Amita Arunya

Amita Arunya
Taman Rakyat


__ADS_3

BAB 34


“Aku hanya percaya diri jika namaku masih berada di hatimu, Mita. Hanya itu, jika sedikit saja kamu menghempaskan aku, saat itu juga aku tak punya keberanian lagi. Aku sadari aku tak punya apa-apa di banding dia yang telah berhasil. Aku hanya ingin mempertahankanmu semampuku."


Kata-kata dari Tama sebelum Arunya berpamitan kembali terngiang dalam pikiran Arunya saat ini. Ia bersama Asih sudah sampai kost satu jam yang lalu.


Mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, bisa dipastikan bahwa sahabatnya tengah melakukan aktifitasnya sebelum bekerja. Melirik waktu pada HP miliknya ia mendesah pelan. Kembali membenamkan muka pada bantalnya.


Kembali ia akan mengirimkan pesan yang sedari tadi telah ia ketik.


Arunya : Aku sudah di kost, Ray. Gak apa jika kamu mau kesini.


Begitu pesan terkirim, Arunya memutuskan untuk menelpon Tama.


“Mas, aku mau ngomong. Jangan di sela. Cukup dengarkan saja.” Arunya terpaksa memberi ultimatum terlebih dahulu, begitu sambungan telepon mendapat respon dari Tama.


“Sayang. Kenapa? Oke.. iya aku akan dengarkan.” Kata dari Tama di seberang sana.


Membuat Arunya memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk merangkai kata agar tidak begitu menyakitkan untuk Tama.


“Mas. Rayyan sekarang ada di Jawa. Dia berniat ke Klaten menemuiku, entah untuk urusan apa. Mungkin dia hanya mampir ssaja. Dia datang tidak sendiri, dia bersama temannya. Jadi aku nggak akan berdua saja dengan dia. Lima tahun kita tidak bertemu, mungkin karena ia masih menganggapku teman. Jadi dia sekedar ingin tahu aku di sini. Aku mohon jangan berfikir yang tidak-tidak, ya, Mas.”


Rentetan kata-kata dari kekasihnya membuat Tama terhuyung. Terkejut menjadi pukulan hebat untuknya. ”APA???”


“Aku akan menceritakan tentangmu padanya, Mas. Kamu percaya aku, kan?” tanya Arunya.


“Baiklah.” Tama menutup sambungan teleponnya. Dalam benaknya ia meragukan Arunya. Dia begitu takut kehilangan Arunya. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini.


“Apa kamu berniat kembali padanya, Mita?” kata Tama lirih dan menjatuhkan diri pada lantai kamar miliknya.


Meremas kuat rambut di kepalanya. Melampiaskan rasa sakit dengan memukulkan tangannnya pada tembok kamarnya. ‘'Harrrrgggh!”


Warna merah pekat merembes melalui perban di satu sisi tangannya. Bisa di pastikan luka yang hampir kering kembali terbuka hingga mengeluarkan bau anyir. Rasa perih pada telapak tangannya tak sebanding dengan rasa sesak yang ia tahan.


...*** ...


Rayyan memilih mengendarai motor milik papa, agar terhindar dari macet. Bersama Arif ia bergegas ke Klaten setelah mendapat pesan dari Arunya. Di jalanan sesekali mereka memacu laju motornya seolah sedang berkompetisi di sirkuit seperti lima tahun yang lalu.


Rasanya seperti kembali pada masa dulu. Sesekali Rayyan berteriak melampiaskan penat yang biasa menyambutnya kala ia bekerja.


Satu jam kemudian Rayyan telah sampai pada kost Arunya.


‘Hai,” sapa Rayyan begitu Arunya membukakan pagar kost.


“Kok, naik motor sendiri-sendiri. Kenapa nggak boncengan aja?” tanya Arunya. Sedikit terheran mengetahui Arif dan Rayyan mengendarai motor masing-masing.

__ADS_1


“Rayyan, tuh. Tadi ngajakin balapan. Walaupun akhirnya kalah juga,” celetuk Arif.


Arunya mengajak masuk keduanya dan memilih bercakap di teras kost. Ada empat kursi dan satu meja di sana. Kebetulan bangku disana kosong. Akhirnya mereka bercakap ringan dan sesekali bercanda sambil memakan snack.


“Maaf ya , Runya, Aku menganggu waktu liburmu.”


“Nggak apa, Ray. Mumpung kamu masih di Jawa.”


“Eh, aku ada ide tempat yang enak buat ngobrol. Dari sini ada danau buatan. Yaa, seperti taman. Kita kesana, yuk!” Arif menjentikkan jari tengah dan ibu jarinya.


'‘Boleh banget itu. Mau, kan, Runya?” tanya Rayyan memastikan.


Walau dalam hati merasa takut, Arunya mengiyakan ajakan kedua temannya. “Aku ganti baju dulu.” Ia lalu bergegas mengganti pakaian rumahan menjadi casual agar lebih santai.


Celana jeans warna hitam dengan t-shirt panjang berwarna putih. Mematut dirinya pada cermin lalu meraih tas ransel andalannya.


Setelahnya ia keluar kamar dan hanya mendapati Rayyan. “Loh, kemana Mas Arif?” tanya Arunya.


“Udah duluan dia. Ayo, kita susul.” Rayyan bersiap di atas motornya.


Ragu Arunya melangkah. Meski begitu ia tetap memposiskan berada di jarak aman dengan Rayyan. Ingatannya kembali pada beberapa tahun yang lalu saat ia akan pergi ke air terjun bersama orang yang sama. Arunya menipiskan bibirnya begitu kenangan itu melintas di pikirannya.


