Amita Arunya

Amita Arunya
Selisih


__ADS_3

BAB 22.


Berusaha menahan sesak di dada, Arunya terus meneliti sekumpulan angka beserta kode toko. Merasa yakin akan penghitungannya, Arunya masih tetap pada pendiriannya.


"Jumlahnya benar ini, Pak," Arunya Keukeh dengan pendiriannya.


"Lalu, ini apa? selisihnya nggak main-main, loh, ini!" Seorang Helper kembali menggertak Arunya.


“Santai, bro. Jangan di bentak. Coba lo hubungin Tama, deh. Dia kan shif satu.” Lekaki senior yang lain berusaha meredakan kekesalan temannya.


“Lo bilang, santai. Nominalnya gede, songong!”


Meski masih mengumpat, terlihat lelaki berkaca mata segera mengeluarkan ponsel dalam saku celananya.


“Tam! Line lo selisih. Kirim cepat laporan lo buat gue hitung ulang.”


“Sabar, bang. Elah. “ Terdengar suara dari Tama karena mode speaker sengaja di hidupkan.


“Gak bisa sabar gue. Gue udah molor beberapa menit inih. Gara-gara anak baru ini.”


“Ok. Gue kesana aja deh, Bang.“


“Ya, udah. Buruan!”


Arunya hanya menghela nafas, menyeka tumpahan air matanya dengan punggung tangan. Berusaha menahan isak tangisnya.


Mungkin dia memang bersalah , walau ia gadis yang kuat, beberapa tekanan juga umpatan kasar dari seniornya membuat nyeri dalam dadanya.


Waktu semakin malam, Berkali-kali Asih menanyakannya melalui pesan sms, tapi Arunya hanya membalas jika masih dalam perjalanan.


Di tempat lain Tama baru saja tiba di kostnya setelah bersama Bagas ke undangan teman satu divisinya. Begitu ia mendapati panggilan kasir helper gudang perasaanya sudah tidak karuan. Ia teringat saat siang tadi ia telah serah terima shif dengan Arunya. “Duh. Mana dia polos banget, pasti bakal mewek di bentak-bentak sama singo edan (julukan anak-anak DC jika sedang kesal pada kasir helper yang terkenal karena sifat tempramennya).


Menjawab seadanya dan segera memakai seragamnya kembali agar bisa masuk gudang. Jaket tebal bahkan terlihat belum ia kancing dengan benar.


“Harus banget, ya, Tam. Ke DC lagi?” tanya Bagas.


Bahkan hanya diabaikan oleh Tama. Dan segera menjalankan motornya. Beruntung jarak kost dengan DC tidak begitu jauh. Meski begitu ia bahkan bertindak bahwa dialah yang paling berhak menguasai jalanan.

__ADS_1


Berpacu untuk sesegera mungkin menyelamatkan Arunya dari amukan seniornya.


Lima menit kemudian Tama datang dengan terenggah, ia datang bahkan dengan memakai celana kain gelap dan sepatu pantofel yang identik dengan kesan formal.


Tama yang melihat Arunya tengah menunduk di antara dua lelaki seniornya, segera mendekat. “Sabar dulu bang, kita koreksi lagi.”


Tama segera duduk sejajar dengan Arunya dan mengambil lembaran faktur yang Arunya pegang. Sembari menstabilkan deru nafasnya karena sehabis berlarian.


Tama mencoba membuka aplikasi pada ponselnya. Setelahnya ia bersama kedua seniornya kembali pada layar komputer.


Arunya sedikit lega karena kehadiran Tama, tidak di pungkiri ia begitu takut menghadapi kejadian ini. Apalagi jika itu menyangkut jumlah nominal dalam faktur. Ia mengedarkan pandangannnya melihat DC yang sudah legang dan hanya terdapat beberapa orang karyawan yang tengah melakukan penghitungan stok.


Tidak sampai tiga menit terlihat wajah lega dari ketiga orang seniornya yang tengah terfokus pada layar kasir.


“Lain kali konfirmasi dulu, lah, Tam. Jadi gue gak salah paham sama tuh cewek.” Ucapan kasir helper membuat Arunya yang tengah menunggu pun segera mendongakkan wajahnya memberanikan diri mendekat pada layar monitor.


“Udah selesai, kok. Aman.” Tama berbisik pada Arunya. Disusul peryataan minta maaf dari kedua senior lainnya. Arunya pun hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Setelahnya mereka segera mengakhiri proses transaksi. Dan bersiap untuk pulang.


