Amita Arunya

Amita Arunya
Berlibur


__ADS_3

BAB 26


“Terima kasih ya, Mas. Udah di anterin, maaf jadi merepotkanmu.”


“Sama-sama. Aku seneng banget bisa anterin kamu, aku gak mau kejadian beberapa hari yang lalu terulang ya! Mulai sekarang gak usah sungkan.”


Arunya mengangguk patuh, terlihat ragu ia akan menanyakan sesuatu pada Tama. “Mas, nanti tiap gajian akau akan ganti uang kamu. Aku yakin uang untuk mengurus ATM dan surat lainnya, jumlahnya nggak sedikit.”


“Udah, nggak usah dipikirkan.”


“Mas gak takut kalau aku kabur dan gak ganti uang kamu?” tanya Arunya.


Tama tergelak, sambil meraih tangan Arunya untuk duduk pada bangku halaman kost Arunya.


Keduanya duduk bersisihan, di bawah langit malam yang menampilkan sekelompok bintang yang seolah membentuk formasi nan apik di atas sana.


“Aku rasa itu bukan Mita yang aku kenal, jika dia akan kabur setelah membuat seniornya telah masuk pada penjara cintanya. Aku tulus bantu kamu. Aku masih mengharapkanmu, Mita. Aku akan nunggu kamu sampai aku sendiri merasa lelah dan menyerah.”


Arunya terpaku akan pernyataan Tama, ia tidak menyangka bahwa seniornya masih mengharapkannya.


“Kenapa, Mas? Kenapa kamu sebaik ini sama aku?" tanya Arunya.


“Karena kamu seperti itik yang tersesat. Kamu sendirian, tapi kamu kuat. Aku merasa aku harus jadi penolong itik itu, agar dia merasa terlindungi.”


"Kok, jadi ke itik, sih?" protes Arunya.


"Ya, habis. Apa namanya, kalau anak kampung baru lulus, udah ngebet mau kerja ke kota besar begini. Nggak ada saudara pula. Kan, kaya' itik sendiri ke tengah-tengah perkumpulan ayam, gitu." Tama tertawa seolah itu hal yang terkesan mengada-ada.


"Ya, pokoknya, gitulah," tambah Tama.


"Terimakasih," lirih Arunya.


"Hei, nggak apa-apa. Kita satu team di divisi. Kalau ada apa-apa sama kamu, kan aku juga yang repot, 'kan!"


Arunya terharu akan semua kata yang terucap dari Tama. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk kembali menanyakan semua yang berkecamuk dalam pikirannya. “Apa kamu bahagia bisa jadi penolong itik itu?" tanya Arunya.


“Tentu saja.”


“Apa tawaran beberapa detik yang lalu masih berlaku?” tanya Arunya. Sejurus kemudian ia menunduk, merasa malu.


Waktu seakan terjeda untuk Tama mencerna pertanyaan Arunya. Ia berfikir keras agar ia tidak salah untuk mengartikan pernyataan Arunya. Perlahan rasa gugup mendera ketika Arunya menatap Tama, masih menunggu jawaban.


“Mita, Ap- apa kamu berniat untuk mengabulkan keinginan aku beberapa waktu yang lalu?” tanya Tama memastikan dan mendapat anggukan dari Arunya.


“Jadi kamu mau terima aku? Kita jadian mulai detik ini?” tanya Tama berbinar menampilkan senyumnya.


Arunya yang melihat binar bahagia dari Tama merasa semakin yakin untuk mengangguk menyetujui keputusan besar menurutnya.


“Terima kasih, Mita.”


...*** ...


."Cieee yang udah jadian," goda Asih.


"Apa sih." Arunya menunduk malu. Ia tengah menceritakan tentang ungkapan Tama kemarin malam.


"Ok, nih. PJ nya, traktir aku makan pagi di tempat Mpok indun, yah?"


"PJ apaan, Asih?" tanya Arunya tidak mengerti.


