Amita Arunya

Amita Arunya
Salah paham


__ADS_3

Bab 46.


Arunya tiba di depan kantor DC pagi ini. Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 WIB, masih terlalu pagi pikirnya. Ia memutuskan untuk menunggu di pertokoan dekat gerbang masuk kantor DC.


Ia mencoba mengetikkan pesan pada Bagas.


Arunya : Maaf Mas, Mas Tama hari ini masuk apa ya?


Bagas : Di kostan gak ada sih motornya, Run.


Arunya : Tolong, tanyain, Mas


Bagas : Baru aja gue nanya temen katanya dia baru aja keluar kost. Kalau jam segini paling dia makan di rumah makan biasanya.


Arunya : Ok, aku tahu kok dimana tempatnya. Thanks


Bagas : πŸ‘


...***...


Maria melambai pada Tama yang baru datang ke warteg. Ia bersama satu teman wanita yang bekerja di office DC sebagai trainer tengah makan pagi yang sedikit terlambat. Jika normalnya, jam sepuluh pagi itu kita sudah melahap hidangan ringan atau orang biasa menyebutnya coffe break. Namun, tidak dengan Maria dan temannya kali ini. Keduanya sedang makan pagi warteg lesehan yang sangat ramai pengunjung.


Tama yang baru datang dan mendapat panggilan dari orang yang dikenalinya segera mendekat. "Maria , Bu Wiwik baru sarapan?" sapa Tama bersalaman dengan dua orang wanita yang sudah lebih dulu duduk pada bangku nomor 5.


"Iya, duduk, Tam! Gabung di sini aja. Yang lain hampir penuh kan!" Kedekatannya pada Maria dulu membuat Tama sedikit di kenal oleh salah satu orang penting di Office DC.


Tama menyapu pandangan ke sekeliling area rumah makan. Benar adanya, hampir penuh semua meja oleh pengunjung. Dengan rasa canggung Tama bergabung satu meja dengan mantan pacarnya dan seorang yang amat di segani karena jabatannya sebagai personalia.


Obrolan ringan dan sedikit canggung itu tidak berlangsung lama karena Bu Wiwik pamit beranjak untuk menelpon di luar karena di dalam ada suara musik yang cukup mengusik pembicaraan. Apalagi jika yang menjadi topik pembicaraan adalah urusan kantor.


''Gimana Tam, udah baikan?" tanya Maria pada Tama, setelah Bu Wiwik berlalu di antara Tama dan Maria.


"Baikan gimana?" ketus Tama.


"Oh, astaga. Jangan bilang Lo belum hubungi dia lagi?" hardik Maria.

__ADS_1


"Emang belum. Yang gue lakuin ini benar kok! Dia yang salah, harusnya dia donk yang minta maaf ke gue."


"Tam. Lo harusnya tahu, donk. Cewek itu butuh di mengerti bukan di cuekin begini. Oke jika memang dia salah, dia harus minta maaf. Tapi Lo nyadar nggak, sih. Lo yang tutup akses dia buat hubungin Lo,"


"Ya... Dia usaha donk harusnya. Gimana caranya dapat hubungin gue."


"Susah ya, ngomong sama batu."


Tama tertawa mendengar sebutan itu, sebutan yang telah lama tidak ia dengar.


Tanpa Tama tahu, Arunya berada di ujung pintu masuk rumah makan yang saat ini menjadi pilihannya untuk mengisi perutnya.


Letak meja Tama yang berada tepat lurus dengan pintu masuk tentu dapat di lihat dengan jelas oleh Arunya. Ia terdiam memerhatikan pacarnya berada di satu meja yang sama dengan seorang wanita yang tampil cantik di depannya. Duduk berhadapan berdua yang terlihat sangat akrab. Letak duduk Maria yang menghadap pintu masuk membuat Arunya dapat melihat dengan jelas wajah cantik itu.


Sakit. Dalam hati Arunya merasa bodoh, kediaman Tama bukan hanya karena kecewa terhadapnya. Melainkan karena ia telah mempunyai wanita lain.


"Ini salahku. Kamu kecewa denganku hingga kau cepat berpaling dengan yang lain. Aku minta maaf," lirih Arunya. Ia berbalik dan segera pergi dari tempat itu.


Di parkiran Arunya berjalan cepat dan sempat melihat Bagas tengah memarkirkan motornya. Tidak ingin kehadirannya di ketahui oleh Bagas, ia berjalan cepat-cepat.


"Mungkin ini hukuman buat aku,"


...***...


