Amita Arunya

Amita Arunya
Ingin egois


__ADS_3

BAB 36


“Aku pulang, Runya. Aku harap kamu memikirkan lagi keputusanmu. Maaf, aku membuatmu harus memilih. Aku tahu ini pilihan yang sulit bagimu. Tapi aku yakin, namaku masih ada di hatimu.”


Arunya kembali mengusap wajahnya gusar. Nasi soto ayam di depannya sudah tidak menarik perhatiannya lagi. Meski perutnya masih meronta minta di isi.


“Minum dulu, Run.” Asih mengulurkan satu gelas berisi teh manis lengkap dengan potongan lemon di dalamnya.


“Keputusan ada di kamu. Kamu yang paling tahu kemana hatimu merasa nyaman.” Asih kembali menyuapkan nasi soto yang masih mengeluarkan asap.


Keduanya sengaja berangkat pagi untuk dapat sarapan terlebih dahulu di kantin DC. Suasana kantin yang masih pagi membuat ia lebih leluasa. Masakan dan lauk-pauk juga masih baru. Bahkan ada yang baru di angkat dari kompor.


Dering ponsel Arunya berdering. Dengan ID pemanggil pada layar menunjukkan nama Tama.


Arunya merasa bersalah, karena dari kemarin ia sengaja mematikan HP miliknya. Tanpa ia tahu diseberang sana Tama menatikan kabarnya dengan gusar.


“Mita. Kau tidak apa-apa kan?” tanya Tama begitu Arunya mengangkat sambungan teleponnya.


“Iya, Mas. Aku nggak apa-apa. Maaf ya, Mas. HP ku habis batre, dan cargerku ketinggalan dalam line DC.”


“Iya, aku tahu. Asih udah bilang sama aku.”


Arunya membulatkan matanya menatap Asih yang duduk menyantap soto di depannya. Lalu hanya diberi anggukan oleh Asih. Arunya pun bernafas lega.


Sahabatnya mampu mengerti situasi yang sedang ia hadapi, meski harus sedikit berbohong.


“Gimana kemarin, Mita? Aku nggak bisa tenang mikirin kamu.”


Arunya meminta pendapat Asih yang ada di depannya melalui tatapan sendunya. Lagi-lagi Asih menganggukan kepalanya. Semalam saat ia meluapkan semua masalahnya dengan Asih. Hanya ada satu cara yaitu kejujuran. Dan dengan berat hati Arunya terpaksa harus jujur meski ia tahu Tama akan merasa sakit.


“Kemarin kita udah bicara, Mas. Aku udah ceritain semua tentang kamu. Aku nggak menduga. Dia berniat melamar aku, Mas.”


“APAAA? Trus ... kamu jawab apa?”


“Aku udah bilang. Jika aku sekarang tidak sendiri. Ada kamu bersamaku sekarang. Dia masih meragukan hubunganku denganmu, Mas. Dia bilang, masih mau nunggu hingga besok. Dan memintaku memikirkan ulang keputusanku.”


Tanpa Arunya tahu, diseberang sana Tama terduduk lemas. Tenaganya seolah menguap begitu saja. Sampai teman satu line-nya mendekat dan menanyakan keadaanya.


“Mas, kamu masih di situ kan?”


“Iya,” lirih Tama.

__ADS_1


“Mas, sekarang aku mau tanya sama kamu. Apa kamu serius sama aku?”


“Apa maksud kamu, Mita! Tentu aku serius sama kamu. Kamu meragukanku? Memang tidak sekarang aku akan menunjukkan keseriusanku. Semua butuh persiapan, dan aku nggak bisa dalam sekali kedip semua keperluan langsung ada di depan mata.”


Arunya yang mendengar suara Tama yang meninggi hanya bisa memejamkan matanya. Ia merasa kacau tidak bisa merangkai kata-katanya dengan baik.


“Mas. Aku minta maaf karena menayakan ini sama kamu. Karena jawabanmu ini akan menjadi hal penting untukku memutuskan pilihan ini.”


Asih mengulurkan pergelangan tangannya pada Arunya. Lalu menunjukkan jam tangannya pada Arunya. Tanda memberi kode bahwa waktu telah mendekati absen masuk.


Arunya segera tanggap karena ia akan bersiap untuk segera masuk DC untuk memulai kerjanya.


“Tunggu, Mita. Kamu harus jawab ini. Apa kamu cinta sama aku?”


“Tentu, Mas. Aku cinta sama kamu.”


“Kamu nggak akan ninnggalin aku, ‘kan?”


Asih segara menarik tangan Arunya untuk mengajaknya beranjak dari duduknya. Tanpa mematikan sambungan teleponnya Arunya berjalan tergesa memasuki DC.


“Mas. Tolong jangan berfikir macam-macam. Kita sambung nanti, ya! Aku harus kerja sekarang. Kamu hati-hati ya, kerjanya. Lukamu belum kering, Mas. Aku tutup dulu, ya.”


...*** ...


