Amita Arunya

Amita Arunya
Pilihan


__ADS_3

Bab 35


Aku bilang sama ibuku, jika aku mau serius sama kamu.”


Arunya mencerna kata demi kata dari Rayyan. Ia merasa tercekat, hanya untuk menelan ludahnya sendiri terasa sulit.


“Ada apa dengan Rayyan? Apa ini sebuah ungkapan? Apa ini sebuah permintaan? Tidak. Ini pasti candaan. Tapi kenapa dia menatapku seperti itu?” batin Arunya.


“Aku pikir. Dengan mencoba berteman dengan banyak teman. Bahkan mencoba mempunyai pacar, teman dekat atau apapun jenisnya. Aku bakal bisa melupakan rasaku padamu, Runya. Tapi ternyata aku salah. Dalam keramaian aku seakan bisa terlupa sama kamu. Tapi begitu aq sendiri dalam sepi, selalu kamu yang terlintas dalam benakku.” Rayyan meunduk, menautkan kesepuluh jarinya.


“Aku memang pengecut, Runya. Baru kali ini aku bisa jujur dengan perasaanku. Dulu ... pernah terlintas dalam pikirku untuk mengungkapkan perasaanku sama kamu. Tapi, kamu seolah memberi jarak padaku. Entah sejak kapan aku punya rasa sama kamu. Aku juga nggak tahu. Jika pun ada kesempatan aku akan mengungkap hal ini, keberanianku menguap begitu saja.”


Rayyan kembali menatap Arunya yang masih terdiam.


Arunya menatap kosong rerumputan yang ia injak saat ini. Namun, pikirannya entah kemana. Ungkapan dari Rayyan, yang seharusnya membahagiakan. Menjadi tanda bahwa cintanya dulu tidak bertepuk sebelah tangan. Harusnya Arunya merasa senang. Tapi, kenapa ia hanya dapat mematung.


“Maaf, Runya. Membuatmu menunggu waktu itu. Bahkan untuk seorang pengecut seperti aku.”


Entah kenapa kalimat terahir ini membuat Arunya menitikkan air mata. “Lalu aku harus bagaimana sekarang, Ray?” lirih Arunya.


“Aku berniat melamar kamu, Runya.”


Arunya terkejut spontan menegakkan kepalanya yang sejak tadi tertunduk. “Ma- maksud kamu?”


“Iya, Runya. Aku serius ingin menguatkan rasa kita. Ibuku sangat mendukungku. Dan aku akan sangat senang jika kau mau menyambut niat baikku. Maka papa akan menyerahkan semua keputusan di tanganku.”


“Ray, kau bahkan sangat egois. Lalu bagaimana dengan seorang yang setahun ini menemaniku? Kau bahkan tidak menanyakan perasaanku!”


“Aku tahu kamu masih punya rasa itu untukku. Aku tahu, Runya! Meskipun tak seperti dulu.” Rayyan melirihkan suara di akhir ucapannya.


“Kamu, jahat. Kamu egois, Ray. Kamu tahu, susah payah aku mencoba membuka hatiku untuk yang lain. Aku sedih, bahkan kenapa aku harus mempunyai rasa itu untuk kamu. Orang yang tidak akan menyambut rasaku. Aku nggak tahu jika dulu kau-pun juga punya rasa yang sama. Lalu sekarang, kamu datang untuk memintaku menjalani hubungan yang serius denganmu. Lalu akan aku kemanakan orang yang menemaniku kali ini? Aku akan menjadi orang yang sangat jahat, Rayyan. Kamu tidak mengetahui apa yang aku lalui selama ini.”


Pecah sudah tangis Arunya kali ini. Meluapkan segala sesak di dada.


Lega, itu yang ia rasakan saat ini. Seharusnya ia bahagia cinta pertamanya terbalas. Namun, pada waktu yang salah. Ungkapan perasaan yang sangat terlambat. Saat ia tengah bersama yang lain.

__ADS_1


Rayyan pun ikut sesak melihat tangis Arunya. Ia pernah menjadi yang terdalam untuk Arunya. Bahkan namanya masih melekat hingga sekarang. Sebesar itu rasa Arunya untuknya, dan ia dengan bodohnya baru mendapatkan keberaniannya saat ini.


“Jangan menangs, Runya. Aku yakin, dulu kau pun sudah banyak menitikkan air mata untuk pengecut ini. Jangan lagi untuk sekarang Arunya. Jangan!”


“Bagaimana aku bisa menahan sakit ini, Ray? Katakan! Apapun keadannya aku akan menyakiti salah satu dari kalian. Aku nggak mau menjadi orang seperti itu, Ray. Karena aku pernah merasakan sakit itu.”


"Maaf,"


Hening. Hanya ada suara sisa isak Arunya, sesekali cuitan burung kenari yang ada tidak jauh dari mereka.


"Jika kau sesakit ini untuk memilih. Haruskah aku sekarang yang merasakan sakit ini. Asalkan bukan kamu."


“Tapi aku nggak ingin kamu tersakiti karena aku, Ray.”


Lihat, sebesar itu rasa cinta Arunya untuknya. Bahkan ia masih memikirkan perasaannya.


