Amita Arunya

Amita Arunya
Kacau


__ADS_3

BAB 30


“Sejak kapan kamu berhubungan dengannya, Yank?”


"Inikah Rayyan yang kamu maksud itu?" lirih Tama. Namun, penuh penekanan. Tama menahan gemuruh dalam dadanya, tangannya mengepal hingga menimbulkan otot-otot pada buku tangannya.


"Jawab, Mita!" Teriak Tama.


Arunya mematung mendengar pertanyaan bertubi dari Tama. Untuk memutar kepalanya saja terasa sangat berat. Jantungnya berdegub begitu kencang mendengar suara mengintimidasi dari Tama.


“Mita!” Tama meraih telapak tangan Arunya, menggenggamnya. Tama menurunkan egonya. Berkali-kali menarik nafas dan membuangnya cepat.


“M.. mas, aku minta maaf. Aku belum sempat memberitahukanmu tentang ini.”


Arunya berkata dengan suara bergetar.


“Apa jika aku tak membaca ini sendiri kamu juga tak akan memberitahukannya padaku?”


Arunya menoleh, mendapati raut wajah Tama yang tengah menahan amarah. Ia menggenggam sebelah tangan Tama. “Mas, maaf.”


Tama menghentakkan tangan Arunya. Lalu ia berdiri dan memeriksa history apapun yang berhubungan dengan Rayyan.


Beberapa panggilan masuk dengan durasi yang cukup lama. Lalu beberapa pesan masuk secara singkat namun penuh perhatian.


Arunya berdiri merasakan seluruh badannya gemetar. Apakah ini seperti bom waktu untuknya? Akankah hubungannya dengan Tama akan segera berakhir? Membuat semua pikirannya berkecamuk.


Tama merasakan seluruh badannya memanas membaca keseluruhan pesan yang Rayyan kirimkan. Dan melihat beberapa pesan terkirim dari Mita yang menunjukkan keingintahuannya. Begitu merespon dengan antusias perihal kuliah dan keguruan. Sehingga ia merasa tidak mengenal kekasihnya dan keinginannya untuk kuliah itu.


Tama merasa ia bukan bukan orang penting di hidup Mita. Bahkan kekasihnya pun tidak pernah menyinggung hal ini padanya. Sakit rasanya, apalagi jika ini tentang Rayyan. Seorang yang ia yakini masih berada di sudut hati kekasih hatinya.


Tama berbalik memberikan ponsel pada Mita. “Aku pulang. Mita. Jaga diri kamu baik-baik!”


Tentu saja hal itu membuat Arunya memupuk cairang bening pada kedua matanya. “Mas, kita bicarakan ini baik-baik.” ujar Arunya. Melihat Tama berjalan cepat menuju motornya. Membuat Arunya berusaha mengejar langkah lebar Tama.


Sebelum Tama sampai pada motornya, sebuah pelukan mendarat di punggungnya. Ia memejamkan matanya, seiring suara sesegukan Arunya dibelakangnya.


“Maaf jika semua ini menyakitimu, Mas. Ku mohon maafkan aku.”


Tama berhenti dan berdiam sambil dengan meremas ujung jaketnya.


“Aku marah pada diriku sendiri, Mita. Bukan kepadamu. Aku harus masuk kerja, Mita. Aku harus pulang sekarang," ucap Tama, bisa berbohong.


“Nggak! Kamu bohong!”


Tama melepas paksa tangan Arunya. Ia berbalik, “Kamu yang berbohong padaku Mita. Kamu bilang kamu mencintaiku, lalu ini apa? Jelasin sekarang kalau kamu nggak punya hubungan sama dia?” teriak Tama.


Arunya terkejut sekaligus merasa takut atas suara bentakan dari Tama. Bahkan baginya ini menjadi pertama kalinya ia mendengar suara tegas Tama.

__ADS_1


“Nyatanya aku nggak ngapa-ngapain, Mas! Apa salah aku bertukar kabar. Hanya bertukar kabar, Nggak lebih!” Arunya pun meluapkan emosinya.


“Tapi kamu ngarepin dia. Apa yang ada di pikiran kamu saat kamu berbicara padanya? Hah!!"


"Aku nggak mengharapkan apa-apa dari dia, Mas."


"Tapi bagaimana dengan dia?" cecar Tama.


“Aku menganggapnya teman, Mas. Dia memberi saran dan aku membutuhkan sarannya.”


"Lalu kenapa kamu nggak menceritakan hal ini ke aku! Kenapa, HAHH?"


"Ak....."


"Tapi bagaimana jika dia yang mengharapkanmu?" tekan Tama. Meski makin terasa perih saat ia mengucapkan hal ini.


"Sekarang aku tanya sama kamu. Seberapa pentingnya aku di hatimu?" tekan Tama.


"Ya kamu penting di hatiku, Mas. Kamu kekasihku! Kenapa hal sejelas ini masih kamu ragukan, Mas?" pekik Arunya.


“Tapi dia juga punya tempat di hatimu. Dan lagi, dia menunjukkan rasa perhatiannya, Mita. Apa kau bahagia sekarang? Lalu apa gunanya aku disini, Mita. Aku nggak ada gunanya disini."


“Itu nggak benar, Mas.”


"Pacar mana yang terima jika kekasihnya masih berhubungan dengan orang lain! Oke, kamu bilang dia bukan mantan kamu. Tapi dia orang yang pernah kamu suka. Disini lebih sakit, Mita!" Tama menepuk dadanya.


“Kamu bukan sekedar polos, Mita. Kamu juga bodoh dan nggak peka.” Tama memakai helm dan melajukan motornya. Bahkan suara panggilan dari Mita sudah ia abaikan. Dia hanya ingin pergi dari hadapan Mita dan meluapkan kekesalannya.