"Oh, my God. PJ itu pajak jadian, Runya." Asih memeluk Arunya gemas .

__ADS_1


"Oh, itu. I iya, boleh."


"Hemmm, bener-bener si polos dari desa." Asih tertawa.


...***...


“Halo? Siapa disana?”


Arunya kembali melihat pada layar gawainya. Ia sedang menerima panggilan telepon tapi yang tertera hanyalah sederet nomor. Bisa dipastikan itu adalah nomor baru.


“Hallo? Arunya tengah bingung mengahadapi penelpon yang tak kunjung bersuara.



Arunya memutuskan sambungan teleponnya. Ia baru saja sampai pada kost lalu merebahkan tubuh lelah seusai bekerja. Memeriksa bekas jahitan pada lengan kiri yang kian memudar.


Satu bulan sejak kejadian itu, kini Arunya berusaha lebih berhati-hati jika pun pulang dari bekerja ia akan menunggu teman yang lain dan menghindari berjalan sendirian jika jadwal masuk kerja dengan Tama berbeda. Jika kebetulan berbeda shif, Tama akan meminta Bagas untuk mengantarkan Arunya terlebih dahulu.


Semakin lama Tama semakin protective terhadap Arunya. Membuat ia merasa sungkan pada yang lainnya.


“Mas, jangan berlebihan. Aku gak enak sama yang lain.” Kata Arunya sewaktu Tama menghadang Adit ketika selesai shif. Tentu hanya untuk meminta Adit mengatakan Arunya ke kost.


Tama, tetaplah keras kepala. “Adit, tolong lo anterin cewek gue dulu sebelum lo pulang. Pastikan Mita sampai kost dengan selamat.”


“Wani, piro(berani berapa)?” goda Adit.


Yang hanya di respon lirikan dari Tama. “Jaminannya acc cuti bulanan, gimana?” tawar Tama.


“Deal.” Adit mengacungkan ibu jarinya seraya berjalan keluar dari line-nya.


“Ayo, Run,”


“Aku duluan ya, Mas.”


“Iya, udah ngerti.”


Tama paling senior dan sebagai penanggung jawab di line-19 sehingga teamnya pun patuh saja apa yang ia katakan, bukan karena takut melainkan mereka semua segan terhadapnya. Pribadi yang ramah, santai namun keras membuat ke-enam personil dibawahnya nyaman.


Berbeda saat di antar oleh Adit. Ketika Tama kembali menyuruh Bagas untuk mengantarkan Arunya karena Tama yang berbeda shif.


Bagas memberikan pertanyaan yang mengusik hatinya.


"Run, Tama sahabat gue. Kita sahabatan udah lama. Bahkan dari nol kita training di sini. Jadi, aku harap Lo nggak anggap Tama sebagai pelarian saja."


"Maksud kamu, apa, Mas?" tanya Arunya.


"Ya, dulu, Lo pernah bilang masih suka sama orang lain. Lo juga nolak Tama berkali-kali. Dan sekarang kalian udah jadian, jadi maaf kalau gue takut aja sahabat gue menjadi pelarian, lo," ujar Bagas.


"Kok, ngomongnya begitu, sih, Mas!"


"Ya, makanya. Gue harap, Lo nggak anggap Tama, begitu."


Arunya sedih menerima berbagai keraguan yang di utarakan oleh Bagas. "Aku sudah berusaha. Sekarang aku tulus menjalani ini semua. Tapi ternyata, masih ada yang meragukan aku," batinnya.


...*** ...


Hari minggu menjadi hari yang di tunggu untuk pekerja PT seperti Tama dan Arunya. Mereka tengah merencanakan untuk liburan bersama.


Seperti saat ini, Tama mengajak Arunya untuk berlibur ke Pantai Baron, yang terletak di pesisir Jogja.


__ADS_1


Mereka pergi bersama dengan Asih, Rini, Bagas berserta pacarnya.


