
BAB 29
Perpisahan dalam bentuk apapun nyatanya menyisakan sebuah kekecewaan, merasa kehilangan, bahkan membuat semangat luntur seketika, tidak terkecuali bagi Tama dan Arunya.
Pada minggu pertama semua terasa asing, teman baru lingkungan baru. Beruntung Arunya kini cepat menyesuaikan dengan sekitarnya.
Sudah beberapa bulan yang lalu tepatnya peristiwa mutasi personil dilakukan. Perlahan Arunya membiasakan diri untuk lebih mandiri. Tama membuktikan dengan menempatkannya pada rumah kost milik temannya yang tidak jauh dari kantor DC kota Klaten. Tama bahkan hampir setiap seminggu sekali mengunjungi Arunya.
Arunya tetap bekerja pada bagian gudang DC namun pada line-21 bagian homecare.
Disini ia menjadi satu line dengan Asih. Saat tiga bulan setelah Arunya mendapat surat mutasi personil, Asih pun mendapat surat yang sama.
“Kita seperti sahabat yang tak terpisahkan ya, Run.” Asih merebahkan badannya di samping Arunya bersiap untuk tidur. Mereka kembali menjadi satu kamar kost.
“Iya, semoga selamanya kita begini ya.” Ujar Arunya.
“Gimana rasanya jauhan? Enak?” goda Asih.
“Nggak ada enaknya, Asih. Kita jadi sering berantem. Telat dikit bales sms aja jadi ribut. Mas Tama semakin kesini makin cemburuan.” Arunya memperlihatkan layar HP-nya pada Asih. “ Lihat sendiri, deh!”
Asih membaca beberapa chat dari Tama. “Dia perhatian bgt, loh. Run!” Kini Asih berganti memeriksa album galeri pada ponsel sahabatnya. “Ini foto waktu kamu liburan ke Pantai Baron, kan,” tanya Asih. Sembari memperlihatkannya pada Arunya.
“Iya, yang di Jogja.”
Beberapa detik kemudian muncul notifikasi panggilan, “Eh, ada yang telfon, Run.’ Asih menyerahkan hp pada Arunya.
”Hallo,” Begitu Arunya mengangkat telefonnya.
“Hallo, Runya. Maaf malam-malam mengganggumu, Kamu apa kabar?”
Arunya merasa tidak mengenali suara penelfon. Ia memeriksa lagi ID pemanggil pada gawainya, yang tertera hanyalah sederet nomor.
“Aku baik. Tapi, maaf, siapa ya, ini?”
“Kamu melupakanku? Ah. Rupanya aku terlalu percaya diri, ya. Aku berfikir kamu masih mengingatku.” Di seberang sana seseorang tengah tersenyum getir.
“... “ Arunya terdiam sembari mengingat suara disana. Namun tidak juga ia bisa menebak dengan siapa ia berbicara.
“Namamu Amita Arunya. Yang artinya sinar matahari tanpa batas. Matahari akan tetap bersinar meski terhalang bayangan ...”
Deg!
Arunya sampai menegakkan duduknya. Pun dengan Asih yang masih ikut terjaga. Rentetan kalimat berikutnya bahkan terasa berdenging.
“Rayyan,” lirih Arunya.
Asih ikut mendekat untuk mendengarkan suara penelfon di seberang sana. Tentu Asih tahu, siapa Rayyan yang di maksud sahabatnya.
“Akhirnya, Runya.” Rayyan yang tengah mengendarai mobil dinasnya sampai harus menepi.
Ia menyugar rambut, mengembangkan senyumnya. “Kerja dimana sekarang? Kamu gak kuliah, ya. Bagaimana mau jadi bu guru, kalau kamu nggak kuliah?"
“K-kamu sendiri. Ah, selamat ya. Su-sudah menjadi orang penting untuk negara ini. Semoga kamu dapat menjalankan amanah.” Arunya menggigit bibirnya merasakan debaran dalam dadanya membuat ia tergagap.
“Kamu bisa saja. Aku baru magang di sekretariat daerah saja, Runya. Mungkin aku ingin meneruskan pendidkanku setelah ini.”
“Sekolah lagi?” tanya Arunya.
“Mungkin. Aku ingin sekolah kepolisian. Sekarang fokus cari uang dulu.” Rayyan terkekeh.
“Semoga berhasil,” ujar Arunya.
