
Bab 45
Hingga beberapa hari ini Arunya sudah menyerah untuk menghubungi Tama. Ia bahkan meminta Asih untuk mengantarkan ke Semarang agar dapat terpecahkan masalah dengan Tama. Namun, Asih belum bisa mengantarkan sahabatnya karena masih menyayangkan tingkah kekanakan Tama.
Di tempat yang berbeda Tama juga enggan menerima nasihat dari Bagas. Tama masih di liputi rasa emosi pada Arunya.
"Gue nggak mau denger apapun ya, Gas. Hati gue udah sakit baget." Kata Tama saat Bagas mencoba berbicara pada Tama pagi tadi.
Bagas sedih melihat Tama yang bersikap keras kepala seperti dulu, saat ia masih berpacaran dengan salah satu personalia Office DC. Ia tidak ingin temannya kembali kacau dan urakan seperti sebelum bertemu dengan Arunya. Diam-diam Bagas memberitahukan pada Asih, melalui teman satu line Asih sewaktu di DC Semarang.
Pagi ini Bagas menelpon Asih dan menjelaskan bahwa Tama sengaja mendiamkan Arunya karena mengira Arunya pulang untuk kembali pada Rayyan. Sedangkan Tama tidak mau mendengarkan alasan apapun dari Arunya. Tama hanya takut kenyataan pahit menderanya. Ia belum siap jika Arunya menghubunginya hanya karena ingin mengucap kata putus. Bagas juga mengatakan, beberapa hari ini Tama tidak pulang ke kostnya dan pulang hanya untuk mandi saja.
Asih yang masih di kost pun terheran pada pemikiran Tama. Sedangkan ia tidak mau menghubungi Arunya dalam keadaan sahabatnya sedang bekerja.
Setelah sambungan telepon dari Bagas terputus. Asih mengacak rambutnya, ikut pusing dengan permasalahan sahabatnya. Ia sempat melirik pada meja kamarnya terdapat bekas bungkus obat maag yang sudah terbuka sebagian.
Asih sudah paham, bila sakit maag sahabatnya tengah kambuh. "Kalian ini hanya saling menyiksa diri."
...*** ...
Sementara Tama saat ini tengah berhadapan dengan seorang gadis yang ia panggil Maria. Keduanya sedang duduk berhadapan bersekat meja di tengahnya.
Berkali-kali senyum terbit di bibir gadis itu kala sang mantan pacarnya tengah bercerita tentang masalahnya.
"Kalau Lo cerita begini, gue jadi seneng, loh, Tam. Gue merasa tersanjung karena Lo udah percaya ke gue lagi tentang masalah Lo. Coba aja, dulu Lo seterbuka ini, pasti hubungan kita nggak bakal berakhir dengan cepat." Maria kembali menyuapkan satu sendok nasi rames ke dalam mulutnya.
Maria tidak lagi menyuarakan pendapatnya saat raut wajah mantan pacarnya hanya datar menanggapinya.
"Ngomong-ngomong, makasih ya, Ria. Lo udah mau jadi tempat cerita gue."
"Emang, soulmate , Lo, kemana?" canda Maria.
"Dia udah kaya 'bapaknya, Mita. Dia bela Mita terus, gedeg gue sama dia. Yang sahabat dia tuh gue apa Mita! Gue terus yang di salahin," ketus Tama.
"Trus. Kenapa Lo nggak pulang ke kostan? malah sengaja ngelaju dari rumah Lo, mana jauh, 'kan?"
__ADS_1
"Lagi males aja."
"Ck, nggak berubah juga. Gimana mau awet hubungan Lo, Tam. Kalau Lo masih sekeras batu seperti ini. Lo nggak mau dengerin masukan dari orang lain. Sadar Tam, masalah itu di bicarakan maka akan keluar solusinya. Bukan dengan cara diam begini."
Tama hanya melirik malas pada Maria dan kembali menyuapkan makannya.
"Udah selesai belum makanannya? Kalau udah aku mau cabut ke kostan, nih."
"Udah. Lo yang bayar, 'kan!"
"Iya," Tama beranjak dari duduknya dan mendekati kasir untuk membayar pesanannya.
Keduanya naik ke atas motor masing-masing dan berpisah di arah yang berbeda.
...***...
Arunya terdiam setelah Asih bercerita tentang Bagas yang menelponnya melalui teman satu linenya dulu.
"Mas Tama kenapa bisa berfikir begitu ya, Asih? Padahal aku sudah benar-benar memutuskan untuk memilihnya. Kenapa dia nggak bisa percaya sama aku. Lalu untuk apa hubungan ini di pertahankan kalau dia aja nggak punya rasa percaya sama aku?" tanya Arunya.
