
BAB 42
“Aku seperti sedang membuka kenangan lama, yah!”
Mendengar itu hati Arunya mencelos. Antara malu, sedih, lucu. Semua berbaur menjadi satu.
‘'Mau dengar lagi?” tawar Rayyan dan segera di respon anggukan dari Arunya. Membuat darah Rayyan berdesir, ia seolah sedang di tuntut untuk mengorek lembaran lama kembali.
“Baiklah..” Rayyan menarik nafas sekuatnya lalu mengembuskannya perlahan. Menarik senyum sedikit.
“Makin ke sini, makin kita besar, hingga kamu SMP aku sadar kamu memiliki rasa sama aku. Benar, ‘kan?” tanya Rayyan.
Pertanyaan ambigu kembali di layangkan untuk Arunya yang menahan perang batin dalam dadanya. Arunya seolah sedang di sidak habis rahasianya yang selama ini ia simpan.
“Ehemm,”
“Suit-suit.”
“Dunia milik berdua. Anggep aja yang lain cuma ngontrak, ya.”
Candaan dari teman-teman membuat Rayyan terkekeh. Namun, membuat Arunya salah tingkah.
Hemmm padahal serasi, yah. Sayang sekali. 🤭✌️✌️✌️✌️
Rayyan menikmati moment ini. Dalam hati ia sangat menyayangkan kenapa dulu ia tidak seberani ini mengungkap semua. Sehingga takdir tidak akan menjadi sesulit ini.
“Masih ada lanjutannya?” tanya Arunya.
“Kamu masih penasaran?’ tanya Rayyan balik. Membuat Arunya tergagap bingung harus menjawab apa.
Terdapat jeda beberapa detik. Sesekali Arunya menarik sudut bibirnya, saat kenangan mencuri pandang melintas di benaknya.
“Arunya. Tapi si bodoh yang kamu anggap pintar ini nyatanya tidak punya keberanian. Malah, seringkali membuatmu kecewa. Aku sadari saat kamu tidak pernah merasa nyaman jika ada aku. Juga kelakuanku yang tanpa sengaja, yang pasti banyak membuatmu kecewa. Sampai aku terlambat menyadarinya.“
Rayyan meraih kacang yang ada dalam nampan, memilin kacang dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Tentu saja hal itu untuk mengurai perasaan kacaunya. Sementara Arunya diam menunduk memerhatikan ujung jari kakinya. Mereka sedang dalam pikiran masing-masing.
“Arunya, dulu... sempat aku berfikir untuk mengajakmu berkomitmen, sebagai pacar pada umumnya. Tapi, setelah aku berfikir. Itu sama saja hanya akan menyakiti perasaanmu. Karena pada akhirnya aku akan meninggalkanmu di sini. Pasti kamu akan sedih. Apalagi berpacaran jarak jauh hanya akan menyiksa. Dan aku nggak mau itu terjadi.”
Arunya meremas kedua tangannya, sesak kembali menderanya. Kepingan-kepingan masa lalu kembali berputar dalam benaknya, saat berkali kali menepis perasaannya.
“Sekarang, aku di sini. Ternyata sudah sangat terlambat. Dan aku menyesalinya. Sangat, Arunya.” Rayyan menunduk memalingkan wajahnya pada sisi yang berbeda dari Arunya. Lega saat ini yang Rayyan rasakan.
“Ray. Aku sungguh minta maaf.”
“Satu alasan, Arunya. Beri aku satu alasan kenapa kamu memilihnya?” tekan Rayyan. Ia kembali menatap tajam pada Arunya.
Arunya tercekat. Lalu menundukkan pandangannya. Tidak mampu melihat mata Rayyan yang banyak menyimpan kekecewaan.
“Dia ada di sini. Dan kau tidak ada di sini.”
“Jadi, tentang jarak?”
“Juga tentang jarak yang lain, Rayyan.”
"Jarak kasta kita." batin Arunya.
__ADS_1
“Apa yang kamu sembunyikan?” tekan Rayyan.
Arunya begitu menyimpan teka-teki yang membuat Ryyan tidak dapat mengerti.
“Tidak ada, Rayyan. Aku hanya ingin kamu menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan menurut pada mereka.”
“Tentang papaku? Aku yakin, papa akan menyetujuinya, Arunya.” Rayyan masih berupaya untuk meyakinkan Arunya.
