
BAB 8
Sinar matahari begitu terik menyengat saat Arunya meyusuri jalan beraspal kampungnya. Meski terlihat disana-sini kerikil yang sudah tidak lagi merekat sempurna.
Lambat ia melangkah samar-samar mendengar tawa yang berasal dari rumah berpagar permanen setinggi satu meter, rumah Anna, teman sekelas Runya yang merupakan anak seorang guru tengah bersama beberapa remaja yang Arunya kenali.
Enam diantaranya ada pula Lela dan Rayyan. Mereka terlihat asik membicarakan seseuatu.
Anna yang merupakan bintang kelas tidak begitu akrab dengan Arunya yang merupakan gadis pendiam. Pergaulannya pun berbeda. Walau Anna berada di kampung yang sama, tidak membuatnya menjadi akrab kepada Arunya.
Sejak kebersamaannya di air terjun beberapa minggu yang lalu, Arunya hanya sesekali bertemu dengan Rayyan. Dia tengah fokus untuk belajar dan tidak lagi menggantikan ibu biasa bekerja. Pun dengan Rayyan, ia juga tengah memepersiapkan untuk ujian nasional.
Atensinya kembali untuk sekedar melihatnya dari jauh. Saat matanya memindai Rayyan yang tengah merangkul Anna terlihat berebut sesuatu. Tidak dapat di pungkiri sudut hatinya merasa sakit yang teramat perih.
Tidak ingin berlama-lama melihat pemandangan yang membuat sesak dalam dirinya, ia berjalan gontai memaksa kakinya untuk melangkah agar lekas ia sampai dirumahnya.
***
Suatu sore saat Arunya selesai merebus air. Ia telah mempersiapkan teko kecil untuk menyeduh teh. Mengetahui ibu akan segera pulang ia selalu melakukan pekerjaannya, yang sudah menjadi rutinitasnya. Mempersiapkan teh panas, agar ketika ibu pulang nanti tinggal menuang saja ke cangkir ibu.
Saat ia tengah menggoreng bakwan untuk lauk nanti malam, suara Dika yang tengah mengasuh terpaksa membuat Arunya mengangkat wajan di atas perapian.
Arunya segera menemui Dika yang terlihat mengibaskan tangannya.
"Ada apa, Ka?" tanya Arunya.
“Mbak, maaf hp-nya mati kena air,” isak Dika. Mengulurkan hp Nokia 3315 yang sudah memperlihatkan layar gelap.
“Ya, ampun. Dika!” Arunya memekik, tengah meluapkan kemarahannya. “Kamu tahu ini hp kesayangan, mbak! Ini hp pemberian bapak, Dika!” bentak Arunya.
Airmatanya mengalir seiring isak tangisnya, meratapi ponsel bututnya yang sudah tidak dapat dihidupkan lagi. Memorinya berputar kala Bapak pulang merantau dari ibukota membawakan hp yang telah lama ia idamkan.
__ADS_1
Bukan ponsel mahal tetapi benda pipih meski kecil itu dapat memudahkannya berkomunikasi kepada sanak saudara jika ada kepentingan yang mendesak.
Tami yang baru pulang dari bekerja pun berlari tergopoh mendengar suara keributan di ruang tengah rumahnya. Begitu sampai di ruang tengah rumahnya, Tami menemukan dua anaknya dalam keadaan menangis. “Ini, ada apa dengan kalian?” pekik Tami. Dika segera memeluk Tami agar tidak mendapat kemarahan yang kedua kalinya.
“Ibu, Mbak marah, hp-nya mati terkena air. Di-Dika gak sengaja menumpahkan minum dan mengenai hp-nya,” jelas Dika di tengah isak tangisnya.
Tami hanya menghela nafas kasar. Mau dibentak pun, Dika juga tidak akan bisa mengembalikan hp yang sudah rusak.
Sedangkan Arunya hanya dapat pasrah, sesalnya tak akan membuat hal yang telah rusak menjadi pulih kembali. Jika di perbaiki pun membutuhkan biaya yang mahal. Arunya menyadari keterbatasan ekonomi keluarganya. Berharap akan ada rejeki lebih di lain waktu. Mengingat dirinya yang akan membutuhkan biaya banyak untuk kelulusannya. Ia tidak akan tega meminta ibu untuk memiayai perbaikan hp-nya.
