
BAB 43
...***...
Suara kokok ayam mengusik pendengaran Arunya. Dinginnya udara pedesaan seolah membuat ia enggan untuk meninggalkan tempat ternyamannya saat ini, bergelung dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
Semalam setelah Arunya pulang dengan kacau, ia tidak juga cepat terlelap. Hasilnya, ia bangun ketika suara piring dan gelas terdengar beradu dari dapur.
Tergesa ia beringsut untuk turun, berjalan melangkahkan kakinya menuju dapur. Terlihat Tami sedang meniup perapian kerena api hampir padam karena kayu bakar telah keluar dari tungku.
Arunya merasa bersalah, mungkin karena ibunya tengah mencuci piring dan gelas bekas mereka makan semalam, hingga api hampir padam dalam perapian karena Tami masih fokus pada cucian piringnya.
Ya, di tempat Arunya, Tami dan beberapa ibu rumah tangga yang lain masih memasak dengan kayu bakar. Jikapun ada yang sudah memakai kompor, pasti masih kompor minyak tanah.
“Masuk apa libur, Mbak? Kalau masuk, ya siap-siap! Nanti Mas Feri mau ke Solo. Lumayan, ‘kan, bisa nebeng.” Tami melirik Arunya yang masih terduduk malas pada kursi pendek di dekat perapian, mungkin agar rasa hangat menjalar pada badannya.
Tami sudah memotong bawang putih, bawang merah dan cabai hijau, untuk ia tumis sebagai bumbu kulit buah melinjo, kesukaan Arunya.
Arunya tersenyum melihat kulit melinjo yang sudah basah karena sudah di cuci itu, “Makasih, Ibu. Tau aja, kesukaan aku.” Arunya beranjak dari duduknya, meraih handuk dan pergi untuk mandi. Setelah selesai, ia sempatkan mengetik pesan sms pada sepupunya, berharap dapat menumpang sampai ke kota.
Lalu jarinya melihat room chat dengan Rayyan. Tidak ada lagi pesan darinya. Ia yakin Rayyan telah sangat kecewa karenanya. Lalu ia teringat sedari kemarin ia hampir melupakan Tama.
Ia menyempatkan untuk menelfon Tama, tapi berkali-kali panggilan itu terabaikan. “Apa masih tidur?” monolognya.
Cekatan, jarinya mengetik pesan pada Tama. Sekedar bertanya masuk apa hari ini. Sesaat pesan itu menandakan di baca. Arunya bersiap mengemas apapun yang ia bawa pada ranselnya. Tidak banyak, hanya satu pelembab, lip tint, parfum dan bedak bayi. Ia juga mengambil beberapa potong baju dari dalam almari untuk di masukkan ke dalam backpacknya.
Arunya merasa aneh sebab tidak ada notifikasi pada HP-nya. Pesan pada Tama hanya di baca saja tanpa di balas. Lalu ia memutuskan untuk menelpon Tama.
Deg.
Nomornya sudah tidak aktif. Arunya mencoba lagi, tapi tetap sama. Hanya suara operator yang terdengar. Ia mulai merasa tidak enak dan memutuskan untuk menghubungi Bagas. Dering pertama masih berdering, tanpa tersambung. Saat ia mencoba lagi, nomornya juga sudah tidak aktif.
“Ini kenapa, sih berdua kok kompakan nggak aktif?” gumam Arunya.
__ADS_1
Hingga suara ibu mengistruksi untuk sarapan dan bergegas berangkat, karena suara motor yang sedang di panasi oleh sepupunya yang tidak jauh dari rumahnya sudah terdengar.
“Mbak, cepet ya. Itu Mas Feri sudah manasin motor!" Suara Dika terdengar semakin mendekat karena Dika tengah menghampiri sang kakak.
“Pasti Mas Feri, yang menyuruh Dika,” batin Arunya.
Saat sarapan pun, Arunya masih terpikirkan dengan dua kontak yang tengah kompak tidak aktif tersebut. Terlihat ibu telah mengemas bekal untuk Arunya. Tidak lupa menyiapkan satu bekal lain yang berisi tumis melinjo kesukaaannya.
“Arunya berangkat, ya, Bu.” Arunya meraih tangan Tami lalu menciumnya.
“Hati-hati, ya, kerjanya. Jaga diri baik-baik.” Ibu tersenyum.
“Bagi uangnya, Mbak.” Dika mengulurkan tangannya meminta uang saku seperti biasanya.
Arunya menggulum senyum pada Dika dan mengulurkan satu lembar uang. “Di hemat dan jangan lupa bantu-bantu ibu, ya!” Dika mengangguk patuh dan berlari ke dalam rumah.
Arunya melihat ibu yang terlihat sedikit resah. “Kenapa, Bu?’' tanya Arunya.
“Apa tanggapan Rayyan saat kamu menolak dia, Mbak?” tanya Tami.
Arunya tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Ia bersandar pada tiang penyangga teras rumahnya. “Rayyan sangat sedih, Bu. Bahkan ia terlihat menangis.” Arunya kembali merasakan sesak mengingat raut wajah Rayyan yang terluka.
