Amita Arunya

Amita Arunya
Terimakasih Arunya


__ADS_3

Hari telah berganti begitu cepat. Arunya kini telah kembali bekerja ke DC dari bergabungnya dengan team GO. Seperti kata Tama, menjadi team GO sangat menguras tenaga pikiran dan juga mental. Arunya di tuntut tahan banting, apalagi pembukaan outlet baru itu tidak seenak menempati outlet yang sudah jadi.


Mengerahkan tenaga untuk penyiapan rak-rak. Pemasangan tata letak sesuai prosedur dari kantor. Barang yang datang juga begitu banyak, lalu mendisplay sesuai planogram dari kantor. Bisa di bayangkan betapa lelahnya pekerjaan ini.


Meski begitu, ia banyak mendapatkan teman baru. Tidak jarang ada yang satu-dua orang yang tertarik pada Arunya. Ia sebisa mungkin bersikap biasa dan tetap friendly agar tidak terkesan sombong.


Pernah suatu ketika Arunya ikut team ke perbatasan kota Semarang, tepatnya di kota B. Tama diam-diam mendatanginya. Kejutan dari Tama sedikit mengobati rasa rindunya. Karena ia tidak mungkin menemuinya dalam waktu yang lama. Satu jam, waktu yang sangat singkat nan berharga untuk orang dengan tingkat cemburu yang tinggi seperti Tama. Cemburu pada pekerjaan.


Pergi makan berdua atau sekedar berbincang di cafe atau angkringan, bagi Arunya itu sudah lebih dari cukup.


Saat Tama mengungkapkan keseriusannya untuk melamar Arunya, saat itu ia kembali yg teringat dengan janjinya pada seseorang. Arunya berusaha memberi alasan untuk mengulur waktu, ia memberikan alasan yang masuk akal agar Tama tidak kecewa.


Delapan bulan sejak kepulangan Rayyan waktu itu, akhirnya kabar yang yang ia tunggu sekaligus yang ia sangat harapkan datang juga.


Rayyan memberi kabar pada Lela jika ia telah melangsungkan pernikahan dengan sepupu jauh saudara iparnya. Lega sekaligus rasa yang sulit di jabarkan mendera Arunya kembali saat itu.


Entah seperti apa yang ia rasakan. Namun, setitik air matanya mengalir sewaktu Lela mengirimkan satu foto pada ponselnya.


"Rayyan, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. Segala kebaikan dengan rumah tanggamu semoga di berkahi oleh Allah.Amiinn." Arunya berucap tulus.


Tentang cinta, harapan dan kenyataan yang di lalui Arunya semuanya sudah terjadi. Ia tidak bisa berusaha lebih dari ini. Bahkan cita-citanya tidak dapat ia raih, dapat kuliah agar dapat memenuhi kriteria sebagai guru, seperti yang ia cita-citakan.


Tama yang paling menguatkan dalam hal ini. Arunya bisa saja kuliah. Dengan ibu yang akan membantu biaya kuliah tentunya. Namun, bagaimana cara ibu mengusahakan uang berjuta-juta itu sedangkan kebutuhan tidak hanya biaya kuliah semata. Kebutuhan harian juga praktikum pasti sangatlah besar. Belum lagi biaya sekolah Dika yang hendak memasuki Sekolah menengah pertama. Pasti akan ada banyak biaya yang ibu tanggung.


Pedih, Arunya membayangkan usaha ibunya yang seorang diri itu membiayai kedua anaknya. Dengan berat hati Arunya memupus harapan yang ia impikan sejak masih sekolah dasar itu.


Enam bulan sejak pernikahan Rayyan, akhirnya Arunya baru dapat menyetujui permintaan Tama dan memutuskan untuk berumahtangga di usia yang ke-20 tahun.


Lela juga sudah mempunyai satu anak lelaki yang amat menggemaskan.


"Siapa namanya, La?" tanya Arunya. Ia menimang bayi gembul itu seraya menciumi pipinya.


"Runya, ih. Entar dia bangun. Aku nggak bisa me time inih," sungut Lela pura-pura kesal.


"Habis menggemaskan," sahut Arunya.

__ADS_1


"Eh, kamu kapan nikah? Rayyan udah mau punya anak loh," goda Lela. Namun, perihal Rayyan yang akan mempunyai anak bukanlah hanya candaan.


Hal itu membuat Arunya tercubit. Tapi setelahnya ia dapat tersenyum karena kepulangannya kali ini adalah untuk memberi tahu Lela untuk rencana pernikahannya dengan Tama.


Ia telah lega, seorang yang dulu pernah tersakiti olehnya telah menemukan tambatan hatinya dan kini ia akan menjadi seorang ayah. Doa tulus ia lantunkan di sela doanya yang lain. Doa kebahagiaan untuknya dan untuk Rayyan.


Berbagai persiapan dapat berjalan dengan lancar. Ibu di bantu oleh adik-adik almarhum bapak mempersiapkan semuanya. Untuk dekorasi ataupun surat undangan, sudah ada sepupu yang membantu mencarikan. Hampir semua keperluan telah berjalan dengan baik.


Tama menyempatkan berkunjung ke Klaten untuk mengajak Arunya memilih sendiri bahan kebaya yang ia inginkan. Pasar Klewer dan Beteng trade center (BTC) yang terkenal di kota Solo itu menjadi pilihan keduanya.


