Amita Arunya

Amita Arunya
Hujan


__ADS_3

BAB 25


Arunya berjalan cepat mencari tempat berteduh. Hujan yang begitu deras disertai gemuruh petir membuat Arunya mengurungkan niatnya untuk menerobos hujan.


Ia sedikit menyesal karena entah untuk kesekian kalinya ia menolak ajakan Tama yang tengah berniat mengantarnya pulang.


"Duh, udah sepi begini," gumam Arunya.


Kedai seafood yang belum di buka oleh pemiliknya menjadi pilihannya untuk berteduh. Ada kursi dari kayu sepanjang 1,5 meter disana. Arunya memutuskan untuk berteduh sebentar, menunggu hujan sedikit reda.


Sejurus kemudian hadirlah dua orang pemotor yang ikut berteduh disana. Arunya yang sendirian disana, begitu merasa gelisah. Terlebih saat salah satu pemotor berbasa-basi pada Arunya. Ia mencoba untuk bersikap tenang. Gawai yang sedari tadi ia matikan perlahan mulai ia aktifkan kembali.


Berusaha tenang, Arunya menekan asal nama kontak pada gawainya. Saat salah satu dari lelaki dengan jaket kulit dan kaca mata hitam bertengger pada pangkal hidungnya tengah menodongkan sebuah pisau kecil pada Arunya. "Serahkan tas, lo."


Arunya yang begitu panik sontak ia berteriak meminta tolong sembari memeluk tas ranselnya. Hujan yang begitu deras seakan menenggelamkan suara teriakan Arunya.


Posisi mereka berpindah, lelaki yang tadi menodongkan pisau berganti mengawasi pintu


masuk kedai.


“Lo, diem. Nyawa lo aman. Tapi jika lo kembali berteriak gue pastikan lo bakal habis disini.” Lelaki bertubuh kurus dengan anting hitam pada salah satu telinganya tengah mengancamnya, bahkan kedua tangannya berusaha merebut ransel Arunya.


“Buruan, be-go.” Lelaki bertubuh gempal menghampiri temannya yang tengah mengancam Arunya.


“Tolong jangan ganggu saya. Sa-saya tak membawa barang berharga apapun.” Badan Arunya bergetar menahan rasa takutnya. Ingin rasanya ia berlari saja menerjang hujan mengabaikan ransel yang masih ia pertahankan. Ia yang baru menarik uang tunai dari mesin ATM untuk ia pergunakan membayar kost beserta kebutuhan lainnya, merasa harus mempertahankan yang ia punya.


Kakinya seolah tak mampu ia gerakkan. Celana jeans beserta seragamnya bahkan sebagian telah basah karena ia tengah berada di teras kedai. Semua begitu cepat saat ia tiba-tiba telah jatuh tersungkur. Dengan rasa sakit pada bagian lengannya. Kesadarannya bahkan masih terjaga saat kedua lelaki tengah melajukan motornya kembali dengan membawa semua barang bawaanya. Ransel berserta gawai miliknya raib.


Merasakan perih pada lengannya, perlahan Arunya meraba untuk meminimalisir rasa sakitnya. Saat tangannya tengah basah oleh warna merah pekat, mendadak semuanya menggelap.


***


Dering pertama sambungan telefon langsung di angkat oleh pemiliknya. Tama yang baru mendaratkan bokongnya pada kursi kayu teras kamar kostnya, bedecak. Namun, ia segera menekan tombol hijau pada ponselnya.


Adit : “Bang. Kamu lagi sama Arunya gak?’


Tama : “Enggak. Kenapa memang?”


Adit : Begini tadi gak biasanya dia telfon aku, tapi aku nggak begitu jelas karena mungkin di sana masih hujan, kan, diluar. Trus selanjutnya ada teriakan minta tolong. Aku yakin deh Arunya ... (tuuuut).

__ADS_1


Belum sempat Adit menyelesaikan bicaranya, panggilan ditutup secara sepihak oleh seniornya.


Sementara di seberang sana Tama segera menyambar helm dan kunci motornya. Lalu melajukan motornya. Perasaanya sudah tidak karuan. Ia bahkan lupa caranya beristigfar dan yang keluar hanyalah umpatan saat pengendara lain seolah menghalangi jalannya.


"Tama. Be-go! Kenapa tadi nggak lo, tungguin dulu!" Tama mengumpati dirinya sendiri di atas motornya yang tengah melaju di antara derasnya hujan.


Tujuan nya adalah kost Arunya. Namun, baru sampai melewati seratus meter dari pintu masuk tempatnya bekerja. Tepatnya, sebuah kedai yang biasa buka menjelang magrib tengah banyak orang, perasaannya kian kacau.


