
BAB 4.
Arunya merasa melihat sisi lain remaja yang ada di hadapannya kali ini. Seringkali jika bertemu dijalan Rayyan hanya diam dengan muka datar, sesekali hanya anggukan pelan kepala sebagai sapaan. Maka, kurang dari 3 jam disini Arunya merasa menemukan Rayyan yang lain.
Selanjutnya Rayyan menceritakan bahwa kadang dirinya harus keluar dari sifat aslinya, untuk di tempat dan waktu tertentu. Meski Arunya tak sepenuhnya mengerti, ia hanya mengangguk saja.
Rayyan bercerita banyak hal, tentang 6 bulan terakhir dirumah pamannya dengan segala aturan yang di buat seketat mungkin menurutnya.
Arunya tak berani menganggapi lebih, hanya berusaha menjadi pendengar yang baik. Menurutnya ini kali kedua Rayyan dapat bercerita banyak hal tentang hidupnya. Setelah kejadian satu tahun yang lalu saat ia menjadi sasaran amukan papanya, karena telah membuat malu papanya dan juga dirinya.
“Ray?”
“Ya.”
“Sebenernya, apa cita- cita kamu?” tanya Arunya.
Rayyan menghela nafas, mengalihkan netranya pada ikan-ikan yang berenang bebas sembari berfikir, “Terkadang cita- cita hanya penyemangat diri, Run. Aku punya impian mempunyai usaha sendiri dari hasil kerja kerasku sendiri, sesuai kemampuanku. Tapi, menjadi anak seorang Wijaya aku tak punya kebebasan untuk memilih jalanku sendiri. Papa selalu menyetirku, mengaturku sesuai apa maunya. Dia selalu menerapkan sesuai didikan eyang dulu. Papaku keras, Run! Gak kaya’, bapak-bapak di kampung ini,” jelas Rayyan panjang lebar.
"Tapi, setelah melihat paman, aku juga ingin sekali sepertinya. Bisa menjamin keluarganya, bahkan ketika ia sudah tak ada." Rayyan menoleh pada Arunya yang diam mengeryit, tidak mengerti.
"Kau seperti tak punya pendirian, Ray."
Rayan terkekeh. "Enam bulan hidup bersama paman, sepertinya aku tertarik dengan profesinya."
"Tanyakan apa kata hatimu, Ray. Kau ingin seperti apa. Sesuatu yang terpaksa, bukankah hasilnya juga tidak memuaskan," saran Arunya.
"Kamu, benar. Tapi papa selalu memaksakan hal yang menurutnya baik."
Arunya menarik sudut bibirnya, “Ray, kamu harusnya bersyukur. Itu tandanya papamu sangat perhatiaan sama kamu. Kamu saja yang tak menyadarinya.”
“Kamu membenarkan sikap papaku?” ketus Rayyan.
Arunya menggeleng samar, “Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, Ray!”
“Itu lagi yang kamu ucapkan jika membahas papaku, Run!” Rayyan terperangah.
“Sudahlah, kamu sudah di tunggu mamaku di depan! Hati- hati, pulangnya!”
***
Dua minggu perjalanan dinas luar kota, Wijaya baru sempat pulang kerumahnya. Pekerjaannya sebagai dewan perwakilan rakyat daerah membuat kebersamaanya bersama keluarga sangatlah berkurang.
Jikalau pulang pun hanya satu hingga dua hari, tidaklah lebih.
__ADS_1
“Jelaskan ini apa!” bentak Wijaya, setelah Rayyan menghadap papanya. Menunjuk buku rapor nilai semesternya.
Rayyan menyadari tak mendapat nilai sempurna, seperti keinginanan papanya. Maka, dia hanya dapat diam tanpa kata.
Sudah bukan hal yang baru lagi, setiap papanya pulang Rayyan selalu mendapat komplain dari papanya. Menuntut nilai yang sempurna seperti kakak perempuannya yang lebih dulu sukses di dunia pemerintahan.
“Ray sudah berusaha, Pa.”
Sungguh Rayyan sudah lelah berdebat dengan sang papa. Dia hanya ingin memangkas perdebatan panjang yang biasa terjadi jika papanya pulang. Bahkan Rayyan sempat berfikir, lebih baik papanya mendapat tugas ke luar kota untuk waktu yang lama saja daripada pulang melampiaskan penat pekerjaannya yang ia tumpahkan di rumah.
“Sudah, Pa! Baru pulang sudah marah–marah. Diminum dulu tehnya!” Bu Mira datang dengan membawa secangkir teh hangat, menepuk pelan lengan kokoh suaminya, lalu membimbingnya untuk duduk bersamanya.
Sambil meraih teh hangat yang disodorkan oleh istrinya Wijaya menghela nafas kasar. Dia sangat mengiginkan anaknya mengikuti jejaknya di dunia politik. Menginginkan nilai sempurna, harapan setiap orang tua pada anaknya. Namun, dia tidaklah sadar, cara yang dia paksakan dengan mengekang anak memberikan les berlebihan membuat Rayyan tertekan.
Hal itulah yang membuat catatan buruk Rayyan satu tahun yang lalu terjadi.
