
BAB 7.
***
Wijaya sedang menginterogasi tukang kebunnya, mengenai kegiatan Rayyan selama dua minggu sebelum Wijaya pulang bertugas.
Dia tidak akan bertanya mengenai kegiatan Rayyan selama dirumah kepada istrinya. Karena, sudah dipastikan jika istrinya akan membela atau menutupi keseharian anaknya. Naluri seorang ibu yang menginginkan kedamaian.
“Dengan anak tukang menyetrika yang menjadi langganan Ibu, Pak,” ucap Agus.
Agus adalah tukang kebun yang bekerja paruh waktu di rumah Wijaya. Pria berusia tiga puluhan itu terkadang hanya ketika di panggil saja ia bekerja.
Wijaya hanya mengangguk pelan lalu kembali menyesap kopinya. Melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
***
Wijaya tengah memperhatikan Rayyan yang baru pulang dari sekolahnya. Berdiri dengan melipat tangan di atas perutnya. Memindai sang anak yang tengah memarkirkan sepeda motor kesayangannya.
Rayyan lekas meraih tangan Wijaya, begitu sampai di depan papanya.
Raut muka sang ayah begitu datar. Rayyan sedikit lega, tak akan ada perdebatan di kala dirinya baru pulang sehabis kegiatan les tambahan di rumah pintar kepercayaan Wijaya.
“Sore, Pa,” sapa Rayyan setelah mencium tangan Wijaya.
“Sore. Kenapa pulang terlambat?” balas Wijaya.
“Tenaga didiknya ada masalah, Pa. Jadi datang terlambat,” ujar Rayyan. Hanya anggukan sebangai jawaban Wijaya. Setelahnya Rayyan bergegas memasuki rumah.
***
Setelah makan malam bersama istri dan anaknya, Wijaya menghentikan Rayyan yang hendak beranjak dari duduknya. “Rayyan, Papa mau bicara."
"Papa harap kamu selalu fokus sama sekolah kamu. Dan kurangi bermain-main dengan hal yang tidak penting.”
Rayyan yang hendak pergi pun mengurungkan niatnya. “Ada apa lagi, Pa?” sahut Rayyan. Merasa papanya memiliki maksud lain atas pernyataannya. Kini raut wajahnya kembali serius.
__ADS_1
“Papa, mengijinkan kamu menggunakan motor papa hanya untuk keperluan penting saja, Rayyan. Bukan untuk main-main!”
“Main-main?” tanya Rayyan tidak mengerti.
“Ya. Papa punya saksi mata bahwa kamu pergi bersama ... anak buruh cuci itu.”
Menghela nafas pelan. Rayyan segera paham akan maksud papanya. “Pa, Ray tidak hanya pergi berdua. Masih ada Arif dan Lela. Rayyan sekedar main ke suatu tempat untuk melepas penat, Pa. Ray juga gak berbuat yang aneh-aneh. Papa bisa tanyakan langsung pada Om Hendri. Bukannya papa sering menanyakan hal apapun mengenai Ray kepada Om Hendri, kan!”
Terdiamnya Wijaya, menandakan kebenaran yang Rayyan pikirkan. Melaui Om Hendri, Rayyan sering mendapat nasihat darinya.
Hendri adalah kerabat jauh Wijaya. Padanya Wijaya sering berpesan untuk mengawasi Rayyan yang juga dekat dengan Arif, anaknya.
Lama terdiam, Wijaya akhirnya membuka suara kembali. “Kamu suka dengan anak itu?”
“Maksud papa, Arunya?” tanya Rayyan.
Wijaya hanya menatap tajam, meminta jawaban atas pertanyaanya.
“Apa salahnya sih, Pa? Dia anak baik, dia gak aneh-aneh. Bahkan dia jauh berbeda dari yang lain, Pa. Disaat anak seusianya hanya bisa pergi main, meminta uang jajan pada orangtua, dia bahkan sudah dapat membantu meringankan beban ibunya. Apa karena dia hanya anak seorang anak buruh cuci lantas menjadikannya tak pantas untuk diajak berteman?”