Senyuman tipis dari Arunya menular hingga pada Rayyan yang sengaja mencuri pandang pada spion motornya. “Kamu semakin cantik, Runya.” Namun, semua itu tertahan hanya dalam hatinya. Entahlah, seolah jika berhadapan dengan Arunya, keberaniannya seolah memudar.


Perjalanan hanya memerlukan kurang dari sepuluh menit. Begitu sampai dengan Arif yang telah melambaikan tangan berserta ketiga tiket di tangannya. Rayyan segera mengajak Arunya untuk mendekati Arif setelah memarkirkan motonya.


Meski dengan tetap berjalan, Arunya melihat tangannya yang berada dalam genggaman Rayyan. Ia dapat merasakan suhu tangan Rayyan begitu dingin. Pun dengan dirinya.


Arif mendekat dan menyerahkan segenggam rumput untuk Arunya. “Nih, berani nggak. Kasih makan pada kijang itu.” Arif menunjuk dua ekor kijang yang melintas.


Rayyan yang tersadar masih menmggenggam tangan Arunya segera melepaskan tautan tangannya pada Arunya secara perlahan. Beruntung, sepertinya Arif tidak mengetahuinya. Jika Arif tahu, pasti akan menjadi bahan candaan.


“Berani. Sepertinya aku kangen kasih makan kambing di rumah, Mas.” Arunya terkekeh serta beranjak mendekati kedua ekor kijang yang sengaja di biarkan bebas oleh pihak taman. Ia bersama Rayyan dan Arif terhanyut dengan beberapa kijang lain yang ikut mendekat.


Saat Arunya masih asyik. Rayyan menepuk bahu Arunya. “Kita ke bangku itu, yuk!” Rayyan menunjuk bangku di tepi kolam ikan. “Biarin Arif asik dengan teman-temannya. Gak usah peduliin dia!” Rayyan tersenyum melirik Arif yang sedikit merajuk.


“Jelek begini juga udah punya pacar, aku. Enak aja di suruh temenan ama kijang.”


“Nanti nyusul, ya, Mas Arif.”


“Ok.” Arif menggabungkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf ”o”.


Arunya beranjak mengikuti langkah Rayyan. Di pinggir kolam ikan terdapat beberapa kursi panjang yang terbuat dari besi dengan ukiran unik.


Setelah keduanya duduk menghadap kolam, kecanggungan kembali terjadi. Keduanya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


“Runya,’' panggil Rayyan dengan menoleh pada Arunya yang duduk tepat di sampingnya.


“Iya,” sahut Arunya.


“Kamu pernah kesini?”


“Belum, aku malah baru tahu tempat ini, Ray. Hariku habis buat kerja. Dan sehabis kerja aku manfaatin buat tidur aja. Jikapun keluar malam hari aja bersama temen satu kamar aku,” terang Arunya.


“Iya, kamu udah pernah ceritain di sambungan telepon waktu itu.”


“Kamu, tau. Aku nggak bisa naik motor. Takut.” Arunya meringis hingga menampilkan barisan giginya.


“Belum, Runya. Jangan pesimis begitu.”


“Iya.”


Terlihat Rayyan ragu ingin mengatakan maksud dirinya bertemu kali ini. Ia hanya sesekali mengamati Arunya yang menikmati embusan angin yang begitu sejuk. Banyak pepohonan besar dan rindang yang membuat taman ini terasa sejuk.


“Kamu punya pacar?” tanya Rayyan. Ia sedang mencoba mengalahkan rasa ragunya. Padahal Arif dan Lela sudah memberitahukan hal ini. Dia hanya sedang bimbang untuk memulai kata darimana.


Arunya spontan menoleh pada Rayyan. Terlihat keraguan untuk menjawab. Namun, segera ia tepis rasa mengganggu itu. "Iya, ada.”


Seperti dugaan Rayyan. Cerita yang ia dengar dari Lela, benar adanya. Meski raut wajah kecewanya tidak dapat ia sembunyikan, ia tetap mencoba tersenyum.


Mencoba memberi semangat pada diri sendiri. "Belum terlambat, Rayyan. Masih ada waktu," batin Rayyan.


“Sudah berapa lama?” tanya Rayyan.


“Emm, kurang lebih setahun. Kalau kamu sendiri? Pasti ada pacar dong. Nggak mungkin kalau sampai nggak punya pacar, 'kan. Apalagi kerja kamu udah bagus, mapan.”


Helaan nafas Rayyan, menjadi bukti bahwa Arunya yang dulu ia kenal masih tidak juga berubah. Selalu menafsirkan sendiri. “Apa, jika aku bilang aku nggak punya pacar, kamu akan percaya?”cetus Rayyan.


Arunya terkekeh pelan. “Nggak, Ray. Aku nggak percaya.”


“Pagi tadi, aku bilang ke mamaku. Aku akan menemuimu. Mama sangat antusias. Dia bilang lama nggak melihat kamu. Sesekali jika sedang tarawih aja, mungkin ketika waktu kamu pulang.”


Arunya masih diam menyimak seorang yang pernah menggetarkan hatinya. Namun, untuk kali ini, yang Arunya rasakan adalah rasa kagum yang masih tersisa. Ya, rasa kagum.


Rayyan kembali menatap manik mata Arunya. “Runya, aku bilang pada ibuku aku ingin serius sama kamu.”


**********************************


Jedddeeerrrr!!!! kaget nggak tuh???


Terimakasih kepada teman-teman yang sudah berkenan untuk meluangkan waktu membaca cerita recehku.

__ADS_1


Matur nuwun 🙏🙏


__ADS_2