Sampai saat ini, Wijaya masih bersikap biasa. Tidak ada larangan seperti dulu lagi. Saat ini Wijaya seolah memberi ruang pada Rayyan untuk bergerak sesukanya.
“Rayyan. Aku harap kita akan seperti ini selamanya. Tetap menjadi teman baik. Aku akan mendukungmu dari sini, Rayyan. Kerjalah lagi cita-citamu dan suatu saat buktikan pada semua jika kamu mampu, menjadi kebanggan semua.”
“Arunya. Kamu yakin ini keputusanmu?” hardik Rayyan.
Entah mengapa Arunya merasa berat untuk mengiyakannya. Seolah masih ada bongkahan batu yang menghalangi keputusannya.
“Diammu, aku anggap iya.” Rayyan berdiri dan meraih tangan Arunya untuk ikut bergabung pada teman-temannya. Rayyan sudah kalah, ia akan mengiklaskannya, perlahan.
“Udah selesai mojoknya?” tuding Gilang.
“Wih, sepertinya cinta lama belum kelar, ini,”
Celoteh berisi candaan menyambut Arunya dan Rayyan yang telah mendaratkan masing-masing tubuhnya pada tikar yang sejak tadi sudah di gelar di tengah halaman.
Rayyan meminta gitar pada temannya di susul dengan petikan senar gitar untuk mengiringi nyanyian receh mereka. “Akan aku gunakan malam ini untuk mengakhiri kebersamaan kita, Arunya. Aku akan membentuk kesan yang paling manis di ujung kekalahanku,” batin Rayyan.
“Kalian tidak berantem , ‘kan,” tanya Lela berbisik.
Arunya menggeleng pelan. Sudut matanya melirik Rayyan yang terlihat santai memainkan alat musik yang sejak dulu menjadi kesukaannya.
Saat manik mata Rayyan dan Arunya bertemu, keduanya lalu segera menunduk atau mengalihkan pandangan ke lain arah. Rayyan dan Arunya sama-sama kacau.
Semakin Arunya sadari lantunan lagu yang mereka nyanyikan adalah lirik lagu patah hati. Ia tidak merasa terhibur sama sekali malah semakin sesak mendera dalam dadanya.
Arunya tidak kuat lagi, berbisik pada Lela jika ia akan pulang. Namun, respon Lela menunjukkan ketidakrelaanya.
Hingga Rayyan mengangkap tingkah Arunya, dan menghentikan melodinya. “Mau pulang?’' tawar Rayyan.
“Iya, nih. Nggak asyik, Runya. Masih jam sembilan juga, buru-buru pulang.” Lela menyahut cepat.
“Biar aku yang antar. Ayo!” Rayyan bangkit dari duduknya di ikuti oleh Arunya yang segera mendapat candaan dari teman-teman yang ada di situ.
Keduanya kini sudah berjalan beriringan. “Jalan pelan-pelan saja, ya!” Rayyan benar-benar ingin menikmati sisa kebersamaanya kali ini.
Keduanya merasa de-javu mengingat ini kali kedua mereka jalan berdua di jalan yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu.
Keduanya hanya diam dalam pikiran masing-masing. Lelah, perdebatan beberapa menit yang lalu masih berputar dalam pikiran masing-masing.
‘'Arunya,”
Si pemilik nama menoleh dan sedikit mendongak pada Rayyan yang lebih tinggi darinya. Keempat bola mata itu saling tertaut. Meski dalam remang cahaya lampu berwarna oranye lima watt yang tertanam rapi pada gerbang rumah tetangga.
Mereka berhenti. Ditengah jalan yang sepi tanpa takut ada kendaraan yang akan lewat.
Susah payah Rayyan berusaha menelan salivanya, untuk sekedar membasahai tenggorokannya yang terasa tercekat. "Arunya. Kamu tahu, setelah ini, karena hal ini pula, karena keputusanmu dan kekalahanku ini. Aku akan di hadapkan pada masalah serius.”
Rayyan diam memerhatikan raut wajah Arunya yang mengernyit tanpa tidak mengerti.
__ADS_1
“Mungkin. Aku harus menyetujui keinginan papa. Karena aku harus menyanggupi keputusan papa pada pilihan yang lain.”