Wijaya tersenyum meremehkan. “Papa tidak mau jika kamu hanya di manfaatkan olehnya, Rayyan,” lanjutnya.
Rayyan tertawa hambar, menyayangkan pikiran Wijaya yang sedangkal itu menilai seseorang. “Perlu papa tahu, bahkan saat dulu Rayyan bercerita tentang sebab aku menjadi amukan papa, dia satu-satunya orang dari teman Rayyan di kampung ini yang tidak menyalahkan atas tindakanmu, Pa.” tekan Rayyan di akhir kalimatnya.
“O, satu lagi. Bahkan dia menyanjung papa karena dia pikir papa sangat menyayangiku dengan cara papa.” Lalu Rayyan beranjak dari tempatnya. Tak tahan bila dia tidak bisa mengendalikan emosinya.
Dibalik dinding ruang makan, tempat suami dan anaknya berdebat. Seorang wanita yang selalu tampil anggun, hanya mengulas senyum.
Pembelaan yang dilakukan Rayyan sangat jelas jika anak yang ia lahirkan 18 tahun yang lalu, telah menyukai seorang gadis yang sedang dibela oleh anaknya.
Setelah menguasai diri, Mira mendekati sang suami. Menepuk pelan tangan suaminya. Mencoba meredam emosinya dengan bercerita hal lain.
"Papa, udah, ya."
"Dia makin nggak bisa diatur, Ma."
__ADS_1
"Emm, mama ada sesuatu." Mira merogoh benda pipih dalam saku bajunya, memperlihatkan potret terbaru cucu pertamanya, anak dari Vero. Bener saja responnya begitu cepat hingga mengembalikan moodnya yang sempat menegang.
"Udah besar cucu papa, Ma." Wijaya tidak berhenti mengulas senyumnya.
Ditempat lain Rayyan tengah memerhatikan hasil bidikan kameranya. Senyum kecil ketika dia menemukan potret gadis manis berambut panjang yang sedang bermain riak air, yang ia ambil beberapa hari yang lalu.
“Mungkinkah aku suka sama kamu?"
Rayyan terus menekan tanda geser agar dapat melihat lebih hasil bidikan kamera miliknya.
"Kapan lagi ada kesempatan ngobrol sama kamu, Runya?" gumam Rayyan.
***
Rutinitas Minggu sore, Arunya selalu bersemangat untuk pergi ke BTQ di masjid. Setelah sampai masjid bersama Widi dan Vivi, ia meraih gagang sapu ijuk untuk menyapu teras masjid.
Sesekali ia melongok ke ujung jalan. Ia seperti tengah menunggu seseorang. "Dia kemana ya, lama nggak terlihat," batinnya.
"Na, udah hafal belum arti Surat Al Baqarah yang di ajarin minggu lalu?" tanya Widi.
Arunya yang merasa di tanyai oleh sepupunya sontak menoleh. "Sudah hafal, Alhamdulillah." ujar Arunya. Ia meletakkan sapu dan membuang sampahnya.
Tidak lama ustadzah Hanum datang, di susul teman-temannya yang lain.
Teras masjid kembali ramai suara anak-anak juga pra remaja yang masih bersenda gurau.
"Dia nggak ikut ngajarin anak-anak TPA, mungkin, ya," batin Arunya.
Bagi Arunya, saat bertemu Rayyan, ada rasa yang sulit ia jabarkan. Ia menjadi bersemu, degub jantungnya juga tak karuan.
"Sadar, Arunya. Dia udah punya pacar." Arunya segera memangkas segala pemikiran-pemikirannya.
Fokusnya teralihkan ketika ustadzah Hanum memberikan instruksi untuk duduk yang rapi untuk memulai kegiatan baca tulis Al-Qur'an.
***
__ADS_1