
BAB 15
***
Sepulang Arunya menyetrika di tempat bu RT. Lela sengaja mengajak Arunya untuk membuat rujak bersama. Mangga depan rumah Lela sedang panen katanya.
Berbasa-basi sekedarnya Lela menyuruh Arunya untuk mengupas mangga muda, bengkuang dan mentimun. Setelah semua bahan terkupas bersih Arunya memotong kecil buahnya. Sedangkan Lela menghaluskan cabai, sedikit asam, garam dan gula yang diberi sedikit air.
Menikmati rujak berdua di halaman rumah Lela yang kesemuanya hampir di tumbuhi oleh rumput jepang, dibawah pohon jambu air yang rindang.
Lela merajuk karena kesibukan sekolah dan menyetrika Arunya, hingga jarang sekali sekedar mampir di tempatnya.
"Sibuk bner kamu, Run. Mau jadi akuntan, ya, kamu." Lela mencolek sambal lotis di dalam cobek.
"Ah, kamu nggak tahu saja. Begitu ada PR, apalagi akuntansi. Jika salah di awal, satu angka saja atau salah dalam penempatan kredit atau debit, pasti sampai akhir akan salah terus. Jadi, jurusan ini bener-bener harus perfect."
"Katanya mau jadi guru. Kenapa nggak ke SMA aja, sih."
"Ya, gitu deh. Biar ada keahlian aja. Kali aja bisa jadi pegawai bank." Arunya terkekeh.
"Bermimpi setinggi-tingginya, boleh, donk," sambung Arunya lagi.
Bercerita banyak hal hingga Lela kembali mengingatkannya kepada Rayyan.
"Bulan kemarin, Mas Arif cerita, katanya Rayyan sibuk banget. Paling, seminggu sekali mereka sms-an."
"Trus, ada cerita lagi nggak?" tanya Arunya antusias.
"Setelah itu, tidak ada kabar dari Rayyan hingga sekarang."
Membuat Arunya hanya tersenyum masam.
“Run, aku ada sesuatu.” Lela mengeluarkan selembar kertas dari saku celana jeansnya lalu memberikannya pada Arunya.
Arunya meletakkan sendok rujaknya, beralih menerima kertas dari Lela.
Perlahan membukanya hingga yang ia dapati sebuah ... lirik lagu.
Pernah kusimpan jauh rasa ini
Berdua jalani cerita
Kau ciptakan mimpiku
__ADS_1
Jujur ku hanya sesalkan diriku
Kau tinggalkan mimpiku
Namun ku hanya sesalkan diriku...
Ku harus lepaskanmu
Melupakan senyummu
Semua tentangmu tentangku hanya harap
Jauh ku jauh mimpiku dengan inginku
_Rayyan_
Tulisan tangan ini nyatanya membuat air mata Arunya mengalir tanpa dapat dicegah. Entah karena liriknya yang amat mendalam ataukah memang lirik ini sesuai yang Arunya rasakan.
Lela yang ada di samping Arunya hanya dapat menepuk lengan Arunya. Sedikit banyak Lela semakin yakin dengan perasaan Arunya. Menunggu Arunya menuntaskan sesak dalam dadanya dengan sabar.
“Kamu dapat darimana kertas ini, La?” tanya Arunya. Setelah sedikit lebih tenang.
Arunya yang tidak tahu akan menjawab apa hanya tersenyum masam.
Inginnya hanya akan memendam sendiri rasa yang ia punya. Akan tetapi, entah ada apa dengan sore ini. “Aku suka dia, sejak ia pindah di kampung kita,” lirih Arunya. Namun masih terdengar jelas di telinga Lela.
“Aku gak berharap banyak, La. Bahkan aku gak berharap ia pun suka ke aku. Aku lebih menyayangkan saja, kenapa cinta pertamaku justru untuk dia. Orang yang tak mungkin bisa aku harapkan. Kamu tahu sendiri, dia anaknya pak Wijaya. Dan aku anak seorang buruh cuci. Gak ada pantasnya buat aku bermimpi untuk sama dia.”
“Rasa suka itu tak bisa direncanakan, Run.” Selanjutnya Lela hanya menguatkan Arunya.
Bercerita banyak hal agar kesedihan sahabatnya dapat teralihkan dengan mendengar lagu-lagu yang ia putar dari tape recorder miliknya.