"Aku ternyata nggak begitu mengenalnya, Asih," cetus Arunya.
"Karena dari dulu Mas Tama yang paling antusias sama kamu. Sedangkan kamu, kaya' datar aja, gitu."
Arunya terdiam, memikirkan perkataan sahabatnya. Memang benar, dari dulu Tama tidak pernah tanggung-tanggung menunjukkan rasa sayangnya. Beberapa hari Tama mendiamkannya, ia semakin menyadari, bahwa tingkah Tama yang ia anggap lebai itu amat sangat di rindukan.
"Aku harus bagaimana?" batinnya.
...***...
Esok harinya, Arunya memaksa Asih untuk memberikan nomor Bagas yang baru. Ia tidak mungkin diam saja, perasaan bersalah kini menghantuinya.
Kini ia tengah mencoba menghubungi nomor Bagas Namun, berkali-kali Arunya mencoba, panggilannya selau di tolak. Ia tidak habis akal, ia beberapa kali mengirim pesan pada Bagas.
Arunya :
__ADS_1
Mas Bagas, ini Arunya.tolong kasih telepon ini ke Mas Tama, ya. Aku butuh bicara' sama dia.
Tolong bantu aku kali ini, Mas
Tolong angkat mas
Dia baik-baik aja kan
Kasih solusi buat aku kali ini mas. Aku tidak tahu ternyata Mas Tama sekeras ini.
Beberapa pesan terkirim namun tidak ada yang mendapatkan balasan. Arunya tidak mungkin melibatkan Asih untuk hal ini. Esok saat ia mendapatkan libur, ia akan mencoba ke Semarang. Berharap kesalah pahaman ini segera mendapatkan pembenaran.
Saat akan tertidur, Arunya kembali mengecek isi dompet miliknya. Uang yang ia punya tinggal sedikit. Mengingat tanggal gajian masih seminggu lagi. Arunya harus pintar untuk berhemat.
Ia membuka loker buatan yang terbuat dari karton minyak goreng yang ia keratkan dengan lakban, menyerupai loker. Ya, pemandangan anak kost seperti ini memang sudah sangat biasa. Arunya pun mendapatkan ide ini dari Mess tempatnya tinggal sementara dulu di Semarang.
Arunya mendesah cepat, persediaan mi goreng dan mi rebus tinggal beberapa pieces saja. Ia tidak mungkin untuk memakannya setiap hari, mengingat sakit maagnya kini masih kambuh. Rasa sesak di dekat ulu hati terkadang menderanya. Ia terkadang sengaja membawa beberapa keping biskuit pada saku seragamnya agar sewaktu-waktu dapat segera melahapnya jika perutnya mulai terasa melilit.
Lama Arunya memikirkan tentang Tama, ia tertidur sambil terduduk. Hingga saat alarm pada HP nya berdering. Ia terbangun lalu gegas untuk mandi. Setelahnya ia kembali melihat ponselnya, masih ada banyak waktu untuk bersiap.
Arunya hanya mengoleskan pelembab dan lip ice, ia bukan type orang yang suka ber-make up tebal. Itulah mengapa ia nyaris tidak pernah ada jerawat sedikit pun yang sering menjadi problematika cewek-cewek pada umumnya.
Saat ia tengah bersiap dengan mengunci pintu kostnya, sebuah notifikasi pesan mengalihkan perhatiannya. Segera ia membuka dan menarik sudut bibirnya. Pesan dari Bagas yang sangat ia nantikan.
Tama itu hanya bisa di luluhkan, jika kamu menemuinya. Percayalah, dia hanya sedang merajuk. 🤣🤣🤣
Tanpa sadar Arunya terkekeh dan sedikit lega. Ia putuskan untuk mencoba meminjam uang pada Asih agar besok ia dapat menemui Tama.
Esoknya, Asih mengantar Arunya ke halte dekat dengan DC. Setelah Asih memberi pinjaman pada Arunya. Tidak lupa Arunya terus mengucap terima kasih pada sahabatnya itu.
Berkali-kali Asih pun juga selalu mengatakan tidak keberatan. Bahkan jika pun dia bisa, ia akan mengantarkan sampai tujuannya. Namun, ia tidak bisa bertukar shif atau meminta libur dadakan pada head office DC.
"Teman itu tidak akan setara dengan uang berapa pun besarnya." Asih tersenyum pada Arunya yang duduk di sampingnya. Dan di hadiahi senyuman dari Arunya.
Mereka harus berpisah saat bus jurusan Jogja-Solo berhenti di halte tempat mereka duduk. Arunya harus rela menemui Tama terlebih dahulu. Mencoba meruntuhkan keras hati Tama yang sulit ia pecahkan.
__ADS_1
...***...