“Seperti apa kamu sekarang? Pasti semakin manis. Kamu tak ada niatan untuk punya sosial media? Facebook, misalnya. Agar aku bisa lihat kamu walau kita tidak dapat bertemu muka."
__ADS_1
“Ray. Ah, maaf. Pak Rayyan.” Asih melirik Asih di sampingnya.
“Apa kamu bilang? Pak! Ck, segitunya kamu. Aku masih Rayyan yang dulu, Runya. Panggil aku Rayyan seperti kamu manggil aku dulu.”
“Tapi sepertinya tidak sopan.”
“Kalau begitu panggil aku, Mas.”
“Hampir lima tahun, ya. Kamu disana.” Arunya terpaksa memangkas pertanyaan yang mengusik hatinya dengan mengalihkan pembicaraan.
“Jangan bilang kamu kangen sama aku!” Rayyan sampai harus mengendurkan ikatan dasi pada lehernya.
Arunya langsung mematikan sambungan telefonnya. Ia takut semakin lama ia tidak dapat mengendalikan percakapannya. Ia menoleh pada Asih yang masih terus memperhatikannya. “Kenapa kamu matikan? tanya Asih.
Arunya hanya menggeleng. Lalu sebuah notifikasi pesan kembali muncul, “Selamat, malam. Maaf dan terima kasih, Runya. Tolong simpan nomorku-Rayyan”
...*** ...
“Malam minggu, keluar, yuk!” ajak Asih. Ia berinisiatif mengajak Arunya untuk keluar sekedar cuci mata. Asih sudah memiliki motor berkat angsuran tiap bulannya.
Arunya pun ingin. Namun, ia masih belum berani untuk berlatih motor.
“Nggak di bolehin sama Mas Tama. Gedeg aku, sama dia. Aku kan perginya sama kamu.masih aja ngelarang.” Arunya menggerutu.
“Ya, udah. Bilang aja kamu tidur. HP matiin. Beres. Kita keluar cari angin.”
Arunya menjentikkan jarinya. Solusi dari Asih nyatanya membuatnya berbinar.
Ia gegas menyisir rambutnya, dan memakai jaket C2 berwarna coklat tua, jaket pemberian Tama. Ia mengetikkan pesan singkat untuk Tama, " Mas, udah malam. Aku mau tidur ya. Selamat buat kamu yang lagi lembur😍." Lalu dengan segera ia mematikan HP-nya.
"Maaf, ya, Mas." Arunya bergumam meski diseberang sana Tama tak mendengarnya.
...*** ...
Mereka hanya berhenti di minimarket untuk membeli air mineral bersama snack ringan. Lalu ia meneruskan jalannya lagi menuju kota Solo.
Malam minggu jalanan semakin ramai. Sebagian dari mereka mungkin menggunakan weekend untuk berkumpul bersama teman atau sekedar nongkrong.
"Kita berhenti dimana, Run." Bising suara kendaraan membuat Asih sengaja menaikkan dua oktaf suaranya.
"Sembarang, Asih. Aku ngikut aja, yang penting malam minggu nggak suntuk di kost-an. Punya pacar juga jauh."
"Oke,"
Perlahan roda berputar hingga berhenti di sebuah taman terbuka, yang di dalamnya berdiri sebuah stadion yang dikenal dengan nama Stadion Manahan.
Dari arah tenggara terdapat Hotel Agas yang berdiri dua ratus meter dari pelintasan jalur kereta api.
Di samping taman terdapat dua jalur jalan raya. Dari tempat Arunya dan Asih yang telah duduk menikmati snack ringan dan air mineral, terlihat di seberang jalan terdapat beberapa cafe.
Musik dalam cafe terdengar hingga pada pendengaran Arunya. Seorang yang telah lama menjalani pacaran jarak jauh. Terkadang rasa iri muncul begitu saja, kala ia melihat seorang lelaki menjemput seorang wanita dari bekerja, atau sebaliknya. Ingatan nya berputar kala ia sering menolak ajakan Tama. Pura-pura tidak peka terhadap perhatian-perhatian kecil dari Tama.
Menoleh ke bangku sebelah, Arunya melihat seorang lelaki dan perempuan tengah bertukar cerita, hingga mengembangkan tawa renyah keduanya.
Rasa rindunya terhadap Tama semakin bertambah seiring rasa kesal yang semakin bertambah, karena kini mereka jarang sekali untuk meluangkan waktu untuk bertemu atau sekedar makan bersama.
"Udah, gak usah ngiri. Bulan depan mungkin, Mas Tama main ke Klaten, Run." Asih menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Arunya.