"Kamu senang," tanya Tama.


"Seneng," Arunya tersenyum.


"Seneng lagi kalau perginya berdua aja, nggak ada yang riweh kayak sekarang."


"Memang siapa yang riweh?" tanya Arunya.


"Tuh, temen-temen kamu." Tunjuk Tama dengan dagunya ke arah Asih dan Rini yang bermain di bibir pantai. "Kaya', anak kecil," imbuh Tama.


"Kadang kita harus jadi anak kecil agar melupakan sejenak permasalahan orang dewasa, Mas." Arunya memainkan pasir pada kakinya.


"Naik perahu itu, yuk!" Tama berdiri menarik tangan Arunya.


"Yang bayar kamu, 'kan?" tanya Arunya.


"Iyyaa, ayok!" Tama terkekeh.


"Kok, di ketawain, sih. Cicilan Hp aku belum lunas, nih," ujar Arunya.


"Udah, jangan di pikirin."


...***...


Satu bulan kemudian. Jika biasanya Tama akan mengajak Arunya untuk pergi ke CFD Simpang Lima kota Semarang, untuk sekedar jalan santai atau berburu kuliner. Liburan kali ini ia akan mengantarkan Arunya untuk pulang ke kampungnya.


“Mas, aku rasa ini belum saatnya. Rumahku itu di kampung, Mas. Jika anak gadis pulang ke kampung bersama seorang lelaki aku takut akan menjadi bahan gunjingan tetangga. Di kampung itu nggak seperti di kota. Mereka itu seolah cctv tanpa listrik. Bahkan hal yang belum tentu benar pun sudah di bicarakan."


“Kamu takut sama tetangga! Hei, denger. Kita makan nggak minta tetangga Amita Arunya!”


“Aku tahu, Mas Aditama Setya. Tapi norma di kampung itu masih berlaku. Apalagi bertamu sampai larut malam, bakal langsung di bawa ke KUA.”


“Wah,, enak donk. Bisa langsung sah, kita,” goda Tama.


“Apaan, sih.”


Tama yang melihat Arunya menampilkan muka cemberutnya tergelak. “Juteknya kambuh. Ya udah ayok, buruan naik. Aku antar sampai terminal aja kalau gitu.”


Sesampainya di terminal, Arunya segera masuk salah satu bus sesuai jurusan kota tujuan. Lagi-lagi Tama membuat Arunya merasa malu akan tatapan orang-orang di dalam bus. “Hati-hati ya, jangan sampai tidur dalam bus. Takut ada hipnois nanti.”


"Iya, Mas. Udah sana, turun. Bus-nya udah mau jalan, nih.” Arunya mendorong pelan bahu Tama.


"Oke, lain kali harus mau aku antar pulang, ya. Naik bus begini, kan ribet!”


“Mas!”


“Oke, aku diem. Aku turun, nih.” Tama mengusap pelan kepala Arunya. “Cepet balik, ya. Aduh.. .“ Cubitan keras pada tangannya, membuatnya meringis. “Jahatnya.”


Dengan berat hati Tama akhirnya keluar dari badan bus.


Arunya terkekeh, melihat raut wajah Tama yang memelas melihat Arunya dari luar bus. Saat sopir bus membunyikan klaksonnya menjalankan pelan laju bus-nya, Arunya tersenyum melambaikan tangannya pada sang pacar yang masih saja menampakkan wajah tidak bersemangatnya. Hingga bus melaju dengan kecepatan tinggi.


“Kenapa aku kasih acc buat cuti-nya, sih.! Jadi kesepian, kan, aku.”


***


Aku pengen juga liburan, emak bisa pusing ini mikir menu buka nanti... canda 🤣🤣🤣🤫


Udah Selasa aja,nih. Boleh donk, aku minta dukungan vote dari teman-teman semua. Dan terima kasih banyak atas dukungannya terhadap karya ini, 🙏🙏🙏

__ADS_1


.


__ADS_2