
BAB 16
Dua tahun telah berlalu seiring bertambahnya usia Arunya. Kini ia berada di kelas XII Akuntansi 2, setiap hari ia yang telah berkutat dengan debit, kredit dan saldo. Sudah seperti makanan sehari-hari baginya.
Kali ini kegiatannya pun bertambah, yaitu praktik kerja lapangan. Dimana ia akan melakukan praktik kerja sesuai bidang kejuruannya. Melakukan pembukuan, pelaporan rugi/laba, pembuatan neraca, buku besar, pembuatan kas umum dan serangkaian pengolahan data keuangan.
Bersama tiga teman yang lain, yaitu Tia ,Ahmad dan Lukman, yang merupakan satu kelompok.
Melakukan permohonan PKL kepada pemilik usaha Toko Bangunan yang berada kota.
"Runya, sama aku, ya," Lukman menawarkan diri, dan bersiap memberikan helm milik paklik yang di pinjamnya.
Arunya tidak kuasa menolak tawaran Lukman. Teman yang sempat mengutarakan perasaannya dua tahun yang lalu.
Sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara keduanya. Arunya lega, apalagi setelah Dyah menjadi pacarnya baru-baru ini.
"Ijin dulu sama Dyah. Wedi aku, yen wonge salah paham(Takut aku, jika dia salah paham). Arunya menepuk bahu Lukman yang sudah bersiap di atas motornya.
"Rebess, itu, mah." Lukman terlihat sedang mengetikkan pesan kepada Dyah, pacarnya yang juga sahabat Arunya.
Keempatnya bersiap ke sebuah tempat yang berbeda wilayah. Tujuannya adalah toko besi dan bangunan.
Bukan tanpa dasar dan tujuan. Mereka pergi kesana adalah berkat rekomendasi dan beberapa pilihan yang di berikan oleh pihak sekolah.
Setelah mendapat persetujuan dari pemilik toko, mereka mendapat pengarahan dalam bekerja. Melayani pembeli, merekap nota penjualan, melakukan pembukuan harian. Semua mengalir saja dengan mudah, tentu berkat pengarahan dari karyawan lainnya.
***
Satu bulan telah Arunya lewati bersama teman satu kelompoknya. Kini ia telah mengumpulkan salinan nota untuk di olah sesuai proses pembukuan berdasarkan mata pelajaran Akuntansi yang berbeda.
Secara garis besar Arunya semakin memahami proses pelaporan sebuah badan usaha. Karena di sekolah ia juga belajar mengelola koperasi. Lingkup peminjam dan nasabah adalah dari kalangan siswa dan guru. Meski begitu Arunya mulai paham sistem Koperasi.
Tak jarang Arunya pun kesulitan bila tiba waktunya pembayaran iuran wajib sekolah per bulannya. Maka, tak mengenal lelah sepulang sekolah Arunya bahkan ikut bekerja ditempat ibu. Pulang hingga sore harinya.
"Mbak nggak malu, naik sepeda butut ini boncengin ibu?" tanya Ibu sewaktu Arunya mengayuh sepeda, dengan ibu yang membonceng di belakangnya.
__ADS_1
"Lebih malu lagi jika Arunya nggak dapat membayar SPP Runya, Bu. Apalagi yang sudah nunggak 5 bulan."
Tami lega, anaknya menjadi orang yang tangguh meski dengan keterbatasan keadaan ekonomi keluarganya. Meski dalam hatinya terbesit rasa kasihan pada anak sulungnya.
Setiap hari Tami tak hentinya mendoakan putrinya aga menjadi orang yang beruntung, hingga mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Minggu sore kali ini Arunya menyempatkan untuk mengunjungi Lela. Berkali-kali Lela mengirim pesan untuk berkunjung kerumahnya.
Dengan kegigihan Arunya, akhirnya ia mendapatkan satu unit ponsel meski sangat usang dan sekedar bekas. Yang terpenting dapat ia gunakan untuk berkomunikasi, pikirnya.
Bertemu Lela bercerita kesibukan sekolah masing-masing karena sekolah mereka yang berbeda.
Ide begitu saja lewat ketika Arunya mendapati tanaman lidah buaya yang tumbuh subur di dekat tempat wudhu yang terletak di halaman samping rumah Lela.
Merengek pada Lela agar mau mengoleskannya pada rambutnya.
"Sibuk bener kamu, Run. Aku kangen, nih. Lama gak curhat sama kamu. Kalaupun bisa hanya lewat sms, terasa beda aja kalau ketemu begini." Lela kembali mengoleskan lendir lidah buaya pada rambut Arunya.
