Amita Arunya

Amita Arunya
Diterima kerja


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


Semangat pagi. Sebelum puasa Ramadhan, saya mengucapkan Mohon maaf lahir dan batin. Semoga ibadah kita di berikan kelancaran, kita semua di berikan kesehatan dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Aaminn.


Bab 17


Seminggu setelah kelulusan, Arunya telah menuliskan surat lamaran untuk yang ketiga kalinya. Ia berniat menitipkannya pada sepupunya yang akan berangkat ke ibukota.


"Ini sudah ketiga kalinya kamu membuat lamaran, Mbak,. Semoga kali ini kami beruntung, bisa kerja di Jakarta, seperti impianmu." Ibu selalu memberikan dukungannya pada Arunya.


Hingga baru seminggu ia kembali mendapatkan kekecewaan lagi.


Sedih yang ia rasakan saat ini, berkali-kali ia membuat lamaran kerja, tidak ada satupun panggilan kerja yang menghubunginya.


Melalui sambungan telefon sepupunya mengutarakan kelengkapan surat lamarannya. Betapa ia harus membangun pondasi sabar yang lebih kuat lagi, ia harus mencari kartu AK1/kartu pencari kerja yang belum ia miliki.


Ia harus menunggu minibus selama satu jam lamanya. Berbekal hp jadul yang ia miliki mencoba mencari informasi letak kantor Disnaker.


Begitu turun dari badan bus, ia harus brjalan 400 meter untuk sampai pada tujuannya. Menyesuaikan prosedur pengisian formulir hingga wawancara singkat untuk mendapat kartu persetujuan.


Setelah menunggu antrian tibalah pada gilirannya. Arunya tidak menyangka, saat pihak humas memberikan informasi lowongan pekerjaan. Ia begitu tertarik sehingga ia memutuskan untuk ikut mendaftar.


Esoknya Arunya kembali lagi untuk membawa lamaran sekaligus mengikuti serangkaian test. Melihat jumlah pencari kerja yang cukup banyak, Arunya merasa minder. Dirinya datang tanpa teman, disana bahkan tidak mengenal satu orangpun.


Duduk pada bangku yang telah disediakan. Arunya meletakkan tas ranselnya pada kursi sebelahnya, tanganya bergerak acak mencari beberapa lembar foto yang telah ia gandakan.


“Maaf, boleh aku duduk disini?” ucap seorang laki-laki berkulit sawo matang yang menampilkan senyum manis.


Menyadari pengunjung lain yang memerlukan tempat duduk, Arunya kembali mengangkat tas kesayangannya untuk ia letakkan pada pangkuannya mengurungkan niatnya untuk mencari pas foto miliknya.


“Boleh, silakan.” Arunya tersenyum canggung merasa bersalah.


“Terima kasih.” Lelaki itupun memposisikan diri pada kursi tunggu tepat disebelah Arunya. “ Aku, Tama. Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanya lelaki yang mengaku bernama Tama. Mengulurkan tangannya di depan Arunya.


“Namaku Ar-,“


Suara nyaring dari pengeras suara di sudut ruangan menghentikan lidah Arunya untuk menyambut salam perkenalan dari lelaki di samping tempat duduknya.


“Maaf, aku sudah di panggil.” Arunya beranjak seraya tersenyum.


Tanpa Arunya sadari foto yang ia cari nyatanya terjatuh pada kursi tunggunya. Tama yang melihat beberapa foto berukuran 3x4 terjatuh disampingnya pun memungutnya.

__ADS_1


Namun, ketika akan memberikannya pada gadis yang belum sempat ia kenal, ia sudah tidak menemukannya lagi.


"Manis banget," gumam Tama.


Arunya memasuki ruangan sejuk karena pendingin ruangan, memerhatikan penampilannya kembali lalu menuju kursi yang telah di sediakan.


Pengalaman Arunya untuk pertama kalinya. Menghadap seorang pria berusia 40an untuk melalukan interview. Berkali- kali ia mengatur nafasnya agar lebih rileks.


Diluar ekspektasinya pertanyaan wawancara hanya seputar pertanyaan ringan.


Tidak sampai 10 menit Arunya telah selesai ia interview.


Waktu terus saja berputar. Serangkaian test dilakukan hingga sore hari.


Arunya semakin gelisah melihat senja telah menampakkan sinarnya. Bingung manakala sudah tidak ada bus yang menuju rumahnya.


Tidak ada pilihan lain, Arunya terpaksa meminta tolong sepupu jauh yang masih satu kampung dengannya untuk menjemputnya.