Waktu kian menampakkan warna jingga di sela-sela pepohonan dari sudut bumi bagian barat, memperlihatkan warna indahnya meski untuk sesaat seiring malam menggantikannya dengan kesunyian.
...*** ...
Di sebuah halte tempat para siswa menunggu minibus. Arunya tengah memeluk map folio besar. Di dalamnya terdapat berbagai buku besar mata pelajaran akuntansi miliknya.
Tas ransel berukuran sedang miliknya tak mampu menampung beratnya buku folio, takut pengaitnya akan terlepas karena sudah beberapa kali ia jahit secara manual.
Disampingnya ada Lukman yang sejak tadi menemaninya. Lebih tepatnya menunggu jawaban.
__ADS_1
“Jadi, Run. Apa kamu mau jadi pacar aku?” tanya Lukman, teman sekelas Arunya, yang beberapa minggu ini dengan jelas menunjukkan rasa sukanya terhadap Arunya.
Dengan mantap Arunya menjawab, “Maaf, Lukman. Bukannya aku sombong. Namun, memang aku tak dapat menerima begitu saja sedangkan aku tak ada rasa suka sama kamu. Bukannya aku membencimu juga. Aku suka berteman dengan siapa saja, tapi tidak untuk pacaran. Perlu aku katakan juga, saat ini aku tengah menyukai seseorang. Jadi, jikapun aku menerimamu. Bukankah tidak adil untukmu bila aku masih menyukai orang lain. Aku hanya ingin terfokus sama belajarku saja sekarang.”
Kecewa tentu saja tak dapat disembunyikan oleh Lukman. Namun, kejujuran Arunya semakin membuatnya mengerti. Percuma saja berteman spesial, jika dalam hatinya masih ada nama lain. “Baiklah. Tapi meski begitu aku ingin tetap berteman seperti biasa denganmu, ya.”
“Tentu.”
Begitulah Arunya yang tidak bisa dengan mudah menyukai seseorang apalagi secara spesial. Inginnya melupakan Rayyan yang entah dimana dan bagaimana dirinya sekarang. Namun nyatanya rasa itu masih ada untuknya.
...*** ...
Suara kokok ayam saling bersahutan, walau sang surya belum menampakkan sinarnya.
Setelah melakukan solat subuh bersama ibu dan Dika. Arunya meminta izin untuk lari pagi bersama Lela.
“Jangan kesiangan pulangnya, Mbak!” Tami sedikit meninggikan beberapa oktaf suaranya agar Arunya yang telah berlari beberapa meter darinya dapat mendengarkan suaranya.
Setelah mendapat sahutan iya dari anaknya, Tami kembali kedalam rumahnya, melakukan pekerjaan rumahan seperti ibu rumah tangga pada umumnya.
Berlari kecil menuju rumah Lela, yang sudah siap di depan halaman rumahnya. Sepakat untuk menentukan rutenya.
Sesekali berhenti jika ada tanaman bunga yang tengah mekar menampakkan kecantikannya di pagar tetangga untuk sekedar mengaguminya.
Tidak disangka saat Arunya dan Lela tengah berjalan pelan, Arif yang telah melewati keduanya berhenti mendadak dengan menekan tuas rem pada motornya. Sontak Lela yang merasa sepupunya menghampiri Arif.
“Ada apa, Mas?” tanya Lela.
“Ada perlu sama Arunya.” Arif masih berdiam di atas motornya menunggu Arunya mendekat ke arahnya.
Arunya yang mendengar percakapan keduanya lantas mendekat. “Denganku, Mas?’ tanya Arunya memastikan.
“Iya. Aku mau menyampaikan pesan aja. Kamu dapat salam dari Rayyan.” Arif tersenyum, lantas kembali melajukan motornya meninggalkan Arunya dan Lela dengan keterkejutannya.
"Ciieeee, dapat salam, tuh. Salam balik, lah. Masa' iya enggak di jawab balik." Lela menowel pipi sebelah milik Arunya.
"Ciieee, pipinya merah, tuh."
Lela masih saja menggoda sahabatnya. Arunya yang tersipu membuat ia melanjutkan lari paginya, dengan senyum tertahan.
"Ah, jahatnya kamu, Ray. Kenapa kamu nggak meminta nomorku saja, sih," gerutunya.
***
__ADS_1