
BAB 21
Di sebuah kamar kost berukuran 3x4 dengan berisikan satu kasur busa, satu buah almari, satu meja dan satu kursi beserta perabotan seadanya. Tama bersama Bagas tengah kompak bermain game pada aplikasi ponsel masing-masing.
“Ck. Sial. Kalah lagi.” Merupakan ungkapan ke sembilan kalinya oleh Bagas.
Tama terkekeh sambil menendang kaki sahabatnya. “Udaaaah. Bakat, lo, emang bukan di sepak bola. Nyerah aja.’
Lirikan sinis di sertai lemparan bantal tepat mengenai muka Tama. Bukannya kesal, Tama malah semakin tergelak. “Muka, lo. Kayak cewek lagi PMS, Gas.”
“Pa-an, kayak lo Pernah lihat cewek lagi PMS, aja!” Bagas kembali melempar guling yang sejak tadi ia gunakan untuk menyandarkan kepalanya.
Setelah Tama menyelesaikan tawanya lalu ia teringat akan Arunya. Gadis manis yang telah menjadi satu team pada line-nya.Tanpa sadar ia terus menggulum senyumnya. Ia terus teringat kebersamaanya beberapa hari terakhir ini. Semakin ia mengenal Arunya, dirinya semakin tertarik dengan gadis polos namun begitu memikat hatinya.
Mengabaikan rasa kesal sahabatnya yang masih saja enggan untuk pindah pada kamar kostnya sendiri.
“Lo, waras kan, Tam.” Bagas memegang kening Tama.
“Jin, demit dan seperpupuannya , keluar lo semua!” Bagas seolah tengah merukyah sahabatnya yang sejak tadi ia perhatiakan terus mengulas senyumnya.
Melepas pegangan tangan Bagas. Lantas Tama menegakkan duduknya. “Gas. Kayaknya gue bener udah jatuh cinta, nih.”
"Apa? yang bener? siapa, siapa?" tanya Bagas antusias.
Setelahnya Tama berucap hal itu Bagas seolah bersemangat untuk mengorek lebih dalam perihal dengan siapa sahabatnya tengah jatuh cinta.
Memaksa Tama untuk menceritakan apa saja yang membuat sahabatnya begitu bersemu yang membuat ia menggelengkan kepalanya.
"Jangan sekarang, deh. Aku belum yakin, dia mau sama gue apa enggak," ujar Tama, terkekeh.
"Dih, lo, laki, 'kan. Pantang buat nyerah!" Bagas mengambil gitar yang berada di sisi meja, lalu memainkannya.
Jrrrreeenng....
Suara melody segera membelai pendengaran Tama.
__ADS_1
Bagas memainkannya seraya bersenandung, menyanyikan lagu rasa yang tertinggal milik salah satu band ternama di Indonesia, yang tengah ramai di dunia musik saat ini.
***
“Ta. Sini, Ta!” Tama melambai pada Arunya, dirinya tengah memanjat rak karena truk forklift masih digunakan pada line lain. Dia memilih panggilan berbeda pada Arunya agar lebih mudah, tidak ribet katanya. Arunya pun tidak mau memperpanjang masalah panggilan untuknya.
Arunya mengurungkan niatnya mengambil barang pada karton. Segera bergegas karena melihat Tama yang begitu membutuhkan bantuannya ia segera menghampirinya.
“Kenapa, Mas?” tanya Arunya begitu ia mendekat walau dengan mendongak pada Tama yang berada pada rak atas.
“Kamu bisa bawa tangga yang disana itu, kan?” tanya Tama. Terlihat ia sedikit meragukan Arunya.
Arunya mengikuti arah telunjuk Tama lalu mengangguk. Kemudian mengambilkan tangga lipat sesuai permintaan seniornya.
Untung saja tangganya tidaklah begitu berat. Ia segera memposiskan tangga agar bisa di gunakan oleh Tama.
Setelah selesai, Tama segera meletakkan beberapa karton pada rak agar lebih mudah dijangkau. “Strong juga, ya, kamu. Bisa bawa tangga yang tergolong berat untuk ukuran cewek.” Tama tersenyum menampakkan rasa kagumnya.
“Kamu meremehkan aku, Mas?” tanya Arunya.
