang. 'Dah, aku pulang."


Gilang dan Arif kompak terkekeh lagi.


"Duh, merah pipinya, tuh." Arif menunjuk pipinya sendiri. Arunya yang merasa kesal dengan candaan teman-temannya langsung berjalan cepat.


"Jangan di godain terus, kenapa, sih," timpal Rayyan.


Sorak-sorai teman-teman Rayyan begitu jelas di terima dengan baik pad pendengaran Arunya.


Rasa berdebar seolah enggan untuk pergi, setiap kali melihat Rayyan, respon inilah yang terjadi pada Arunya. Apa ini yang disebut jatuh cinta? Arunya selalu menanyakannya pada dirinya sendiri.


"Kenapa harus Rayyan sih, orang yang tak dapat aku gapai. Dia anak orang berada, sedangkan aku ini siapa, hanya remah-remah rengginang. Siapa aku yang tak tahu malu berani menyukainya."

__ADS_1


Sembari berjalan cepat, Arunya menepuk dahinya berkali-kali untuk mengalihkan pemikirannya tentang Rayyan.


***


Satu minggu kemudian, Rayyan mendapati telefon dari Vero, kakaknya. Vero memberikan instruksi kepada Rayyan untuk memasuki fakultas yang berada di Riau, Suami dari Vero adalah dosen di UNRI.


Vero mendengar cerita dari ibunya bahwa Wijaya memaksa Rayyan untuk terjun di dunia politik. Dengan pengawasannya juga dia yang lebih dulu menggeluti pekerjaan di dunia politik seakan meyakinkan Wijaya untuk mengijinkan Rayyan berada dibawah pengawasannya.


Semalam, Rayyan telah mempersiapkan baju-bajunya. Memasukkannya ke dalam koper coklat. Surat-surat penting, dan tidak lupa identitasnya.


"Hari, ini. Nyatanya datang juga. Aku harus pergi."


Rayyan memindai kamar miliknya. Ruangan ini akan lama ia tinggalkan. Netranya berhenti pada kamera pemberian kakaknya. Rayyan beranjak dari kasurnya dan meraih sebuah kamera digital yang menarik perhatiannya.


Menekan tombol on, lalu menscroll anak panah pada gelerinya. Senyumnya mengembang kala ia menemukan gambar seorang gadis manis, yang tengah menikmati udara pegunungan.



*anggap aja ini Arunya, ya 🌄*


"Harus bagaimana agar aku bisa ketemu kamu, Runya. Aku nggak mungkin datang ke rumahmu hanya untuk berpamitan sama kamu. Aku takut melihat wajahmu, yang akan semakin membuat aku berat untuk pergi."


...***...


“Ok. Ketemu disana ,ya.” Lela.


Rayyan hanya memandang kopernya yang sudah siap di ujung tempat tidurnya. Lalu kembali menatap layar hp nya. Ia hendak bergegas sebelum papanya datang untuk menjemputnya.


Sesuai perjanjiannya, Rayyan menunggu Lela di pos ronda, yang tepat berada di depan rumah Lela. “La, apa benar hp Runya rusak?Aku kok mikirnya dia menghindar dari aku, ya?” tanya Rayyan , sesampainya Lela di depannya.


“Iya, hp nya rusak kena air teh adiknya. Dan sekarang dia gak punya hp. Kenapa nanya-nanya? Kamu suka Runya, ya?” cecar Lela.


“Suka?" Rayyan tersenyum mengusap rambutnya, salah tingkah. " Begitu jelas, ya?” tanya Rayyan.


Lela sontak tertawa keras, “Ya jelas, lah. Untuk apa kalau kamu gak suka dia mendadak maksa bertemu aku untuk nanya hal ini!”


“Tapi kenapa Arunya gak tahu, ya, kalau aku suka ke dia?” keluh Rayyan.

__ADS_1


“Ya, ngomong donk, ke orangnya!” Lela terkekeh melihat raut wajah Rayyan yang kecewa.


Rayyan hanya menggeleng pelan, “Dia malah mengira aku masih pacaran sama Anna.” Menutup wajahnya dengan telapak tangan dengan siku bertumpu pada lutut.


“Aku mau berangkat ke Riau sore ini, La.” Rayyan lalu menatap kosong ruang hampa dihadapannya.


Lela merasa terkejut, “Mendadak banget. Trus ini maksud kamu sekalian pamitan begitu?” cecar Lela.


“Iya, sebenarnya, belum lama aku pengen ngomong ke Arunya. Tapi waktunya selalu tidak pas. Dan, tak ada nomor yang bisa dihubungi, kan.”


Rayyan segera merogoh saku celana jeansnya, ketika benda pipih itu bergetar memunculkan satu nama kontak yang membuat Rayyan menghembuskan nafas kasar.


“Lihat, La! Papaku sudah menelfon. Tepat jam 7 malam nanti pesawatku berangkat. Sampaikan salamku buat Arif, ya! Aku pergi dulu,” Rayyan tersenyum getir lalu mengedarkan pandangan ke sembarang arah, memindai suasana kampungnya seolah merekam semua tata letak kampungnya.


"Kenapa kau tak terlihat hingga sore ini Runya," gumam Rayyan.


Saat Rayyan pulang dan sampai di rumahnya, papa telah menunggunya. Ia hanya mengingatkan untuk mempersiapkan kelengkapan dokumen untuk persyaratan memasuki fakultas yang sudah ia bicarakan sebelumnya.


Tanpa perdebatan lagi, Rayyan akhirnya menurut akan saran Wijaya. Ia akan tinggal bersama keluarga Vero yang telah memiliki rumah disana.


“Rayyan, anak mama. Sering-sering telfon mama, ya.” Mira memeluk anak laki-lakinya.


“Jaga kesehatan disana, dan jaga diri baik-baik ya.” Katanya lagi setelah melepas pelukannya.


“Pasti, Ma. Doakan Rayyan, ya, Ma.”


“Tanpa Rayyan minta, mama akan selalu mendoakan yang terbaik buat Rayyan dan Mbak Vero.”


Rayyan hanya tersenyum mengangguk. Melihat mama yang tengah sibuk menghapus air mata harunya.


Wijaya segera mengelus punggung bergetar istrinya, “Ma, Rayyan ini mau sekolah. Bukan pergi perang. Anak lelaki pasti mampu melewatinya dengan mudah.” Wijaya menenangkan istrinya.


“Maaf, mama gak bisa antar Ray ke bandara, ya,” sesal Mira. Mira masih memegangi tangan Rayyan.


Setelah Rayyan berkali-kali mencium mamanya, serta meraih tangan mamanya. Rayyan mulai melangkahkan kakinya menuju mobil milik papanya, Seiring berputarnya ke-empat roda mobil yang menjauh dari halaman rumah Rayyan.


Mira melambaikan tangannya dengan rasa haru.

__ADS_1


“Lancar, anakku. Semoga sukses menyertaimu.”


***


__ADS_2