Sesekali pendapat mereka berbeda. Namun, selalu saja Arunya yang mengalah. Arunya ingin tampil sederhana saja. Ia banyak menolak usulan Tama bila barang yang di pilihnya terlalu mahal.


"Untuk orang istimewa, tidak akan menjadi mahal, Sayang. Aku ingin kamu tampil semakin cantik di hari istimewa kita."


Bila mantra itu sudah keluar dari mulut Tama, maka Arunya hanya bisa diam mengiyakan.


Berbagai bahan kain tile dan broklat serta kain batik sudah ia dapatkan. Untuk sendal, tas dan beberapa jenis hantaran yang lain, Tama sudah memilihnya sendiri. Antusias Tama sungguh membuat Arunya merasa tersanjung melihatnya.


Semakin hari mendekati hari H. Arunya kembali terusik dengan pesan masuk tanpa nama dan memutuskan untuk menemui Lela. Isi pesan berupa kata-kata yang sangat cukup dalam dan penuh arti.


Lela menggul*m senyumnya. Dia sudah dapat menebak pesan dari siapa yang Arunya tanyakan. Pasalnya, saat Arunya mencoba membalas pesan itu. Nomornya sudah tidak aktif lagi. Dan satu nama yang dapat ia simpulkan untuk hal ini. Rayyan.


"Kamu pasti bisa menebak siapa pengirimnya, Run," ujar Lela.


"Ya, mungkin memang dia, La. Tapi ini seperti tidak adil. Dulu tidak ada kesempatan buat aku untuk mengucapkan sepatah kata pun. Nomornya selalu berganti. Bila ku dapatkan nomornya pasti sudah tidak dapat di hubungi lagi. Pun ketika dia mengabarkan pernikahannya, pastilah hanya pada Arif atau kamu. Dia benar-benar menjaga jarak denganku, La."


"Kita tidak tahu apa yang sedang ia lewati, Run. Mungkin ini yang terbaik untukmu dan untuknya."


"Ya, benar."


*


Hari ini tanggal 21 Desember 20xx, Arunya telah resmi menyandang status baru sebagai seorang istri dari Aditama Setya. Ia sungguh terharu perjalanan hidupnya sampai pada titik ini. Menikah di usia muda, di saat umurnya baru menginjak 20tahun.


Asih dan teman-teman dari DC Semarang dan Klaten tidak dapat hadir semua. Namun, mereka tidak lupa mengucapkan selamat dan doa-doa pada Arunya.

__ADS_1


"Duh, yang udah jadi istri orang. Pasti bakal ninggalin aku, nih."


"Nanti, temen tidurnya bukan Asih lagi, tapi suami tercinta."


"Gimana semalam? Lancar? Boleh cerita dikit nggak buat bocoran ke aku,"


Kata candaan dari Asih membuat Arunya tersipu, dalam sambungan teleponnya. Untung saja Arunya menghubungkannya dengan headset yang di pasangkan di telinganya. Jika tidak godaan demi godaan yang Asih katakan dapat terdengar dengan jelas oleh Tama yang masih bergelung di bawah selimut.


Arunya sendiri sedang berkemas baju-bajunya dan baju milik Tama yang akan ia bawa nanti kembali ke Klaten. Cuti hanya empat hari yang dapat di ACC oleh HRD, jadi dengan segera Arunya kembali pada rutinitasnya.


Suara tawa dan pembicaraan di samping Tama sedikit mengusik waktu tidurnya. "Jam berapa, sih," gumam Tama.


"Hampir jam enam, Mas,"


Tama duduk masih mengumpulkan kesadarannya. Ia tersenyum jahil pada Arunya yang sudah bersiap mengemas perlengkapannya. Lilitan handuk pada kepala Arunya membuat Tama semakin menyunggingkan senyumnya.


"Selamat pagi, istriku."


Arunya berjingkat saat ia mendapatkan rengkuhan dari belakang tubuhnya. Apalagi ketika Tama sedikit memberi kec**an singkat di leher Arunya.


"Apa, sih, Mas," jawabnya malu-malu.


Arunya segera menutup perbincangkan dengan Asih. Dan kembali pada Tama, suaminya. Status baru yang ia lakoni saat ini sungguh menjadi titik awal ibadah terlama bagi Arunya. Tugas baru dan kewajiban baru kini telah menanti Arunya. Ia sudah tidak dapat terbebas seperti sebelumnya. Kini, Tama lah yang bertanggung jawab sepenuhnya dengan hidup Arunya. Apapun yang akan ia lakukan haruslah dengan ijinnya, karena ijin suami merupakan ridho Allah pula untuk Arunya.


"Aku nggak nyangka, orang ini bener-bener menjadi milikku sekarang. Dulu, fotonya saja yang bisa aku lihat. Sekarang orangnya bisa aku peluk kapan saja aku mau."


Tama semakin mengeratkan pelukannya pada Arunya.


"Terimakasih Amita Arunya, sudah memilihku dalam hidupmu."


..._End_...


*************


Terimakasih kepada teman-teman yang sudah berkenan mengikuti Arunya hingga akhir. Pokoknya terimakasih banyak, maaf tidak dapat menyebutkan namanya satu per satu.

__ADS_1


setelah ini, dapat berlanjut ke cerita aku yang ke dua yah, TAKDIR CINTA MIANA. di Noveltoon juga. masih geratis juga. 😍😍😍😍 Saranghae semua.❀️


__ADS_2