"Gas, nanti meeting jangan lupa." Tama memakai seragam, lalu memakai name tag serta mengantongi note book kecil pada saku celananya. Ia melirik pada Bagas yang tengah asyik menyantap mie kuah rasa soto dan terlihat telur setengah matang di atasnya.


"Iya, udah tahu. Cuma ketua line aja kan?" tanya Bagas tanpa mengalihkan atensinya pada semangkuk mie di atas kaleng biskuit di depannya. Kaleng biskuit dapat beralih fungsi sebagai meja jika sedang di kost-an seperti ini.


"Iya udah di info dari kemarin, sih. Mau ada sidak katanya. Biasalah event menjelang puasa kan begini." Tama meraih sisir lalu ia gunakan agar tatanan rambutnya sedikit rapi. Bercermin pada kaca portabel yang bisa di gantung di mana saja.


"Ya," ucap Bagas singkat.


Tama melirik Bagas melalui cermin. Bagas masih asyik dengan makannya dan mengutak-atik ponsel pada tangan kirinya. Tidak biasanya Bagas bersikap cuek seperti ini. Membuat Tama sedikit terusik.


"Gas," panggil Tama.

__ADS_1


"Hm," sahut Bagas.


"Lo kenapa?" tanya Tama. Kini Tama ikut duduk di depan Bagas. Membuat Bagas menatap Tama dengan alis terangkat sebelah. Merasa aneh. Namun, membuat hatinya bersorak karena berhasil mencuri perhatian Tama.


"Gue mau coba jahilin dia, deh. Enak aja, dia punya masalah sama siapa, gue ikut kebawa-bawa." Bagas berpikir ide jahil apakah yang akan ia lakukan.


"Nggak apa-apa," cetus Bagas cepat.


"Aneh banget ni anak. Nggak biasanya cuek begini ke gue," batin Tama.


Tama mendengkus sebal karena upaya perdulinya di abaikan oleh sahabatnya sendiri. Ia segera bergegas memakai sepatu sport yang berada di rak di balik pintu.


"Tam, mending mulai nanti malam Lo tidur di kamar Lo sendiri ya, kayaknya temen gue mau nebeng di sini."


Perkataan Bagas menghentikan kegiatan Tama yang sedang membuat simpul pada sepatunya dan menoleh cepat. "Lo ngusir gue?" tekan Tama.


"Yaa, serah Lo mau mengartikan gimana ucapan gue. Ya kalau Lo nggak keganggu kedatangan temen gue ya gak masalah Lo tidur juga di sini." Bagas merapikan alat makan dan membawanya keluar kamar. Saat kembali Bagas melihat Tama menunduk, jari tangannya membuat pola acak pada keramik yang didudukinya. Bagas menarik sudut bibirnya. "Keusilan gue berhasil mengusik hidupnya," batin Tama riang.


Sedangkan bagi Tama, ia yang merasa di acuhkan oleh sahabatnya merasa sedikit terganggu.


"Gas, gue nebeng, ya," pinta Tama tiba-tiba.


Dalam hati, Bagas bersorak. namun, ia tetap akan menjalankan misinya lagi kali ini. "Gimana, ya," cicit Bagas. Terlihat berfikir dan itu membuat Tama kesal.


"Gimana?" tanya Tama kembali dengan ketus.


"Ya udah, ayo " Bagas tidak setega itu untuk mengabaikan Tama lebih jauh lagi. Namun, tidak ia pungkiri ia pun kesal karena Tama kembali bersikap kekanak-kanakan dan membuat anak gadis orang merasa di gantung dan di abaikan.


Setelah Arunya mendapatkan bus dan kembali ke Klaten, ia mengirimkan pesan agar Bagas.


Aku lihat dia baik-baik saja, Mas. Cukup aku lihat itu, setelahnya biarkan dia berbuat sesukanya.


Sebuah pesan dari Arunya mengusik pikiran Bagas. Dalam perjalanan ke DC siang itu, mereka lalui dengan diam dalam pikiran masing-masing. Tama bingung akan mengungkapkan gundahnya. Kekesalannya pada Arunya yang tidak menunjukkan itikad baiknya dengan mencari kontak barunya atau mungkin ia mengharapkan kedatangan Arunya. Sedangkan bagi Bagas, ia masih kesal bisa-bisanya ia membiarkan Arunya pulang dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Melalui pesan singkat pada Arunya, Bagas menanyakan pertemuannya dengan Tama. Dan balasan dari Arunya tidak dapat memuaskan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


Arunya tidak ingin menambah panjang masalahnya. Maka dengan begini ia akan merasa adil. Tersakiti oleh orang yang ia sayangi.


__ADS_2