
BAB 18.
Sesuai arahan dari kepala Disnaker dan kepala Trainer dari PT Alfaria Kusuma, seluruh rombongan mengikuti sejumlah briefing sebelum masuk ruangan trainee.
Sejumlah 60 calon pekerja dari kota A termasuk Arunya berbaur dengan calon pekerja dari kota lain.
Arunya memasuki ruang 1 sesuai petunjuk pada papan informasi. Ia mengedarkan pandangannya, begitu memasuki ruangan yang begitu luas dengan warna cat putih dan dipadukan dengan abu tua, ruangan trainee.
Hari ini adalah hari pertama training untuk seluruh rombongan dari kota A dan beberapa rombongan dari kota lain. Mengedarkan pandangan pada seisi ruangan ia mencari teman satu rombongannya yang nyatanya tidak ada dalam ruangan yang sama.
Arunya sadar dirinya yang tak mudah akrab dengan orang lain, kini harus mencoba sedikit merubah perilakunya agar lebih mudah berbaur dengan orang banyak.
Arunya segera mencari bangku untuk mendaratkan bokongnya.
Kedua bola matanya segera menemukan kursi kosong yang strategis, agar lebih jelas menerima arahan dari trainer.
Saat ia sedang memastikan kelengkapan berkas-berkasnya, seseorang menepuk pelan bahunya. Sontak ia mendongakkan pandangannya.
Didapatinya gadis berwajah cantik berkulit putih, tersenyum menyapa seraya mengulurkan tangannya. “Hai, aku Asih. Kamu?”
Dengan cepat Arunya pun menyambut uluran tangan dari gadis bernama Asih. “Aku, Arunya dari kota A. Kamu sendiri dari kota mana?” tanya Arunya antusias. Ia beruntung, tanpa ia mencoba berkenalan, dengan sendirinya ia menemukan teman baru yang sangat ramah.
“Aku deket aja dari sini, dari kota susu.” Asih lalu tersenyum mengeluarkan berkas serupa dari dalam tasnya. “Eh, aku deg-degan, nih. Karena baru pertama kalinya,” ujar Asih.
“Iya, sama.”
"Kamu sendirian dari kota A?" tanya Asih. Ia penasaran, karena di saat teman-teman yang lain sedang ribut saling bertanya kelengkapan berkas masing-masing, Arunya hanya diam dan terlihat sendirian.
"Teman-teman satu kota denganku ternyata beda ruang, Asih."
"Oh,"
__ADS_1
Keduanya lalu melanjutkan untuk saling berbagi cerita mengenal satu sama lain. Arunya beruntung dapat berkenalan dengan Asih. Disamping ia cantik ia juga sangat terbuka dan mau memberi informasi yang Arunya belum pahami.
Asih pun memeperkenalkan Arunya pada teman-temannya. ”Dia Novi.” Tunjuknya pada seorang gadis berwajah tirus. Dia yang disebut langsung merespon dengan lambaian tangannya. “Sebelahnya yang pakai jilbab itu, Rini. Trus yang pakai penjepit merah itu, Riska.” Mereka semua melambai pada Arunya seraya tersenyum ramah. Ketiganya merupakan satu rombongan dengan Asih dari kota yang sama.
Dalam hitungan menit Arunya pun dapat menyesuaikan diri. Beberapa waktu kemudian, sejumlah 50 kursi telah penuh terisi peserta training.
Tiga orang trainer datang, bersiap pada tempat masing-masing untuk memulai perkenalan sebagai formalitas. Menit berikutnya keseluruhan materi pun mulai diberikan.
***
Tepat pukul 16.00 WIB, kelas ditutup. Asih mengajak Arunya untuk mengambil tas masing-masing pada loker yang tersedia. Karena pembagian untuk ruangan mess telah ditentukan sebelumnya. Arunya kembali bersyukur karena ia masih satu tempat dengan Asih. Ia mulai nyaman karena pembawaan Asih yang ramah cenderung cerewet .
Berjalan kurang lebih 600 meter dari kawasan industri Arunya bersama Asih dan beberapa teman-teman training lainnya segera memasuki angkuta yang sudah berbaris rapi menunggu penumpangnya.
“Baru banget ya, Run.Kamu ke daerah sini?” tanya Asih setelah memposisikan duduknya.
