
Bab 37
Sepulang kerja, Arunya biasa mencuci muka terlebih dahulu. Jika terasa gerah, maka arunya akan segera mandi. Padahal ibu sudah mengingatkan untuk tidak mandi di malam hari.
Selesai kegiatannya, Arunya biasanya akan segera terlelap jika sehabis mencuci muka. Namun, tidak untuk malam ini.
Melirik tumpukan baju kotor miliknya. Yang ia simpan dalam keranjang baju dekat lemari, lebih menarik perhatiannya. Ia beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju tempat mencuci di sudut kost. Masih banyak peenghuni kost yang masih berbincang di teras masing-masing, sehingga pemandangan malam dengan bunyi orang menyikat baju tidak begitu horor di telinga.
Selesai kegiatan mencucinya ia gegas menjemurnya di tengah halaman. Arunya kembali ke dalam kamarnya.
Sesaat ia melirik Asih yang sudah terlelap, bersembunyi di balik selimut bergambar bunga mawar merah besar sebagai coraknya.
Pikirannya masih berkecamuk melihat beberapa pesan sms dari Rayyan.
Tidak sampai hati Arunya mendiamkan saja berbagai pesan itu tanpa jawaban. Ia berniat memberikan satu pesan balasan.
“Maaf, Rayyan. Aku belum siap memberi jawaban ke kamu.”
Begitu pesan terkirim, pikirannya kembali berkecamuk.
“Sebenarnya, kenapa aku sebimbang ini? Semua sudah jelas. Aku sudah bersama Mas Tama. Dan melihat keseriusan Mas Tama, ia juga bukan hanya sekedar pacaran untuk main-main. Tapi kenapa aku masih memikirkan Rayyan?”
Melirik angka pada sudut telepon yang sudah hampir menunjukkan waktu sebelas malam. Ia mencari nama kontak ibunya. Di luar dugaan, Tami menjawab dengan cepat. Berbasa-basi menanyakan kabar dan sebagainya, Arunya kembali ragu untuk mengutarakan gundahnya pada ibu.
“Bu, Arunya sedang bimbang. Rayyan pulang kampung dan dia berniat melamar Arunya, Bu.”
Tidak ada jawaban dari ibu, Arunya melanjutkan kata kembali. Tanpa Arunya tahu, Ibu di sana tengah terkejut bukan main.
“Tapi disini, Arunya juga sudah punya pacar yang mungkin juga serius, Bu.”
“Dengan yang kamu ceritakan sewaktu kamu di jambret waktu itu?” tanya Ibu.
“Iya, Bu. Namanya Mas Tama. Dia tinggal di Semarang. Kerja di DC yang sama sewaktu di Semarang dulu. Tapi ...” Ragu Arunya mengatakan kegundahannya kembali.
“Mbak, jujur sama ibu. Apa kamu masih suka Rayyan? Anak Pak Wijaya itu?“
“Runya nggak tahu, Bu. Kemarin dia ke Klaten bersama Mas Arif. Dia mengutarakan keseriusannya. Dia bilang, jika dia memaksa cuti karena ini. Dan dia masih nunggu jawaban Runya, Bu.”
__ADS_1
“Kamu, tahu, Mbak. Berita itu sudah sampai ke tetangga-tetangga di sini. Ibu juga tahu, kamu pasti akan segera memberitahu ibu tentang hal ini, Ibu tahu kegundahan hatimu meski kamu nggak ngomong ke ibu dari kemarin.”
“Maafin Runya, Bu. Ibu justru dengar dari orang-orang.”
“Ibu ini, ibu kamu, Mbak. Ibu mengenal kamu melebihi orang-orang. Jika saatnya kamu di tengah kebingungan kamu akan segera mencari ibu. Ibu yakin itu.”
Arunya menitikkan air matanya yang terus memaksa untuk merangsek keluar. Ia hanya terisak untuk meluapkan segala rasa yang mengganggunya.
“Mbak, jika kamu tidak suka sama Rayyan, kenapa kamu meminta untuk mengulur waktu atas jawabanmu? Mestinya tinggal jawab tidak dan semuanya akan mudah untuk kamu. Kamu nggak musti harus sebimbang ini,’kan?”
Benar yang di katakan ibu, kenapa musti bimbang. Dan kali ini Arunya sedikit mendapatkan jawabannya. Bahwa memang benar dalam hatinya masih ada nama Rayyan. Namun, sejurus kemudian kenyataan itu membuat ia menyadari betapa jahatnya dia, menyimpan dua nama dalam satu waktu yang bersamaan.
“Runya, Rayyan itu anak orang berpendidikan dan terpandang. Dia pasti mengenal banyak sekali orang-orang penting. Ibu takut, suatu saat kamu tidak akan di hargai karena hanya anak buruh cuci seperti ibu. Ibu hanya takut hal itu terjadi, Runya.”
Deg.
