
BAB 10
***
Sehabis solat subuh berjamaah juga mengikuti kultum, Lela merengek kepada Arunya untuk bergabung ikut serta jalan pagi bersama remaja lainnya.
"Ayo, donk, Run. Sekali-kali, lah. Ikutan!" Lela menarik tangan Arunya yang terlihat enggan.
Berkali-kali Arunya menolak untuk ikut, kali ini Arunya merasa tak enak hati. “Baiklah,” jawab Arunya.
Lela tentu senang bukan main, pasalnya Arunya jarang sekali ikut bergabung karena selalu langsung pulang dengan alasan banyak pekerjaan. Nyatanya, Arunya hanya memangkas jarak kepada Rayyan. Tak ingin Rayyan dalam masalah bila berteman dengannya, seperti kata Anna waktu itu.
Arunya begitu menutup diri saat satu bulan yang lalu Anna datang kerumahnya.
“Kamu suka sama Rayyan, Run?” tuding Anna.
Melihat wajah tak bersahabat Anna, membuatnya menggelengkan kepala, “Tidak,” katanya lirih.
“Baiklah, bagus dong karena kamu gak suka Rayyan mending kamu jauhin dia deh. Karena kamu ikut main bersama Rayyan kemarin, Rayyan jadi ribut besar sama papanya.” Anna mengulang kembali gertakannya.
Sejak saat itu Arunya sengaja menjauh dari Rayyan, menjaga perasaan ibunya dan sengaja memangkas jarak agar tak menjadi bahan gunjingan tentangnya.
***
Jalan pagi bersama remaja yang lain nyatanya membuat pikirannya terhibur, banyak anak kecil yang suka memainkan petasan dengan cara dibanting.
Adapula remaja yang suka menyalakan petasan dengan cara di nyalakan api pada sumbunya lalu jika sudah terlihat percikan api maka selanjutnya keluarlah bunyi yang sangat menggelegar disertai berhamburnya potongan kertas.
Semua itu tentu dalam pengawasan orang dewasa. Suka cita tampak dari wajah mereka.
Arunya, Lela dan remaja perempuan lainnya termasuk Anna, bercanda bergurau atau sekedar membicarakan menu berbuka atau sahur masing-masing.
Menyusuri jalan raya sepanjang 500 meter lalu kembali lagi ke ujung gang kampungnya.
Meski Anna yang mendominasi dengan banyak cerita, Arunya hanya meresponnya dengan senyum dan menjawab seadanya.
Pembawaanya yang pintar bergaul membuat Arunya merasa tidak percaya diri dan hanya diam jika sedang bersama Anna.
Saat mendekati gapura di ujung gang kampungnya, Arunya mendengar sayup-sayup suara remaja yang beramai-ramai bersenandung diiringi suara gitar yang selaras dengan syairnya.
Benar saja, ada Arif, Rayyan dan beberapa remaja lainnya yang sedang menyanyikan lagu yang sedang top di berbagai media.
Ku berjalan, berjalan memutar waktu
Berharap temukan sisa hatimu,
__ADS_1
Mengertilah ku ingin engkau begitu
Mengerti, kau di dalam hatiku
Tak bisakah kau menungguku, hingga nanti tetap menunggu ...
“Gak usah ditunggu, aku udah disini, ciiieeeee ...” kelakar Anna.
Beberapa remaja perempuan ikut bergabung duduk beralaskan sandal masing-masing di sisi kiri dan kakan gapura.
“Dih, pede amat, Na!” Remaja berambut ikal melempar bekas mercon yang tidak berhasil di ledakkan.
“Harus pe-de, donk.” Anna mengibaskan rambut panjangnya yang segaja digerai. Menampilkan betapa indahnya rambut yang baru beberapa hari yang lalu di rebonding.
Semua remaja laki-laki yang sedang bersenandung disana merasa kehilangan fokusnya dan berakhir menghentikan aktivitasnya.
Beberapa diantaranya sengaja menggoda Anna. Sisanya bercerita ala kadarnya.
Merasa tidak nyaman, Arunya berniat untuk pulang lebih dulu. ”Aku duluan, ya, semua," pamitnya kepada seluruh pemuda yang berjumlah 10 orang yang ada disana.
Arunya menyempatkan untuk mengedarkan pandangannya kepada mereka yang kebanyakakn lebih tua darinya, sebagian dari mereka tengah bersekolah di SMA dan Universitas.
"Ngapain buru-buru pulang, sih, Nya."
"Banyak kerjaan, ya, Run?"
Berbagai basa-basi dari teman-temannya tidak mengurungkan niat Arunya.