Arunya berjalan gontai menekan mesin finger print dan mengambil tas ranselnya pada loker. Lelah, bakan tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Tama masih saja terus mengikutinya hingga keluar gedung.


Ucapan Tama menghentikan langkah Arunya. Ia segera berbalik untuk meminta penjelasan perihal kesalahan dirinya.


"Nggak apa, Arunya. Sebenarnya sepele, kamu menambahkan satu angka nol. Otomatis, stoknya selisih pun dengan jumlah nominalnya."


"Oh, ya, ampuuuunn." Arunya menepuk keningnya kasar.


"Maafin aku ya, Mas. Gegara kesalahanku, kamu jadi kerepotan sampai masuk DC lagi."


Tama tersenyum. "Tak, apa, Ta. Kesalahan itu wajar saja terjadi. Apalagi kamu anak baru. Dan Pak Yo, aja yang nggak sabaran," ujar Tama.


"Iya. Jujur, takut banget aku, Mas."


"Nggak usah takut," sahut Tama.


"Siapa yang tidak takut, coba. Nominal tiga kali gajiku yang menjadi selisihnya," batin Arunya. Melihat kedatangan Tama, membuat Arunya merasa bersalah kembali. "Maaf, ya, Mas."

__ADS_1


“Gak, apa, Mita. Kita kan satu team. Aku merasa harus bertanggungjawab aja,” sahut Tama atas permintaan maaf Arunya.


Arunya mengerutkan kedua alisnya merasa kata-kata seniornya begitu berlebihan. Lantas, Tama hanya membalasnya dengan terkekeh cukup keras.


Tama melihat jam waktu yang melingkar pada pergelangan tangannya. Terbesit ide berlian mengingat waktu tengah begitu larutnya.


“Mita, aku anterin pulang, ya. Udah malam, gak baik anak gadis berjalan sendirian. Kamu tunggu di dini ya, aku ambil motor dulu.” Tanpa menunggu jawaban dari Arunya, Tama segera berlari menghampiri lahan parkir tempat ia menyimpan motornya.


Arunya mengedarkan pandangannya, memindai sekelilingnya yang sudah sepi. Hanya suara riuh serangga malam yang semakin memekik pendengaran.


Pertokoan di sisi kanan dan kiri jalan pun terihat sudah banyak yang menutup lapak mereka.


Untuk sampai pada tempat kostnya ia harus berjalan sejauh 600 meter dari gedung DC, maka dengan pasrah ia hanya menunggu Tama. Menyakinkan diri bahwa ia megambil keputusan yang tepat. "Nggak apa, kali, ya. Kan, mendesak," gumamnya.


Tama tersenyum begitu mendapati Arunya masih berdiri menunggunya di luar gedung.


“Ojek, neng.”


Tama sengaja menggoda Arunya agar menampakkan senyumnya. Namun, sayangnya Arunya terlihat malas untuk sekedar menerbitkan senyumnya. Rasa lelah begitu mendoninasinya, belum lagi perasaanya masih terganggu dengan permasalahan di akhir shifnya.


“Mas, udah deh becandanya aku udah capek banget, ini,” ucapnya lesu.


“Oke. Buruan naik deh. Gak bawa helm doble aku, maaf ya,” sesal Tama.


“Iya.” Arunya segera memposiskan dirinya di belakang Tama.


Tama sengaja melajukan motornya dengan kecepatan sedang agar sedikit lebih lama bersama Arunya pikirnya.


“Mas, nanti kalau pacar kamu marah gimana?’ tanya Arunya sedikit berteriak. Ia seringkali melihat adegan pada sinetron ada seorang yang sengaja menjambak bahkan mengamuk hanya karena salah paham pada pacarnya, dan Arunya tidak mau hal itu sampai terjadi padanya.


Tama terkekeh mendengar pertanyaan Arunya. “Yang ada, malah aku yang digampar pacarmu nanti jika ketauan aku yang paksa kamu buat aku anterin.”


“Aku udah beberapa bulan ini jomblo, loh. Boleh banget jika kamu mau masuk list pacar aku selanjutnya," lanju Tama.


Ucapan Tama selanjutnya terasa begitu santai namun dalam hatinya ia sangat serius. Tiga minggu mengenal Arunya, ia sudah sangat begitu yakin akan sifat Arunya yang apa adanya.


...***...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, yeahh. Matur nuwun 🙏🙏🙏


__ADS_2