“Pilihan yang lain?”
“Iya. Aku harus setuju di jodohkan dengan kerabat dekat iparku.”
Waktu seakan berhenti berputar. Kenyataan lain telah berada di antara mereka. Arunya merasa sesak dalam dadanya kembali lagi. Dalam benaknya, bukan hanya dia yang sedang dalam pilihan yang sulit, melainkan Rayyan pun juga tengah berada dalam situasi yang sama.
Arunya tidak mampu berkata-kata lagi. Mendadak perasaan bersalah, tidak rela, kesal, perlahan menghimpitnya. Situasi macam apa ini? Melihat raut wajah Rayyan yang frustasi membuat Arunya menyimpulkan suatu keputusasaan yang besar di sana.
“Ray. Kamu akan menikah dengannya?” tanya Arunya.
“Entahlah,” desah Rayyan.
Manik mata Arunya perlahan memburam karena air mata yang memaksa merangsek keluar dari persembunyiannya.
“Karena aku menolakmu?” tanya Arunya memastikan.
“Iya,”
Arunya menunduk, tidak kuat lagi melihat wajah Rayyan.
“Kenapa seperti aku yang paling bersalah di sini. Kenapa aku yang paling jahat di sini?“ batin Arunya.
Banyak pikiran yang terus mengusiknya.
‘'Seperti inikah jalan kisahku pada akhirnya? Jika ini akibat dari kejahatanku maka aku harus menanggungnya.” Arunya meremas tangannya yang saling tertaut.
“Baiklah. Aku akan menikah jika kamu telah menikah juga, Rayyan.”
“Kau menghukum dirimu sendiri?” pekik Rayyan.
“Aku akan menikah jika kamu telah rela melepas semua kesakitanmu karenaku.” Arunya beranjak dari tempatnya, perlahan menjauh dari Rayyan yang masih mematung di tempatnya.
Rayyan segera memahami perkataan Arunya. Hal ini adalah upaya Arunya dalam menebus kesalahannya.
“Arunya.”
Rayyan segera mendekati Arunya. Keduanya kembali bertemu tatap. “Pastikan kamu berbahagia bersamanya, Arunya.”
Kini Arunya terisak, air mata yang sejak tadi ia tahan tumpah sudah. Sedangkan Rayyan hanya memejamkan matanya sejenak.
“Aku juga berharap demikian padamu, Rayyan,” lirih Arunya.
Rayyan mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Kali ini aku akan pamit padamu, Arunya. Besok Aku akan bertolak kembali ke Riau.” Setetes air mata lolos begitu saja, Rayyan sudah tidak ada tenaga untuk menghapusnya.
Arunya mengangguk cepat di tengah isak tangisnya dan menyambut uluran tangan Rayyan.
“Jangan nangis lagi, Arunya.” Rayyan segera menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya. Perlahan berjalan menjauh dari Arunya dengan lelehan air mata yang sedari tadi ia tahan.
“Selamat tinggal Arunya.”
“Selamat tinggal cinta pertamaku." Arunya menatap nanar pungung lebar yang kian menjauh itu dengan isak tangis serta dada yang terasa sesak.
Semuanya telah usai. Arunya telah memutuskan untuk melepaskan perasaannya. Tidak, lebih tepatnya memangkas paksa perasaannya. Kenangan akan hal ini tidak akan mudah ia lupakan. Ia sadari hal itu, kenangan masih akan tetap abadi walau dunia telah berubah dari masa ke masa.
...***...
__ADS_1
TERIMAKASIH BANYAK YANG SUDAH MEMBERSAMAI ARUNYA SAMPAI DETIK INI, MUNGKIN HANYA AKAN ADA BEBERAPA BAB LAGI NANTINYA, KALAU MAU TUNTAS CERITA INI PASTI AKAN MENJADI PANJANG KALI LEBAR KALI TINGGI NANTI, DAN ITU TIDAK BAIK UNTUK KESEHATAN REAL LIFE PENULIS🤭🤭🤭
POKOKNYA, BUAT YANG SUDAH DUKUNG ARUNYA. SAYA UCAPKAN TERIMAKASIH, MATUR NUWUN, KHAMSAHAMNIDA, GUMAWO, AND TE AMO FOR READER TERCINTA ❤️