Benar yang di katakan ibu. Arunya tengah berfikir sama tentang hal ini. “Baiklah, Ibu. Runya akan memikirkan lagi. Dan mempertimbangkan saran dari ibu.”
“Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk kamu. Ibu tutup. Ya, telponnya. Pasti habis banyak pulsanya.”
Arunya tersenyum. Ibu tidak berubah. Selalu kawatir dengan biaya telepon.
Setelah ibu menjawab salamnya barulah Arunya menutup pembicaraannya.
Ia kembali menarik nafas berat. Bayangan Rayyan dan Tama hadir bergantian. Membuat Arunya memejamkan matanya. Bersandar pada dinding tembok yang semakin malam, semakin terasa dingin.
“Ternyata, tidak semudah itu menghapus rasaku padamu, Ray. Hingga aku sendiri harus memikirkanmu berkali-kali. Bagaimana caranya agar aku dapat memberi jawaban tanpa menyakiti kamu. Aku takut justru akulah yang menjadi penyebab rasa sakitmu nanti. Aku nggak sanggup.”
...*** ...
Di dalam kamar kost yang di huni dua anak manusia. Berbeda ibu dan bapak, juga berbeda asal tempat kelahiran sedang terjadi keributan kecil. Namun, tetap terdengar gaduh bagi kamar sebelahnya.
Berkali-kali, Bagas membersarkan hati sahabatnya agar menyerahkan saja keputusan pada Arunya. Namun, Tama sedang kalut dan sedang tidak baik-baik saja.
“Aku takut segala kemungkinan terburuk itu, Gas. Kamu kenal Arunya, dia polos tidak ada sikap tegas, dan selalu merasa tidak enak hati.”
‘Kamu meragukan Mita?” tuding Bagas.
__ADS_1
Tama diam membisu. Pikirannya kembali berkecamuk. Dia sedang dalam fase tidak percaya diri. Tapi ia selalu menepis prasangkanya.
“Lo, tahu, Gas! Sainganku ini punya lebih dari segalanya yang tidak aku punya. Dia bahkan orang berpendidikan, dia anak mantan seorang dewan, dia punya pekerjaan yang menjanjikan. Sedangkan aku. Kau lihat sendiri. Apa yang bisa aku banggakan selain rasa yang aku punya ini, Gas.”
Bagas menggangguk, membenarkan pendapat sahabatnya.
“Kenapa kamu nggak bikin Mita hamil saja, trus urusan beres. Kamu nggak perlu takut kehilangan dia.”
“Edan, kowe (Gila, kamu) Gas. Aku ini sayang banget sama Mita. Mana mungkin aku ngerusak dia.”
“Oke, oke, maaf. Gue cuma bercanda. Lo dari tadi ngegas terus. Ini jam berapa! Kamar yang lain mungkin sedang terganggu suara lo.”
“Sesat, lo, Gas. Jangan memperkeruh keadaan. Candaan lo, bener-bener nggak ngehibur gue.”
Bagas terdiam, dia sudah kelewatan. Dia hanya sedang terpikirkan oleh tetangganya, yang tengah berbuat nekat karena terhalang restu orang tua. Mengalahkan segala cara agar keinginannya tidak di tentang lagi oleh orang tuanya. Dan candaannya kali ini terbukti tidak membuat mood sahabatnya menjadi lebih baik.
“Iya, iya. Maaf, gue tahu lo, gue kenal lo udah lama. Jadi nggak mungkin lo bakal terpengaruh juga. Walaupun gue sempet jadi playboy, gue juga tahu batasan.”
“Bagus, deh. Kalau lo masih waras. Hidup di kota Semarang, kita kudu pinter jaga diri. Jangan sampai salah pergaulan, Gas." Tama mendengkur kesal.
"Dan melihat Mita, cewek polos dari desa. Nggak punya siapa-siapa disini. Gue musti jaga dia, bukan ngerusak dia," lanjut Tama.
“Iya, gue nggak ngeraguin cinta, lo, buat dia.” Bagas menepuk bahu sahabatnya. “Tidur aja, dulu.”
“Gue besok shif siang. Aman lah, kalau aku bangun siang.”
“Ya udah, gue mau tidur. Jangan ganggu gue, ya!” Tidak ada sahutan dari Tama. Bagas hanya menghembuskan nafasnya. “Tidur, bro. Jangan nyiksa diri.” Bagas mengulang peringatannya lagi.
Beberapa waktu terdiam, Tama beranjak dari duduknya. Ia membuka pintu dan menutupnya pelan. Ia ayunkan langkahnya menuju kamar kost-nya sendiri.
Begitu ia merebahkan badan pada kasurnya, ia meraba bawah bantalnya. Ketika tangannya menemukan selembar foto berukuran 3x4 yang menampilkan potret gadis kesayangannya. Air matanya luruh bergitu saja. “Jangan tinggalin aku, Mita.”
************************
Sudah lah, percaya kan jodoh hanya kepada-Nya. 🤭
Tiada bosan aku mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku.
__ADS_1
Gumawo 🙏🙏🙏