Tiin. Suara klakson motor milik sepupunya terdengar dan memangkas pertemuan Arunya dengan Tami. Ia kembali mencium tangan ibunya dan menghampiri Sepupunya yanng sudah bersiap di atas motornya.
Di lain tempat, Tama tengah duduk di tepi kasur milik Bagas. Ia memandang kosong langit-langit kamar yang terlihat sedikit usang karena sudah waktunya di renovasi oleh pemilik kost.
“Lo, emosi sesaat. Sekarang nyesel nggak kalau udah hancur begini.” Bagas terlihat mengutak atik ponsel milik Tama yang retak sana-sini.
Sepuluh menit yang lalu saat Bagas telah selesai mandi. Ia di kejutkan oleh suara lemparan benda yang cukup keras. Dan terlihat Tama hanya biasa saja melihat ponselnya yang sudah teronggok di lantai. Apalagi setelah ponsel milik Bagas berbunyi pun, Tama juga tergesa menon-aktifkan ponsel milik temannya itu.
Bagas menahan diri untuk mencecar Tama akan kelakuannya. Melihat raut wajah Tama yang sangat suram bak langit keabuan karena mendung, Bagas terpaksa dalam mode diam, tidak ingin memperkeruh suasana.
Lama mereka terdiam dengan Bagas yang berkali-kali menggelengkan kepalanya. Meratapi ponsel Tama yang rusak.
__ADS_1
“Jika Mita nanyain aku. Jawab aja, hapeku rusak.” Tama meraih handuk pada daun pintu kost Bagas dan melesat pergi ke kamar mandi. Sedangkan Bagas hanya menghela nafas beratnya.
“Keselnya sama siapa, ngamuknya sama siapa. Malang sekali nasibmu.” Bagas mengelus layar ponsel yang retak milik Tama.
Bagas paham, kekesalan Tama akan Arunya yang pulang ke desanya. Sudah dapat dipastikan, Tama kesal karena Arunya pulang untuk menemui Rayyan.
...*** ...
Derap langkah tergesa terjadi menuju ruang boarding pass Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. “Ini kalau kamu nggak kesiangan nggak mungkin kita mandi keringat sepagi ini, Ray.” Arif menggelengkan kepala pada sahabatnya yang sedikit panik itu. Pasalnya, Rayyan juga terlambat bangun pagi karena semalaman Rayyan nyaris tidak dapat tidur.
Arif memutuskan untuk menunggu di kursi tunggu. Tidak lama, Rayyan mendatangainya dengan senyum sumringah. “Masih ok, Rif, Tenang aja.” Rayyan kembali memasukkan identitas kelengkapan pada ranselnya.
“Good luck, ya, Bro. Jika kali ini kamu ambil pendidikan lagi. Anggap hal semalam adalah kenagan buruk bagi perjalanan hidupmu.”
Rayyan mengangguk dan tersenyum. Semalam sepulangnya dari mengantar Arunya. Ia menumpahkan kesedihannya pada Arif dan Lela. Dan ia sudah memutuskan untuk menerima ini semua sebagai bagian dari perjalanan kisahnya.
“Bukan kenangan buruk. Melainkan kenangan manis. Mungkin buruk bagiku untuk saaat ini. Tapi, mungkin baik untuk masa depan bagi diriku dan dirinya. Arunya dengan kenangannya akan menjadi sejarah hidupku, kemarin, saat ini dan nanti.” Rayyan menerawang mengingat janji Arunya semalam. Ia tersenyum kecut.
“Sudah. Ikhlaskan. Siapa tahu ini menjadi titik awal kesuksesanmu.” Arif menepuk bahu Rayyan dan memeluk sekilas. “ Dah, Bro. Hati-hati. Sering-sering kasih kabar.” Arif tersenyum melambaikan tangannnya pada Rayyan yang telah berjalan menjauh.
Setelah beberapa menit, suara bising pesawat yang bergerak perlahan membuat Arif mendekat pada dinding kaca Bandara. Ia masih memperhatikan laju pesawat yang bergerak lepas landas dan perlahan melambung tinggi di udara.
Setelah puas, Arif memutuskan untuk pulang menuju Universitas Gajah Mada, tempatnya menuntut ilmu.
Sementara di halaman teras kost putri, tempat Arunya tinggal di Klaten. Seorang gadis berambut panjang tengah menantikan melintasnya pesawat yang terjadwal take off tepat jam sebelas siang ini.
Ia mendapat pesan dari Lela tentang jadwal keberangkatan Rayyan ketika dalam perjalannya tadi.Ia sengaja berdiri ketika benar perkiraannya pesawat itu dapat di lihatnya walau sudah terlihat kecil di udara.
Arunya tersenyum, dengan mata yang sedikit menyipit. Di satu ujung matanya, terdapat setitik air yang siap menetes jika ia berkedip.
“Hati-hati, Rayyan. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.”
...***...
__ADS_1
Gak rela deh, aku 😭.