"Entahlah, Asih. Kadang rasa sendiri begitu terasa saat berjauhan begini."
"Ya, dulu waktu masih sama-sama, kerja di tempat yang sama. Kamu gak peka. Sekarang waktu jauh, baru terasa, kan!" Asih memasukan potongan Snack ke dalam mulutnya.
"Iya, salahku."
__ADS_1
"Trus, Rayyan masih sering hubungin kamu?" Tanya Asih.
"Kadang, sih. Berbalas pesan saja," ujar Arunya.
Terdapat jeda yang cukup lama. Baik Arunya maupun Asih, yang masih memindai pemandangan lalu lalang kendaraan yang melintas.
Beberapa kali sebuah delman melintas di depan mereka, biasanya delman beroperasi jika ada yang menyewa jasanya untuk mengantarkan penumpangnya berkeliling sekitar area stadion.
"Run," panggil Asih.
"Iya." Arunya mengalihkan atensinya dari SPG satu merk rokok. Beberapa cewek berpakaian nyentrik, dengan atasan kemeja press body da yan bawahan rok mini berkisar dua puluh centimeter dari lututnya.
"Kenapa, Asih?" Tanya Arunya.
"Apa kamu masih menyukai Rayyan?" tanya Asih ya.
Arunya hanya terdiam. Ia sedang menyelami perasaannya sendiri. Sejak telepon pertama dari Rayyan sampai sekarang sudah ke enam kalinya mereka saling bertukar kabar. Sering kali membicarakan tentang pekerjaan masing-masing. Sampai saat Rayyan pernah menyarankan untuk kembali kuliah dari jalur beasiswa.
Dengan keadaan Arunya yang bekerja, ia merasa kesulitan untuk membagi waktunya. Rayyan memberi options kedua yaitu sekolah online.
Arunya yang masih keterbatasan biaya pun dirasa belum mampu untuk melakukannya.
"Udah malam, ayo pulang."
Suara Asih memangkas paksa lamunannya tentang Rayyan. Tidak di pungkiri ia merasa senang jika berbicara lewat sambungan telefon dengan Rayyan.
Pengetahuan yang cukup luas, membuat ia mendapatkan informasi apapun yang bahkan ia tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Arunya beranjak dari duduknya. Membereskan bekas Snack ke dalam tempat sampah yang tersedia.
Keduanya lalu kembali ke Klaten tempat kost mereka. Perjalanan dari Solo ke Klaten hanyalah sekitar 40 menit, itupun jika mengendarainya dengan santai. Jika kecepatan normal, pastilah akan lebih singkat.
***
Suara gaduh dari kamar sebelah membuat Arunya mengerjab. Ia segera bagun untuk membersihkan diri.
Asih telah satu jam yang lalu telah berangkat karena mendapat shif pagi.
Selesai mandi ia mengoleskan pelembab dan sedikit lip tint pada bibirnya.
Berbalas pesan pada ibu sekedarnya. Lalu ia pergi ke depan kost untuk membeli makan.
Saat kembali ke kamar kostnya, ia tengah menemukan seorang yang telah dua bulan yang lalu tidak bertemu dengannya.
"Mas. Udah lama?" tanya Arunya. Ia mendekati seorang yang tak henti mengulas senyumnya dan berakhir mendapatkan rengkuhan di bahunya.
"Aku kangen kamu, yank." Tama memberi sedikit cubitan pada pipi Arunya.
"Baru juga semalam nelpon," ujar Arunya. "Sama, ih. Aku juga kangen," lanjutnya.
Keduanya lalu duduk pada teras kamar kost Arunya. Terdapat kursi kayu panjang disana, yang biasa digunakan jika ada teman yang berkunjung.
Bercerita permasalahan dalam DC masing-masing. Hingga saat Tama melihat isi galeri pada ponsel Sebuah Pesan singkat membuatnya bergemuruh,
"Runya, sebelum kerja. Jangan lupa makan, jangan sampai, ya, asam lambungnya naik."
Tama memeriksa nama kontak pemberi pesan. Ia menoleh pada Runya yang masih asik melihat galeri pada ponselnya juga.
Tanpa sadar Tama meremas ponsel milik Arunya, mengendalikan luapan rasa yang ingin ia ledakkan.
"Yank. Sejak kapan kamu berhubungan dengan Rayyan?"
...***...
__ADS_1
Nahh, loo , gimna gimana?..