Ia gegas melangkahkan kakinya menjauh dari gapura kampungnya, tempat mereka sejenak berkumpul.
Arunya yang tengah berjalan pulang tak hentinya berseri. Saat menangkap Rayyan yang juga tengah merespon sewaktu ia pamit kepada yang lain. Walau hanya sedikit menarik sudut bibirnya, nyatanya itu sudah membuat efek besar bagi Arunya.
‘Kenapa gak dari kemarin-kemarin saja sih meluangkan waktu jalan pagi setelah subuh begini,’ monolog Arunya.
***
Suara takbir telah menggema di seluruh dunia. Hari raya yang akan dilaksanakan besok pagi, sebagai tanda hari kemenangan akan ibadah kita selama satu bulan menunaikan ibadah puasa.
Usai solat magrib berjamaah dengan ibu dan adiknya, Arunya melihat ibunya terdiam cukup lama. Arunya yang melihat punggung bergetar ibunya segera memelukknya dari belakang.
Arunya memahami ibunya tengah teringat akan bapak yang telah lebih dulu berpulang. Hari raya sangat identik dengan permohonan ampuan atas dosa dosa yang telah berlalu termasuk untuk mendoakan orang terdekat yang lebih dulu berpulang.
Kesedihan tak dapat disembuyikan lagi, keluarga yang sudah tak lengkap ini begitu merindukan sosok yang penyabar almarhum bapak.
Setelah solat ied yang dilaksanakan di masjid, Arunya bersama ibu dan Dika segera berziarah ke makam almarhum bapak.
__ADS_1
Selesai merapal doa-doa didepan makam bapak, Arunya segera menabur bunga di atas pusara sang ayah.
“Buk, kenapa harus ditabur bunga?” tanya Dika kepada Tami.
“Harapannya melalui bunga ini, dosa-dosa bapak dapat segera di hapuskan seiring mengeringnya bunga ini nantinya. Ibu mengusap pelan kepala Dika seraya tersenyum.
Arunya yang melihat Ibunya sudah kembali tegar seakan lega. Walau dirinya juga tengah sibuk menghentikan laju air matanya.
Ikhlas, satu kata yang sangat mudah untuk di ucapkan, namun akan berat jika dilakukan. Seiring berjalannya waktu ikhlas akan ringan dengan sendirinya.
Aunya yang berjalan tertinggal dari Tami dan Dika, masih sibuk menghilangkan tanah liat yang menempel pada alas kakinya.
Saat dirinya hendak kembali menyusul langkah ibunya, sebuah suara yang sudah lama ia hindari menyambutnya. “Hai, Runya,” sapa Rayyan. “Mata kamu merah. Kamu nangis.” lanjutnya.
Arunya segera menggelengkan kepalanya cepat.
“Nama kamu Amita Arunya, yang artinya sinar matahari tanpa batas. Matahari akan tetap bersinar meski terhalang bayangan bumi, menjadilan malam pada bumi. Jadi, tunjukkan dirimu seperti halnya matahari yang tak akan meredupkan sinarnya.”
Arunya tertegun sejenak lalu mengangguk pelan. “Iya, Ray. Makasih, ya.”
Rayyan teringat akan tujuannya. Setelah melihat Arunya yang masih di sisi gerbang pemakaman umum. Rayyan menepikan sepeda motornya di sisi jalan dan bergegas menemui Arunya. “Mohon maaf lahir batin, ya.” Rayyan mengulurkan tangannya pada Arunya.
Senyum tipis Arunya berikan akan permintaan maaf lahir batin yang menjadi tradisi hari lebaran. Arunya segera di menyambut tangan Rayyan. “Mohon maaf lahir batin juga, Ray.” Arunya lantas segera melepas jabatan tangannya.
“Nomor kamu tidak pernah aktif, Runya?” tanya Rayyan.
“Hp aku rusak, Ray,”
“Bukan sengaja menghindari aku kan?” tanya Rayyan.
Itu salah satunya, Rayyan. Sayangnya itu hanya ada dalam batin Arunya.
"Kamu dari mana?" tanya Arunya.
"Dari cari sesuatu ke toko. Sayangnya hampir semua pada tutup karena hari raya."
Arunya tersenyum. Ia beranikan diri untuk menatap Rayyan. "Aku duluan, ya," pinta Arunya.
"Buru-buru banget, ya?" ujar Rayyan.
"Aku harus pergi, Ray. Daa." Arunya melambai pada Rayyan dan berlari kecil. Meninggalkan Rayyan yang masih terdiam melihat Arunya yang semakin menjauh.
***
Jangan lupa kasih dukungannya, ya , friend🙏🙏
__ADS_1