Melihat anaknya bersandar malas di sofa tunggal dihadapannya dan mengalihkan pandangan dingin membuat Wijaya bertambah kesal. “Lihat anakmu, Ma! Setiap di ajak bicara, dia selalu tak memperhatikan papa!” Wijaya menunjuk anak laki- lakinya yang bersandar malas. Benar, Rayyan malas-malasan jika setiap apapnya pulang selalu saja ada perdebatan yang dibahas.
Rayyan memutar kepalanya menghadap sang papa. “Lalu, apa mau papa? Ray udah kooperatif ikut aturan papa, ikut les ini itu. Membatasi dunia luar, bahkan Ray sekarang jarang hang out bersama temen-temen, Pa!”
“Bagus! Kau harus jauh jauh dari perkumpulan tidak penting itu.” Wijaya kembali meminum tehnya. Dia tidaklah menyadari bahwa hidup di desa tentu harus menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
Sedangkan Mira hanya dapat diam, tak berani membantah suaminya.
“Diam! Kau hanya wajib menurut sama papa, Rayyan!”
“Ray bukan tahanan, Pa! Bahkan Rayyan kini hidup di kampung! Ray harus berbaur dengan warga dan teman-teman juga, Pa,” mohon Rayyan.
“Berkacalah pada kakakmu ,Rayyan! Dia selalu nurut sama papa! Dan lihat hasilnya sekarang! Dia telah sukses dan berhasil!
Rayyan menegakkan duduknya, “Pembicaraan kita tidak ada ujungnya, Pa! Selama papa masih membandingkan Ray sama Mbak Vero. Permisi!” Rayyan berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
***
Pagi ini kerja bakti kampung tengah di lakukan. Pembersihan selokan dan beberapa pepohonan yang mengganggu jalanan terpaksa di tebang.
Perempuan dan laki-laki sama saja, semua bekerja sesuai kemampuan masing-masing.
Sebagian ibu-ibu berkumpul di tempat Bu RT untuk memasak makanan untuk warga yang mengerjakan kerja bakti.
Sesuai perintah papanya, Rayyan kali ini yang ikut berpartisipasi. Ia sangat senang berbaur dengan warga, berbeda dengan papanya.
Saat jeda istirahat untuk sekedar minum teh bersama warga, menjadi moment yang sangat berbeda. Berbincang hangat atau sekedar bercanda dengan berbagai usia. Seperti tidak ada sekat antara si kaya dan si miskin.
__ADS_1
"Jika saja, papa lebih ramah dan dapat berbaur di sini. Pasti pemikirannya akan lebih luas. Tidak hanya berkutat dengan politik dan politik."
Tanpa di duga, Arunya yang sedang melintas dari memberikan beberapa piring berisi bakwan dan mendoan melihat Rayyan duduk melamun.
Arunya memberanikan diri berbicara pelan, "Kamu melamun, Ray?" tegurnya.
Suara Arunya mengembalikan kesadarannya, lalu ia tersenyum canggung lalu menunduk sedih.
Arunya segera berlalu, takut interaksinya dapat terbaca oleh teman-temannya.
Setelah cukup untuk beristirahat dan meminum teh panas beserta beberapa makanan pendukung, warga kembali melanjutkan kerja bakti yang terjeda.
Hingga waktu mendekati waktu dhuhur, semuanya selesai. Arunya tidak segera pulang, ia harus membantu berberes dengan pemuda lainnya.
Mencuci piring, gelas dan beberapa perlengkapan lainnya. Kebersamaan seperti ini mendekatkan rasa persaudaraan antar warga, terlebih di daerah kampung tempat Arunya tinggal.
Setelah semua rapi dan selesai. Arunya pamit pulang kepada ustazah Hanum, sebagai anak bapak RT. Ia bersama Lela berjalan bersama keluar dari rumah Bu RT.
Belum sempat ia keluar dari pintu rumah, sebuah pemandangan yang membuat sudut hatinya terasa nyeri.
Arunya melihat Rayyan bersama Anna, teman sekelasnya tengah bercanda dan duduk begitu dekat. Tertawa terbahak, terlihat asyik tanpa canggung walaupun di sana juga ada beberapa pemuda yang lain.
Arunya segera menundukkan pandangannya. Dan berjalan cepat mendahului Lela.
"Pelan-pelan, aja, Run!" Lela akhirnya menyesuaikan langkah cepat Arunya.
"Mumpung keluar begini kita santai dan bincang-bincang dulu."
"Iya." Arunya menurut dan kembali berjalan santai. Sejenak ia melupakan rasa sakit, melihat Rayyan yang begitu dekat dengan Anna.
"La, emang Rayyan sama Anna pacaran?" tanya Arunya.
Ia memberanikan diri untuk bertanya pada Lela.
"Setahuku, sih, iya."
Kembali Arunya menerima kabar yang membuatnya sesak. "Aku kenapa, sih. Wajar saja mereka pacaran. Mereka sama-sama anak orang penting di desa ini, 'kan."
***
Nah, nah, kenapa tuh Arunya? 🤭🤭
Jangan lupa dukung Arunya, ya, friend 🙏🙏🙏
__ADS_1