
BAB 19.
Maaf up malam-malam 🙏🙏
_______________________________
Perusahaan tempat Arunya bekerja ini bergerak di bidang retail, yang merupakan perusahaan pendistribusian barang atau produk konsumen dengan mengoperasikan jaringan minimarket.
Sedangkan yang Arunya tempati kali ini adalah pusat gudangnya dan juga sebagai kantor branch office.
Arunya bersama teman-teman training yang lain telah memasuki sebuah gudang induk tempat dimana sejumlah puluhan lorong/line yang masing-masing terdapat rak-rak tempat berbagai produk tertata rapi
Masing-masing pekerja mendapat seragam berupa kaos berkrah dengan logo lebah pada dada kanannya. Sedang untuk saku bagian dada kiri mereka serempak untuk menggunakannya menyimpan name tag masing-masing.
Setelah mendapat pengarahan dari kepala gudang mereka berpencar sesuai nama line yang telah mereka terima.
“Snack and candy,” gumam Arunya. Berjalan cepat untuk menemukan nama line bagiannya.
Begitu menemukan lorongnya ia terdiam sejenak untuk menunggu penghuni lorong sebelumnya. Terlihat netranya telah menangkap sesosok lelaki berperawakan tinggi berada di ujung lorong.
Arunya memperhatikan cara kerja lelaki yang ia yakini merupakan seniornya itu.
“Tam, buruan nih. Junior lo butuh bimbingan.” Seorang pria berusia tigapuluhan tiba-tiba berdiri menyejajarkan diri pada tempat Arunya berdiri. Melambaikan tangan tinggi untuk memanggil seorang yang tengah mendorong troli berisi beberapa box.
“Kamu, Arunya.’ Mengarahkan jari telunjuknya pada arah name tag Arunya.
“Iya, Pak.’'
Terlihat pria itu mengangguk, seraya menuliskan sesuatu pada note book yang sejak tadi ia bawa.
“Saya, Pak.” Terlihat seorang lelaki mendekat dengan peluh membasahi wajah hingga lehernya.
“Tam. Ini pekerja baru, aku percayakan dia sama kamu. Ajari sampai bisa, dan buat dia nyaman disini.” Menepuk pelan bahu lelaki yang masih sibuk menyeka keringatnya.
__ADS_1
Kemudian beralih menghadap Arunya, "Dan kamu, tanyakan apapun pada dia hal-hal yang musti kamu kerjakan.’'
“Siap, Pak. Saya mengerti.”
“Baik. Saya ke yang lain dulu. Lanjutkan!” Pria berperawakan tinggi yang menjadi kepala gudang pun berlalu menuju lorong sebelahnya.
“Hei, kamu. Ikuti aku terus, ya! Dan ingat-ingat selalu apa yang aku katakan.”
"Sepertinya aku pernah melihat cewek ini. Tapi dimana, ya?" gumam Tama.
Setelah Arunya mengangguk tanda mengerti, meletakkan name tag miliknya pada saku kaos seragamnya yang terasa mengganggu pergerakannya. Mengikuti lelaki itu memimpin jalannya kembali pada lorong ujung.
“Lihat tombol start disini dan tekan seperti ini.” Lelaki itu menekan tombol berwarna merah pada monitor mini. “Trus ikuti aku, sambil mendorong troli ini, ya! Ayo!”
Arunya terus memerhatikan lelaki seniornya yang terus bergerak lincah menekan monitor mini yang telah menyajikan sejumlah angka. Setelah menekannya barulah lelaki itu mengambil sejumlah barang pada rak sesuai angka yang tertera kemudian ia letakkan pada box dalam troli. Itu berlaku pada sebaliknya menurut trainer sewaktu pemberian materi.
“Lihat, baik-baik. Nama deskripsi barang pada layar. Jangan sampai kamu salah ambil, ya!” Lelaki itupun mempraktikkan sesuai apa yang ia bicarakan.