Rayyan semakin kagum dengan sifat Arunya yang mempunyai sifat welas asih yang begitu besar. Tumbuh besar pada kehidupan yang terbilang susah sedari kecil, membuat Arunya menjadi pribadi dengan keperdulian tinggi.


“Aku begitu percaya diri pada rasa yang tersisa darimu, Arunya. Sampai aku melupakan siapa Arunya yang kukenal.”


Bertambah rasa sesak dalam diri Arunya. Bayangan Tama dengan segala kesabarannya. Juga kemarahan dan terlukanya Tama waktu itu. Hingga berakibat kecelakaan kemarin.


Sedangkan untuk Rayyan yang mengorbankan waktunya jauh-jauh dari Riau hanya untuk mengungkapkan rasanya. Membuat Arunya di dera bimbang berkali-kali lipat.


“Arunya, sebesar apa cinta dia untukmu. Apakah dia baik? Apa dia mengutamakanmu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”


Sesak Rayyan mengucapkan hal itu. Saat ia tengah memenuhi keyakinannnya, ia harus rela bertemu dengan kenyataan yang dibenarkan langsung oleh orang yang saat ini begitu ia harapkan. Menghempaskan paksa keberanian yang ia bentuk selama ini.


Arunya mengangguk, membenarkan. “Namanya, Tama. Aditama.”


Rayyan segera mengalihkan antensinya pada apapun di sekitar. Ia segaja mengurai resahnya agar tidak terlihat oleh Arunya.


Tanpa mereka sadari Arif sedari tadi menyimak dari jauh kedua temannya. Walaupun terdengar samar. Namun, begitu cukup untuk mendengar pembicaraan keduanya.


Arif tahu permasalahan mereka. Sebelum berangkat Rayyan sudah mengungkapkan semuanya pada Arif. Tentang perasaan dan niatnya untuk melamar Arunya. Ia sebagai sahabat akan mendukung, terlebih Arif yang sudah mengenal Arunya.

__ADS_1


“Coba kalian saling jujur dari awal. Pasti semua ini tidak akan terjadi.”


Beberapa pekan yang lalu, Arif memaksa Lela-sepupunya, untuk menceritakan yang ia tahu tentang perasaan Arunya untuk Rayyan. Tidak salah pemikiranya selama ini, memang Arunya benar tengah menyimpan cinta untuk Rayyan.


Lalu, melalui sambungan telepon Arif pada Rayyan beberapa bulan yang lalu, saat Rayyan terus menanyakan Arunya. Arif sudah dapat menyimpulkan perasaan masing-masing.


Sekarang, Arif hanya dapat menghela nafas dengan cepat, mengetahui rumitnya kisah Rayyan dan Arunya. Ia tidak dapat menyalahkan Arunya dalam hal ini. Yang ia sesalkan hanya Rayyan yang terlambat untuk mengungkapkan perasaannya.


Rayyan memberanikan diri menyentuh bahu Arunya yang masih bergetar, menandakan bahwa ia tengah menangis. "Udah, Runya. Maaf , aku memaksakanmu. Tapi aku berharap kamu memikirkan lagi permintaanku. Jangan di jawab sekarang. Aku masih ada waktu tiga hari di Jawa. Jika kamu sudah dapat berfikir dengan tenang. Bilang sama aku. Aku akan menemuimu lagi.”


Arunya menunduk masih diam meredakan isak tangisnya. Rayyan berdiri kemudian berlalu. Suara burung bersiul dan gemericik air yang mengalir dari induk kolam ikan, masih mendominasi.


Tidak lama, Rayyan datang membawa tissu dan air mineral untuk Arunya. Ia segera mengulurkan tissu setelah ia kembali duduk. Meski ragu, Arunya tetap menerima dan segera menyeka air matanya.


Kemudian, Rayyan membuka penutup botol dan memberikannya pada Arunya. “Minum, dulu!”


Arunya mengedarkan pandangannya. Ketika netranya melihat Arif yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Ia menoleh pada Rayyan. “Kita gabung ke Mas Arif aja, Ray.”


Begitu mendapat anggukan dari Rayyan. Mereka mendekati bangku Arif.


“Kenapa nggak gabung, kesana, tadi, Mas? Malah duduk disini.” Arunya duduk di salah satu kursi yang terpisah. Dan berusaha menghilangkan sisa air matanya.


“Aku nggak mau mengganggu kalian.” Arif menampilkan senyuman jahilnya, sengaja menggoda Rayyan yang menampilkan wajah murungnya.


“Jadi, gimana, Run? Rayyan datang buat melamar kamu. Dia maksa pulang, hanya untuk kamu.” Seolah tahu yang dirasalkan sahabatnya, Arif paham dengan posisinya saat ini. ”Pikirkan lagi, jangan sampai kamu menyesal nantinya.”


Arunya yang melihat Rayyan hanya menundukan wajahnya kembali menampilkan wajah sendu. “Kenapa kamu harus kembali, Ray? Jika hadirmu membuatku kembali sakit, karena harus memilih,” batin Arunya.


************************


Pilihnya itung kancing baju 🤭


Atau itung ubin di lantai?atau itung THR aja??


🤭

__ADS_1


__ADS_2