***
Tiba di kelas, seorang gadis remaja tinggi semampai menjadi perhatian seisi kelas. Pasalnya kecantikan yang dimiliki olehnya, membuat dirinya menjadi ketua marching band di sekolahnya.
“Hei, girls,” Anna menyapa empat sekawannya seraya mendaratkan diri di bangkunya. “Mau denger berita terbaru, gak, dari aku?”
“Mau, doong.” Keempatnya kompak mendekati Anna.
Arunya hanya memperhatikan teman-teman sekelasnya yang suka bergerombol dengan Anna. Anak famous yang terkenal karena ikut ekstrakulikuler sekolah yang sangat di banggakan.
“Siapa, An?” tanya temannya berambut ikal.
“Pasti ketua osis kita, ya, gak, sih.” Satu temannya memberi argumen.
“Pasti bukan. Bukan level Anna, tuh,” sangkal temannya yang mengenakan kaca mata.
“Tet-tot, gak ada yang bener semua. Sini, aku kasih tahu. Pacar baru aku anak SMA, loh?” ucap Anna diikuti kibasan tangan pada rambutnya, yang lurus karena direbonding.
Arunya hanya menyimak obrolan anak femes yang menurutnya menarik. Ingin sekali Arunya memiliki banyak teman seperti Anna. Namun, dia yang pendiam dan tak pandai bicara membuatnya seperti gadis introvert.
“Namanya Rayyan, nih, fotonya.” Seketika segerombol abg itu membentuk lingkaran mengelilingi meja Anna menyaksikan potret seorang anak lelaki berseragam putih abu.
__ADS_1
Jawaban Anna membuat Arunya tercengang, udara disekitanya mendadak panas. Bahkan, ruang kelas yang berukuran 7 x 10 meter pun seperti mendadak menyempit.
“Siapa aku mengharapkanmu. Nyatanya ada dia yang lebih dari segalanya.” Setetes bulir hasil dari proes kelenjar lakrimasi mata kirinya membuatnya menyeka dengan cepat dengan punggung tangganya. Menertawakan dirinya yang berharap sebuah rasa yang baru dirasakannya terbalaskan dengan rasa yang sama.
***
Suara renyah yang keluar dari speaker radio disamping meja belajar Arunya menemani sunyinya malam saat sedang belajar.
Suara yang berasal dari transmisi radio adalah satu-satunya teman bagi Arunya.
Ibu dan Dika telah lebih dulu pamit untuk tidur. Seorang penyiar radio biasanya memeperkenalkan dan membahas berbagai hal seperti musik, mengadakan wawancara yang turut melibatkan panggilan pendengar atau menanggapi pesan sms dari pendengar. Sesekali lagu sendu diputar sesuai permintaan dari pengirim sms.
Teringat akan sms, Arunya hanya dapat meratapi hp yang tergeletak begitu saja. Untuk memperbaikinya membutuhkan uang 300 ribu.
Siang tadi saat dirinya menanyakan perihal kerusakannya kepada pejaga servis hp yang terdekat dari rumahnya kisaran biaya yang harus ia keluarkan agar dapat memperbaikinya nyatanya tidaklah murah. Terlebih bagi Arunya yang hidup pas-pasan.
Arunya hanya dapat menghela nafas, saat gundah hatinya teringat akan perkataan Anna sewaktu di sekolah membuatnya bertambah sendu.
Cinta, mengapa singgah dihatiku?
Kau salah memilih tempat dan waktu
Tak tahan aku menahan rasa,
Aku tersiksa, wo, oo
Lirik lagu milik Hijau Daun, grub band asal Indonesia yang tengah berputar di radio seolah melengkapi hatinya yang tengah patah.
Perlahan Arunya terisak, memory ingatannya terbang ke dimensi saat ia berada di air terjun beberapa minggu yang lalu. Memang tidak banyak kata yang terucap dari Rayyan. Namun, perlakuan manis dari Rayyan, membuat Arunya mengartikan lain. “Ternyata, sesakit ini rasa cinta sepihak.”
"Mulai sekarang, jangan lagi berharap lebih untuk rasa suka yang sedang kamu alami, Runya." Arunya telah menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lupakan semua yang pernah terjadi. Semua hanya akan menjadi kenangan saja. Dia hanya menganggap mu teman, tidak lebih. Ingat hal ini, Arunya." Arunya menghapus kasar air matanya yang terus mengalir.
.