“Kamu, lihat. Jika tombol kembali berwarna merah meski kita sudah menekanya dan masih menunjukkan tanda minus berdasarkan angkanya berarti masih ada barang yang terlewat dan harus segera di ambil untuk meneruskan purchase order dari kode toko lain. Nah kalau udah hijau begini berarti kita udah tepat.”
“Iya, saya mengerti.” Arunya melihat lelaki seniornya menumpuk box yang baru selesai mereka isi beberapa macam snack.
Lalu kembali mengikutinya berada lorong awal untuk kembali menekan tombol start dari awal.
Begitulah selanjutnya cara kerja yang akan Arunya lalui. Berjalan sejauh kurang lebih seratus meter, mengikuti sejumlah anaka pada monitor dan mengambil barang sesuai jumlah angka yang tertera.
Hingga rasa sakit begitu ia rasakan pada perut kirinya. Peluh terus saja mengalir meski ada pendingin ruangan pada masing-masing lorong.
Namun, fungsi pendingin ruangan tak mampu membuat gudang yang sangat luas itu terasa sejuk. Arunya terus berusaha menahan rasa sakit yang menderanya, berusaha menyeimbangkan cara kerja lelaki seniornya.
Begitulah seterusnya hingga jarum jam pada tangan kirinya bergerak sesuai arah perputaran waktu.
Melihat lelaki seniornya duduk pada tumpukan karton minyak goreng milik line sebelahnya. Arunya hanya diam memerhatikan sambil melihat sekelilingnya. Ia tak sempat menanyakan pada Asih, tentang letak line mana ia berada.
__ADS_1
“Hei, sudah waktunya istirahat. Kamu gak keluar cari makan?” tanya lelaki senior.
“Ah, sudah boleh keluar?” tanya Arunya.
Lelaki itu pun mengangguk asal seraya memainkan ponselnya. "Pernah lihat dimana yah?" gumam Tama.
Arunya bernafas lega, akhirnya ia dapat mengabulkan keinginan cacing dalam perutnya yang sejak tadi meronta ingin mendapakan asupan makanan.
***
Di dalam kamar kost berukuran 3 x 3 seorang lelaki yang baru saja memarkirkan motornya pada teras kamar kostnya.
Dengan tergesa Tama mencari beberapa pas foto pada tas ranselnya yang telah seminggu yang lalu ia simpan. Ia ingin segera memastikan sesuatu yang sejak pagi tadi mengganjal pemikirannya.
“Ini, dia.” Lelaki itupun tersenyum simpul begitu melihat foto berukuran kecil menampilkan sesosok gadis manis berambut pendek. “Aditama. Kau dapat kartu as. Tak salah lagi cewek tadi adalah cewek yang sama dengan cewek yang beberapa hari yang lalu kau temui.”
Sedari pagi hingga menyelesaikan delapan jam kerjanya, Aditama Setya, lelaki yang akrab di panggil Tama itu berperang melawan segala pemikirannya.
Begitu bertemu dengan cewek manis panjang yang mengikat tinggi rambutnya membentuk seperti ekor kuda terlihat sangat lucu menurutnya.
Pemikirannya sebatas menerka dengan potret gadis manis berambut pendek yang seminggu yang lalu ia temukan tergeletak pada kursi tunggu tempat ia mendaftarkan keponakannya.
Sejurus kemudian ia kembali tersenyum masam, ia teringat akan sang gadis yang tengah dijemput oleh lelaki pada sebuah halte bus.
Menepis segala prasangkanya, Tama kembali tersenyum seraya melompat pada kasur busa miliknya yang satu bulan yang lalu ia beli menghabiskan hampir satu bulan gajinya, jika saja ia tak pandai berhemat dengan sisa saldo pada kartu atm-nya.
” Siapa ya, namanya? Bodoh banget, sih, Tam. Kau sampai gak sempet kenalan.”
***
jangan lupa like dan komentarnya 😍😍🙏🙏
.
__ADS_1