Sementara Arunya tengah menangis tersedu di halaman kost-nya. Beruntung disana penyewa kost mayoritas pekerja pabrik atau DC yang sama dengannya sehingga kejadian itu tidak menjadi tontonan orang banyak.


...***...


Tama mengendari motornya dengan kecepatan abnormal. Keadaan jalan utama Solo-Semarang siang itu begitu legang. Ia tak bisa berlama-lama disana karena ia takut akan membuat keributan disana.


Melihat air mata Arunya yang begitu deras mengalir di kedua pipinya membuat dadanya begitu sesak. Bahkan ia mengutuk diri karena tidak dapat mengendalikan amarahnya. Hentakan kasar disertai kata-kata berintonasi tinggi membuat pikirannya berkecamuk.


Ia bahkan tidak sadar telah menitikkan air matanya yang langsung meresap pada busa pelindung dalam helm fullface miliknya.


Melewati jalur Ambarawa menuju arah Ungaran keadaan jalan cukup padat. Iamengarahkan laju motor menuju arah rumahnya, bukan ke kostnya.


Melewati jalur belakang RSU Ungaran, ia segera mengambil jalur kanan untuk menuju Alun-alun Bung Karno untuk sekedar menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Namun, baru sampai perempatan dekat masjid, seorang pengendara melaju berlawanan arah dengannya.


Brakk!


Kecelakaan tidak bisa di hindari lagi. Walaupun Tama sudah membelokkan stang motornya menghindar, ia tetap tidak dapat menjaga keseimbangannya dan terkapar di sisi jalan.


Tama masih menjaga kesadarannya dan berusaha meraih ponselnya pada saku celananya, ia berusaha mencari kontak seseorang. Beruntung sambungan telefon di seberang sana dapat segera di angkat.

__ADS_1


"Bagas ... "


...***...


Di sebuah ruangan pribadi milik saudara iparnya, seseorang tengah mengajukan permohonan cuti mendadaknya. Yang ia tahu dari sambungan telefon saudara iparnya dengan papa, Rayyan mendengar rencana perjodohkan kepada kerabat jauh saudara iparnya.


Merasa ini menyangkut dirinya, Rayyan tentu tidak terima dan berakhir mendatangi iparnya.


"Kamu ingin kabur?" tekan lelaki berusia hampir empat puluhan. Matanya memindai adik iparnya yang tengah duduk bersekat meja dengannya.


"Selama ini papa sudah banyak ikut campur untuk kehidupanku, Bang. Kenapa untuk hal seperti ini masih saja dia masih mengacaukan privasi ku?" bela Rayyan.


"Apa kau sendiri sudah punya calon istri?" tanya lelaki itu.


"Sudah." Rayyan menjawab dengan mantap. Tujuannya hanya satu seorang gadis pada masa lalunya yang menginspirasi dirinya.


Rayyan mempertimbangkan pernyataan seorang gadis yang berusia tiga tahun di bawah umurnya. Menuruti keinginan orang tua, membuktikan pada semua orang dengan kemampuannya dan mengabaikan kata mereka yang mematahkan semangat untuk diri kita sendiri.


"Lalu untuk apa kau memaksa untuk pengajuan cuti ini, Ray?" tanya sang ipar.


"Aku ingin pulang dan memastikan sesuatu, Bang. Aku akan gunakan untuk menolak permintaan papa kali ini." Rayyan berdiri dan keluar dari ruangan pribadi saudara iparnya.


Tujuannya kali ini adalah kamarnya. Rayyan berberes beberapa baju, memasukkannya pada tas ransel besarnya. Kelengkapan identitas beserta surat surat penting lainnya.


Rayyan meraih ponselnya dan mengetikkan beberapa pesan singkat kepada Vero, kakaknya.


"Kak, aku pamit pulang. Hanya beberapa hari. Tolong kerjasamanya kali ini kak, aku hanya akan memastikan sesuatu."


Begitu pesan terkirim. Rayyan bergegas mengecek aplikasi online pemesanan pesawat. Ia akan bertolak ke Jawa hari ini juga.


Setelah menemukan waktu penerbangan yang paling pagi. Rayyan segera memesan taksi untuk menuju ke Bandara Sultan Syarif Kasim II.


Begitu ia tiba di bandara, ia segera cek in dan mendapat informasi untuk beberapa waktu menunggu.


Sebuah panggilan keberangkatan, begitu terdengar menggema di seluruh penjuru bandara. Rayyan berdebar entah karena sedang menggambarkan perasaan seperti apa. Ia segera berlari menuju badan pesawat, seolah ia sungguh tidak sabar untuk segera pulang kali ini.


Lima tahun ia menahan diri untuk tidak pulang ke kampungnya. Tapi kali ini, dia sudah bertekad untuk mengungkapkan segalanya pada seorang gadis manis yang hingga kini masih mengusik hatinya.


Walau ia mencoba menjalin hubungan dengan beberapa teman kampusnya, nama Arunya seakan masih mendominasi di sanubarinya.


"Arunya, aku datang untukmu. Aku harap kau masih disana dengan perasaanmu. Jika pun kau sudah tidak pada tempatmu. Maka, sekarang giliran aku yang akan memperjuangkannya."


....


#####################


Jangan lupa untuk tekan like dan komentarnya, yak🙏

__ADS_1


Oia, beri penilaian juga untuk ceritaku ini pada halaman depan ya, yang ada bintangnya itu. Nah, kasih penilaian di sana dengan menekan bintang 🌟. hehehe kalau bisa bintang lima yak, 🌟🌟🌟🌟🌟 , nuhun🙏


__ADS_2