“Tenang, Mas. Kalau jodoh, gak kemana, kok.” Adit menepuk bahu seniornya. Sedari tadi ia tidak meninggalkan seniornya yang sedang kacau. Sedikit banyak, ia telah tahu permasalahan Tama dari yang ia tangkap pada pendengarannnya. Ia tidak bisa bersikap cuek begitu saja. Karena dalam line ini mereka menganggapnya seperti keluarga sendiri.


Tama tidak bisa menyembunyikan rasa gusarnya. Ia lalu bangkit dari duduknya, memasukkan ponsel pada saku celananya.


“Aku yang ambil barangnya. Kamu yang dorong trolynya aja, Mas. Tangan kamu juga belum kering betul, kan.”


Adit benar. Dan kali ini Tama harus mengalah dan menyadari bahwa tangannya masih terbatas untuk bekerja. “Thanks, Dit.”


...*** ...


Gerimis sore ini menemani kesendirian Rayyan di teras belakang rumahnya. Lama ia terdiam, duduk di lantai yang semakin melengkapi hawa dingin yang menusuk kulitnya.


Berkali-kali ia membuang nafasnya kasar lalu memijit pangkal hidungnya. ‘'Aku ingin egois, sekali ini saja. Cukup dulu aku diam dengan kebodohanku. Dan sekarang aku ingin meraihnya'’. Batinnya sedang mencoba bersikap keras. Tidak perduli seperti apa keadaan Arunya sekarang. Baginya niat baik pasti akan selalu mendapatkan jalannya sendiri.


“Sedang apa, Runya. Masuk pagi kah? Semalam pesanku nggak kamu balas.”


“Beritahu aku, kapan aku harus menemuimu lagi. Aku nggak bisa diam begini.”

__ADS_1


“Apa aku harus ke tempatmu sekarang?”


“Balas pesanku, Runya.”


Beberapa pesan yang ia kirim dengan waktu yang berbeda kembali membuat ia mengela nafas. Tidak ada satu balasan pun dari Arunya.


Rayyan membenamkan kepalanya pada kedua tangannya yang bertumpu pada kedua lututnya. “Aku tidak percaya. Apa semua ini memang sudah terlambat? Apa dia telah begitu kecewa padaku? Hingga ia enggan memberi kesempatan padaku lagi.”


Lama Rayyan terdiam dalam pemikirannya, hingga satu usapan di kepalanya membuat ia mendongakkan wajahnya. ”Mama,” lirih Rayyan.


Mira memberikan senyuman untuk putranya. “Kenapa? Bukannya kemarin semangat banget mau ketemu Runya. Tapi sekarang, kok lesu amat mukanya. Cerita sama mama, ya,” pinta Mama.


“Ma, Apa Rayyan sudah terlambat, ya?” tanya Rayyan.


“Mama, nggak ngerti. Coba jelasin!”


“Dulu, Ray terlambat tahu jika Runya suka sama Ray, Ma. Padahal waktu itu, Ray juga suka sama dia. Tapi Ray nggak punya keberanian buat ungkapin perasaanku saat itu. Runya sengaja memberi jarak padaku, Ma. Yang kutahu dari Lela, Runya merasa nggak pantes sama Ray.”


Mira mengangguk tanda mengerti. Rayyan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Dan sekarang, saat Rayyan punya keberanian. Runya yang dulu tidak dapat Ray temukan kembali, Ma. Dia udah sama seseorang. Tapi, Ray masih yakin bahwa Runya masih menyimpan rasa itu untuk Ray, Ma.”


“Kenapa kamu seyakin itu?” tanya Mama.


Rayyan kembali membuka telapak tangannya. “Ray, lihat dia menagis waktu lihat Ray untuk pertama kalinya, Ma. Matanya tidak bisa berbohong, Ma. Aku tahu itu. Dan yang membuat Ray yakin, dia selalu antusias jika ngobrol dengan Ray melalui sambungan telepon akhir-akhir ini, Ma.”


“Sebelum kamu pulang, kamu nggak tanya dulu dengan perasaannya?” cecar Mama.


“Dari dulu, Runya selalu tidak punya percaya diri, Ma. Dia selalu menyimpulkan sendiri tentang sesuatu hal. Sampai ia menjaga jarak denganku.”


‘Ray. Semua permasalahan ada di kamu. Kamu nggak berani mengatakannya dari dulu. Bukan salah Runya disini, dia perempuan tak mungkin memulai duluan, Rayyan.”


“Ya. Mama benar. Untuk hal ini Rayyanlah yang paling salah. Saat itu, jika aku dapat memulainya dengan Runya. Aku takut membuatnya kecewa, Ma. Karena mau nggak maau Rayyan akan ninggalin dia ke Riau juga ,’kan! Bukankah itu lebih nyakitin dia?”


Mira pun akhirnya menghela nafas mencoba mengerti dari sisi Rayyan. “Runya sudah memberikan jawaban?” tanya Mama.


“Ray sengaja memberi dia waktu, Ma. Aku nggak mau menerima keputusan dia dengan tergesa, Aku nggak siap. Biarkan dia memikirkannya sungguh-sungguh.”


“Ya. Itu lebih baik. Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.”


‘Makasih, Ma” Rayyan memegang tangan mama. Mencoba mencari kekuatan untuknya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2