“Iya, Asih. Makanya aku beruntung banget ketemu kamu yang udah hafal daerah sini.” Menurut cerita dari Asih dirinya sering melewati kawasan ini karena rumah neneknya tak jauh dari temapatnya memulai kerja saat ini.
Arunya hanya mengangguk paham.
Setelah melewati beberapa kilometer dari tempatnya bekerja, Arunya tiba pada sebuah mess tempat ia tinggal sementara. Sebuah gedung berlantai dua di kawasan tengah kota Semarang.
Menapaki anak tangga disamping bagunan, Arunya bersama beberapa teman yang ikut dalam rombongan pun berjalan menuju lantai dua.
Disana terdapat empat kamar yang saling berhadapan. Di tengah ruangan menjadi ruangan bebas untuk menonton tv, sedangkan pada balkon kamar menjadi beralih fungsi menjadi tempat jemuran.
Asih menarik lengan Arunya untuk mengikutinya. Memilih kamar untuk meletakkan tas ransel mereka. Didalam kamar berisi dua kasur busa yang sudah tidak lagi mengembang sempurna.
Asih masih mengarahkan Arunya untuk segera meletakkan ransel disampingnya. ”Satu kamar berisi enam orang, kamu jangan jauh-jauh dari aku, Run.”
Arunya mengangguk mengerti. Perlahan ia mengeluarkan beberapa alat mandi dan beberapa lembar pakaian. Melirik Asih yang masih bermain dengan ponselnya, ia sedikit ragu untuk mengajaknya antre mandi bersama yang lain. “Asih, kamu gak berniat untuk mandi,’ tanya Arunya.
“ Noh, lihat aja. Antrean masih full kayak mau antre sembako.” Asih menunjuk keluar kamar mereka.
__ADS_1
Benar saja antri, di lantai dua hanya ada tiga kamar. mandi. Sedangkan penghuninya pun melebihi kapasitas. “Mandi agak nanti aja, Run.”
“Iya, deh, “ ucapnya lesu. Melangkahkan kakinya pada tepi jendela memandang lalu lalang kendaraan dari lantai dua kamar mess tempatnya menginap.
Mendadak rasa rindu begitu ia rasakan, tatkala meliat seorang ibu tengah menggandeng tangan anaknya berjalan di tepi jalan.
"Runya, kangen, Bu. Doakan Runya mampu berkerja dengan baik,'" batin Arunya.
Kemudian beralih memindai seluruh ruangan kamarnya, meraba permukaan tralis besi pada jendela kamar tempatnya berdiri, “Rumah tinggal ternyaman adalah rumah orang tua, bagaimanapun keadaannya, rumah sendiri seperti surga di dunia,” batinnya.
***
Arunya terbangun pukul 04.00 dini hari. Bahkan sebelum suara adzan subuh berkumandang.
Melihat lima teman satu kamarnya masih terlelap, Arunya berinisiatif untuk segera mandi mengingat semalam ia baru bertemu dengan air ketika hampir pukul tujuh malam.
Di lantai dua di huni sekitar dua puluhan teman training lainnya. Pantas saja keterbatasan kamar mandi yang tidak sesuai menyebabkan mereka untuk bersabar menunggu giliran.
Dinginnya air telah mengguyur seluruh tubuhnya. Beruntungnya ia terbangun lebih awal sehingga ia tidak akan mendapati antrian panjang seperti kemarin.
Selesai mandi Arunya segera mengambil air wudhu untuk bersuci.
Selanjutnya melaksanakan sholat subuh di dalam kamar. Tepat saat salam terakhir Arunya di kejutkan oleh suara terkekeh dari Asih dan kedua teman lainnya yang telah terbangun.
“Kenapa, Asih?” tanya Arunya. Setelah melepas mukena dari kepalanya.
“Kamu sholat menghadap kemana, Run?” Asih balik bertanya, kemudian kembali terkekeh.
Arunya menatap teman-temannya yang masih terkekeh kemudian menerka jika Arunya salah mengambil kiblat.
“Kamu solat menghadap ke utara loh, Run!” Kemudian mereka tergelak bersama. “Gak apa salah menghadap kiblat, asal keyakinan kita tetap pada Allah.” Teman yang lain menepuk punggung Arunya yang masih terkekeh malu.
***
__ADS_1