"Bilang aja ,takut gratis sms kamu berkurang karena gak dapat sms-an sama pacar baru kamu." Arunya menepuk kaki Lela dengan buku diary milik Lela yang berisi puisi dan syair lagu yang sengaja ia hafalkan.
"La, udah aku bilangin aku gak ada waktu buat dekat sama orang siapalah itu. Aku ini membosankan, tiap hari hanya belajar dan kerja. Mana ada orang yang dapat memahami aku," keluh Arunya.
Seringkali Lela sengaja mengenalkan Arunya dengan teman sekolahnya. Berharap sahabatnya untuk segera move on dari Rayyan. Sekedar menjadi teman berbagi cerita lewat sms. Lela berharap Arunya dapat lepas dari predikat jomblo di masa putih abu-abu yang indah menurutnya.
Arunya pun sudah mencoba dekat dengan seseorang walau selalu ia tekankan untuk tidak lebih dari sekedar teman.
Masa remaja yang biasanya akan indah dengan cerita cinta monyet nyatanya tidak Arunya dapatkan. Tidak ada seorang pun yang dapat menggetarkan hatinya seperti saat ia bertemu dengan Rayyan. Cinta pertamanya.
“O, iya. Bentar lagi kamu ujian kelulusan, kan ya. Bagus deh, belajar yang rajin, biar jadi bu guru, seperti cita-cita kamu.”
“Hemm.”
***
Di sisi lain Rayyan tengah terfokuskan pada kuliahnya. Bertempat di UNRI dan tengah mengambil ilmu politik sesuai permintaan papanya.
__ADS_1
Sebuah fakultas jurusan atau program studi (prodi) merupakan cabang ilmu sosial yang membahas banyak mengenai teori dan praktik politik serta deskripsi dan analisis sistem politik dan perilaku politik. Ilmu ini berorientasi terhadap akademis, teori dan riset.
Terbayang bagaimana kesibukan Rayyan di tengah dunia perkuliahan yang sedang ia lalui. Selama ini ia mencoba untuk menahan diri untuk tidak mencari tahu tentang Arunya.
Jika pun ingin, Rayyan hanya menanyakannnya melaui Arif melaui sambungan telefon.
Hari raya adalah moment untuk bersama keluarga selalu ia lewati tiga tahun ini hanya dengan berkumpul bersama keluarga di tempat Vero.
Seperti saat ini, Rayyan hanya berdiam di balkon kamarnya. Bercerita tentang padatnya aktivitas kampusnya bersama Vero, kakaknya.
Moment ini pun terasa langka. Karena hanya saat libur mereka dapat berbagi cerita.
“Ray, kamu gak kangen sama mama?” tanya Vero.
“Aku bisa telefon mama, Mbak.” Rayyan memegang erat tralis besi di balkon kamarnya. Entah apa yang mengganggu pikirannya.
“Lumayan, loh. Libur satu minggu. Di kampung bisa lima hari kan.” Vero menepuk bahu Rayyan seraya tersenyum.
“Aku takut, malah gak bisa balik kesini, kalau udah pulang kampung, Mbak,' ujar Rayyan.
Rayyan menarik sudut bibirnya. Membayangkan kampungnya dan seorang gadis yang masih mengganggu pikirannya.
Tak di pungkiri Rayyan mempunyai banyak teman wanita yang tentunya orang berpendidikan cantik nan modis. Namun, nama Arunya si gadis kampung masih saja tersemat disudut hatinya.
Vero hanya mengernyitkan kedua alisnya. Tanda tak mengerti. “Ya, udah. Aku tinggal siap-siap dulu, ya. Dio udah merengek dari tadi minta ke mall. Kamu, jangan lupa makan!” Vero tersenyum tulus. Berlalu dari balkon kamar Rayyan.
Rayyan mendongakkan wajahnya menatap langit cerah menyajikan sekumpulan awan-awan yang terbentuk dengan indahnya, “Aku akan kembali jika aku telah menyiapkan hatiku. Dan, kau. Cukup diamlah pada tempatmu, hingga aku datang.”
***
Jangan lupa vote, like dan komentar nya ya, friend. Kalau boleh, tambah kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ 🤭.
Reader: Wah, kau ngelunjak, ya. Otor pemula aja banyak maunya.
__ADS_1
Author: Yaaa, kali aja, ada yang mau bermurah hati. 🙏🙏🙏