Menunggu seorang diri pada halte yang tidak jauh dari gedung Disnaker. Walau keramaian lalu lalang kendaraan, Arunya yang sangat merasa asing karena baru pertama kalinya ia berada disana, berusaha menghilangkan rasa takutnya.


Saat bersamaan Tama yang hendak keluar gedung melihat gadis yang belum sempat menjawab salam perkenalannya tadi siang.


Tama mengambil motor di parkiran dan hendak berniat mengembalikan pas foto yang sebelumnya ia temukan.


“Ya udah, ayo. Cari masjid. Jangan lama-lama, ibu kamu udah cemas nungguin kamu.”


Arunya meringis merasa bersalah telah membuat ibu kawatir. “Ya, habis. Yang ikut test kan ratusan. Jadi ya ,,, sampai magrib begini.’


Dari kejauhan Tama yang bersiap menghampiri seseorang yang sedang bercakap di pinggir halte bus, segera mengurungkan niatnya. Tersenyum masam.


“Mana mungkin, cewek semanis itu jomlo. Aneh-aneh aja kau, Tam.” Monolognya pada diri sendiri.


Ia masih memerhatikan dari jauh interaksi yang di tampilkan oleh cewek yang baru pertama kali ia temui.


"Ayok, Mas. Udah sore ini, mamak bakal bingung nanti." Seorang gadis seusia Arunya bersiap pada boncengan tepat di belakang Tama, sepupunya.


"Iya, iya, bawel. Tau gitu gue ogah nganterin, lo. Mending liburan cari cewek."


"Trus yang kemarin udah kelar?" tuding gadis mungil dengan setelan putih-hitam pada tubuhnya.


"Gue, udah males. Di manfaatin 'mulu."

__ADS_1


"Jadi udah putus beneran?"


"Bawel banget, sih," ketus Tama. Ia melihat motor yang membawa Arunya tengah melaju berlawanan arah dengannya.


Ia juga baru menyalakan mesin motornya untuk meninggalkan gedung Disnaker. Tidak lupa, sepupu bawel yang bersamanya masih berceloteh riang di belakangnya karena besar kemungkinan akan di terima karena Tama yang mendaftarkannya.


***


Enam hari kemudian, Arunya mendapat pesan jika dirinya telah mendapatkan pengumuman keberangkatan melaui pesan sms pada ponselnya.


“Alhamdulillah,” ucap Arunya begitu ia mendapat pengumuman keberangkatan gelombang kedua training di kota Semarang.


Ia tengah antusias untuk mempersiapkan segala keperluannya. Melihat tas bekas milik ibu yang masih bagus namun sisi lain tas telah berlubang di makan tikus. Ia tidak hilang akal, mencoba mencari kaos lama dengan motif unik untuk ia gunakan untuk menutup pada bagian yang berlubang.


Kali ini ia membawa ke penjahit terdekat, karena tak mungkin hanya ia sendiri yang menjahit, takut tidak akan kuat pikirnya.


Sepulang dari menjahitkan tas, Arunya menata baju- baju yang ia pandang layak pakai.


Hanya beberapa saja, ia akan segera mencucinya jika sehabis mandi. Itu akan menghemat dan mengurangi barang bawaan yang terlalu banyak.


Ibu pun ikut membantu menyarankan apa saja yang harus dibawa, sembari terus berpesan untuk menjaga diri di tempat baru. Wajar saja ibu begitu kawatir karena ia anak perempuan satu-satunya.


Dua minggu yang lalu bahkan Arunya pernah menjadi pembantu rumah tangga seorang dokter di kota Semarang, saking inginnya Arunya bekerja saat itu tanpa ia pikir panjang ia menerima saja tawaran dari tetangga.


Namun, ia hanya bekerja selama seminggu karena anak majikannya secara terang-terangan tidak menyukai Arunya.


“Tiga ratus ribu, mbak. Ibu hanya punya ini. Harus kamu hemat, ya.” Tami mengulurkan uang simpanannya untuk keperluan Arunya.


“Terimakasih, Bu.” Arunya lantas memeluk ibunya.


“Disana nanti, Mbak Runya bobok dimana?” tanya Dika. Terlihat baju Dika tengah basah kuyup di tangan kirinya memegang plastik berisi beberapa ikan.


“Di sana nanti, akan ada mess tempat para karyawan tinggal, Ka. Kata bapak-bapak yang memberi pengumuman tadi.’” Ucap Arunya setelah melepasakan pelukan ibu.


***


Jangan lupa like dan komentar nya ya, friend.


Bantu share juga gak apa-apa. aku ikhlas kok, 🤭.


Maaf ya, modus dikit 🙏🙏🙏

__ADS_1


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.


__ADS_2