“Ish. Menyebalkan.” Arunya segera kembali pada pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Kamu itu makin jutek makin cantik, loh," celetuk Tama dan mendapat lirikan tajam dari Arunya. Tama segera mengangkat dua jari tengah dan telunjuknya, tanda meminta maaf.
Tama segera mengembalikan tangga pada tempatnya.
Tama sering mengajaknya untuk lebih santai dalam bekerja, sesekali Tama membuat candaan agar Arunya lebih nyaman.
Lebih tepatnya Tama melakukan pendekatan pada Arunya setelah semakin hari ia menyadari dirinya telah menyukai Arunya.
Bagas yang mendengar cerita perihal pas foto yang telah ditemukan Tama begitu antusias mendukung sahabatnya untuk terus mendekati Arunya.
“Pepet terus, man. Tapi jangan norak, mesti pakai cara elegan lah.” Ucapan Bagas nyatanya selalu ia ingat setelah ia berfikir ulang akan seperti apa mendekati Arunya.
...***...
__ADS_1
Hari ini Arunya telah memasuki kerja shif setelah dua hari yang lalu melakukan tanda tangan kontrak kerja. Arunya segera memberi kabar melalui sambungan telepon pada ibu, mengabarkan kesehariannya, teman-temannya dan cara kerjanya.
Di seberang sana ibu hanya terus mengucap syukur serta terus mengingatkan pada anak gadisnya untuk selalu menjaga diri.
Tadi pagi Asih mengajaknya untuk mencari kost agar lebih dekat degan lokasi kerjanya. Begitu mendapatkan kamar kost dengan harga tinggi menurut Arunya, Asih tak mempermasalahkannya. Ia yang akan membayar lebih dulu sewa kostnya.
Drama pagi berebut kamar mandi, kini sudah tidak ada lagi. Arunya merasa nyaman dan beruntung bertemu Asih yang sangat baik.
“Kita cari kost yang lebih murah aja ya, Asih. Uangku gak bakalan cukup buat patungan.” Setelah pemilik kost mengatakan harga sewa kost Arunya ingin mengurungkan niatnya mencari kamar kost bersama Asih.
Awalnya Arunya ingin tetap tinggal di mess meski sama saja biaya untuk angkot bisa untuk satu kali makan. “Santai aja, Run. Kita ini anak rantau, saat ini mungkin kamu memang membutuhkan bantuanku. Tapi pasti lain kali, aku yang akan membutuhkan bantuan kamu. Hidup ini berputar, Run.” Kata Asih kala itu.
Menghemat uang saku, pagi tadi Arunya merebus mie instan pada hitter listrik milik Asih. Arunya selalu menolak jika Asih yang akan membelikannya nasi bungkus sampai mereka gajian nanti. Mengingat kebaikan Asih pada Arunya, ia tidak akan merepotkannya lebih banyak lagi.
...*** ...
“Mita, aku minta nomor kamu, ya. Biar lebih mudah aja, jika nanti kita mau tahu rekap order per shif. Kita kan nggak tiap hari bisa satu shif begini.” Tama bersiap menuliskan nomor ponsel Arunya pada HP nya.
Mode elegan yang diberikan Bagas nyatanya ia praktikkan dengan baik. Beruntung alasannya begitu tepat dan tidak menimbulkan kecurigaan.
“Kasih alasan masuk akal, bila lo mau melakukan sesuatu. Biar gak terang-terangan kelihatan modusnya, man.” Tama teringat ocehan sahabatnya sebelum akhirnya terlelap di kamar kostnya kala itu.
“081 317-... “
“Bentar- bentar. Pelan aja kenapa, sih. Menteng-mentang udah selesai shif.” Tama segera kembali pada fitur kontak pada ponselnya, “Dah, yok. Lanjuut ...”
***
Mendekati pukul 22.00 WIB, Arunya segera merekap PO dari toko per hari ini. Saat menemukan selisih pada catatan dan pada komputer, Arunya begitu panik. Dia sedang terduduk di antara dua lelaki yang terus saja mencecarnya untuk selalu menghitung ulang dengan teliti.
“Coba di hitung yang bener, deh.” Satu helper berusaha menghitung beberapa lembaran faktur.
“Ck. Bisa kerja, gak, sih!” Seorang lelaki yang menjabat sebagai kasir helper gudang merasa kesal hingga membentak Arunya.
...
__ADS_1
terimakasih atas dukunganya. jangan lupa tap like dan komentar nya ya friend 🙏😊