Ia memutuskan untuk berhenti. Memarkir asal motornya lalu membelah kerumunan beberapa orang yang ia yakini sebagai pemilik kedai karena terlihat dari pakaian yang dikenakan.


Deg ...


“Mita...”


Beberapa orang lalu memastikan kepada Tama jika yang mereka temukan adalah temannya.


"Pak, Bu. Ini teman saya. Bisa minta tolong untuk panggilkan angkot atau apapun. Saya harus membawanya ke klinik terdekat, Pak."


...***...


Manik mata lentik terlihat bergerak lemah, disusul pergerakan tangan lemah yang menyentuh keningnya.


Perlahan Arunya membuka mata beratnya begitu mendengar suara yang sudah tidak asing baginya. Pemandangan pertama begitu ia membuka mata yaitu sebuah ruangan bercat putih lengkap dengan berbagai bau desinfektan dan alkohol. Lalu ia mengedarkan pandangannya pada lelaki yang tengah menggenggam tangannya. “Mas,”


"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Tama yang berdiri di samping brankar Arunya.


"Aku... sedikit pusing, Mas." Arunya menekan pelipisnya.


“Jangan banyak bicara dulu, jangan di paksakan, Kamu udah aman sekarang.”


Arunya memejamkan matanya mengingat dirinya yang berakhir pada sebuah ruangan yang ia yakini adalah sebuah klinik. Ia ingat terakhir kali saat kedua lelaki tengah membawa barang bawaannya.


“Kenapa kamu bisa disini, Mas?” Tanya Arunya begitu kesadarannya kembali. Ia merasakan rasa sakit pada lengannya.


“Karena, aku harus ada disini .” Tama semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sebelah tangan Arunya. Ia tersenyum lega, Arunya telah menunjukkan perkembangan yang baik.


Yang ia tahu Arunya begitu kehilangan banyak darah karena goresan pisau pada lengannya. Meski lukanya tidak bbegitu dalam, penanganan pertama terpaksa dijahit untuk menutup lukanya.


Tama menjelaskan sebab dirinya yang berada disini, dari sambungan telefon dari Adit hingga ia menemukan Arunya yang telah di kerumuni para pegawai kedai seafood. Ia juga sempat menitipkan sepeda motornya pada kedai, Sebelum ia membawa Arunya dengan taksi dengan di antar salah satu pegawai kedai yang menceritakan kronologis kejadian.

__ADS_1


Dari cerita Arunya, Tama tahu jika gadis yang ia suka ini sangat takut melihat darah. Hingga ia berakhir pingsan karena tekanan darahnya begitu rendah.


***


Arunya yang tengah mendapat izin dari kantor. Selama tiga hari ini ia pergunakan untuk beristirahat di dalam kamar kostnya.


Saat Arunya mengingat Asih yang begitu mendapati dirinya diantar oleh Tama terperanjat lalu sembari memeriksa luka Arunya dan terus mencecar Arunya dengan kekawatirannya. Ia merasa bersalah.


Tinggal bersama Asih yang hampir satu tahun berlalu, membuatnya serasa mendapat saudara baru. Celotehnya seakan mirip dengan ibu bila sedang mengomel.


Hingga saat Asih mengungkapkan bahwa semua biaya ditanggung oleh Tama dan segala surat-surat yang hilang telah di urusnya. Ia kembali diliputi rasa bersalah dan juga menyesal.


“Orang yang patut di perjuangkan adalah dia yang bersama kita saat kita susah.” Ungkapan Asih sebelum ia berpamitan untuk bekerja pagi ini, kembali berputar dalam benak Arunya.


Jarinya tergerak untuk meraih ponsel baru pemberian dari Tama kemarin. Ia masih merasa tidak pantas menerima ini semua, di samping dia yang sering mengecewakan Tama.


Ia putuskan untuk mengirim pesan pada Tama.


Arunya : Maaf mas, aku nggak bisa terima HP ini.


Tidak begitu lama, Tama pun membalas pesannya.


Tama : Mita, aku tahu kamu butuh itu. Udah, kamu terima aja. Aku iklas. Lagian itu hanya Hp second, Mita.


Arunya: Meski begitu, aku nggak bisa nerimanya , Mas.


Tama : Kamu nggak usah risau, Ta.


Arunya: Mas, sejujurnya aku membutuhkan HP, ini. Tapi aku nggak mau terima cuma-cuma. Aku mau mencicil tiap bulannya."


Tama : Ta, itu cuma HP second bukan barang baru. Kenapa kamu bandel banget, sih.


Arunya: Iya mas, aku putuskan untuk mencicil tiap bulan nanti.


Tama : Ya.


Menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Baiklah, mulai saat ini, aku akan memulai cerita baru dengan Mas Tama dan mengubur rasa yang terisa di dasar hatiku."


...***...

__ADS_1


__ADS_2